Dewi Citrawati II

ilustrasi

Jika mbah @sudjiwotedjo punya Retno Kusumawardani dalam bukunya Jiwo J#ncuk, yang di  dalam tulisan itu mengulas mengenai perempuan piring terbang, semacam tipe perempuan, jika kebetulan dalam keadaan  marah bisa menerbangkan piring terbang, bahkan asumsi ku mengatakan mungkin bisa menerbangkan rak-rak piringnya sekalian. Hebat, bahkan mahkluk luar angkasa UFO pun kalah. Ini lah potret sebagian perempuan-perempuan yang ingin mendapat mandat kesetaraan gender, dalam batinnya tertuangkan pesan, “Jangan Pernah Anggap Remeh Kaum Perempuan,’’ ini  bukan “soal” perempuan piring terbang  yang ada dalam bukunya mbah @sudjiwptedjo, tapi sebaliknya.

Tentang perempuan yang hebat di lain sisi penggalan zaman, pemikirannya  melampaui batas perempuan se-usianya.

Maka dalam selembar coretan kertas putih ini  aku menemukan Dewi Citrawati, aku melihanya pertma kali di dalam halte, bukan halte bis ? tapi halte taman kampus. Kala itu, ia duduk di bangku taman dengan memakai hijab warna merah setengah jingga. Dan kelihatannya ia tampak ramah, mbahas ini – itu dengan teman di sebelahnya. Senyumnya tampak manis. Aku dengar dari teman se-kelasnya, ia anak asli Siduarjo. Dan sekarang kediaman aslinya di Surabaya. Dulu sebelum kuliah di Jurusan Manajemen ini, dia kuliah di kampus perjuangan, ITS

Ketika aku masih semester dua, kala itu. Aku belum tau apa-apa tentang perempuan ini. Aku masih fakir informasi tentangmu.  Aku masih terus mengamati tentang sesosok perempuan ramah ini,  ia memang waktu itu aku sering mendengar namanya mendengung di sela-sela obrolan “kelas” warung kopi di saat bercengkrama dengan teman-teman sekelasnya. Desas-desus dari warung kopi itu kini bermula. Sepertinya aku mulai tertarik, aku mulai berkemas dan bergegas tentang  apa yang terjadi di balik layarmu.

Di lain penggalan  waktu, beberapa bulan kemudian. Nampaknya keinginan tahu”an tentang perempuan ini mendapat titik terang, antusiasme ku sedikit terredam semenjak aku tahu tentang nomer pin BlackBerry-mu.

Aku berusaha menegurnya, “Ini dewi,” chat pesan BBM ku waktu itu,

“Iya, maaf siapa?.”

“Aku Aden, temenya Si Zen anak sekelasmu,”

“Oh…. Iya… ,”

Di fase awal, hanya sebatas ngalor-ngidul, hanya modus-modus kecil obrolan yang terlintas. Aku pun tak bermaksud “introgasi” lebih dalam tentang perempuan ini, yang ada hanya sebatas kecukupan saja. Namun, aku semakin  terperanjak ketika keingin tahuan ku, hanya sekedar setengah-setengah. Harus tahu semuanya, aku terus menggelegak membuntutimu. Tapi inget, aku bukan pencopet lho. Jadi tak perlu kamu curigai. Hahahha. Ia, memang pemakai produk RIM ini terimbas gejala sosial soal konten BBM-nya, jarak personal-antar personal terasa kian dekat.  

Beberapa bulan kemudian, ketika obrolan dalam chat BBM itu kian santer, dan aku pernah menyebutkan, kalau aku suka blogging dari semester II dulu. Aku bilang, aku suka  berburu buku, bahkan sesekali suka coret-coret di millis akun pribadiku juga.

“Eh aku lagi nulis cerpen ini, kalau udah jadi revisi ya,”? tuturmu, dalam pesan singkat BMM itu.

“Ia, beres deh, nulis aja dulu, ntar kalau udah kirim aja via filenya Blackberyy Mesengger,” jawabku.

“Ooo…ya, mending revisinya ketemuan aja ya, Gimana hehehe,”? tanyamu, meminta.

Belum sempat aku membalas obrolan itu, kamu sudah bawel duluan. Tenyata omonganmu banyak, sudah mirip-mirip radio di jalur FM itu.

“Maaf aku lupa, ntar masih ada gathering nih, kamu misal ntar tak ajak ketemuam dadakan bisa kan? Hehehe, ntar ketemuan dimana gitu,”

“Kalau kamu bisa, aku pun juga bisa, aku ngikut kamu,” sautku pasrah.

