Tempo: Kelas itu Tak Harus Serius

Ruang berpetak 2,5 x 4 meter itu yang kini menjadi ruang tempat para calon journalis muda berbakat ini bercengkrama, duduk, diam, sesekali tawa pun pecah berserakan setelah lontaran job-job comedi di lesakkan  oleh Sang Ketua Biro Surabaya, Mas Agus Sup. Memang seharusnya seperti itulah kegiatan kelas ini berlangsung, santai, tapi tetap focus. Sehingga mudah di cerna materi yang disampaikan.

Kelas ini berdurasi sekitar 2,5 jam, dalam “Program Magang Tempo Biro Surabaya” kali ini, tenyata saya laki-laki sendiri. Lumayan, Pria punya selera, dan di plesetkan bisa jadi “Pria Punya Selir,” begitulah sepotong kalimat job comedy yang di lontarkan Pria Berkumis tipis ini. (Mas Agus).

Dalam informasi dua pekan sebelumnya, kegiatan kelas ini sebeneranya molor dari hari yang telah di tetapkan. Ya, memang lantaran para calon journalist muda yang hebat-heat ini masih berstatus sebagai pelajar (Mahasiswa) dan ujung-ujungnya jadwal pun harus di sesuaikan. Apalagi harus di sesuaikan dengan jadwalnya Mas Agus. Tapi justru itulah asyiknya, bisa saling berkomunikasi terus.

Dalam magang kali ini, aku ketambahan teman baru, dua perempuan, dan kebetulan sama-sama pemakai hijab. Satu bernama Ratih dan yang satunya bernama Permata. Dua sesosok perempun ramah yang ber-almamater dari kampus tetangga, Universitas Airlangga tepatnya. Berharap dua perempuan ini suka ngerumpi. Biar kantor yang ukuran segede gedung DPR senayan itu tak tampak sepi. Ya, biar rame gitulah.

Dan teman sejawatku kali ini Si Dewi, absen lantaran punya agenda lain keluar kota. Ketika aku masuk lobi ruang tamu Kantor Tempo Biro Surabaya, Mas Agus ngasih tahu, “Yang Magang cewek Bud, jadikan pacar aja,” tuturnya dengan senyum simetris. Dan dengan bengongnya, aku pun tak sempat keluarkan sepatah kata pun. “Ah bisa aja Mas Agus,” jawabku diplomatis. Dan kenapa pas momentnya sekarang aku lagi jomblo, kebetulan banget ternyata.

Di sesi awal pembukaan kelas, Si Mas Agusnya yang ngebuka acara dengan sesi perkenalan. Kemudian lanjut di susul, para “murid-muridnya’’ ini . Memang seperti itulah yang sekarang menjadi tradisi, ketika masih-masih personal belum tahu satu sama lain, wajib hukummya menjabarkan identitas sesuai apa yang ada di KTP, bahan lebih ada yang ada di KTP. Dari total 9 sub point materi keseluruhan,  ada tiga point yang di bahas dalam kelas pertama ini, yang pertama mengulas tentang Company Profile Tempo Media Grup ini. Dimana salah satu yang menjadi peristwa heroic dalam perjalanan Tempo. Tempo pernah di bredel pemerintah 2 kali, yaitu pada tahun 1982 dan 1994. Namun, berkat orang-orang Tempo yang begitu gigih dalam perjuanganya, sampai saat ini Tempo menjadi perushaan media yang berskala nasional. Takayal, Tempo di kenal dengan istilah “Padepokanya” Media tanah air.

Pria pemakai kaos polo, bertuliskan Koran Tempo itu juga memamparkan peran jurnalistik dalam masyarakat. Artinya dimana pers adalah pengawal dari jalannya roda demokrasi. Dan selama ini journalist Tempo di kenal dengan jiwa-jiwa yang independent, bahkan Si Permta menyebutnya, “Begitu dinamis,”. Yang jelas dalam paparan sub point ini, Mas Agus mengatkan, jorunalis di larang meneria amplop. “Meskipun kere tetap bangga dengan kekeranya,” gelekak Mas Agus yang kemal melontarkan job comedy. “hahhaha,”

Dan ini yang ngebuat aku kagum, ihwal di balik kesuksesan Tempo, ternyata menyimpan sistem “Alur Kerja Tempo News Room” jadi Tempo merupakan media pertama kali yang memunyai system ini. Ini yang menjadi ciri khas Tempo selama ini. Saya yakin, ini yang membuat tempo selama ini mampu berjalan “semegah” ini.  Konten berita di sesuaikan, di pilah-pilah mana yang masuk Majalah Tempo, mana yang masuk Koran Tempo, dan mana yang masuk Tempo.co, terujuang yang paling “sadis” mana yang gak masuk di antara ketiga itu. Di puncak, menjelang garis finish dalam kelas pertama ini, Mas Agus memerikan tugas untuk me-review pertemuan pertama ini, lalu mengerimkan noted via email. Saya pun mulai berasumsi, jangan-jangan awal mula munculnya “CEO NOTED” Pak Dahlan Iskan waktu di PLN itu, awalnya dari tradisi di TEMPO. Entahlah, saya hanya menduga-duga.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s