Kisah Sedih Di Balik Seragam Abu-Abu

ilustrasi

 

Lanjutan: Balada 07.00 Gerbang Sekolah Part II

 

Sudah jatuh tertimpa tangga, rasanya kayak apa cobak. Ngebayangin kulit di gigit semut aja girangnya sampai loncat-loncat apa lagi sampek kejatuhan tangga. Pasti bonyok bin pesok, benjot sana benjot sini. Di tambah lagi ngerinya muka ganteng pemberian Tuhan ini di perban sana-sini. Sudah layak dan persis mendapatkan julukan zombie.  Begitu dramatis, kejadian ini masuk dalam scenario yang berturut-turut sudah layak untuk di bilang ala telenovela.

Jadi yang suka nonton telenovela simak aja derita gue ini ketika masih menjabat siswa SMA 1,  mau gue bagi-bagan kan barang kali ada yang iba terus prihatin ngasih gue mobil, rumah, apartemen, dan yang terakir  kos-kosan buat usaha. Cukup sedikit permintankan gue kan. Na, yang mau nyumbang silahkan follow twiiter gue boediinstitute@boedipanggul .

Telat tiga hari buat gue seperti masuk dalam penjara dag-dig-dug. Sudah 1 jam lamanya penderitaan pantat gue  mengalami siksaan yang keji, bahkan saking kejinya salah satu pantat temen gue mengalami masuk angin, seumur hidup gue belum pernah denger penyakit pantat masuk angin, kalaupun ada masuk angin menerpa badan dan sembuhnya umum-nya di kerokin sambil di olesin balsem. Tapi apa mungkin pantat di kerokin di lapangan upacara. Sungguh pelanggrana Undang-undang Pornografi dan pornoaksi. Apa lagi pas ngerokin keluar tu bom meriam-nya bisa hancur ni peradapan. Dan sungguh gak keren banget orang mati gara-gara nyium bau kentut.

Efek berendem air comberan dari eyang hujan selama 1 jam rasanya ngejember terasa risi di segala penjuru masuk ke dalam pori-pori kulit, tahan-tahan, tahan jangan sampek tangan masuk…. Selangkangan maksutnya

. Pak Kepsek masih saja membariskan puluhan siswa yang melanggar pasal 7 (ayat silahkan isi sendiri).

“Hayoo semua berdiri baris lagi, He.. kamu Slongor ikut barisan sini,’’?? perintah Kepsek dengan muka masam, sambil tangan kirinya masuk kantong celananya.

Kaki Slongor terseyok-seyok  kelihatan bau ringkih setengah geleyor seperti tiyang rubuh, mata merendam, raut muka ngambek,  mengambil posisi berdiri di sebelahku menggeser tempat Kempong.

“Gak papa lo Ngor” ?? tanya gue lirih setengah berbisik.

“Iya gak papa”  jawabnya singkat.

 

Tumben mukanya gak garang gini, firasat gue yang aneh dan nyeleneh mulai bertunas: jangan-jangan Slongor mau menyerah. Lamunan gue mulai menggercap menerawang dalam imajenasi. Perlahan jemarinya membuka kancing baju, lalu di kibarkanlah baju warana abu-abu itu dengan tanganya. Badanya yang cungkring itu kini berlapis kain tipis berwarna putih.  Sembari lari kecil mengitari  lapangan basket sampai berulang-ulang. Tepat putaran ke-2 kali Slongor menginjakan kaki di garis finish, depan Pak Kepsek. Mana tangan, mana tangan, mana tangan Pak Kepsek.  Di ciumilah tangan Pak Kepsek dengan suara ngos-ngosan nerocos dengan badan melekuk sambil berkata “Amphhhhunnn Bapake Kepsek, Sayaa jangan di hukum lagiiii sudah insaf ,” suaranya mendadak solo karir beracampur tegal. Pasti kesurupan jin jengkol pete ini.

“Hoeeee jalannn begokk,” teriakan Slongor mengeras di telinga gue

Auman suara keras Slongor menyadarkan gue dari ngelamun suri di pagi bolong.

“Guuuuuuannnnnsuuuu sujuancukkkkk,” saut gue dengan kesal (don’ try at home ye)

“Guee ngelamunin lo goookk-begok,”

“ohhh so sweettt,” bueseeeet saking setia kawan lo sampek ngelamunin gue.

“Iyaaaaa… Ngelamunin lo, bakalan di keluarkan dari sekolahan,” sergah gue.

“Ni bogem mentah, mau lo,”

Nampaknya Slongor ngerasa garing sama lawakan gue, padahal menurut gue ini sudah lucu. Dengan buru-buru gue berusaha menimpali dengan pertayaan yang lain.

“Kita di Suruh jalan kemana ini Ngor (pangilan Slongor)”

“Ke Lapangan tambak cangkring,”

“Ccccceettttssss……” jawab gue dengan bibir menyor ke kanan–kiri.

