Pesan Moral Dari Sebuah Jempol

Lanjutan Cerpen : Wartawan Cupu VS PSK  

@notedcupu

@notedcupu

 “Halah, Mbak Mun,” Mbak-mbak ini geleng-geleng kepala, lalu ia melanjutkan, “Jangan galak-galak gitu, nanti aku ndak sudi lagi, langganan di warungmu lo?” ucapnya.

 Dengan suara keras, mbak Mun menghardik, “Sudah, sana minggat dari WARUNGKU??” teriaknya, sambil jari manisnya menunjuk ke arah mbak tersebut.

 “Hmmm… “PSK yang baru datang itu, berdeham, “Ntar, kalo enggak tak beli ini jualanmu, terus siapa yang mau beli? Kamu mau makan apa?” kilahnya, lalu ia berdiri.

 Terasa keberadaanya terancam, pemilik warung Iwajo ini, juga ikutan berdiri. Dengan tegas, mbak Mun berkata, “Warungku ini, langganannya banyak, enggak cuman kamu aja yang beli disini, Dasar tukang pamer UDELLL… !” teriak mbak Mun, sambail menggelung rambut seperti mau mengajak duel.

 Mbak-mbak PSK bertiga ini, langsung ngibrit kocar-kacir. Mungkin mbak Mun beranggapan mereka lari kenceng lantaran takut kalo di ajak duel, karna mbak Mun badannya segede upil Koala. Tapi, mereka lari gara-gara mencium sari keteknya mbak Mun yang menyengat, terlihat di ketiaknya udah basah sampai kemana-mana. Oh tuhan, ini bau keteknya khas banget kayak bau buah durian, baunya langsung nusuk. Gue yakin, kalo mbak Mun di ceburin ke kali, ikan’nya pada ngungsi milih idup di daratan. Ini gue lihat sendiri, serius!. Keteknya Mbak Mun basah. Sengaja gue enggak bilang, takutnya kalo gue bilang, Mbak Mun’nya bakalan ngambek dan enggak mau gue wawancara.

 Semenjak di tinggal pergi gerombolan PSK tadi, suasana di warung sudah mulai adem. Tenang. Sudah tidak ada yang mengganggu percakapan gue, siang itu. Namun, hidung gue terasa berat buat menghirup udara  bersih. Agak tersengal-sengal rupanya.  Oh Mbak Mun, Bau keteknya Mbak Mun nampaknya telah menjadi polusi udara.

Perempuan yang gagal jadi PRT ini, kemudian duduk kembali.

“Lho, kenapa kok galak banget tadi, mbak, kok sampek udel di bawa-bawa?’ tanya gue, cengengesan.

 Ia pun segera menjawab pertanyaan gue, “Dulu, waktu saya masih PSK, warga di sekitar sini, benci sama saya mas, kalo lihat saya aja tatapannya itu lho, sinis banget,  saya di anggap sampah,’’ jawab mbak Mun, menggebu-gebu.

 “Terus mbak?” gue bertanya lagi.

“Aku sekarang paham kenapa warga sinis, waktu saya jadi PSK di kampung sini?”

Gue  mengejar dengan pertanyaan.“Ia, mbak kenapa?’

“Itu artinya, mereka (warga) enggak mau bicara sama aku, ketika aku masih bekerja menjadi PSK,” kata mbak Mun, ‘’Mereka bicara lewat perlakuanya yang di tunjukin ke aku mas, itu artinya mereka menolak kalo saya bekerja sebagai PSK,”

 Gue menodongkan, rekaman ke depan mulut mbak Mum, lalu gue mengejar dengan pertanyaan susulan, “Terus sekarang gimana, perlakuan mereka setelah Mbak Mun, jualan, alias enggak bekerja sebagai PSK? Udah beda kan?” tanya gue, penuh semangat kemerdekaan.

 “Bayangin aja ya mas, sekarang setiap Pak RT lewat depan warungku, dia slalu ngacungin jempol ke aku mas. Itu tandanya Pak RT senang dengan pekerjaan ku sekarang, malah warungku ini, yang beli kebanyakan warga sini!” terangnya.

Dari jawaban ini gue bisa berfikir, oh ternyata tindakan sekecil apa pun yang kelihatanya sepele, kalo di lakuin atas nama kebaikan, efeknya besar juga ya. Kalo dengan acungan jempol dari Pak RT setempat aja, bisa bikin mbak Mun merasa hebat. Mungkin  baginya, Pak RT adalah semangat hidupnya. Gue mencoba untuk lebih peka lagi, ternyata  kalo semisal mbak Mun lagi sedih gara-gara dagangannya enggak  laku, obatnya simple aja. Cukup panggil Pak RT, suruh acungin jempol buat mbak Mun. Lalu senyumnya akan terbuka lebar-lebar.  Dan mbak Mun bakalan bilang, “Silahkan, makan sesukanya Pak, GRATIS!”.  Dan semoga istrinya juga enggak terbakar api cemburu.

