Kisah Aden Di Balik Senja

“Saya akhiri pertemuan jam kuliah hari ini terimakasih atas perhatiannya dan selamat sore,’’ ucap Dosen Bu Lilis kepada seluruh mahasiswa kelas 103.

“Sore juga Bu..!!!” jawab serempak seluruh penghuni kelas 103.

Jam 17.30 WIB, Aden keluar dari ruang kelas 103. Jadwalku kuliah untuk hari kamis memang sampai sore dan itu berlangsung selama satu semester atau enam bulan.

Perlahan teman-teman satu kelasku  satu per-satu mulai menghilang dalam pandangan,’’ ‘’Den duluan iaaa,”kalimat itu yang totabenya keluar di antara sekian banyak teman yang aku terima di sore itu. Hanya tampak senyum yang menggurat di wajah yang tampak sebagai jawaban.

Aku tak langsung pulang, sambil menunggu angkutan umum bertuliskn Len O datang aku menunggu di taman kampus. Sudah satu tahun aku lalu-lalang ke kampus hanya mengunakan angkutan umum, padahal jarak ke kampus dengan tempat tinggal-ku cukup jauh. Hal itu aku lakukan karena sebagai anak rantauan aku tak punya SIM (Surat Izin Mengemudi) dan juga aku belum punya motor. Ransel di pundak-ku kali ini terasa sedikit berat, computer jinjing menjadi pembeban karena hari ini aku habis selesai presentasi            .

Tak selang beberapa lama, langit perlahan berubah menjadi hitam sangat pekat,  berselimut kabut dan mulai menggumpal. Pertanda memang sebentar lagi akan turun hujan, sementara senja mulai menepis berganti menjadi remang-remang cahaya yang kian bias. Tiba-tiba terdengar suara petir yang mulai bergemuruh dan kilat yang mulai menyambar-nyambar

. Aku yang masih duduk di taman kampus sendiri seorang diri, di bawah pohon cemara tiba-tiba hujan datang, butiran air yang turun mulai menghujam ku. Sontak aku beranjak menuju warung kopi depan kampus yang hanya di pisah-kan jalan raya, tempat itu menjadi tujuanku untuk berteduh. Sampai tiba di warung kopi  bajuku sudah setengah basah kuyup. ‘’Tak apalah yang penting computer jinjingku aman tidak basah,’’ begitu gumam-ku dalam hati yang aku daratkan dalam benak. Hujan yang turun kali ini mampu menyemburatkan pelanggan warung kopi ini, hanya aku yang menjadi pelanggan yang besadar di atas kursi dongkrakak panjang.

Pesen apa Le..,’? tanya Emak pemilik warung kopi.

“Teh anget saja Mak,” jawab-ku

“Pindah melem to kuliahmu sekarang Le,” tanyanya lagi yang nampak-nya sudah hapal dengan raut wajah-ku yang tiap hari menghiasi warung usahanya ini.

Gak Mak, kayak ndak hafal aja…, kuliah-ku kalau hari kamis pulang sore Mak,”

“Oyaaa… ya.. yaa….!!!  lupa Le, maklum Mak sudah tua jadi ya lupa-lupa gini,” jawabnya terkekek sembari menaburkan satu sendoh  ke dalam gelas yang berisi teh.

“Ini teh-nya, awas masih  panas,” imbuhnya.

“Hiiiii…iiiiii…cingggggggggg…yaahh Mak, terimakasih,’’ jawab-ku terbata yang memang sudah mulai kedinginan.

Sambil menunggu Len-0 datang, hanya segelas teh panas ini yang menjadi obat penangkal dingin yang kian mengusik,  perlahan dinginya menusuk menghulus ke dalam tubungku yang kecil ini. Hujan ini nampaknya kian deras saja. Di susul hembusan angin  yang tak beraturan, tak tentu arah. Warkop Emak ini hanya beratap-kan terpal. Meskipun kelihatannya sangat teduh jika di lihat dari luar tapi kenyatanya tidak. Hujan yang kian deras bercampur angin ini mulai menembus celah-celah kecil yang ada di terpal. Gerimis setengah berembun-pun turun dari langit-langit terpal. Aku terus mendekap erat-erat tas ransel-ku, hanya itu yang perlu aku lindungi. Baju dan celana ku pun sudah terasa kempel entahlah itu tak perlu aku hiraukan, yang terpenting computer jinjing-ku masih dalam keadaan aman.