 

Barisan ini mengekor ke belakang, dan lebarnya hanya di isi dua anak.  Setelah gue  itung tenyata jumplahnya 15 anak, terdiri dari kelas satu sampai kelas tiga, dan kebetulan kelas tiga masih mendominasi jumlah terbanyak, patut di contoh ya adik-adik (Don try at home *kalau gak bisa bahasa londo bukak kamus*). Lumayan, untung masih ada wakil dari kelas satu dan dua, pertanda budaya kasep  akan berlangsung  turun-termurun, sayang kan kalau tradisi semacam ini musnah di makan zaman. Nanti kan gak ada kerjaan tu, kalau semua siswa pada disiplin, jadi ngangur kerjanya Pak Kepsek, Pak Rohmat dan Pak Bp. Gak mau kan makan gaji buta ??.

 

Gue mulai garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Mana pula hari ini jalanan ramai lagi, pas dengan hari rabu wage, dimana pasar di kota kecil ini bertransaksi di hari itung-itungan jawa, yaitu hari wage.  Kebetulan setiap hari wage Ebes gue setor dagangan ke pasar dengan sopir langganannya. Kalau gue ketahuan di hukum kayak gini. Tamat deh peradaban gue. Mudah-mudahan tu sopir langganan Ebes gak ngelihat gue lagi gerak jalan. Takutnya tu supir langanan ngember-ngowos dan laporan ke Ebes. Bisa jadi ancama buat gue.

Sepanjang pejalanan semua peserta yang kena hukuman pada ngecuprus, saling mengabarkan kesehetan pantatnya masing-masing. Terlihat di belakang barisan  mirip celengan semar di atas meja, perpaduan antara motor Vespa butut bertunangan dengan Pak Kepsek yang badannya tidak tinggi-tinggi amat alias bisa di bilang kuntet. Pemandangan ini menggingatkanku pada almarhum celengan semar yang mati gara-gara kebanyakan makan uang receh. Jadi inget kalau nabung jangan banyak-banyak biar semarnya tetep hidup.

Semua pada egosis, gak ada yang peduli sama nasip gue setelah ini.

Suara detakan sepatu membetur aspal berirama kiri-kanan, kompak mengiringi perduka-an anak-anak dablek-nakal SMA 1.

“Ngorr bakal di apain yaa kita di lapangan,” tanya gue mengilangkan kegusaran.

“Paling-paling di suruh berjemur,”

“Ngorr…. nanti kalau di jemur wakilin gue ya,” ledek gueeee *nyegir*

“hahahhahaaa….. Emangnya ini mau selametan

“Paman gue namanya Selamet,”

“hahahhahaaha,” ketawa Slongorrr pecahh di sautt, suara gerombolan barisan siswa nakal SMA 1.

Tak membutuhkan waktu lama, 15 menit perjalanan barisan “gerak jalan” pukul 07.00 sudah di atas jembatan tambak cangkring.  Dalam hitungan menit akan sampai lapangan.

Untuk gak ada supir langananya Ebes yang  lewat jalur ini,’ tanya gue sendiri setengah gusar.

Tiba-tiba nyolonooooooooong begitu saja, terlihat jelas melintas di samping gue mobil Cetol berwana ijo tapi bukan kolor ijo. Dengan sang sopir berkumis wajah familiar di kalangan penumpang lalu menyapa gue.

“OHHH Aaddaa mas  Boedi to,”sautnya sambil kepalanya menengadah ke sisi kiri stang setir.

“Anjjrittttt… lo supirr Cetol Gue sumpahin bulu ketek lo wangiiiiiiiiiiiiiii,”serak gueee dalam benak.

.

 

Jantung gue kembang kempis di susul telinga yang mulai memerah masam langsat. Kalau Ebes tau gue kena hukuman model ginian. Tamat deh riwayat dompet gue. Dari mulai uang jajan, uang bensin, uang pulsa, bakal di depak dari saku gue. Krisis moneter di depan mata, Solusinya bila memang terjadi cuman satu kata ngutang. Kalau ngutang sama adik gue si Sandra sama Dina gak mungkin, mereka berdua meditnya tingkat bangsawan. Apa lagi kalau sampek ketauan gara-gara ngutang gak di kasih uang sama Ebes, sudah bisa di pastikan  banjir cibiran bakalan membonyokkan telinga gue. Adik gue dua-duanya memang gak bisa di harepin. Utang sama Emes tambah bonyok tiga kali. Padahal ini notabennya kesalahan Slongor, kenapa yang nangung derita semua gue. Gak bisa, gak bisa. Slongor harus dapat jatah bagian. Biar adil. Gue harus cerita sama Slongor biar tau. Mudah-mudahan di kasih.

Sementara Pak Supir berkumis dengan wajah tak berdosa itu sudah hilang di makan jalan yang berkelok-keok. Semua rombongan Sudah sampai di lapangan.

 

______To Be Continue_____

Selamat Week and

Salam boediinstitute@boedipanggul .

 

Iklan

2 thoughts on “Kisah Sedih Di Balik Seragam Abu-Abu

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s