 “Mas, mas…. Hoe…?” teriak Mbak Mun, lalu tanganya menggebrak meja.

“Lha kok malah ngelamun?” sambungnya lagi.

 Gue tergopoh-gopoh, kaget!. “EEeee..iya, Maaf mbak,’ gue berkata,’’tadi ngelamun aku, terus kenapa kok akhinrya bisa berhenti jadi kupu-kupu malam?’

 “….” Mbak Mun hanya terdiam.’ Mbak, mbak?” tanya gue…

Perempuan pemakai kaos oblong ini tertunduk, layaknya di selimuti perasaan sendu. Ada guratan, di dahinya. Hatinya mungkin lagi murung. Gue sempat cemas, oh tuhan, apakah salah pertanyaan gue tadi. Lewat pertanyaan gue, dia harus kembali membuka masa kelamnya. Getir mungkin. Bahkan pahit. Terlihat hidungnya mengembang. Perlahan-lahan matanya berkaca-kaca. Butiran air matanya menetes, lalu mendarat di lenganya yang di letakkan di atas meja, warungnya. Dia terisak, kemudian mukanya menatap lurus ke arahku.

 Suana siang itu, memang lagi berawan cerah. Tapi tidak untuk situasi di tempat ini.

Untung, di sebelah kanan gue ada tisu makan. Gue raih tisu dalam kotak itu, lalu gue sodorkan ke Mbak Mun, “Ini, mbak Tisu? Maaf ya mbak, kalo pertanyann ku tadi, enggak enak di cerna?” jelas gue, terharu.

Dia, mengambil tisu yang gue kasih, “Dasar, bocah sableng, ini tisu makan, sekalian aja kasih elap meja?”

 Gue ketawa lepas, “HAHAHAHAA”

“Lucu juga kowe mbak,” kata gue.

 Dia mengelap umbelnya dengan sapu tangan kuning, yang di ambil dari saku bajunya. “Udah jangan ketawa, Ceritanya singkatnya gini, Mas!” lanjutnya.

“Iya, mbak gimana? Saut gue, serius.

“Waktu itu habis. buka puasa, bulan kemarin, tiba-tiba temen sewismaku namanya Sri Kanan, aku lihat dia keluar dari kamar, memakai mukena, aku tanyain, katanya mau ke masjid ikutan Sholat taraweh! Mendengar nama masjid dan Sholat tarwaeh telinga saya jadi adem mas, seperti ada yang memanggil saya untuk kembali ke jalan yang benar.  Tanpa panjang lebar, aku lari ke kamar ambil mukena, lalu nyusul Sri Kanan ke masjid!” jelasnya.

Cara tuhan memang berbeda-beda menyadarkan umatnya. Kuasanya memang begitu besar, hanya lewat sentuhan sesederhana itu, Allah bisa menyadarkan umatnya. Memutar delapan  planter mengitari matahari, bagi-NYA itu mudah, apa lagi hanya menyentuh satu umatnya saja, yang hanya penghuni planet.  Lewat perantara Sri Kanan tadi, pemilik alam semesta ini, kembali mengantarkan Mbak Mun, ke jalan yang bener.  

Gue pun memberikan ucapan penghargaan,  “Wah, hebat kamu mbak, selamat ya,” Tinggal pertanyaan terakhir, yang harus gue ajukan, “Terus mbak, dapet modal dari mana, kok bisa ngediri’in warung segede ini?” tanya gue, sambil meliha-lihat ke segala penjuru warung tersebut.

“Ohh.. itu, dapet dari pemerintah setempat, Mas ganteng,” jawabnya, genit. “Itu, mas ada program dari pemrpov, kalo ada PSK yang mau berhenti, akan di kasih pesangon 3jt, uang itu untuk di buat modal usaha?” sambungnya lagi.

Gue geleng-geleng kepala, “Tiga juta! Wah, lumayan banyak ya mbak, berarti cukup ya mbaK, buat ngedirin warung segede ini?” tanya gue, balik.

          Mbak gendut ini langsung nyolot, “Ya, enggak cukup lah mas, buat beli bedak aja kurang, kemarin itu dapet tambahan modal dari kerjaan saya mas, alhamdulilah halal.

  Gue penasaran, “Kerja apa mbak?”

 “Pembantu, Mas!” jawabnya singkat.

