Hujan Itu Berkah Bukan Bencana

HUJAN ITU BERKAH

HUJAN ITU BERKAH

Pukul 7 malam, empat minggu yang lalu. Gue sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah Mall di kawasan Surabaya pusat. Dalam perjalanan pulang menaiki kendaraan roda dua itu, kami bertiga (gue, Sandra dan Tunjung, baca ceritanya disini), pulang dengan ditemani derasnya air hujan. Wajar, memang sedang waktunya musim penghujan. Sebagai seorang kakak, gue mengambil peran sebagai supir. Karna waktu itu, kita sedang boncengan satu motor dinaiki tiga orang, gue menyetir dengan sangat pelan dan lambat, agar bisa lebih hati-hati.
Sejak keluar dari parkiran mall tersebut. Gue memakai satu jas hujan untuk di pakai kami bertiga. Memang ini tidak proporsional dengan jumlah penumpang, tiga orang. Namun, di atas motor itu, Tunjung yang berbadan kurus duduk di tengah, sementara Sandra duduk di belakang, membuat jas hujan ini bisa terbagi rata. Berkat badan tunjung yang kurus, motor bebek gue jadi muat dinaiki tiga orang. Sekaligus, jadi tau orang kurus emang ada gunanya juga.
Waktu itu memang malam minggu, tapi jalanan agak lengah lantaran sedang hujan dengan derasnya. Jalanan pun sepi, hanya nampak beberapa pengendara motor dengan supir bapak-bapak yang kelihatanya, baru pulang kerja. Mungkin bagi para penikmat malam minggu, hujan adalah awal mulanya rasa malas untuk keluar rumah. Atau bahkan disudut lain, turunnya hujan adalah sebuah hujatan akibat penyebab gagalnya pertemuan.
Gue suka hujan,tiga tahun yang lalu, di kampong halaman sana, begitu hujan datang, gue menari di depan rumah sambil melemparkan bola ke udara. Iya, hujan adalah waktu yang asyik buat bermain bola. Namun ketika gue di Surabaya, turunnya hujan tak lagi membuat gue riang seperti masa kecilku dulu di kampong halaman.
Hujan telah membuka dua sisi sifat yang berlainan pada diri gue. Wajarkah? Iya, memang wajar.
 Namun begitu tidak wajar, ketika kendaraan gue melintasi jalan kapasari, atau lebih dikenal dengan jalan pasar gembong. Baru beberapa meter memasuki area jalan tersebut, kendaraan kami sudah dihadang banjir setinggi dengkul orang dewasa. Gue kesal. Melihat pemadangan banjir yang menjengkelkan itu, gue hanya bisa meracu dengan makian, “Dengkule Cepot Opo, Titik Banjir!”. Lantas, Sandra dan Tunjung pun, hanya bisa ketawa kencang ceki-kikan melihat kakaknya yang sedang emosi.
Dan untung saja, motor bebek gue nggak kelelep alias mogok. Jalanan yang banjir, ternyata di depan mata telah di suguhkan sebuah pemadangan, kemacetan. Iya, air yang menggenang sampai dengkul orang dewasa ini telah menimbulkan korban jiwa berupa motor roda dua. Air yang nggak meresap telah menyerang manusia, genangan air telah menjelma menjadi pasukan perang yang amat mematikan, lalu membunuh sebuah mesin berbahan bakar fosil. Satu demi satu, korban pun berjatuhan,
Dan pada akhirnya… Macet-macet….! Iya, macet tidak bisa terelak’kan. Sudah beberapa puluh menit, kami terjebak ditempat yang sama. Saat itulah, gue semakin kesal. Makian gue yang keluar lewat ke dua bibir semakian tidak ada artinya. Dan ke dua adik gue, hanya bisa meracu dengan kompak, “Dengkolmu, Awas Klelep”!.