“Oke okee… beres,”

Sore itu,  menjelang petang kamu membatalkan janji itu, “Aku ntar pulang sampek larut malam, aku nyusun kurikulum belajar untuk anak-anak marjinal itu, maaf gak jadi ketemu, besok aja di kampus ya,”

“Ia terserah kamu, sajalah,”

Di sela-sela rutinitasmu yang enggan bercengkrama dengan waktu. Perempuan ini sesekali masih sempat untuk nulis. Berharap, bukan sesekali tapi sering kali. Itu aja, permintaan ku kali ini. Kisah-kisah orang di sekitarmu kamu lesakkan dalam lantunan tinta di atas kertas. Ceritamu panjang tak lekas berujung, dan seakan-akan tak bermuara.

Di awal pertemuan itu, tepatnya di Kafe yang memuat aku tertipu soal sencangkir kopi,  tanda- tanya kecil mulai bermunculan?. Lantas aku tak mungkin berhenti untuk mencari jawaban dari setiap sejengkal langkah yang kau tapaki. Rasanya ribuan, ratusan, bahkan jutaan langkamu pun aku ingin menjadi saksi, mencatat apa yang terjadi di balik kisahmu hari ini, esok dan seterusnya.

Suatu malam di kaffe, itu.

Heeiii……….,! Aku di atas  lho, naik aja,” ujarnya datar.

Ya, ampun. Aku lihat senyumnya amat astaga, manis sekali, hidungnya mancung dan anehnya kopi yang aku pesan tidak ada gulanya. Tuhan, ini bukan yang ada di sinetron-sinetron itu-kan. Batinku malam itu. Dan aku tidak akan bilang kecantikanmu melebihi normal. Justru nanti terkesan tampak aneh dan berlebihan. “Kamu kelihatan manis sekali malam ini,” ucapku dalam hati yang tak pernah tersampaikan.

Duduk bersandar di kursi itu, untungnya aku sempat bertanya, “Kenapa gak ikut UKM atau organisasi di kampus,”? tanyaku agak formal.

“Hmmm… Kurang suka aja, ya organisasi-organisasi di kampus gak ada yang bikin aku tertarik,” jawabnya serius.

“terus, alasanmu apa,”

“Gak ada gregetnya itu organiasi di kampus, kumpul  yo guyonan tok, ndak ada manfa’atnya,” jawabnya, singkat tapi jelas dan telak. Untung saat itu tidak ada “anak” UKM, organiasi di kampus, cobak kalau ada. Mungkin bakalan adu debat. Dan aku yakin, kamu bakalan memukul mereka dengan TKO. Meskipun ini bukan ring tinju, tapi bayangaku seperti itu.

            ‘’Ooh itu, alasanmu,”

            “Ya aku ikut organisasi di luar kampus, ngeks-sternal sajalah, kamu ikutan sekalian yuk,”

            “Boleh……. tapi nantilah, nunggu waktu yang pas,”

            “Beda sama kampus sebelah ITS itu, tapi sekarang aku memperjuangkan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), entar sampai di markas BEM ada yang cangkruan (tongkrongan) gak jelas, bakalan tak usir,” jawabnya masih seserius yang tadi.

            “hahaaa Dewi-Dewi sadis sekali kamu,”

            “Pastinya….. hehehe, aku sudah geregetan ini, aku diam-diam sebenernya mengamati lo,”

            Aku hampir tak sanggung menyalip omonganmu itu, hampir-hampir saja aku hanya jadi patung, mendengar celotehanmu yang tanpa titik, koma tapi lugas. Point itu yang aku suka dari kamu. Ternyata selama ini kamu menyamar James Bond.

            “Mahasiswa kok bisane cuman cangkruan, giliran bikin ide atau aspirasi nyalinya menciut,” katamu dengan lantang.

            “Terus apa yang akan kamu lakukan,”tanyaku formal lagi.

            “Pokoknya semester ini harus ada BEM, siapa yang mau jalan, ya ayo, yang gak mau jalan ya sudah. Sampek kapan kita mau jadi follower,” jawabmu lagi serius.

            “baiklah….. aku ikut,’’

            Setelah pertemuan di kaffe itu, aku belum pernah ngobrol lagi dengannya di tempat resmi. Komunikasi hanya mengandalkan BBM.

 

Malam itu, di balik celotehan panjang tak sengaja kau mengalihkan topic, tiba-tiba kamu mendadak serius tapi bukan aroma tendensius, kamu menyampaikan berita tentang wali kota termuda di dunia itu. Tentang wali kota Bashaer Othman, yang berusia 16 tahun, Di kota Allar tepi barat Palestina. Kamu tak henti mengagumi  sesosok perempuan yang masih duduk di bangku SMA itu.