Kemudian, di balik warung Iwajo itu, gue seorang wartawan paruh waktu, dan mantan wanita kupu-kupu malam ini, ngobrol panjang soal perjalanan hidupnya. Disini, gue lebih banyak mendengar. Lalu dia, tak pernah berhenti bercerita tentang kisah hidupnya di belantara ibu kota, ini. Gue terkaget, selama dia perperan menjadi kupu-kupu malam, orang tuanya di kampung halaman sana, enggak tahu sama sekali. Dia menyimpan rahasia yang sangat rapi. Setiap ortunya, mau menjenguk ke tempat kerjanya, ia slalu melarangnya. Apa lagi disana, orang tuanya, sudah terlalu tua. Kisah mbak Mun, ini akan slalu terpendam di keluarganya. Hanya mbak Mun sendiri yang mengunci rapat-rapat tentang jalan hidupnya di kota ini. Sungguh pilu.

Apakah nanti mbak Mun akan bercerita? Gue enggak tahu. Mungkin suatu saat nanti, pada waktu yang tepat mbak Mun bakalan bercerita, bercerita soal perjalanan hidupnya yang terpelanting. Dari kejadian yang ia alami, ia akan berbagi perihal kampus kehidupan. Di kota ini, ia datang lalu terpeleset bahkan sampek terperosok, kini ia mampu berdiri tegak dengan kodratnya sebagai perempuan. Kodrat sang ibu yang berkecimpung di dapur. Lewat sentuhan nalurinya, ia merubah dapur kecil menjadi ladang mata pencarian. Rupiah yang halal mengepul dari sudut dapur.

Setelah lengkap, wawancara yang gue peroleh. Gue pamit pulang.

Gue engak bisa berhenti mikir tentang mbak Mun. Dia sekarang sudah bisa melewati masa sulit. Kalo mau hidup enak, lewati masa-masa sulit itu, setiap orang punya masa-masa sulit masing-masing. Dari usahanya ini, sekarang dia bisa mengirimi uang buat keluarganya di rumah dengan halal. Perempuan pemberani ini, kini menjadi ujung tombak bagi keluarganya. Buah dari kepiawaiannya meracik makanan menjadi ladang mata pencaharian, yang menggiurkan.

  Hari itu, gue sampek kost- jam 11 malam. Malam itu juga berita yang gue liput di lokaliasi harus gue ketik lalu gue kirim. Deadline sudah tak bisa di tawar. Tak kenal letih, tak kenal lelah. Begitulah kehihudpan nyata sang journalis menyebar infomasi kepada masyarakat. Mulia memang.  Badan sudah menunjukan kelelahannya. Di kamar kost itu, di samping pintu, gue ngetik berita dengan keringat bercucuran. Baju sudah lusuh, dengan keringat. Baju warna putih yang gue kenakan, telah berganti warna menjadi gelap, penuh dengan guratan debu jalanan. Capek, tapi seneng.

Satu mingu kemudian, pagi itu, menjelang gue berangkat kuliah.  Gue dapet kabar dari Pak Kepala biro di kantor tempat gue belajar menulis, kalo liputan team kita menebus berita Headline News Majalah. Sambil berangkat ke kampus naik motor, gue senyum-senyum sendiri. Ini yang gue idam-idamkan, nama gue masuk di Majalah berita minggua, media nasional, sebagai penulis. Sesampainya di kampus, gue langsung menuju perpus, di kampus gue, sudah berlangnan majalah ini, tiap minggu.

Ini tulisan gue, yang ada di Majalah Tempo: Masuk di Headline news halaman Jawa Timur. Judulnya: Bersih-Bersih Lokaliasi Ala Surabaya

ini Penampakan Majalahnya, nama gue di bawah!.

Oh Tuhan, di rak  perpus itu, terselip majalah baru terbitan minggu ini. Bau cetaknya masih hangat, masih khas bau tinta. Gue buka halaman Headline News, nama gue termampang jelas di bawa artikel; Penulis Budi Santoso. Ahayyyyy. Gue loncat kegirangan pagi itu. Senyum pun bermekaran. Siang harinya, di ruang kuliah,  gue dapet ucapan selamat dari Dosen gue, “Selamat ya Boedi, di teruskan semangatnya, lanjutkan belajar nulisnya, teman-teman beri tepuk tangan buat Budi, yang hari ini beritanya masuk Headline!”

Teman-teman sek-angkatan, langsung bersorak soray. Susana riuh, telah menggema di ruang kuliah itu. Gue pun hanya bisa, tersipu malu.

****

Makasih, temen-temen CUPU”ERS telah membaca #notedCupu sampek sejauh ini. Terharu!.

Temuin, gue disini: Gue sering share #notedcupu di twiiter. Keep stalking.

 Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

2 thoughts on “Pesan Moral Dari Sebuah Jempol

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s