Fenomena Mahasiswi Cabe-Cabean

KETERANGAN: PERAN PENGGANTI.

KETERANGAN: PERAN PENGGANTI.

Indonesia memang dikenal laboratorium bahasa. Dari waktu ke waktu slalu muncul istilah baru untuk melabeli sebuah fenomena tertentu. Belum jelas sampai saat ini, siapa penemu istilah – istilah baru tersebut. Namun yang pasti, yang pernah gue denger lewat ke-dua telinga gue, ada istilah ‘narsis’, ada istilah ‘alay’, dan yang terbaru ada istilah ‘cabe-cabean’. Sempat juga mendengar istilah jablay.

JABLAY? OH… Bukan ya! Sorry.

Menurut dari reportase gue….

Menjelang tahun baru 2014 ini, muncul istilah yang ngetren banget dikalangan para pengguna media social, maupun kalangan netizen (pengguna internet). Yup… Istilah itu adalah ‘cabe-cabean’. Padahal, menurut sejarahnya, kalo kita menengok ke belakang. Istilah itu mengalami regenerasi lho. Dan mempunyai karakterisitik masing-masing. Dari yang pernah gue alamin, sewaktu gue masih menjadi anak SMA 1, saat itu lagi ngetren banget istilah…

Narsis. Istilah narsis ini untuk melabeli kaum remaja, yang suka pamer. Pamernya mulai dari yang bermacam-macam. Dari yang ringan hingga yang sedang. Bahkan sampai ada yang akut. Yang ringan, mulai dari pamer fotogenik dengan jari manis menempel di kedua pipinya. Kemudian yang sedang, sampai pamer foto lingkaran pusernya, yang justru kelihatan udelnya segede lubang sumur belakang rumah. Dan yang terakut, pamer lagi nyetir mobil yang fotonya di unggah di media social, padahal mobilnya hasil menggadaikan KTP di sebuah rental.

Naris, pada umumnya pengen eksis doang. Umumnya juga, spesies narsis ini melakukan penampakan di media social. Anak muda gitu lo, nggak mainan facebook nggak keren. Nggak twiteran nggak gaul. Motofinya sih, pengen nunjukin kalo dirinya layak diperhatikan. Mereka yang sempat mengidap narsis ini, pada dasarnya kurang mendapat sentuhan kasih sayang dari orang tuanya. Maklum, biasanya sejak kecil, mereka sering ditinggal orang tuanya menjadi TKW/TKI. Dan anehnya, kebanyakan pelakunya berjenis kelamin perempuan. Untung jenis kelamin gue laki-laki. *Raba-raba selangkangan*

Berikutnya, sewaktu gue memasuki awal-awal kuliah di tahun 2010, kemudian lahir lagi istilah baru, Alay. Istilah “Alay’ turunan dari Naris. Kemungkinan besar, masih saudaraan lah. Dua fenomena ini lahir di media social lho. Pelakunya, tak jauh-jauh dari golongan anak muda. Lagi-lagi pelakunya kebanyakan cewek. Dan, hinanya lagi, adik gue yang nomer empat sempat terjangkit “alay’. Ceritanya pernah gue posting kok, (baca disini). Gue nggak tahu sampai sekarang sudah sembuh apa belum. Perilaku alay ini, merebak di media social juga. Perilaku alay ini, menurut gue, merupakan perilaku tidak terpuji. Kenapa? Sebab, anak alay suka melintir penggunaan bahasa Indonesia. Dan musuh bebuyutan kaum alay adalah, guru bahasa Indonesia.  

Begitu pagi menjelang, saat itulah kaum alay mulai bermunculan. Mereka pada umumnya, suka menyapa,

“Ce3La4mAth P4geHH CeMuahhDD’

Dan duta alay Indonesia, sampai saat ini masih dipegang oleh @Radityadika. Lewat akun twiternya, @Radityadika sering menyapa kaum alay, begitu sudah ngetuit alay. Pasukannya bakalan meretuit hingga menjadi trending topic. Maklum saja, followernya sekarang sudah tembus sampai 6 jeti bok…!. Dengan mengatasnamakan gaul, kaum alay sampai saat ini terus berkembang biak. Gara-gara pengen eksis di media sosial’lah, mereka sampai saat ini masih ada. Entah sampai kapan!

Di tengarai, setelah ALAY dan NARSIS bosan ngeksis didunia maya, mereka akhirnya bergabung menjadi satu. Atas dasar DNA yang sama, mereka akhirnya kopdaran. Dua formula itu akhirnya menjalin sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Dari perkawinan dua DNA  itu, lalu munculah formula baru. Formula baru itu, adalah istilah CABE – CABEAN. Kemudian, sel-sel cabe-cabean menyebar. Ada yang cabe-cabean di kalangan remaja, meliputi anak SMP, SMA, bahkan terjadi di belantara kampus.

