Mahasiswa “Kancil Pilek”

Banyak yang mengatakan kalau masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda (mahasiswa). Mahasiswa adalah kaum intelektual, intelektual secara pikiran dan perilaku yang menjadi tonggak awal sebuah perubahan. Sejarah banggsa ini perubahan di nahkdai pemuda, yaitu mahasiswa. Di era zaman orde lama di bawah kepemimpinan Ir. Soekarno,  konon rezim itu tumbang dari seorang tokoh aktifis mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bernama Soe Hok Gie di tahun 1966 silam. Gie (sapaan akrab Soe Hok Gie) bernaung di fakultas  sastra jurusan sejarah, yang sekaligus pendiri Mahapala UI. Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam harian. “Catatan Harian Sang Demonstran”. Gie, sosok mahasiswa yang  Slalu kritis terhadap kekejaman tirani masa itu. Dari situ munculnya sebiah pergerakan-pergerakan mahasiswa.

Era setelah pergantian rezim orde lama, Jendral Soeharto bercokol di tampuk kekuasan negeri ini, lebih lekat dalam istilah orde baru. Lagi, peran mahasiswa menjadi “aktor” bak pemain film. Orde baru tumbang di tangan pemuda (mahasiswa) lantaran krisis berkepanjangan, dan bercengernya kekuasan politik orde baru yang konon  intinya Golkar dan TNI-Ad, adalah sumber dari kerusuhan besar-besaran masa itu. Dan di picu oleh tragedi Trisakti dimana empat mahasisa Universitas Trisakti di tembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Era setelah orde baru, reformasi  tepatnya,  realita berkata lain. Pergerakan mahasiswa terhedonisme pekat, apakah sebuah pemunduran ? Ya. Mahasiswa kini bak sebuah kancil pilek dalam sebuah hutan. Tersadar kalau hidunya mencium bau-bau permasalahan negerinya, tapi acuh-tak acuh dengan apa yang terjadi. Singkat kata degradasi moral. Ibarat negeri ini adalah rumah kita, rumah yang tiap hari kita singgahi, tempati, yang sudah rusak parah dan jika di biarkan akan ambruk (runtuh).

Bukankah peran fungsi mahasiswa sudah jelas dan nyata, sering kita dengungkan, dan dengarkan. negeri ini di bangun oleh perjuangan para pahlawan yang rela menjadikan anaknya yatim, menjadikan istrinya janda.  Mereka pendahulu adalah agen of change, moral force, iron stock, and sosial control. Lantas bagaimana dengan penerus sekarang ?. Tentu nurani jernih yang bisa menjawab. “Karena mendiamkan sebuah permasalahan adalan kejahatan,”  Soe Hok Gie.

Mahasiswa berprogres, negeri slalu berporses. Berprogres  pada sebuah fase dan tahap menjadi negeri bermartabat dan berpondasi pada nasionlisme. Mengakar menjadi idealis. Idealis yang bergerak ketika hal-hal yang bersifat rasional di kesampingkan. Mahasiswa harus kembali berperan ke ranah tirani, ikut dan adil dalam sebuah kebijakan publik. Bukankah kalau kita belajar politik, harus juga belajar ilmu ekonomi, sosial dan budaya. Karena semua itu satu paket hal yang di bahas dalam governemnt. Kalau nelayan sudah niat melaut, tak munggkin mau membeda-bedakan ikan tanggkapan. Begitu juga dengan mahasiswa, hasil tanggkapan adalah keberagaman ilmu.

 

NB: Tulisa ini serius untuk memperingati 17 Agustus, Semoga Indonesia lebih baik.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s