Si Anak Cupu Belajar di Tempo

Majalah Tempo Edisi Minggu ini

Majalah Tempo Edisi Minggu ini

Bulan Desember ini, di penghujung tahun 2012, di awal tahun yang baru 2013, magang ku di Tempo sebagai Repoter akan segera berujung, bisa di bilang masa tugas habis jika melirik pada surat magang yang terilis sejak tanggal, 1 Oktober 2012. Waktu begitu cepat mengalir seperti air tanpa kelokan, tak terasa, aku suka dengan dunia Journalistik.  Meski pun, bidang juru tinta ini melenceng jauh dari latar belakang pendidikan yang aku kenyam dari Almamater ku tercinta STIESIA Surabaya, Manajemen Perpajakan.

Nyatanya aku nyaman, bukan aku menghianati ilmu yang aku ambil dari kampusku, aku ingin menebar jaring. Menebar jaring seperti nelayan yang ada di pesisir kampung halaman ku, semakin banyak menebar jaring, semakin banyak ikan tangkapan yang di peroleh. Begitu juga dengan aku saat ini, mencoba menebar peluang dan memperbanyak harapan. Kelak nanti, aku  bisa mengembangkan diri setelah aku mengambil resiko dari teori sang Nelayan, seorang pekerja keras di pesisir pantai. Namun di balik itu, pilihan hidup itu harus sesuai apa kata hati. Lentera jiwa pun saat ini menjadi suara mayoritas apa yang ada di benak ini.

Tiga bulan sebagai reporter di Tempo, mungkin ini masih usia se-umuran jagung, masih muda belia, dan belum cukup untuk mendalami dunia ke wartawanan. Namun terlepas dari angka 3 bulan itu,  Tempo hamil muda. Mengandung anak-anak baru, dan suatu saat nanti pecah ketuban melahirkan anak didik baru. Anak didik yang bakal mahir di dunia Journalistik, di negeri yang sedang berkembang ini, Indonesia. Aku masih dalam kandungan di Tempo, masih di gembleng. Di gembleng di bawah naungan Sang Nahkoda Biro Jawa Timur, Agus Supriyanto.

Awalnya, di tanggal muda bulan Juni tahun 2012, saat itu aku menghadiri acara yang di selengarakan Tempo, acara itu seminar nasional, di hadiri mantan anak Tempo yang kini menjadi menteri BUMN, Dahlan Iskan, di Convention Hall JL. Arif Rahman Hakim, lebih pas di sebut, lokasinya di depan Soto Lamongan Cak Har. Akhir sesi dari acara seminar nasional itu, salah satu orang Tempo, yang entah aku lupa dengan namanya, pria berperawakan tinggi besar, potongan rambut agak ke Dedi Corbuzier, lebih ke meyerupai tepatnya, ia  menyebutkan,

Pria itu berdiri di podium. “Dalam Majalah Tempo memuat berita Jawa Timur, sebanyak 12 halaman, nanti teman-teman yang ada disini bisa ikut bergabung, dan bisa nulis di Majalah Tempi kolom Jawa Timur,” ungkapnya kepada ribuan peserta seminar.

 Lalu, setelah pria itu berucap, aku sungguh berkeinginan bisa menulis di Majalah Tempo. Sungguh aku berkeinginan dan kenginan itu berumbah menjadi ambisi. Ambisi yang bukan sesaat, namun ambisi yang tak pernah padam termakan zaman yang kian uzur. (Baca laporan citizen Reporternya: Cek Timeline, Ketemu Dahlan Iskan).   Dari acara seminar itu, aku menerima bingkisan tas yang berisi kaos Tempo, buku Sepatu Dahlan, Majalah Tempo serta Koran Tempo. Dimana baju kenang-kenangan dari acara itu, kaos T-Shirt Tempo warna merah menyala, aku jadikan jimat setiap aku melakukan peliputan. Dan Jimat itu lah yang menjadi saksi bisu. Saksi bisu menakluk kan kota pahlawan, di bawah jejak kaki anak #cupu.

