Kyai Gatilut Nladung Wartawan


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur pendek di sebuah desa Darmogandul diadakan kerja bakti. Warga dusun Darmogandul dari anak-anak, remaja, bapak-bapak sampai mbah-mbah turun serta membersihkan area perkampungan itu. Di desa itu, dihuni bermacam-macam latar belakang pekerjaan:  dari seorang lurah, guru, wartawan, pedagang. Namun yang paling banyak adalah seorang petani ‘kontrak’ penggarap sawah. Jam delapan dimulai, disepakati area kerja bakti membersihan kalenan, dan rumput liar di seberang jalan masjid Al-Asmaradhana kampung. Semua hadir pada pagi yang sejuk itu. Baca lebih lanjut

Betapa Gentingnya Pasca ‘Kultural Mudik’


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Dalam adagium masyarakat jawa: tidak perlu menunggu usia senja dan sekarat untuk memilih keabadian rohani. Dan salah satu metode penginsafan adalah memaafkan diri sendiri. Berziarah dengan masa lampau. Lebaran kemarin saya sungguh tidak bisa duduk thengak-thenguk. Saya ider. Mengentuk dari pintu ke pintu ‘angon dosa’ untuk mengaku sebagai hamba yang paling durjana di tengah kerumunan masa. Bersalaman kepada seluruh warga kampung. Betapa nikmatnya mengucap maaf. Bertekuk lutut dihadapan orang tua dan sesepuh kampung yang juga bersedia me-maafkan. Baca lebih lanjut

Puasa Orang Desa Menggebuk Kultur Priyayi


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Sebenarnya baru saja saya hendak menulis tema-tema isu ‘radikalisme’, toh niatan itu saya talak dalam-dalam. Di Indonesia ini apa dan siapalah identitas saya? Mana mungkin pendapat orang kampung didengarkan oleh suatu mekanisme kehidupan zaman yang menyembah, ‘kamu harus jadi apa dulu baru boleh ngomong?’ dari pada tumbuh menjadi epigon-epigon ‘pembebek’ baru, mendingan saya pergi ke sawah saja. Menjadi Pak Tani. Anggaran biaya kuliah saya pindahkan untuk membangun matahari esok pagi dari beribu-ribu lembaran-lembaran kekayaan pikiran ‘orang tua’ kami. Baca lebih lanjut

Fenomena ‘Kegenitan’ Ulama Perkotaan


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Jam lima sore Harjo keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja dengan wajah jengkel. Lengan bajunya ngeluntung sampai siku-siku. Baju kemeja abu-abunya luput dari sentuhan rapi setrika cap jago. Saya tidak tahu sebab-sebabnya. Apakah bentuk pelayanan ekpresinya itu karena ulah berita ‘bad news’ koran sore dari yang dia baca?. Atau-kah, kepala dia terbakar oleh ‘postingan-postingan umup’ di media sosial yang dia santap?. Atau kemungkinan yang terakhir: kepalanya sudah terlanjur di taburi oleh penceramah-penceramah ‘jembut jagung’ abad perkotaan?. Apa yang membuatnya rahangnya mengeras?. Sampai-sampai kepalan tangannya juga ikut mengepal bagai hendak menyikat Abu Jahal. Baca lebih lanjut

Perempuan Yang Menangis di Bawah Ka’bah


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Selama ini kita di doktrin untuk hidup sukses harus bertahan di ibu kota. Entah rumus itu datang dari mana, kota menjadi ‘juru selamat’ menghidupkan impian besar anak-anak dusun?. Anak-anak sedesaku yang sekolah di kota, hampir semuanya tidak pernah kembali ke desanya.  Sesudah lulus, mereka mengembara ke kota, mendekat kepada pusaran besar jaminan-jaminan hidup yang lebih merdu dari pada suara deru mesin penggiling padi. Pada sore awal bulan Maret, sesudah pulang kerja, tembok kamar menjadi tempat yang paling enak untuk bersandar. Terdengar ada pesan washaap yang masuk. Baca lebih lanjut