Yang Terhormat Desa Saya


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Orang modern hidup seperti robot. Gerakannya sungguh mekanik setiap hari.  Berjalan serentak secara masal. Keluar rumah hanya untuk bekerja. Saat langit mulai gelap mereka pulang dan mengunci pintu. Tiada yang tahu siapa nama tetangga di samping rumahnya. Tiada yang tahu siapa warga kampung yang meninggal sore itu. Tuhan kehidupan di kota sungguh sangat sibuk.

Baca lebih lanjut

Iklan

Riba-riba Dengkolmu Ambrol!


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Baru saja saya hendak ngaso untuk merebahkan punggung di atas karpet mushola. Ujug-ujug seorang pegawai kantor sebelah yang nyambi membuka warung makan pecel kaki lima mengajak saya rembukan. Maksud ‘kaki lima’ disini bukan sejenis ‘warung cabutan’ korban sebuah budaya fedoalisme institusi seragam hijau. Melainkan warung resmi dengan izin memadai. Warungnya itu di jaga oleh istrinya. Buka sesudah ba’da asyar. Baca lebih lanjut

Kisah Kebudayaan Alhamdulillah Mementung Si Hanya


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Saya sedang enak-enaknya menyantap kudapan di lantai teratas sebuah institusi. Si tamu yang datang itu bebarengan dengan sebutir nasi terakhir yang baru saja lenyap saya bersihkan. Bayangkan, andai saja ia datang di awal-awal sebelum saya makan siang, kisahnya bisa senasip dengan lalapan godong kates putrowali yang amat, maaf — pait nyetak. Toh, meskipun rasanya pahit tetap saja dibutuhkan karena hidup berada di dua wilayah itu. Enak dan tidak enak. Baca lebih lanjut

Kyai Gatilut Nladung Wartawan


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur pendek di sebuah desa Darmogandul diadakan kerja bakti. Warga dusun Darmogandul dari anak-anak, remaja, bapak-bapak sampai mbah-mbah turun serta membersihkan area perkampungan itu. Di desa itu, dihuni bermacam-macam latar belakang pekerjaan:  dari seorang lurah, guru, wartawan, pedagang. Namun yang paling banyak adalah seorang petani ‘kontrak’ penggarap sawah. Jam delapan dimulai, disepakati area kerja bakti membersihan kalenan, dan rumput liar di seberang jalan masjid Al-Asmaradhana kampung. Semua hadir pada pagi yang sejuk itu. Baca lebih lanjut

Betapa Gentingnya Pasca ‘Kultural Mudik’


#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Dalam adagium masyarakat jawa: tidak perlu menunggu usia senja dan sekarat untuk memilih keabadian rohani. Dan salah satu metode penginsafan adalah memaafkan diri sendiri. Berziarah dengan masa lampau. Lebaran kemarin saya sungguh tidak bisa duduk thengak-thenguk. Saya ider. Mengentuk dari pintu ke pintu ‘angon dosa’ untuk mengaku sebagai hamba yang paling durjana di tengah kerumunan masa. Bersalaman kepada seluruh warga kampung. Betapa nikmatnya mengucap maaf. Bertekuk lutut dihadapan orang tua dan sesepuh kampung yang juga bersedia me-maafkan. Baca lebih lanjut