Tentang Rumah Yang Bikin Kangen!

image descriptionDi Surabaya, beberapa tahun belakangan ini, banyak di temui taman-taman kota. Surabaya yang terkenal dengan kota bersuhu panas sudah bisa di tepis. Di setiap gue menyusuri jalanan ibu kota ini, hanya untuk sekedar jalan-jalan, sekarang sudah banyak di temui ruas-ruas jalan yang di tanami pepohonan. Di beberapa sudut, sudah mulai rindang dan sejuk. Memang belum merata. Tapi herannya,  tiap mau keluar rumah di siang bolong, sinar matahari begitu masih menusuk kulit. Apa iya, matahari di atas kota Surabaya ini lebih dari satu? Gue enggak tahu, yang pasti gue masih sering mendengar keluhan orang di sekitar gue, bilang: Surabaya itu, Panas!.
Panasnya itu lo, yang bikin orang bisa berubah ganti kulit. Yang semula putih kalo di dalem rumah, ketika keluar rumah sudah berganti wujud. Jadi item. Bahayanya, kalo ada petugas kebun bitang lagi patroli,  bisa-bisa kita di tangkep di kira Bunglon lepas dari kandang. Panas yang semakin parah ini, mengambil waktu kita yang berharga, mau gak mau kita di paksa di dalem rumah di siang bolong. Kalo mau keluar, naik motor kita di tuntut memakai pelatan yang serba tertutup.
Beruntung ya, pemerintah setempat sudah cepat tanggap dengan memperbanyak ruang terbuka hijau. Di penjuru kota ini, juga sudah mulai banyak di temuin, kampung hijau. Gue beruntung, terlahir dari kalangan keluarga kelas menengah. Meskipun keman-mana gue enggak naik mobil, tapi senggaknya, dengan suhu panas di siang bolong ini, memaksa gue untuk tetap berahan di rumah. Maka, gue gak perlu repot repot pergi ke salon buat facial. Cukup, di dalem rumah aja, otomatis kuliat gue jadi tambah putih.
Yang lebih mensyukuri lagi, gue beruntung terlahir dari sebuah kampung halaman, yang berjarak lima jam dari kota ini jika di tempuh dengan kendaraan bermotor. Iyap, nama kampung gue, kota Trenggalek-Panggul!. Gue di besarkan di kampung halaman hingga gue tamat sekolah SMA. Selebihnya, setelah gue di nyatakan lulus SMA,  gue bermigrasi ke kota, Surabaya untuk kuliah. Di kota ini lah, gue mengawali semunya. Mulai dari cita-cita dan harapan, gue gantungkan semuanya berawal dari sini, Surabaya. Ketika gue sudah sekitar empat tahun, mendiami  kota ini.
Sering kali, gue enggak krasan di kota ini. Gue merasa, ada yang hilang dari kehidupan gue. Mungkin, karena gue mendiami tempat baru, yang belum begitu menyatu. Dan terlalu enak dengan kehidupan tempat gue semula, di kampung halaman sana. Lalu hal-hal apakah yang bikin kangen, bagi anak imigran seperti gue.
*Naik ke atas podium*
*Di lempari gorengan*
Keluarga à Gue di Surabaya, sedangkan mama-papa dan adik adik gue ada di kampung halaman sana. Untuk bertemu aja, gue harus menempuh perjalanan darat hampir setenga hari. Bayangin, betapa jauhnya kota kelahiran kampung gue. Mau pulang naik pesawat, enggak ada jurusan Surabaya-Trenggalek, disana enggak ada bandara. Mau naik kapal? Kapalnya keburu pecah ban. Mau pulang naik, angkot? Takut angkotnya mogok di jalan. Jalan satu-satunya akses untuk menuju kesana adalah mengunakan bus. Iyap, angkutan transportasi masal inilah tumpangan gue. Namun, seringkali memakai angkutan jenis ini, gue mengalami penuaan di jalan. Sebab apa? Lajunya enggak bisa di pastiin. Sering kali malah, kena macet parah. Belum lagi, busnya di sesaki penumpang, jadi sering over kapasitas. Gue paling enggak betah, kalo waktu gue habis di jalanan. Maka dari itu gue sering pulang naik roda dua.
Di tengah kota yang begitu ramai ini, sering kali gue merasa sendirian. Berbeda jarak yang cukup jauh ini, harus gue lakoni, karena apa? Atas nama masa depan kelak nantilah. Terlahir dari tujuh bersaduara, membuat gue tumbuh menjadi anak yang periang. Dulu bisa tiap hari kumpul bareng adik-adik gue. Yang dulunya, di sekeliling gue masih melihat wajah-wajah adik gue, sekarang cuman bisa mendengar suara mereka lewat deringan telfon. Sudah menjadi resiko. Gue pun,  pulang aja jarang-jarang. Sebenernya, pengennya itu pulang tiap minggu? Tapi enggak bisa.
 Saking lamanya gue enggak pulang, terkadang gue jadi lupa nama-nama adik gue sendiri. Supaya gue enggak lupa urut-urutanya, nama adik gue. Gue punya cara tersendiri, ngapalin nama-nama mereka. Di kontak handphone gue tertulis, seperti foto di bawah ini:  
Screen_20130930_000621
Nomer Adk gue!
 