Ahad, 22 Desember 2012, siang itu aku duduk bercengkrama di rumah kediaman kampung halaman, memang waktu itu aku lagi pulang kampung, siang itu juga aku memakai T-Shir Tempo bertajuk “Reformasi Birokrasi”. “Pak, kalau aku kerjo dadi wartawan piye (Pak, kalau aku kerja jadi wartawan bagaimana)?” tanyaku meminta izin. Tak ada jawaban yang enak di dengar, yang mencuat hanya nada beraroma tak sedap, layaknya masakan yang kurang garam. “Kerja opo dadi wartawan kuwi, resikonya gedi, uang tak seberapa,” ujarnya yang sungguh menohok, se-akan akan menghulus pelan masuk ke jantung. Aku duduk diam, tak ada bantahan sepatah kata pun keluar dari mulut ku.

Biliau lalu pergi begitu saja, tanpa omongan lebih lanjut. Aku tak mungkin membenci jawaban dari pertanyan yang aku lontarkan tadi. Setidaknya aku tahu jawabannya. Aku juga tak membenci orang yang sudah membesarkan ku sampai saat ini. Setidaknya maksud bapak hanya ingin aku merdeka dari persoalan “duit”. Aku memaklumi omongan biliau, ocehan itu hanya bersumber dari pengetahuan bapak yang hanya mengandalkan cerita dari mulut-ke mulut, dan juga layar terlvisi 14 inchi. Lagian di rumah tidak berlangganan Koran maupun majalan berita.

Lalu setelah itu, datang lah seorang tamu. Sebut saja namanya Kuswoyo. Kus (Sapaan akbran Kuswoyo) adalah rekan bisnis bapak, orang itu mantan karyawan hotel berbintang lima di tanah Borneo. Aku pun engan meninggalkan kursi ruang tamu itu, sang Ayah pun ngobrol soal bisnis dengan eks mantan karyawan hotel itu. “Gimana kuliahmu Le,” tanya Kus. “Lancar mas, ini skripsian sama magang di Tempo,”. Jawabku. “Magang di Tempo?, jadi apa?” tanya Kus lagi. “Reporter/wartawan mas,” jawabku formal.

“Wartawan itu bolonya (sahabatnya) rakyat, kalau gak ada wartawan,  sopo seng arep beritakne korupsi nek pemerintahan, sopo seng beritakne Jowoki mantan wali kota solo seng apik kae!,” ungkap Kus. Sepertinya jawaban ini menjadi lampu penerang, setidaknya jawaban ini penyeimbang dari apa yang di cetuskan bapak tadi. Menyegarkan rupanya.  Aku agak terbela dengan jawaban ini. “Oh iyo bener Kus,” saut Bapak menimpali.

 Selasa, 25 Desember 2012, Surabaya. Malam itu sehabis magrip itu di kantor Tempo, menjelang rapat tim edisi akhir tahun dan “Outlook economy 2013”.  Ini pemberitahuan rapatnya dari Sang Ketua Redaksi Biro Jatim:

cakep ini BBM

cakep ini BBM

 

 Aku bertemu dengan salah satu wartawan senior, dia perempuan, hijaber. Aku langsung ajak ia kenalan. Sapa’an akrabnya Agita, sudah 4 tahun menjadi wartawan. Di kantor biro malam itu, ada aku, Dewi, Permata. Ke-tiga anak magang ini silir berganti,  tanya ini-itu soal pengalaman ke Gita. Gita mejelaskan, kalau jadi wartawan itu harus siap memeras fisik, udah gitu di tuntut untuk mikir keras, kerja tak kenal waktu. “Pas liputan demo itu, wartawan bisa tahu mana demo yang bayaran mana demo yang beneran, kalau yang bayaran biasanya tuntutannya gak jelas gitu,” ungkapnya. Gita juga menambah kan, itu deomonstran buruh yang turun ke jalan, kerja fisik, tuntutan gaji UMR, lha wartawan, udah kerja fisik iya, otak iya, mita gaji berapa ya enaknya,” pungkasnya bekelakar, he he he.  

