Penjara Syurga Dan Kembalinya Orang Bertato


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Senja yang baru saja turun ke bumi sore itu menuntun saya menuju lembah petualangan. Orang-orang kota sudah mulai kembali pulang ke peraduanya masing-masing. Jalan-jalan disesaki oleh beruk-beruk tunggangan abad modern. Siapa saja yang pernah hidup di dusun, akan merasakan keringnya kebudayaan jalan kaki memakai sendal jepit. Saya memilih menepi, bersandar pada denyut warung-warung kaki lima. Baca lebih lanjut

Kepolosan Gogor Menjaga Kebudayaan dan Menitipkan Kemanusian dalam Pilkada


#KiaiKenduri

#KiaiKenduri

Saat bingung menentukan sarapan pagi dengan menu apa, soto menjadi makanan yang paling enak untuk santap. Itu yang aku rasakan setelah selesai dengan sendokan terakhir. Di atas meja makan, jika kudapan semakin cepat menyisakan mangkuk-mangkuk kosong, itu artinya, rekomendasi warung makan oleh seseorang di anggap mak-nyus. Gogorlah orang yang paling berjasa, menggiring kami ke warung legendaris soto Lamongan di depan kantor kecamatan pacet. Baca lebih lanjut

Penjara Hidup Dan Kekerdilan Manusia


kiiai-kenduriTamu yang datang ke ndalem-nya bapak pagi itu dari dusun sebelah. Dusun desaku bernama Pinggir. Sedangkan dusun sebelah namanya Sorondolo. Belum siang, waktu masih jam sembilan pagi. Bapak, simbok, dan aku, masih duduk lesehan di atas kursi sofa ruang tamu. Bapak merokok klepas-klepus lalu di susul ngunjuk wedang kopi hitamnya, dan berkata, “Kalau di rumah cuma dua hari… mbok ya ora usah pulang toh, nang. Opo gak, kesel di jalan?” Baca lebih lanjut

Mengetuk Pintu Langit


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur sabtu dan minggu yang lalu, allhamdulillah, aktivitas bangun pagiku di penuhi oleh kemerdekaan hidup. Sesudah membersihkan badan, pagi itu, aku asyik mengurung diri di dalam rumah. Aku larut dalam kenikmatan, memanjakan diri dengan membaca buku dan di temani secangkir kopi. Sinambi leyeh-leyeh, aku terus membolak-balikan halaman buku terbarunya mbah kakung sujiwo tedjo, ‘Tuhan Maha Asyik’. Jika di rasa-rasa, bacaan ku melelahkan dan agak berat. Aku pun menggantinya dengan menyimak novel karangan Mas Phutut terbaru, ‘Para Bajingan Yang menyenangkan’. Baca lebih lanjut