“Cek beritanya di headlinenews Yahoo,”

Iya—iya….,’’ jawabku tergesa.

Kanget ? ia. Meskipun sekarang lagi ngetren tentang istilah “googling” namun perempuan ini mendahulukannya dengan  “yahooing”. Itu istilah yang aku sebutkan. Ya, rasanya memang pas dengan momentnya. Aku pun tak sempat  nyambung dengan apa yang kamu sampaikan itu, komentarku pun hanya sebatas,”Oh….Iya, benarkah.

Itu jawaban yang kiranya sangat datar yang keluar dari mulutku, memang terkadang bahasa harus sesekali meniru “logatnya” para kaum berdasi itu. Baru dalam kejapan jeda jam aku gak memantau “lalu-lintas” di “yahooing” dan perempuan ini seolah-olah ibarat ban depan sebuah mobil”. Perempuan pemakai hijab ini,  tak pernah ketinggalan rupanya.

Asem…!!!, aku ketinggalan rupanya. HAHAHA. Iya, terimakasih sudah mau sharing, meskipun hanya dalam transkip chat BlackBerry. Setelah aku cek, di hulu itu benar adanya dengan apa yang kamu sampaikan tadi. Dari hal kecil ini saja “ban belakang” kamu singkirkan. Ban sarep pun pasti tak berbau.  Lalu apa yang terjadi dengan hal-hal lain yang ada di sekitarmu?.

Aku  sudah tak heran, bahkan sudah tak kaget ketika “angkamu” dalam akhir semester itu  melampui “batas” dari mayoritas mahasiswa di kelasmu. Dari semester awal kau tembus sebagai mahasiswa yang berprestasi.

“Selamat ya,”

Yang bikin aku minggring dan kaget, bahkan bukan soal anggka, maupun yang menyangkut tentang ban itu tadi. Tempo itu, birokrasi kamu kritisi habis-habisan, tanpa adanya wasit kau sajamkan pukulan telak tentang mbuletnya birokrasi  kampus, bahkan ranah jenis mahasiswa kamu sebut.

“Aku ngajuin proposalku buat pengajuan ikut kongres, Eh…ternyata di tolak, udah gitu kemrin pas  ikut bisnis plan cuman di kasih ongkos naik kereta pulang pergi, B**** itu birokrasi,” keluhmu setengah emosi dan lantang.

Aku pun hanya senyum-senyum sendiri

Kampus kita sudah tak punya nama di “luar” sana,” sautnya, resmi.

“heheh…., terus nyesel gak kuliah disini,” jawabku meledek.

Gak sama sekali, justru aku bisa ambil banyak ilmu dari carut-marutnya masalah disini,”

Bener juga, cerdas kamu….. “ jawabku singkat.

Ternyata ini di luar dugaan ku. Kamu mengurai panjang lebar di sela-sela obrolan itu. Heran, ternyata bukan aku saja yang kurang “ngeh” tentang keadaan itu. Ada kesamaan. Baiklah, mari menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Selanjutnya susun rencana kedepan, lalu lesak-kan. Itu saja. Biar hasil, Tuhan yang bercampur tangan. Dan Tuhan bercampur dengan kemauan.

Urusan tugas saja kamu referen tetep di jalur resmi, adopsimu tetap dari ruang berjejer, bertumpuk gunungan buku. Mungkin jika buku, dan rak itu tak kamu singgahi, tak kamu sambangi, betapa kangennya, akan ketukan lantunan jemarimu. Bapak dan ibu penjaga perpus, yang duduk di kursi absensi tamu itu, yang jelas sudah hafal banget sama kamu. Bahkan lebih hafal sama kamu ketimbang dengan buku yang mereka geluti setiap hari. Kamu itu mahasiswa yang hobi hilir-mudik kelur masuk perpus, itulah kamu menjadi dari sepinya pengunjung perpus itu.

“Kenapa gak cari bahan materi tugas di google saja,” tanyaku, waktu itu setelah kamu keluar perpus.

Aku pengen ngerjain dari awal, ngetik dari kalimat pertama, dan bahannya dari buku,”

“Serius,”

“Ia,’ jawabnya

“Kan bisa lebih cepat ngerjainya, tinggal mindah-mindah gitu doang,” tanyaku.

 “Ia, temen-temen sekelas ada yang seperti itu, tapi aku lebih suka datang ke perpustakaan,” jawabnya yakin.

Ia sama, ada sebagian temen sekelas ku juga seperti itu,”

“tungu-tunggu,..!!! meskipun aku googling, tapi aku tak asal-asalan lo,” jawabku, mencoba menepis dugaan negatif.

