Penjara Hidup Dan Kekerdilan Manusia


kiiai-kenduriTamu yang datang ke ndalem-nya bapak pagi itu dari dusun sebelah. Dusun desaku bernama Pinggir. Sedangkan dusun sebelah namanya Sorondolo. Belum siang, waktu masih jam sembilan pagi. Bapak, simbok, dan aku, masih duduk lesehan di atas kursi sofa ruang tamu. Bapak merokok klepas-klepus lalu di susul ngunjuk wedang kopi hitamnya, dan berkata, “Kalau di rumah cuma dua hari… mbok ya ora usah pulang toh, nang. Opo gak, kesel di jalan?” Baca lebih lanjut

Mengetuk Pintu Langit


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur sabtu dan minggu yang lalu, allhamdulillah, aktivitas bangun pagiku di penuhi oleh kemerdekaan hidup. Sesudah membersihkan badan, pagi itu, aku asyik mengurung diri di dalam rumah. Aku larut dalam kenikmatan, memanjakan diri dengan membaca buku dan di temani secangkir kopi. Sinambi leyeh-leyeh, aku terus membolak-balikan halaman buku terbarunya mbah kakung sujiwo tedjo, ‘Tuhan Maha Asyik’. Jika di rasa-rasa, bacaan ku melelahkan dan agak berat. Aku pun menggantinya dengan menyimak novel karangan Mas Phutut terbaru, ‘Para Bajingan Yang menyenangkan’. Baca lebih lanjut

Berkawan Tanpa Kepentingan


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Kadang kala, semakin lama kita tidak bertemu, tak saling tanya kabar satu sama lain, semakin kita ngempet rindu. Masalahnya kawan kita itu, dengan mendadak memberi undangan mantenan. Undangannya bukan lewat telfon, juga bukan lewat ulem-ulem seperti di desa-desa. Namun lewat pesan wasap. Dan tanpa geden-geden seperti ritus mantenan kebanyakan. Aku pun terpana juga, ketika di ujung kalimat pesannya ada sebuah pesan: “Kang, di rumah sudah di siapkan makanan enak. Ada bakso, dan kue-kue. Tapi… tolong lo kang, tolong. Aku ndak menerima buwuhan.’ Pesan itu, ialah laksana badik yang menikam kewajaran. Baca lebih lanjut

Dadi Wong Apik Opo Dadi Wong Lanang?


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Siapa yang tidak khetar-khetir. Seorang teman yang di tindih geluduk besar ‘persoalan’ doa restu oleh calon mertuanya tak kunjung menemui kepastian. Di antara siang dan malam, hati kami di sekap oleh rasa was-was. Teman teman kita di desa, hampir setiap hari menanyakan kabarnya kepadaku. Aku pun merasa kebingungan juga. Dan hanya bisa memberi jawaban yang itu-itu saja setiap hari: ‘masih susah di kontak kang, pesan dan tefonku belum juga ada jawaban.’ Orang tua, orang tua angkat ini, kekhawatirannya nyaris mendekati kecurigaan besar. Baca lebih lanjut