Iyap, itulah resiko punya adik banyak. Susah ngapalinya. Sekarang gue sama adik-adik gue, si Sandra sama Dina, lagi bejauhan. Sekarang, mereka sudah kelas 1 SMA, mereka sekelas bahkan sebangku. Semoga aja mereka tetep akur, enggak rebutan pacar!. Udah lama banget, mereka enggak gue berdayakan buat nyuci pakaian gue. Jadi kangen. Tiap gue pulang, biasanya mereka kebagian oleh-oleh baju kotor. Cukup hanya membayar mereka dengan uang sepuluh ribu, mereka bakal ngibrit kocar-kacir mencuci baju gue. Lumayan murah juga, harga diri mereka. Hina sekali!.
si Tunjung (Sok Imut)
si Tunjung (Sok Imut)
Selain gue berdayakan jadi buruh cuci, adik gue yang satunya gue berdayakan jadi dukun pijit. Tiap gue pulang, liburan semester, gue gak perlu jauh-jauh pergi ke dukun buat di pijit, cukup tengkurap di rumah aja, lalu gue teriak, “Tunjung. Seketika itu, Tunjung bakal nonggol di depan gue.  Iyap, namanya si Tunjung. Masih kelas 1 SMP. Prestasi terbaiknya selama masa sekolah adalah. Juara satu manjat pohon kelapa. (dibaca: nyuri kelapa muda). Dia anak gaul banget, kemana-mana kalo main naik sepedah mini. Terkadang kalo hari minggu gak sekolah, dia manfatin sepedahnya buat jualan siomay. Meskipun punya pekerjaan sampingan, dia terlahir sebagai anak yang mata duwitan. Tiap abis mijitin gue, dia slalu minta honor. Gue kasih aja, lima ratus perak. Lumayan bisa buat beli jas jus!.  

 

 

 

 

 

lery kecilNah, ini yang terakhir. Si Bungsu. Namanya Lery. Baru saja dia, masuk TK besar. Iyap, potongan rambutnya emang mirip sama changcuter band. Hobinya sih, mungutin plastic di jalanan. Emang sih, dari sekarang sudah terlihat bakatnya, kemungkinan besar nanti dia mau bercita-cita jadi tukang sapu jalanan. Yang bikin gue kangen sama Lery, dia sering nangis kalo gak di kasih uang jajan. Nangisnya itu, malah bikin gue ketawa, tahu kenapa? Kalo dia nangis, ekpresi terindah yang keluar adalah…. Gulung-gulung di tanah!.
Udah, itu aja dari gue kali ini. kabar baiknya, tanggal 11 bulan depan ini gue bisa pulang kampung dan ketemu sama keluarga tercinta. ahay. Buat temen-temen disini, kalian cuper’s., yang di kangenin sama kampung halaman itu apa sih? Bisa di ceritain di komen box.
*** Temuin gue di dunia jejaring social di bawah ini….
Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu
Facebook: Budi Santoso Totoraharjo
Iklan

17 thoughts on “Tentang Rumah Yang Bikin Kangen!

  1. redbike92 berkata:

    waduhh aku bingung mau komen apa bro
    masalahe aku asli Surabaya
    sekarangpun tinggalnya di Sidoarjo
    dan tiap hari masih ke Surabaya
    sabar ae yo bro

  2. cutisyana berkata:

    Ahahaha gw udah gak ketemu keluarga gw 2 taun.. semoga nama gw blom dicoret di KK. Begitu juga lo ya, Bud.
    Amin.
    *usap muka khusyuk

  3. nbsusanto berkata:

    yang bikin kangen? tentu bapak dan ibuk dengan kasih sayang tak hingga, adek dengan jutaan obrolan yang masih tertahan dan seorang ponakan yang kalo pas aku pulang selalu nemplek dan pas dia sumringah bikin bahagia! 😀

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s