Personal Branding For Mahasiswa Jomblo

MAHASISWA JOMBLO

MAHASISWA JOMBLO

Hati wanita itu, emang sulit ditebak. Apa yang dikatakan lewat ke-dua bibirnya, berbanding terbalik dengan isi hatinya. Wanita itu penuh misteri, meskipun kita sudah kenal jauh, belum tentu juga kita bisa membaca kemauan isi hatinya. Salah-salah, memprediksi kita pun bisa di buat bingung olehnya. Bahkan gue yang dulu, sering terjebak dengan istilah GR [Gede Rumongso] gara-gara urusan pergebetan. Setidaknya, sampai detik ini gue masih sering dibuat repot dengan wanita.  
Masa lalu yang kelam, penolakan demi penolakan, membuat gue lebih tahu sedikit soal urusan daerah kewanitaan–maaf salah ketik–maksud gue, urusan kewanitaan.  Sudah nggak ke itung jumlahnya, gue mengalami penolakan sejak SMP sampai gue kuliah, iya, gue tetep gencar cari gebetan dan hasilnya gue tetep JOMBLO. Begitu memasuki masa PDKT dengan cewek, sudah saling kenal, akrab, lalu sering jalan bareng, ngobrol bareng. Bahkan hubunganya sudah sampai tahap, sama-sama ngasih perhatian, gue sangka ditahap ini cewek tersebut sudah jatuh cinta sama gue.
Ternyata, setelah gue tembak dengan mengeluarkan kalimat.
‘Aku Sayang kamu loh, kayaknya kita cocok jadian. Aku perhatian sama kamu, kamu juga perhatian sama akuh. Nyambung kan?.
Dari berbagai kasus yang gue alamin, heranya jawabanya sama semua, si Cewek hanya menjawab dengan bahasa penolakan yang halus,
 “Aku kan perhatian sama kamu, hanya sebatas teman dekat kok. Nggak lebih dari itu!”
Mendengar jawaban seperti itu, gue langsung lemes. Nggak nyangka aja sama jawabanya, gue kira di awal-awal, cinta gue bakalan diterima dan bejalan mulus. Ternyata, apa yang gue prediksi selama ini salah besar. Hati cewek memang benar penuh misteri, setidaknya itu yang gue tangkap sampai saat ini.
 Setelah bosan, dengan status JOMBLO yang semakin menyiksa. Akhirnya gue berbenah diri, pada suatu waktu, gue pergi ke sebuah ruang besar yang di dalam terdapat rak-rak buku #Branding. Di dalam ruangan tersebut, gue membaca buku-buku #Branding dari berbagai karangan. Nah, begitu, buku demi buku habis gue lahap dengan semangat kemerdekaan. Gue menemukan ide, iya, ide itu: Jomblo itu, harus di #Branding-ngin biar cepet laku. Gue pun membagi-bagikan #Branding tersebut ke dalam beberapa aspek….
Yakin aja, kalo aspek-aspek tersebut dilakukan dengan baik, pasti orang semacam gue ini akan mendapatkan pacar mahasiswi. Nah, berikut beberapa aspek yang udah gue susun.
 
1. Kemasan
Produk yang laris manis di pasaran, syaratnya harus memiliki kemasan yang oke. Coba lihat produk botol air mineral, minuman mineral itu nggak akan laku terjual apa bila, botolnya lempeng-lempeng gitu aja, nggak ada kemasan yang menempel.
Untuk dapet menarik perhatian, konsumen [dibaca: mahasiswi] kemasan seorang mahasiswa jomblo di kampus harus lebih menarik, bahkan harus lebih unik. Umumnya, cewek cenderung lebih memilih cowok yang suka pakai dandanan rapi. Yang lebih fashionable. Anjuran gue sih, berdanan sesuai standarisasi pasar.
Nah, standarisasi dandanan di kampus, untuk mahasiswa sudah tercantum pada peraturan. Kalo di kampus pakai sepatu, atasannya celana bahan, sama bajunya memakai kemeja atau kaos berkerah. Cowok model seperi ini, yang kelihatan gagah berani dan perkasa di mata cewek.
Biasanya, konsumen [dibaca: mahasiswi] bakal lari kalo dandananya kita ngasal. Jangan harap cewek berstatus mahasiswi, jatuh hati kepada kita kalo gaya dandanan kita masih suka memakai sarung waktu kuliah dan suka memakai sandal jepit. Dananan jadul kayak gini, membuat jomblo kita makin karatan.
Termasuk gue dulu! Dan sekarang dandanan gue masih jadul.
 
