Comedy: Si Petrus (Penembak Misterius)

ilustrasi unyuunyu.com

Mata kuliah jam ke-2 telah selesai, masih terlalu pagi. Matahari pun belum juga terik, hembusan angin juga masih setengah berembun, terasa masih sangat dingin. Terbayang hangatnya secangkir kopi di warung langganan seberang kampus. Warkop (Warung Kopi) berpetak 4×4 m2 dengan ciri khas lungguan dongkrak panjang itu di nahkodai pria paruh baya, usianya berkisar di angka 40 tahunan. Para langganannya biasanya memanggilnya dengan sebutan Ebes. Dan sebutan Ebes itu menjadi trand nama warkopnya.

Jarak warkop Ebes dengan kampus hanya di pisahkan sepenggal jalan raya, di susul anak sungai kecil yang membetang panjang, jadi tak membutuhkan waktu lama untuk menuju warkop langganan sejak semester satu ini. Tak kurang 3 menit jarak dari kampus Aku, Petrus, dan Boy sudah mendiami di atas lungguan kursi dongkrak panjang.

“Bes…!! kopi ABC jahe satu ya,’’ tanya ku memesan.

“Oke Cak Boed…!!! Petrus dan Boy pesan apa,” ?

“Energen kacang ijo Bes,” jawab petrus.

“Nanti sajalah aku Bes,” timpal Boy.

Memang di pagi beranjak siang seperti ini, para pelanggan warkop ini belum sebegitu berjibun, tak tampak tambun. Terlihat Masing longgar.

“Ini kopinya Cak Boedi, ni energenmu Trus,” ?

“Oh iyoo…..Bes,” jawab aku dan Petrus serentak.

Rutinitas pengantar “ritual” secangkir kopi di warkop Ebes ini selalu aku buka dengan membaca berita di koran, dan memang biasanya aku hanya membaca sekilas berita yang terpam-ang di headline (berita utama) dan kolom opini. Begitu juga Petrus,  duduk di sebelah kananku yang masih di sibukkan dengan utek-utek handphone, ke-2 ibu jarinya masik menari di atas kipet pertanda sedang membalas pesan singkat (sms). Dari samping kiri ku, Boy nampak terlihat diam, mahasiswa dari kota Atambua ini memang anaknya pendiam, tak banyak omong memang. Hobinya kalau tidak di ajak ngobrol ya ngelamun.

“Trus,,, Energenmu udah adem lo,” ??? tanyaku.

“Nanti saja Boed… masih ngebales sms dari Manghayu,’’

Muka Petros masih tak mau berpaling dengan “layar kecil kotak berwarna” itu.

“Ciye….Ciyee… makin erat saja kau sama Ayu ledek ku setengah tersenyum. *__*

“Hmmmhhhmmmmm…mmm,” jawabnya singkat dengan muka terlihat cemberut.

“Lo…loh….. kenapa Trus,’’?

“Aku sudah gak mood lagi sama Ayu,’’

Mendengar jawaban seperti ini membuatku lebih antusias untuk lebih tau. Aku mulai sengit bertanya yang mungkin bisa di bilang orang yang ingin sok—tahu.  Tak peduli lah. Yang penting terjawab apa yang ada di benak ini.

“Tiap malam minggu apa kamu gak ngajak Ayu keluar jalan-jalan Trus,” tanyaku lagi.

“Gak Boed, aku lo keluar sendiri sama teman-temanku, paling malam minggu cuman main kartu uno-an di gang sebelah,’’

“Yealahh…..eeeee.. Trus–Petrus kamu ini sebenenya masih pacaran apa gak sama Ayu sebenere,”

“Emm…mmm Bingung Boed, setengah-setengh seh, ya pokoknya udah gak seperti dulu, lah’’ jawabnya kelihatan setengah gak yakin.

“Pasti ada sebabnya to…, gak mungkin kalau gak ada sebabnya,” tanyaku lagi yang memang ingin sok tau.

 

Mendengar pertanyaanku yang spontan dan setengah ngeceplos Petrus langsung terperanjak, hp- yang ada di genggamannya pun segera masuk kantong. Kelihatan dari gerak gesture tubuhnya,  Petrus mulai meladeni obrolanku yang kian menguak dongeng di pagi bolong ini. Kemudian menggeser posisi duduknya, berubah menjadi tepat beradapan.