“Oh…..,” begitu kemudian jawabnya sambil terus berlalu.

Apa lagi di zaman ini sudah lumrah, mahasiswa copy paste soal tugas di berbagai milis dunia maya itu. Proses yang akan membawa hasil, jika proses saja sudah asal-asalan lalu apa kabarnya dengan hasilnya ?. Lalu benak terbesit

“Kamu perempuan penyuka HAKI (Hak Kekayaan Intelektual)”.

Di luar aktifitas kampus tentang perempuan ini: Ternyata perempuan ini ke ibuan, tiap hari perempuan ini berada di tiga titik: tiga titik yang di huni anak-anak marjinal, petang bersambut dan jam kuliah telah selesai, kamu menjelma menjadi #Pengajar Keren.   Anak marjinal itu menantimu. Kini anak-anak kecil itu bahkan tak menyebutkanmu  sebagai mahasiswa atau menyebutkan namamu sesuai yang tertera di KTP, tapi seorang  ibuk, ”Hore…horeee ibuk datang,” itu gambaran teriak-teriakan mereka yang pecah di antara sepinya jelaga malam.

“Hus jangan panggil ibuk, panggil kakak,” katamu kemarin masih segar terlintas. Memang anak-anak itu butuh seorang sesosok ke ibuan di balik gersangnya kasih yang mereka (anak-anak jalanan) temui.

 Aku hanya bisa bilang  tentang perempuan ini dan komunitasmu, apa yang di lakukan lebih hebat dari Pemerintah, ”Fakir Miskin Dan Anak-Anak Terlantar Di Pelihara Oleh Negara,” tertuang dalam Pasal 34 Ayat (1) UUD 45. Apa yang kamu lakukan adalah tanggung jawab secara moral, nampaknya di “atas” sana ada yang lagi “amnesia” atau pura-pura lupa, jalur pemerintah  seharusnya tanggung jawa secara kenegaraan berdasarkan Undang-Undang, hanya bulstit.  Ada zakat, ada infak, dan posisi pemerintah adalah zakat dalam artian wajib atas persoalan anak-anak marjinal ini. Perempuan dan komuntas ini lebih unggul, dan lebih melakukan banyak hal dari pada yang seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap anak-anak marjinal.

Disitulah letak kebagaan ku sama kamu, kamu tampak dewasa. Dan tampak seksi. Seksi ketika aktifitasmu terpaket beberapa rutinitas yang tak tepisahkan, dan itu hal yang harus di kerjakan  jadi jangan katakan itu terpisahkan. Dalam dirimu menempel beberapa tugas. Perempuan berlael mahasiswa, Perempuan Berlabel “ibuk-ibuk” dan Perempuan “nge-job”. Dan kamu bisa menjalankan dengan utuh.

Tapi, di balik rutinitasmu yang begitu padat fisikmu tidak seirama dengan apa yang kamu lakukan tiap hari. Malam itu, waktu beranjak larut, sesampainya di rumah. Aku menerima pesan  itu.

“Aku baru sampai rumah, aku kelelahan, Aku mimisan,”

Lantas aku pun kaget, kamu nampaknya kelelahan, “Cepat-cepat sumpet pakai daun sirih,” jawabku tergesa dengan segala keresahan.

“Gak mau berhenti darahnya,”

Di sumpet, coba pakai tisu kering, yang teksturnya lembut, terus bangunkan ayah sama ibukmu,”

Beberapa hari kemudian, di suatu pagi dan aku masih tertidur pulas lantaran malam mata panda.

“Aku tadi pagi habis tranfusi darah di RSI, kamu gak tau,’’

“Kenapa gak bilang dari tadiL?,”

“sibuk sih,”

“Maaf….  😦   …..!!!!

“Susah cari darahnya,”

 

Bahkan rutinitasmu 24 jam. Kagum, Semua waktu kamu kemasi, tanpa jeda. Ketika apa yang kamu kerjakan di atas porsi kapasitas normal, pasti ending-nya seperti ini. Fisikmu bersuara, dan suara itu adalah bentuk yang kamu alami barusan. Keputusan ada di kamu sekarang, terserah. Aku hanya bagian dari “pencopet”. Jaga kesehatan dan atur pola makan. Itu saja pesanku malam itu

Oya, kemarin aku tanya sama temenku anak keperawatan UB, aku Tanya tentang transfusi darah………. Dan selama ini “

itu berarti efek kamu sering mimisan,”

“Iya….. 😦 …….,’

“   😦 ………,” sedih, jawabku.

Dewi Citrawati: tagline:

 Vi Veri Veniversum Vinus Vici \(●ˆˆ●)/

Iklan

One thought on “Dewi Citrawati II

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s