Muka Merah Pak Kepsek

ilustrasi

Lanjutan; Kisah Sedih Di Balik Seragam Abu-Abu

 

Gue dan Slongor masih dalam posisi semula, duet saling mengisi sisi kanan dan kiri *serasi*. Semua barisan tegap dalam posisi siap menunggu intruksi dari komendan Kepsek. Barisan ini tetap berbentuk semula menjuntai ke belakang, memanjang dari yang tertinggi menuju ke yang terendah. Berarti yang kuntet kebagian di belakang. Sebenarnya badan gue sih gak tinggi-tinggi amat, berhubung di samping gue ada Slongor ya dengan sedikit lega masuk dalam kategori pria berbadan tinggi setengah menjuntai. Terhindar dari opini negatif. Image-nya kalau badan kuntet sering di lekatkan dengan sebutan jalan ngondek. Wuih -____-

Sinar terik  matahari mulai menajamkan kulit. Menembus ke pori-pori dan menelusup sampai tulang, begitu terasa clekit-clekit. Sudah di atas jam 10.00 wib, baru nganyur (berdiri) beberapa menit saja semua pada sambat-merintih kepanasan. Pergerakan tangan kanan mulai membentuk siku-siku, hormat tanpa perintah  serentak dilakukan, sudah mirip upacara peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Pak Kepsek mulai jalan mendekat ke arah barisan ini.

“Kepanasan,” tanya kepsek

“Iyaaa Pakkkkk,” jawab serentak kompak

“Manja kalian ini, sudah celana model pensil, bajunya setengah keluar…. wes sok-sok model gauoool tapi gak ada yang ganteng blasss,’’ tukas Pak Kepsek setengah mengejek.

Pak kepsek masih menampakan muka merah langsat, nadanya kian meninggi pertanda hujan makian di siang bolong bakal membadai.  Gue mencoba melirik-lirik samping kanan-kiri depan-belakang. Yang ada…. Gue temukan muka-muka menunduk seraya mengheningkan cipta ke-15 siswa yang nakal ini.  Tak taulah, mungkin pada takut melihat muka Pak Kepsek yang lagi merah matang, atau mungkin memalingkan mukanya dari keterjemuran.

Terdengar suara helaan nafas

“Sebenarnya saya ini gak tega menghukum kalian, tapi kalian ini nuuuakalnya tingkat dewabudjana,’’ yowes sana neduh di bawah pohon waru, saya menyusul,” imbuh Pak Kepsek.

 

Tak ada suara yang menjawab pidato terakir Pak Kepsek, yang ada hanya suara hentakan kaki yang lari tunggah—langgang menuju pohon waru, rindangnya daun waru yang berbentuk semanggi segi lima menutup celah sinar matahari yang menembus sampai tanah. Terasa teduh, sesekali angin menghulus kecil menggulung keringat. Fiuuuuuuuuuh.

Mayoritas ke-15 siswa ini duduk takzim sembari rebahan *semoga gak ada yang kipas-kipas selangkangan deh*. (lo piker ini sunatan). Angin kebun lalu-lalang hilir-mudik melintasi hidung gue, terlintas di pikiran gue moment ini sangat cook buat ngelatih jantung. Jadi gak boleh di lewatin begitu saja. Ambil nafas yang panjangggggggggg…..

perut bagian diafragma gue mengembang, perlahan jantung seakan berhenti berdetak di sertai lubah hidung gue yang membesar, pas dalam mengambilan udara sampai di titik klimak tiba-tiba tercium bau, semacam bau kolak kaos kaki. Seketika itu juga nafas gue kembang-kempis.

ANjirttt….buru-buru gue menyumpel lubang hidung gue dengan jepitan antara ibu jari dan telunjuk, tau sendiri kan ekpresi wajah orang yang kesal.

“Bau kaos kakinya siapa ni wooooooooooooeee,” bentak  gue… *Nada maki*

Terdengar suara menderu “Ga… aaaaakkkk…kkkkk… kakak, kita pakek kaos kaki kok… Lagiian ini   sering di cuci,’’ saut suara mayoritas kelas 1 berwajah ketakutan.

Gue coba terjunkan jurus intimidasi teriak setengah maki lagi “Kelas 2, cobaakk mana ngakuuuu yang bau angkat tangan,’’

“Kita juga sama kakak, bersih semua nih lihat sendiri,” saut kelompok kelas 2 sambil menarik celana pensilnya ke atas.