2. Kualitas
Jomblo itu seperti sebuah produk yang dilempar ke pasar. Kalo kemasannya sudah oke, maka kualitasnya juga harus menyamakan dengan kemasannya.. Kalo ada mahasiswa, yang sudah keren secara dandanan. Tapi, waktu kuliah nongkrong-nongkrong gitu aja, dan nilai mata kuliahnya jeblok.
Sehingga terpaksa temennya, lulus duluan. Nggak salah lagi, stigma kualitas buruk bakalan tersemat kepada mahasiswa jenis ini. Apa lagi, berkat adanya efek, word of mouth (dari mulut ke mulut), kabar buruk mengenai kualitas produk akan cepat menyebar di era digital seperti sekarang ini.
Maka. Mahasiswi nggak bakal tertarik dengan mahasiswa seperti ini. Kaum mahasiswi lebih suka kepada mahasiswa yang namanya mejeng di baliho-baliho kampus, semakin sering nama kita mejeng di baliho kampus dengan menyading sebuah trofi penghargaan semakin besar juga peluang kita untuk mendapat perhatian lebih dari kaum mahasiswi.
Harap diingat, jangan masuk baliho kampus dengan bertuliskan “Keseringan Nge-Mall, Mahasiswa Ini Menilep Uang SPP’
Bukan termasuk gue!.
 
3. Cita rasa.
Cita rasa adalah harga yang harus di bayarkan untuk sebuah kualitas. Cita rasa itu, mengacu pada sebuah rasa, atau sejenis bau yang di tawarkan. Kalo ada sesosok mahasiswa yang jomblo, sudah oke secara fashion tapi bajunya bau jigong, pasti tetep di kira gembel.
Sementara kalo ada mahasiwa jomblo yang udah keren secara dandanan tapi, bau parfumnya kelewat batas, pasti kalian mahasiswi nggak akan beli (tertarik) karena baunya keterlaluan.
Mahasiswi pasti berfikir kalo jangan-jangan, mahasiswa ini beli parfumnya literan. Dan dimata mahasiswi, cowok mahasiswa seperti ini terkesan murahan. Pasti nggak ada yang mau beli, atau nggak ada yang tertarik sama sekali.  
Sama kayak mencari pacar, kalian mahasiswa yang masih jomblo harus mengerti selera pasar. Racikan bau parfum yang pas, dan wanginya semerbak akan mudah memikat mahasiswi. Jangan kayak gue dulu yang tiap ke kampus memakai bau minyak kayu putih. (baca ceritanya disini )
Dan gue pun hampir jadi jomblo karatan!.
4. Harga  
Harga adalah nilai yang kita tawarkan untuk memasarkan produk kita. Harga dari mahasiswa jomblo tentunya, perpaduan antara kemasan, kualitas dan cita rasa produk. Semua unsure tersebut telah membentuk satu kesatuan yang utuh, sehingga bisa disebut harga.
 Sama kayak mencari pacar, mahasiswa yang jomblo harus punya harga psikologis yang bisa ditawarkan di bandingkan pruduk lain yang sejenis. Jika ada mahasiswa yang sudah belasan semester, rambutnya gondrong dan memakai pakaikan kumal, lusuh, terus bau parfumnya pun memakai minyak fanbo. Maka, mahasiswa seperti ini akan susah mendapatkan pacar di lingkungan kampus.
 Mahasiswi menganggap, harganya terlalu murah sehingga mereka tidak mau memiliki. Boro-boro mau memiliki, kambing aja pilih bunuh diri numbrak angkot dari pada ketemu mahasiswa bergaya seperti ini.
 Mahasiswa yang bakalan laku, harga dirinya di tentukan berdasarkan kepintaran, dandanan dan baunya wangi. Maka, bisa dipastian kalo harganya bisa menjawab kebutuhkan konsumen. Bisa dipastikan juga, kita akan jadi buruan mahasiswi-mahasiswi. Lalu peran kita, tinggal menyeleksi mana calon pacar yang sesuai criteria.
Nggak mungkin kan kalo, baunya jigong tapi targetnya, mau macarin Gita Gutawa. Siap-siap jomblo lumutan deh!.
******************
 
Semoga apa yang gue sampaikan barusan, dapat membantu kalian para mahasiswa yang sekarang masih berstatus JOMBLO. Berkat Personoal Branding For Mahasiswa Jomblo itu, kini gue bisa menggaet cewek. Dan udah genap 11 bulan gue melepas masa JOMBLO. Maka dari itu, gue kali ini berbagi pengalaman gue.
 Mudah-mudahan, dengan uraian singkat panduan personal branding tadi, kalian khususnya mahasiswa bisa memahami, kenapa kalian JOMBLO?. Harapan gue, kalo sudah menerapkan sususnan rencana yang udah gue jabarin, nggak usah jadi playboy. Pacar cukup satu aja….. … …  Cukup satu di jurusan. Cukup satu aja di jurusan lain, dan Cukup satu aja di kampus sebelah.
 
Cukup satu aja, nggak boleh nambah.! *Di gampar pacar pakai metro mini*.
Sampai Jumpa.
Di edisi #NotedCupu pekan depan.
Prof. Dr. Budi Santoso Totoraharjo, Amd, S, pd. SPG,
 
                             Temuin Gue di jejaring social di bawah ini. NB: buat teman-teman pembaca yang mau nambahain tentang branding untuk mahasiswa JOMBLO bisa di share di komen box #Ngecupu

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

 
 
Iklan

6 thoughts on “Personal Branding For Mahasiswa Jomblo

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s