45 menit bersama JUSUF Kala di Universitas Airlangga

Awal pagi ini rasanya semangat penulis meluap-luap bahkan tidak ada yang bisa menghalangi untuk menghadiri seminar tentang ,’’menantang dunia dengan wirausaha menuju Indonesia mandiri’. Semangat itu muncul ketika yang menjadi ‘’aktor pembicara’’,  adalah  salah satu mantan wakil presiden Republic Indonesia, yaitu bapak Jusuf kala. Bilau akan hadir menjadi narasumber utama. Bisa di bayangkan auranya seorang ‘’pengusaha itu/JK’’ bisa meularkan viru-vurus pembawa semangat seakan-akan, sekali mendayung 5 pulau terlampaui…(hehehe ). Karena Usianya biliau sudah memasuki 69 tahun dan masih produktif, hebat bukan..????  bayangkan saja tadi malam biliau sempat nongol di TV ONE dalam acara Jakarta Lowyer Club kemudian paginya  jam 10 harus sudah terjun ke Kota Pahlawan Surabaya untuk sekedar membagikan ilmunya kepada ank-naka bangsa ini.

Rasanya diri ini mungkin juga teman-teman yang lain malu- jika hanya mengisi kegiatan sehari-hari hanya duduk, cangkruk, (kurang produktif atau bisa di bilang ‘’kuliah pulang pergi’’). Katanya orang jawa bilang Isin rek  kalau Pemuda Generasi penerus ‘’jam terbangnya rendah’’ dan dikalahkan sama Pak JK yang usianya masuk kepala 6. Jadi manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu datang dan manfaatkan masa kejayaanmu sebelum masa rentamu datang. Dalam acara ini bukan hanya pak JK saja yang menjadi pembicara namu ada direktur utamanya PT. Semen Gresik Bapak Tjipto. Sangat disayangkan penulis telat jadi gak bisa updet karena ada ganguan teknis dari teman-teman.

Dilihat dari latar belakangnya Pak Jk, Jusuf Kalla, lahir dari pasangan saudagar Bugis, H. Kalla dan Hj Athirah, di Watampone, Bone, Sulawesi Selatan. Ia putra kedua dari 10 orang bersaudara. H. Kalla adalah pemilik NV Hadji Kalla, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan barang kebutuhan sehari-hari, hasil bumi, dan bahan bangunan.

Tamat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada 1967, Jusuf Kalla langsung terjun menggeluti usaha milik keluarga. Waktu itu, perusahaan dalam keadaan sulit akibat situasi ekonomi nasional yang buruk. Di tangan Jusuf Kalla, perusahaan keluarga itu tumbuh dengan pesat. Pada 1969, perusahaan yang kemudian berganti nama menjadi Hadji Kalla Trading Coy itu, mendapat kepercayaan dari Astra International sebagai penyalur utama Toyota di Kawasan Indonesia Timur. Tidak puas di otomotif, tahun itu pula Jusuf Kalla mendirikan PT Bumi Karsa yang bergerak di bidang konstruksi.

Dalam hitungan beberapa menit ‘’pikiran’’ para peserta di arahkan, dan disadarkan lewat analisa bilau, dengan memuat perbandingan bahwa Cina dengan Negara berpenduduk paling banyak di dunia,  sekarang menjadi Negara dengan cadangan devisa terbesar. Itu terjadi karena dalam negara tersebut terdapat nilai tambahnya untuk meningkatkan ekonominya. Nilai tambah itu ternyata ada di sector ‘’PENGUSAHA/INTERPRENEUR’’.            Kemudian membalikan dengan keadaan yang ada di Indonesia, sekarang jumplah penduduk negeri ini hampir sama dengan cina, tapi kok tetep menjadi negara berkembang??? Ternyata mental untuk jadi pengusaha masih rendah (jadi ya kayak di Cina perlu di adopsi). Salah satu contoh yang mencolok antara pengusaha PRIBUMI dengan keturunan CINA adalah ketika keturun orang Cina berlatar belakang pengusaha maka sudah pasti anak dan cucunya juga menajdi pengusaha. Dalam proses ini menjadi tradisi turun temurun pantas saja kalau negara tersebut menjadi negara ‘’INTERPRENEUR’’, coba bayangkan apa yang terjadi di negara kita ketika bapak/ibuknya menjadi pengusaha belum tentu anaknya juga menjadi pengusaha.