Slongor yang duduk di belakang  menepuk pundak gue,  berusaha menenangkan gue yang dalam tensi tinggi.

“Sabar boedi… sabar…. Ni kaki gue lihat,’’

Sekonyong-konyong langsung saja gue menoleh ke belakang-terlihat pemandangan bulu kaki Slongor yang lebat, panjang kriting tak terurus sudah mirip semacam tebah (sapu lidi), tanpa di tutupi ujung celana pensilnya.  Tak ada sehelai kaos kaki yang menepel pada kaki Slongor. Hidung gue berusaha mengendus-endus sumber pusat  bau tersebut. Ternyata benar, pusatnya ada di Sepatu Slongor. Kakinya yang tak berbaju membuat keringatnya bau, semacam bau kentut yang kebanyakan makan kurusuk dele, apalagi rumah kaki Slongor alias si sepatunya jarang di cuci. Terlihat dari warna sepatunya yang buluk, kusam berbalut debu-debu yang lama mengerat pekat.

Meskipun bau sudah teridentifikasi, gue gak mungkin menghakimi Slongor di muka umum, apalagi di depan adik-adik kelas ini. Membentak Slongor sama halnya membangunkan  sapi dalam kandang. Badannya yang bongsor tinggi besar tak mungkin gue lawan dengan tubuh gue yang keceng tak berisi ini.

Gue masih memberikan pertolongan pertama pada hidung gue yang mulai jatuh kritis.

‘’Menyingkir dari mukaku, enyah sana atau aku yang pergi,” Gerutu gue setengah bargeming.

Hening dan senyap, terlihat semua perhatian teman-teman tertuju pada  percakapanku dengan Slongor. Tidak ada ekpresi wajah yang tampak dari Slongor setelah aku sentil dengan kalimat seperti itu. Dia malah mengumbar senyum. Pemandangan yang aneh, biasanya kalau di skak seperti ini Slongor langsung marah. Mungkin dia merasa bersalah.

“Santai kawan, nanti baunya juga ilang sendiri,” jawabnya singkat.

Bibirku hanya bisa bergumam,“Hmmmmmm mmmmm mmmm,”

“Di sisi lain mungkin kau marah, karena ini notabennya kesalahanku jadi kau seharusnya tidak di tempat ini, sendiko gusti maafkan Slogor,”

Mendengar kata-kata bijak-nya Slongor gue mulai menurunkan tensi gula darah, #eh..salah tensi emosi.

“Meskipun ini bukan hari lebaran, gue maafkan lo Ngor,”

“Slongor janji tidak akan mengulangi lagi,”

Jangan sampek Slongor bilang,’ Slongor janji kita tidak akan putus,” bisa di cap-homo ni di Sekolah.

**********************

Selang beberapa menit Pak Kepsek datang, berdiri tegak siap memberikan aba-aba. Sudah kayak robot mendengar perintah Pak Kepsek kita ber-15 ini selalu nurut. Bener-bener penurut.

“Hayo cepat duduk melingkar,”

Terlihat semua siswa nakal ini duduk bersila takzim.

“Saya tidak ada waktu lagi ngurusi kalian,”

Pak Kepsek mulai mengambil posisi, berjalan menuju titik lingkaran siswa ber-15 ini. Tangannya siap mulai berurator layaknya kordinator pendemo. Tetap pada ciri khasnya, tangan kirinya masuk kantong celanya yang berwana hitam.

“Cobak ini angkat tangan, mana yang kelas 3,” tanya Kepsek

Gue, Slongor, Kempong, Asep dan Bolot angkat tangan secara bersamaan. Hanya berjumlah 5 anak dari kelas tiga. Perasaan tak tenang mulai membuncah. Kelihatanya Pak Kepsek mau mengitrogasi kita berlima.

“Kalian ini sudah kelas tiga benar-benar tidak bisa jadi panutan,”

“Mestinya kalian ini bisa berfikir dewasa, di sekolah apa yang kalian cari,”

“Ingat kalian ingin di kenang sebagai apa di SMA ini, mau di kenang  sebagai siswa    nakal…. Apa yang harus kalian dedikasikan di SMA ini, itu yang harus kalian cari,” ???