          Hujan masih saja terus mengguyur. Tapi macet sudah angak sedikit terurai. Para kendaraan yang macet yang berada ditengah jalan, mereka sudah bisa menepi. Begitu kendaraan kami jalan sampai beberapa meter, lalu melintasi sebuah perlintasan rell kereta api…. berikutnya motor berjalan agak pelan, gue menemukan sebuah kolor yang hayut (dibaca: Sempak) di jalan raya. Nggak tau kenapa, tiba-tiba kolor itu muncul di sebelah kaki kiri gue. Praktis yang bisa gue lakuin adalah, ngebentaknya dengan bilang,’Hus… Hus… Minggir, menyingkir dari kakiku!’. Sandra dan Tunjung pun, hanya bisa ketawa kenceng melihat ulah kakaknya.
`        Selanjutnya…
 Begitu kendaraan kami berhasil keluar dari jalur panjang bernama kapasari, jalanan sudah aman dari genangan air. Gue sudah lega. Hujan juga berganti menjadi gerimis. Jarak menuju rumah kediaman hanya melintasi satu perumahan lagi. Kira-kira 15 menit lagi sampai, ucapku kepada dua orang di belakang gue. Begitu kami belok kiri dan sudah melewati sebuah pom bensin, kita di hadang banjir lagi. Bahkan banjirnya lebih parah.
Namun nggak macet seperti di jalan raya yang tadi. Di jalan kecil, di komplek perumahan padat penduduk ini jalanan nyaris lumpuh. Motor yang mencoba melewati genangan air langsung tumbang, mogok!. Alhasil, asap membumbung pun, keluar dari balik knalpotnya!. Gue pun lalu berkomentar, “Itu knalpot apa bakaran sate!’ Lagi-lagi, celetukan gue yang berbau kesal telah membuat ke dua adik gue ketawa ngikik.
          Agar tidak terperosok, gue pun pelan-pelan mengatur ritme gas motor bebek gue. Jalan demi jalan gue susuri. Sampai sejauh ini motor masih aman. Begitu di depan ada pertigaan, gue banting setir ke sebelah kiri. Masih sama saja, dimana-mana di jalan Pogot juga terkepung banjir. Ah, ya sudahlah. Nggak pa-pa, asalkan motor gue nggak mogok gue rela di kepung banjir. Kasihan aja kalao sampai Sandra dan Tunjung harus mendorong motor bebek gue. Tak jauh setelah gue belok kiri, di depan ada taxi yang memakan bahu jalan. Gue pun mengklakson taxi tersebut, syukur taxi itu nemepi.
Gue nggak bisa ngebayangin kalo terjebak di situ, dan kaki gue jadi jangkar. Air banjir yang keruh berwarna item membuat gue paranoid. Setelah melewati taxi tersebut, di depan gue ada bapak-bapak yang keluar dari dalam rumah dan membawa sebuah keranjang plastic. Begitu gue amati terus, ternyata keranjang plastic itu berisi sampah, terus, di tumpahkan persis di depan rumahnya yang tergenang banjir.
Jalanan itu akhirnya, selain terisi oleh banjir juga terisi oleh sampah.
Melihat pemandangan seperti itu, Sandra pun angkat Bicara, “Dasar perusak lingkungan, ya Bang!’
Tunjung pun tak kalah sengit dengan, ikut menimpali, “HO”OHH…DRA.. BEGO TU ORANG, TANGGAPAN KOWE PIYE BANG?”
“Kalo penduduk kota ini nggak ramah lingkungan, siap-siap bakalan nyusul seperti kota Jakarta, di landa banjir besar!’ jawab gue. Mereka berdua pun tepuk tangan kecil… lalu gue lanjutin lagi, “Makanya entar kalo kalian udah pada gede dan punya hak sauara, jangan salah pilih pempimpin pas pemilu, salah pilih pemimpin, bisa-bisa lahan terbukau hijau di sulap jadi area perbelanjaan, seperti gedung mall,  berdinding beton. Pengen mall apa taman kota, hayo?”
“Taman kota aja deh bang, entar bisa di buat jualan somay’ jawab tunjung.
Si Sandra pun, mentoyor kepalanya Tunjung.
Dan kemudian, sekarang gentian… gue yang ketawa kencang cekiki-kan.! ‘hahhahaa’

88888888

CUKUP ITU DULU YANG GUE SHARE @NOTEDCUPU EDISI MINGGU INI, SEMOGA BISA MENGAMBIL HIKMAH DARI HUJAN. TUNGGU #NOTEDCUPU EDISI PEKAN DEPAN YA!. temuin gue di jejaring sosial di bawahh ini………..!

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

6 thoughts on “Hujan Itu Berkah Bukan Bencana

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s