Nah, menjelang tahun baru 2014 ini, Cabe-cabean lagi diomongin banyak orang lho. Ngehits banget deh. Sampai-sampai beritanya melebihi sensasinya Farhat Abas. Perilaku cabe-cabean, emang mengundang perhatian. Nah, gue sebagai Reporter Cupu, melakukan pemantauan disejumlah kampus tentang fenomena ini. Saalnya, cabe-cabean telah menyusup ke anak-anak mahasiswi juga. Disini, lewat #NotedCupu edisi minggu ini. Gue akan mem-publish, fenomena cabe-cabean dikalangan mahasiswi.

Perliaku cabe-cabean yang dilakukan mahasiswi antara lain…

 

Dandan Berlebihan.

Dari pemantauan gue dari atas pohon cemara yang ada di kampus. Mahasiswi yang hobby cabe-cabean, biasanya suka dandan lo. Padahal cewek emang di wajibkan dandan kan? Biar kelihatan cantik. Namun, mahasiswi cabe-cabean ini, dandanannya sudah over banget, sudah berlebihan. Mahasiswi pengidap cabe-cabean, kalo ngampus, gemar memakai lipstick sampai bibirnya merah ranum. Di tambah lagi, bedaknya yang menempel dimuka, tebalnya segede aspal jalan raya. Belum lagi, udah pakai lipstick yang mencolok, eh malah ditambah lagi pakek blush – on. Oke…. Fine ini emang kebutuhan wanita. Iya,  emang bener tambah cantik. Tapi cantiknya terkesan urakan lho. Tapi wajar nggak sih, untuk ukuran anak kuliahan yang niatnya mau nuntut ilmu.

Tujuan ke kampus kan buat belajar, bukan buat nge-Mall. Pernah kok, gue melihat, ada mahasiswi yang nongkrong didepan sebuah jurusan. Saat nongkrong itu, tuh mahasiswi sedang ngebuka kotak alat-alat tulis. Begitu gue amatin terus, eh tak tahunya dari kotak pensil tersebut, sedang ngeluarin pelaratan mack – up. Buset…. Begitu kotak tersebut dibuka, tuh mahasiswi ngeluarin lisptik panjang banget. Dari kejadian ini, gue menduga, kalo ini mahasiswi beli lisptiknya pasti meteran. Nggak tahu, beli lipstiknnya di toko galangan atau bukan.

Dandanan over di kampus itu salah tempat. Nggak salah lagi, perilaku yang over dandan inilah awal mula sejarah  lahirnya cabe-cabean di kawasan kampus. Beradaptasi menyesuaikan diri pada lingkungan itu menjadi urusan vital. Kalo lihat, fenomena ini di kampus kalian, tolong dipangil ‘CABE Mbak, Cabe?.

 

Memakai Higheels (booth)

Di setiap kampus mana pun, pasti punya peratuan tentang tata cara berpakaian (busana) yang bisa dipakai mahasiswanya saat kuliah. Peraturan itu sifatnya mengikat, biasanya, kalo ada yang coba berani-berani melanggar, mahasiswa tersebut bakalan  kena sanksi. Sanksinya seperti, nggak boleh ngikutin kuliah selama sehari penuh.  Bahkan tak jarang ada oknum dosen yang nendang patatnya mahasiswa karena emang bandelnya nggak ketulungan.

Kalo gue jadi Dosen sih, gue bakalan menghukum mahasiswa seperti ini dengan memberinya PR sebanyak-banyaknya. Biar pinter aja, dan jera. Emangnya kuliah buat main-main. Nggak ngerti apa, kuliah itu mbayar pakai duwit bukan pakai dengkul.

Usut punya usut nih, kalo di kampus gue sih, peraturanya dilarang pakai kaos oblong, terus nggak boleh pakai sendal, sama dilarang pakai sarung (emange pondok pesantren). Tapi berhubung namanya kampus ya, terkadang masih ada mahasiswa yang ngebandel. Iya, BANDEL.

Pernah disuatu pagi yang masih berembun, dengan selimut kabut kolonimbus yang pekat. Saat itu gue kuliah masuk pagi. Begitu sampai di parkiran sebuah kampus, gue ngelihat mahasiswi yang ngampus kakinya pakek Higheels bo…! Ho’oh HIGHEELS. Sumpah men! Tadinya, gue mau muji beuh… cewek keren, metal, wonder women, Dewi Persik. Tapi berhubung, gue inget peratutan yang ada di kampus, jadi gue nggak komen apa-apa. Gue diem saja. Eh.. begitu itu mahasiswi jalan beberapa meter ke depan, tiba-tiba tu anak nyungsep ke got parkiaran. Penyor deh. Nggak salah lagi, Highellnya ketinggian, jadi mau jalan susah gitu. Kalo yang nyungsep semacam Putri Titian, gue sih buru-buru mau nolongin. #MentalPlayBoyKumat *Di Gampar Pacar*.

