Balada 07.00 Gerbang Sekolah Part II

Berlanjut dari yang sebelumnya Balada 07.00 Gerbang Sekolah di sesion 1, yang penting jangan kayak sinetron deh. Gue mau membagi-bagikan kepanikan gue, gak bayar kok gratis di cicil boleh, bunganya 20% jangka waktu pembayaranya 20 tahun.   Salam ngutang.

 

Kebetulan rumah gue dengan rumahnya Slongor masih satu RT (yang tidak tau RT angkat bulu ketek). Jarak Sekolah  sama rumahnya Slongor lumayan dekat, 30 menit jika di tempuh memakai sepeda ontel, 10 menit jika di tempuh dengan sepeda motor. Kebetulan posisi gue di angka 10.

 

Apa yang terjadi,  dimana-mana mitos angka 10 membawa kebaikan, sesampainya gue di rumah Slongor gue terika-teriak ,’ Ngorrrrrrrrrrrrr-ngorrrrrrrrr dah bangun lo,’’

“ Udahh,’ Saut pembantunya.

 

“Hmmm (*_*) ,” Ni kayaknya pembantunya budek tingkat tinggi,’ gerutu gue.

 

“ Slongor belum bangun, bangunin sana,”

 

Mendengar kabar itu, wajah kegantengan dan rambut gue ala Kipli tiba-tiba layu. Gue Membuka pintu kamarnya, waktu tinggal 15 menit dan Slongor masih kerubutan sarung di selimuti spray bergambar hello-kity. Inilah keburukan Slongor di balik wajah bringasnya.

 

Dengan nada keras gue lantunkan dengan merdu,’’Banguunnn begokk jam berapa ini,”??

Seketika itu  Slongor dengan wajah yang kusam dan matanya yang byar pet menerjang gue yang berdiri di depan pintu.  BBbbRrrrrKKKkkk bunyi keras benturan terdengar,  jidak gue mencium pintu dan jambul ala Kipli gue tak terselamatkan.

 

“ Slongorrrrrrrrrrrrrr,” teriak gue kesal.

 

‘’Besok aja gantian’’ sautnya

 

Selang beberapa menit kemudian.

 

“aduhhhhhhhhhhh sakitttt”, terdengar suara dari dalam kamar mandi,

 

“ Kenapa loe ???

 

“ Titit gue,” rintihan suara Slongor mirip ibu mau melahirkan.

 

“iyaaa kenapa Ngor” ???

 

“ Titit gue nyangkut di Resleting,”

 

“Yaa sudah, besok gak usah gantian Benahin sendiri,”  jawab gue sambil nyengir (^_^)

 

 

Tak tau apa yang terjadi di kamar mandi sana, nyawa titit Slongor dalam ke adaan terancam, Selang itungan detik jeritan Slongor mulai reda, pertanda banyinya  sudah  lahir. Semoga tititnya dalam keadaan sehat wal-afiat. Sementara itu gue menungu di kursi ruang tamu, sambil di temani sebotol air mineral yang memang sebetulnya tidak haus. Harap-harap cemas mulai tercium setelah melihat jam yang ada di hp gue pukul 07.00.

 

“Ngorrrr kita telat begokkk” teriak gue pasrah.

 

“Menyerahkan diri aja ke Pak Rohmat,” jawab Slongor.

 

Duk duk…duk. Suara dentuman kaki Slongor yang segede gajah keluar dari kamarnya, “Markitkom (Mari kita kemon),” tanya Slongor. 10 menit lagi tiba di sekolah, dan 10 menit lagi bakal jadi perkedel. Dalam perjalanan menuju ke sekolah Slongor berdoa,

 

” Semoga hari ini guru-gurunya pada rapat’

 

“ Hmmm mana ada doa kayak gini di kabulkan,’’  saut gue.

 

Tepat di gerbang Sekolah sudah beridi tegak Pak Rohmat yang berbadan kekar itu, kali ini gue dan Slongor di anggap tamu istimewa berharap ada karpet merah yang menyambut, tidak ada “buku tamu” yang di pegang Pak Rohmat.

 

“Motornya di parkirin cepetan, terus langsung menuju lapangan upacara”  celoteh Pak Rohmat Sambil membukakan gerbang Sekolah.

 

 

 

 

 

Terlihat berjibun puluhan teman-teman yang berbaris dilapangan upacara yang juga datang terlambat pagi ini. Mulai dari kelas satu sampai kelas tiga. Sementara jumplah terbanyak masih di pegang kelas tiga. Sangat kebetulan pagi ini lapangan upacara penuh dengan genangan air hujan di segala penjuru.