Tak ada yang bisa menjawab, juga tak ada sergahan dari Pandawalima yang sedang mengacungkan tangan ini, serentak tatapan matanya begitu terlihat kosong, sorot matanya menerkam ke arah podium dadakan titik lingkaran tengah barisan ini. Terperangah mendengar ocehan dari pidato Pak Kepsek. Urator sepenggal kalimat ini menggucangkan hati, terasa menyesal begitu memilin-milin ulu hati. Suaranya kian mendengung di telinga.

“Saya tidak akan lama-lama mengurusi kalian disini, masih banyak yang harus saya kerjakan. Pokoknya kalau besok ada yang terlambat lagi, kalian akan saya keluarkan. Mulai dari kelas 1…2…dan…3,” tegas Pak Kepsek.

“Ya sudah balik ke kelas ambil tas langsung Pulang,” tambah Pak Kepsek lagi.

“Cukup sekian dari Saya, selamat siang,”

“Siaang Paaa..aaa….aaa…aaa…kkk,”jawab kompak ke lima belas siswa ini.

Kali ini Pak Kepsek benar-benar marah besar. Bukan marah pertanda benci, tapi peduli dengan anak didiknya. Ancaman akan di keluarkan dari sekolah bila terlambat satu kali lagi, telah mendoktrin otak-ku. Gue mencoba merenung. Memang benar, kalau tidak ada hukuman semacam itu dan tidak ada ketegasan dari Pak Kepsek selamanya pikiran anak SMA ini akan terus “labil”. Nasehatnya begitu menyadarkan. Ternyata apa yang selama ini gue lakukan benar-benar ngawur.

 

***********************

            Sepanjang perjalanan pulang ke sekolah–kemudian pulang kerumah–tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gue. Begitu juga dengan Slongor. “Satu kali terlambat lagi keluar dari SMA ini,” kalimat itu menjadi shock terapi. Makan siangku kali ini penuh dengan misteri yang tidak bisa ditebak.

Setibanya di rumah Ebes (ayah/bapak) sudah menunggu ku di kursi ruang tamu. Melengkapi hujatan maupun makian di hari ini. Gue tau, Ebes bakalan mendudukanku, lebih tepatnya menyidangkan aku dengan dakwaan yang telah di perisapkan. Memang benar apa yang ku duga, Pak Supir langanan Ebes lah yang memberi informasi ini. (baca sebelumnya di: Kisah Sedih Di Balik Seragam Abu-Abu Ya Allah terserah engkau sajalah, begitulah bunyi doaku di  kali ini. Padat, singkat dan pasrah. Belum juga gue ambil posisi duduk, Ebes langsung bicara to the point.

“Bapak tau, kamu tadi di hukum di lapangan tambak cangkring,”

“Kalau kamu tidak niat sekolah, gak usah sekolah,”

“Selama seminggu ini bapak tidak akan kasih kamu uang saku,”                                                                                  

            Telingaku terlalu memerah mendengar rentetan nada tinggi seperti ini. Hanya 3 kalimat itu yang keluar dari mulut Ebes. Memang tanpa basa-basi.

Ebes orangya bersifat keras, dan tak mau kompromi kalau mendidik anak. Sekali memberikan keputusan sudah tidak bisa di ganggu gugat, bersifat final. Itu pun berlaku bagi semua saja yang ada di keluarga ini. Tanpa menggunakan hak jawab gue langsung saja menerima sangsi itu, kaki ini mengayunkanku untuk bergegas ke kamar. Kemudian gue menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat.

            Tangan kananku mencoba meringsek masuk ke dalam saku celana sebelah kanan, dengan hp-yang ada di genggaman ini, secepatnya gue ngasih tau Slongor  tentang keadaan gue. “Ngor selama 1 minggu gue pinjem uang lo ya buat makan di kantin sekolah,” tanpa menunggu waktu lama Slongor membalas sms gue,”Iya gampang kalau cuman makan saja aku bisa,”. Selama 1 minggu gue hanya bisa mengurusi perut, dengan uang utangan dari Slongor. Pulsa hp-yang biasanya 2 hari sekali di isi tepaksa gue puasain.

 

***The End***

Cerita di atas  hanya berbau fiktif dan non-fiktif di tambahi  sedikit bumbu fiksi agar bergenre rileks reading. Apabila ada kesamaan tempat kejadian, nama tokoh dan waktu, saya ucapkan selamat itu berarti anda numpang beken. Kalau mau minta tanda-tangan penulis secara gratis silahkan follow akun twiiter resmi di boediinstitute@boedipanggul

——————Terimakasih sudah came join us berhaha-hihi——————

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s