Gue cuma geleng-geleng kepala, ini kampus apa arena karpet merah untuk sejenis model. Terkadang dengan memakai sepatu sejenis model kuli bangunan, anggapanya biar disangka ngikutin trend yang lagi rame. Tapi tak tahunya, salah tempat. Bukan malah dibilang gaul, malah kena….. “MBAK….CABE YA MBAK?

Nongkrong Cewawakan

          Mahasiswa/wi disibukkan tugas, itu mah wajar. Namanya juga, pelajar. Sekolah Dasar saja, habis pulang sekolah dikasih PR sama bapak/ibu guru. Gitu terus sampai kita menjadi anak SMA. Tapi yang bikin gue, gemes.. hari gene disebuah akun twiiter, masih banyak gue menemukan mahasiswa/wi yang ngeluh. Di timeline ia mencuit;

  • “Duh… Tugas lagi, Tugas lagi, repot inih!

  • ‘Duh… Mana tugas banyak, wifi kampus ngeden.

  • ‘Duh… Gara-gara banyak tugas, sering duduk bokong jadi kremien”.

Kalo nggak mau tugas dari dosen, ya nggak usah kuliah. Mending balik lagi sono, ke SMA. Namanya juga nuntut ilmu, pasti ujian itu slalu ada. Itulah cara kerja, ilmu mendidik kita supaya bisa bekerja keras. Dan lebih tahan banting. Di luar sana, begitu kita sudah di wisuda, medan pertempuran lebih sengit dari tugas yang ada di kampus.

Terkadang mahasiswa/wi seperti ini, kalo sudah jenuh dengan tugas. Mereka bakalan lari dari jeratan tugas. Dengan mengatasnamakan kekompakan, senasip sepenanggungan, mereka bakalan hang-out bareng-bareng dari meja kesibukan. Pelarian mereka, sasaran targetnya sih, umunya taman kampus. Yup… Taman kampus emang tempat yang nyaman buat, nongrkong rame-rame. Haha-hihi bareng.

 Begitu, sudah ditaman, mereka bakalan becandaan bareng. Nah, kalo sudah ke enakan becandaan. Gejala yang sering timbul sih, sering cewawakan. Pada tahu kan cewawakan?. Oh belum ya. Cewawakan itu, ketawa kenceng, sampek teriak-teriak sampai bikin gaduh. Dan suaranya ketawanya, menyebar ke lorong-lorong kampus. Bahkan, sampi mengganggu mahasiswa lain yang sedang enak-enakan belajar.

 Mereka yang seperti ini sebenarnya, pengen ada yang perhatiin saja sih. Di pikiran mereka pengen ada yang bilang, “Siapa sih, yang ketawa kenceng tadi, suaranya cantik, pasti orangnya cantik juga!’ Ada sebagian dari mereka yang, ketika masuk dunia kampus, mentalnya drop ngelihat tugas yang numpuk. Maklum, terkadang di SMA-nya dulu… Tugasnya nggak sebanyak pas zaman kuliah.

Emang sih, dengan menjadi mahasiswa yang kelihatan fun, bakalan menjadi pusat perhatian. Tapi kalo funya, berlebihan malah dikira… Mahasiswi “CABE-CABEAN!”

 *************

Nah, cukup dulu @NotedCupu edisi minggu ini.

Sebagai warna Negara Indonesia yang mempunyai hak kebebasan berpendapat. Untuk menyikapi munculnya “Fenomena Mahasiswi Cabe-cabean” ini, gue pribadi bilang.

Terkadang, ulah Cabe-Cabean, menjadi hiburan tersendiri disaat gue sedang beristirahat setelah kelelahan mengerjakan SKRIPSI. Jujur gue akui. Sering gue duduk didepan jurusan, kemudian hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat aksi mahasiswi Cabe-Cabean. Pemandangan seperti ini kan jarang terjadi, asyik aja kalo kebetulan nemu. Lucu. Dan pemandangan kampus lebih variatif.

Namun… Disisi lain.  Cabe-Cabean kerap dikonotasikan perilaku buruk. Stigma budaya kita, umumnya orang menilai dari sebuah penampilan.

 Bukan kok gue, mau ngebuly kalian, sih. Sumpah, nggak ada niatan buat, menghujat. Minimal, meskipun suka Cabe-Cabean, seimbangkan dengan prestasi dikampus. Kuliah itu soal, tanggung jawab anatara ke dua belah pihak. Pihak pertama, diri sendiri. Dan yang ke dua orang tua. Tangung jawablah didepan orang tua lah yang berat.

 Di balik meja kuliah kalian, orang tua diluar sana, lagi memeras keringat, mereka nyisihin rupiah untuk membayar uang semester kalian.

*************

Oke….. Sekian.

Gue pribadi, atas nama @NotedCupu. Mengucapkan, Selamat Hari Natal bagi yang merayakan dan Selamat Tahun baru 2014.

temuin gue di #Jejaring #Sosial dibawah ini. 

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

 

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

 

Iklan

25 thoughts on “Fenomena Mahasiswi Cabe-Cabean

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s