Ternyata, setengah gelas teh-ku sudah habis. Tapi Len-O itu juga tak kunjung melintas. “Ya sudahlah nikmati saja, toh jarang juga aku berada dalam moment seperti ini, pasti sebentar lagi datang,”gumamku dalam hati mencoba menangkan diri.  Intensitas hujan yang tinggi mulai menampakkan banjir di jalan raya depan warung Emak ini. Jalan  beraspal itu kini tertutup genangan air.

Keadaan hujan yang deras,  jalanan yang sepi membut mobil lalu-lalang dengan kecepatan tinggi, tak pelak air yang menggenang membelah karena terlindas ban mobil, air membuncah dan terlempar ke arahku. Seketika itu aku hayah kuyup.

“Jangan duduk di depan pintu warung, geser sini Le ke dalam,,, tu kan kena kegenjrot (cipratan) air dari mobil.!!!,’’?  celetus Emak setengah menasehati.

‘’Ahhh… Gak usah MakNtar kalau pindak tempat duduk gak bisa melihat datangnya Len-O,”

Lhaaaa… tapi itu kamu bejongan  air terus, itu udah basah semua bajumu,”

Gak papa- Mak… Malah sekalian hujan-hujanan, gak ada plastik gede buat bungkus ransel-ku ini Mak,”

Gak ada Le… Emak punya-nya yang kecil-kecil,”

Akibat bajuku yang basa tas ransel ku juga terkena imbas, sekonyong-konyong aku membuka resleting, melihat keadaan computer jinjingku. Benar  sudah,  air ternyata sudah merambah masuk. Ya sudah pasrah saja ya Allah, semoga tidak sampai rusak. Begitu doa’a ku setelah senja itu. Singkat, padat dan jelas.

 

********** boediinstitute@boedipanggul**********

Selang beberapa menit kemudian, datanglah seorang kakek-kakek tua paruh baya dengan menggunakan jas-hujan berwarna kuning memakai capel (topi berbentuk bundar berasal dari anyaman bambu  yang biasanya di gunakan petani pergi ke sawah) lalu memesan kopi dan kemuduian duduk  lekat berdampingan di samping kanan-ku.

Syukur alhamdulilah, terlindungi dari kegenjrot air berkat kakek ini duduk di sampingku. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari kakek tua pemakai jas-hujan warna kuning ini. Duduknya begitu anteng (tenang) meskipun bejongan air kini membasahi di seluruh badan-nya. Hanya terdiam dan sesekali kopi pesanan-nya itu yang menjadi lawan bicaranya.

Aku pun juga tak menyapa lantaran bibirku yang kelu—linu, akibat tersambar hawa dingin yang telah berhasil mengusik ku. Lalu siapa kakek itu, kenapa harus duduk di samping kanan-ku, padahal kakek itu tidak kenal aku, aku pun juga tidak kenal kakek paruh baya ini, apakah ini sebuah bentuk pertolongan-MU dari bejongan air hujan. Entahlah, memang aneh. Tapi aku bersyukur, paling tidak badanku terlindungi dari hantaman air bak ombak yang menderas. s

“Maaa..a..a… k..!!!  kok beluuu…uummmmm ada Len-O yang datang ya,” tanyaku setengah bibir mengerecap.

“Iya Le… Ini kan lagi hujan deras, takutnya pada mogok terjebak banjir,” jawab-nya…

Sms temenmu atau siapa kek buat jemput,” timpalnya lagi

“Oooooo…Ya Mak..!!!,”

Sudah hampir satu jam lebih aku duduk di atas kusi dongkrak panjang ini, nampaknya tak ada angkutan umum Len-O yang lewat, ya sudah aku putuskan untuk mengabari paman-ku untuk menjemput.

‘’Pak Lek jemputen Aden di depan kampus nggeh, sudah menunggu lama tapi gak ada angkutan yang lewat sama sekali,

Begitu ketikan kalimat sms yang aku kirim. Tak menunggu lama-Paman cepat-cepat membalas pesanku-ku, pelan-pelan aku membukanya

Pak-lek sakit gigi-nya kumat (kambuh) Le,,,, gak bisa jemput di tunggu aja nanti kalau hujannya sudah terang pasti ada angkutan yang lewat,’

“Ya udah gak papa Pak Lek,” singkat, cuman itu sms balasan yang aku kirim.

 

 

***THE END***

Tunggu Episode Selanjutnya di Part II

MARHABAN YA RAMADHAN…….salam boediinstitute@boedipanggul

Iklan

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s