 

Dengan muka tunduk mengheningkan cipta gue dengan Slongor berjalan menuju lapangan upacara ikut barisan yang ada di lapangan. Tepat di depan barisan, berdiri Pak Kepsek (Kepala Sekolah). Sarapan pagiku kali ini makian-makian dari Sang Kepsek, bau-bau gunjingan bakal menyebar di lingkungan kampus, menjadi gossip, padahal ini notabenennya kesalahan Slongor. Apa daya nasi telah menjadi bubur, jadi mending sarapan bubur saja.

 

“hoeeee kalian berdua yang baru datang, baris di belakang”, saut Kepsek dengan nada kesal.

“Nama gue bukan hoeeee Pak,  tapi Slongor’’ bantahan Slongor dengan muka jeleknya.

 

“hmmmmmm mudah-mudahan Slongor di Kutuk jadi ganteng, akibat pembang- kangangannya” saut gue ngedumel dalam hati,

 

“Slongorr baris sendiri di pojokan sebelah ujung terus duduk di genangan air’’ intruksi Sang kepsek. Raut muka Slongor berubah jadi ijo siap-siap berubah menjadi kolor ijo,  hihihhihii. Raksasa HULK saja biar keren.

 

Pantat Slongor yang keceng basah akibat duduk di genangan air, perlahan menjalar di sekujur celana panjangnya. Dalam hati gue berharap semoga rumah tititnya Slongor dalam keadaan bersih walafiat, agar terhindar dari garuk-garuk pantat.

 

 

Situasi semakin hening bercampur tegang, tak sengaja pandangan gue lurus ke depan. Tiba-tiba muncul sebuah penampakan beridi tegak di depan gue tapi bukan makluk sejenis mbak kuntilanak, om enderuwo dan sejenisnya

 

. Dengan muka heran gue kaget, wah ternyata ada satu teman kelas gue yang senasip sepenang ngungan. Namanya Kempong.

 

“Anak-anakku yang saya banggakan capek kan berdiri terus”  tanya Kepsek.

 

“Caaaaaaapekkkkkkkkkkkkkkk” saut  kompak kolaborasi suara korban pukul 7.

 

“ayukkk duduk sana di atas genangan air’’ komando terakir Sang Kepsek.

 

Suara riuh redang terdengar di segala pencuru lapangan upacara, semunya sibuk menyelamatkan  pantatnya dari ancaman genangan air.  Sementara para korban yang selamat dari pukul 7 mengintip dari atas jendela, sambil menampakkan senyumnya yang manis. Inilah ekpresi yang perlu di tiru, selalu bahagia dalam dalam keadaan duka atas terancamnya ke selamatan pantat teman-temanya.

 

Pantat gue mulai basah, terasa risi kian menyelimuti duka di pagi hari. Kempong duduk di samping gue. Gue memulai percakapan kecil dengan Kempong.

 

“Kenapa telat Pong         (Sapaan akrabnya),”?

 

“Tadi malam begadang ngerjain PR” jawab Kempong.

 

“Wuiihhh rajin” saut gue.

 

Tiba-tiba tedengar suara ledakan di bawah pantat Kempong, drer….prettttt prettt blllekkkk. gelembung balon air bercampur gas pembasi hidung menguap ke udara, mulai menyusup menerobos lorong-lorong hidung, beruntunglah kalian yang terserang idung meler. Ternyata selain hobi belajar Kempong juga hobi kentur di dalam genangan air.

 

Puluhan siswa korban pukul 7 saling tuding menuding soal bau kentutnya kampong, sementara rahasia masih di bawah kendali gue, melihat mukanya  Kempong yang panik rasa-rasanya gak mungkin gue membeberkan rahasia tentang “pembunuhan” hidung  masal ini. Pelakunya pun hanya pantat yang tak berdosa yang tak tersengaja, toh kalau di beberkan di public  tidak ada rumah tahanan kusus pantat hobi kenut. Alat bukti juga tidak ada, mana mungkin kentut bisa di pegang. -__-

 

Virus dalam air mulai menyebar, penyakit garuk-garuk pantat mulai timbul. Ini akan menjadi rekor muri, dengan kategori garuk-garuk pantat masal di genangan air hujan.

 

Hampir satu jam korban pukul 7 mendiami lapangan upacara, hukuman ini di luar dugaan gue. Sementara Slongor yang duduk di sebelah pojokan lapangan selamat dari meriam pantatnya si Kempong. Indikasi tajam hukuman masih berlanjut, kapokkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk jeritan gue dalam hati.

 

***THE END***

Tunggu Episode Selanjutnya dengan Judul Yang Berbeda

Salam ngetwit;

Sudah 3 jam bertahan di index, ayoo jdi headline cek—i> http://fiksi.kompasiana.com/novel/2012/05/….

 

 

 

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s