Sehabis ocehan dari Gita itu, aku membaca Majalah Tempo Edisi Minggu ini, kebetulan di Majalah Tempo itu, liputan ku menjadi pengantar Headline News berita Jawa Timur. Dan aku gak ngerti harus bangga atau enggak, mau aku kabari orang tua di kampung halaman, mereka gak tahu soal beginian. Langsung aja aku kabari para follower ku di akun twiter Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu, ini gambarnya:  

mengabari dunia maya

mengabari dunia maya

 Di balik moment yang cakep ini, ada aja yang berusaha ngemanfatin ini moment, dan ini buntut dari Time Line ku, aku hanya bisa jawab dengan elegan dan bijaksana. Mungkin ini  jawaban alay yang keluar.

jawaban untuk "Maya"

jawaban untuk “Maya”

 Di tempat lain, di kampus. Temen ku si Gedy, bela-belain beli Majalah Tempo, edisi minggu ini. Dia beli majalah hanya demi, ingin ngebaca tulisanku. Oh Tuhan, cakep banget moment ini. Aku terharu pasalnya ia beli Majalah ini dalam keadaa tanggal tua. Untungnya si Gedy gak ngutang ke pak Kios penjual majalah sebelah kampus. Dengan model unyu Si Gedi minta di Jempretin pakek camera BB-nya, dan ini posenya. Seperti mirip model tinggkat kelurahan.

 

Gedi Baca Majalah Tempo, Edisi Minggu ini.

Gedi Baca Majalah Tempo, Edisi Minggu ini.

mala

 

 Di ruang yang sama, di sudut yang berbeda Si anak Komunikasi Unair ini,  Permata Romadhonita ‏@Permoto , ngeluapin kegembiraanya di akun twiternya, ini gambarnya:

CaptureNux 2012-12-29 00.13.36

perimtaan maaf pertama kali di dunia maya

 Aneh juga, padahal perempuan yang biasa di panggil Per ini memng rumahnya di desa. Tapi kok statusnya “Sepurane rodok ndeso”. Aromanya ini anak, ingin lebih gak terlihat conggak. Dalam bahasa psikologi, mungkin bisa di bilang merendahkan diri.

Dan ini tanggapan dari followernya:

para fans Per

para fans Per

 

Tolong kalau ketemu ini anak di manapun, palakin dia, ajak ke warung lalu suruh bayarin.

kalau ketemu sama ini cewek, tolong palakin

kalau ketemu sama ini cewek, tolong palakin

 Buntut dari tulisan ini, ternyata follower Permata Romadhonita ‏@Permoto jauh lebih banyak ketimbang follower ku. Aku gak ngerti harus beli follower dimana, supaya banyak. Mungin #Cupuer pembaca noted jelek ini, yang punya akun twitter bisa follow twiterku di @NotedCupu. Follower pertama akan mendapatkan hadiah kenang-kenangan dari aku, beruapa………… “Ucapan Terimakasih”.

Selamat Tahun baru. Terimakasih teman-teman yang selalu setia mantengin #NotedCupu ini, edisi Magang di Tempo. Harapan tahun baru ini, doain aku supaya dapat segera punya pacar yang cocok. Sekian, Da..a…a… Aku mau cari pacar dulu.

 

Surabaya, 29 Desember 2012.

Rumah Kontrakan.

Iklan

13 thoughts on “Si Anak Cupu Belajar di Tempo

  1. Flying Dandelion berkata:

    Susah kah jadi Jurnalis untuk Koran Tempo ??
    Aku pernah ikut pelatihan Jurnalistik dulu waktu sekolah, sempet jadi peserta didik terbaik untuk berita yang aku buat..
    Pengen jadi Jurnalis juga,,tapi ngga yakin sama kemampuan. hehehe

    • notedcupu berkata:

      Tempo tiap tahun membuka kelas anak magang. Syarat utama, lo harus bisa nulis. Hubungin aja, kantor Biro di tiap kota besar, Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogya, Makasar.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s