“Aku minum dulu Energenku Boed, keburu dingin ni nanti,”

“Ia… Trus,”

Warkop Ebes kali ini untuk beberapa saat menjadi markas “introgasi”.  Pagi ini aku menyamar layaknya  agen 007 James Bond.  Siap memecahkan teka-teki klasik yang biasanya di alami banyak pasangan. Dan  siap mengukir sejarah sepanjang pe-nongkrongan-ku dengan Petrus. Boy pun  juga terlarut dalam obrolan ini, terlihat kepalanya menengadah, membelok mengarah ke sebelah kanan. Hanya terlihat senyum berbinar yang sesekali tampak. Memang murah senyum tapi terlihat  mahal kalau berbicara.

“Terus gimana Trus lanjutanya,”?

“Ceritanya gini Boed, minggu yang lalu sehabis pulang kuliah aku anterin Ayu pulang pakek motorku, pas sampai di jalan (….ee … ee….ee …),” !!!

“Ia Trus jalan apa,” tanyaku setengah memaksa untuk memngingat nama jalan itu.

“Oyaa inget…!!!  jalan Korem tempat para anak muda nongkrong itu lo,”

“Ooooya…tau aku Trus, terus,”

“Na… sampai di jalan Korem tepat di pinggir jalan ada orang jualan stiker, tiba-tiba Ayu bilang,’’ Stop…stopppp.. tunggu dulu yang aku mau beli’in stiker buat motormu,’’

“Trus….?,”

“Ya dah aku turutin kemauanya, pas waktu milih-milih buat beli stiker gitu, tiba—tiba penjualnya bilang gini,’’ Buk… mau beli stiker buat anaknya itu ya…,’?? Heeeeening unuk beberapa saat.

“La.. masak pacarku di bilang ibuk-ibuk sama itu penjual stiker, haaa haa haaa” !!!

Haaa haa haaa…maaf Trus,,,keceplosan,’’ tau sendiri kan muka orang lagi senyum campur prihatin terus di empet dadakan. Tapi anehnya Petrus tak tampak kesedihan, malah asyik menceritakan kejadian seminggu yang lalu itu.

“Terus lanjutanya gimana Trus,”

Hahahhaaaa Ayu  cuman bisa jawab dengan mukanya yang polos,’’ Ini lo pacarku mas, ngawur aja kamu,’’ terus penjualnya jawab gini,” Maaf—maaf…Bukk,,, Eh. Mbak.,”

Cak Petrus, Cak Petrus kasihan kamu ini  hah ha haaa,’’tiba-tiba Ebes tertawa berkelakar yang memang menguping percakapanku dengan Petrus.

“Yaaa gitu-lah Bes,’’ jawab Petrus sembari tersenyum , “ha ha haa

 

Hahh ahaha hhhaa hpppppppppmmmm,” kali ini bener-nenar lepas ketawaku tak beraturan.

“Gak papa Boed jangan di empet,…. Lha mau gimana lagi,”

“Dan akirnya Ayu gak jadi beli stiker Boed dia keliahatannya sewot,’’ gak jadi beli mas,’ dia cuman bilang begitu ke penjualnya,”

“Hahahahah hahaa,,,,,’’ tawaku di susul Boy serempak.

“Malu juga Boed, Boy..!!  pas situasinya banyak orang masak pacarku di bilang muka ibuk-ibuk,”

“Kalau aku ada di posisi kamu, yaa sama Trus… ya dah iklasin aja tu orang bilang apa, buktinya kamu juga  ikut ketawa, ia toh. Pokonya jangan di gantungi itu Ayu,” cetusku berusaha untuk menasehati.

“Tapi sekarang masih ada sedikit rasa suka seh, yaa daahh…. tak jalani aja dulu entar ke depanya kalau memang Ayu mutusin, ya dah tak terima. Aku ikhlas, yang pasti aku gak mau mutusin dia,” jawab Petrus setengah pasrah.

“Kasihan Ayu Trus, jangan tambah di sakiti hatinya tau sendiri kan cewek kalau putus pasti nangis sambil dengerin lagu-lagu melo gitu terus duduk di pojokan kamar,” jawabku yang sedikit bijaksana.

“Tapi masih trauma kalau inget kejadian itu Boed, bener-bener gak PD (Percaya Diri) kalau jalan sama Ayu lagi,” jawaba-nya memelas.

“Terserah kamu lah-Trus untuk ke depanya heh he he he,”jawab ku singkat, yang memang sudah kehabisan ide mau ngomong apa. Ketawaku yang lepas telah membunuh mulutku untuk tidak mengelearkan kata sedikitpun.

 

 Cerita di atas  hanya berbau fiktif dan non-fiktif di tambahi  sedikit bumbu fiksi agar bergenre rileks reading. Apabila ada kesamaan tempat kejadian, nama tokoh dan waktu, saya ucapkan selamat itu berarti anda numpang beken. Selamat berhaha-hihi salam week and on twitter boediinstitute@boedipanggul

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s