Jika negara dengan pelaku usahanya besar maka sektor ekonominya juga akan membaik mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pemasukan negara lewat pembayaran pajak. Dari situ berbagai lini persoalan negeri ini akan terpecahkan mulai dari sistmem alutsista (pertahanan keamanan)  negeri ini yang masih kalah jauh dari negara tetangga. Apabila negara ini punya system persenjatan yang lengkap  maka negara lain akan menghormati, setidaknya punya wibawa.

Dari Cina  lari ke negeri tetangga Singapura, negeri dengan icon kepala singa yang wilayahnya sangat kecil itu bisa menjadi negara maju. Bisa di simpulkan bahwa entah negara besar maupun kecil semuanya punya kesempatan, punya peluang untuk menjadi negara ‘’interpreneur’’. Cuman yang membedakan semangatnya. Masyarakatnya harus bermental wirausaha, inovasi sebaga dasar utama pegerakan wirausaha. Ada salah satu  pertanyyan yang menarik dari peserta? Dia menanyakan tentang keadaan usahanya di dua kota. Kota yang pertama terdapat di Kediri dan kota kedua berada di banyuwangi. Pertanyaannya adalah tentang keadaan bisnis yeng berbeda omset dari dua uotlet yang terdapat di dua kota tersebut. Jelas saja bisnis yang berada di kota Kediri omsetnya jauh lebih besar dari kota banyuwangi, ini di dasarkan pada ekonomi masyralat kota Kediri yang berada di atas, ada salah satu factor penggerak ekonomi di kota itu yaitu PT. Gudang Garam Tbk. Jadi pertukaran uanggnya sangat mobile. Beda jauh sama yang berada di kota Banyuwangi, ketika  nilai tambah dalam kota tersebut tidak ada yang signifikan dan ekonomi masyarak di ibaratkan hanya jalan di tempat.

Yang harus harus dilakukan pengusaha bila mendapatkan situasi seperti di kota Banyuwangi adalah, melakukan inovasi produk menurut Pak JK  ada 3 prinsip utama yaitu lebih baik, lebih murah, dan lebih cepat. Jadi renungkan anaslisa ini…!!!!

Untuk jadi pengusaha tidak harus melihat background, maksutnya pendidikanya lulusan apa? Latar belakang keluarganya pekerjaanya sebagai apa? Kita ambil contoh aja bob sadino. Bob mampu menjadi pengusaha sukses hanya latar belakang pendidikan tamat SMA dan latar belakang keluarga yang non-pengusha, tidak itu saja Nabi muahamad SAW dulu profesinya juga sebagai penguaha, YAITU SEBAGAI pedagang, .. Bukan berarti saya mengajak teman-teman yang membaca nonte ini untuk tidak sekolah, melainkan pendidikan hanya pondasi pembentuk lompatan dan hanya sebagai alat. Produk dari universitas adalah penelitian sehingga menghasilkan riset, dari riset kemudian di amplikasikan ke masyarakat. Jika tidak menghasilkan ya di musemkan saja. Hahhahaa.

Di akir sesi waktu pak Jk membahas ketahanan pangan di negei ini,  departemen pertanian negara Indonesia tersbesar di seluruh dunia, tapi yang menjadi pertanyyan adalah kenapa Indonesia masih mengimpor beras???? Padahal negara ini di kenal sebagai negara agraris. Aneh bukan…!!!

Ya mending di Museumkan aja itu kantor.’’Celetus JK. Yang seirama dengan Dosen saya waktu di semester 2.

 

 

Budi Santoso

Manajemen Perpajakan

STIESIA Surabaya

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s