Yang Nggak Bisa Gue Temuin di Surabaya…

????????????????????Gue paling benci banget, ketika kangen kampung halaman, tapi ketika pengen  pulang ke rumah di Trenggalek-Panggul, nggak ada hari libur. Iya, beginilah gambaran orang yang serba sok sibuk!. Namanya juga lagi kangen. Kangenya itu harus segara di obati dan segera di turutin apa kemauannya. Kalau nggak, yang terjadi ya tetep pengen pulang terus. Entek-entek’e yo ora krasan. Inilah moment terkejam yang di alami anak ‘imigran lokal’ seperti gue. Kangen itu mengusik. Tapi,  untunglah gara-gara telfon sekarang nggak semahal dulu, kini my babe sering telfonin gue.
Awal munculnya gue kangen dengan kampung halaman ini, sebenarnya di dasari atas kejenuhan gue hidup di kota ini. Ada banyak kemungkinan, kenapa gue jenuh. Bisa soal bosan dengan suasana kota yang membosankan. Bisa lagi, karena udara panas di kota ini, yang bikin jenuh. Atau lagi, apa karena yang bisa gue dapat di kampung halaman, nggak bisa gue temuin di kota ini. Mungkin iya!.
Awal munculnya gue kangen kampong halaman terkadang dari emosi juga.
Dua tahun silam… Sewaktu, gue habis pulang kuliah, lalu melanjutkan rutinitas dengan main ke rumah teman—yang rumahnya tak jauh dari kampus. Dalam perjalanan, di sebuah traffic light (dibaca: lampu merah),  gue di hadapkan dengan pemandangan yang mengetirkan hati. Di depan mata, terjadi peristiwa kecelakaan, dimana seorang pengendara sepeda motor, perempuan.
Di serempet sebuah mobil. Yang bikin gue jengkel lagi, mobil itu pun lari tanpa pertanggung jawab’pan. Bisa di bilang, tabrak lari. Melihat, perempuan terbujur lemas dan tegolek di tengah jalan. Gue langsung spontan untuk menolongnya. Motor gue, terpaksa gue parkiran di tengah jalan. Tanpa memperdulikan lampu ijonya yang sudah nyala. Yang bikin gue kesal lagi, bahkan geram. Di Lokasi kecelakaan itu, padahal banyak manusia yang lalu-lalang.
Sebagian besar manusia di tempat kejadian, hanya melihat. Mereka nggak mau bersentuhan dengan korban, bahkan hanya lewat begitu saja, tak mau berempati!. Mereka,  tak menawarkan bantuan sama sekali. Sebagai manusia yang hatinya masih berfungsi, harusnya bisa bersimpati. Gue pun marah, tentunya gue kesal itu wajar!. Orang yang butuh pertolongan, apa cukup untuk di lihat saja?.
Lantas….. Gue pun bergegas menolongnya dengan tiga manusia lain yang nggak gue kenal. Gue, dan dua orang ini, menggendong perempuan ini, lalu membopongnya, ke tepi jalan. Berikutnya, kami meneduhkan di bawah pohon agar suasananya lebih mendingan. Satu dari dua pria tadi ada yang mencarikan air, dan memangilkan ambulan lewat sebuh telfon genggam.
Terimakasih pohon… yang sudah memberi keteduhan. Dahi gie berkerut dengan  manusia-manusia itu, yang tanpa punya simpati, mungkin mereka hatinya sudah rapuh.
Begitu melihat peristiwa seperti itu, gue langsung ke inget rumah di kampung halaman. Ingatan itu sebagian besar tertuju ke pada masyarakat yang ada di sana. Kenapa begitu?. Di sepanjang jalan raya, kota kecil kelahiran gue, begitu ada tragedi kecelakaan. Penduduk di sana berlomba-lomba untuk menolong. Tak peduli itu orang asing sekalipun yang nggak mereka kenal. Malah yang bikin gue senang, tanpa menunggu ambulan dari sebuah rumah sakit. Korban pun langsung di antar ke rumah sakit dengan kendaraan pribadi.
Sungguh peristiwa yang mengharukan.
Ini bukan kejadian pertama kali saja. Sebelum-sebelumnya, ketika gue masih jadi anak SMP sampai SMA, yang sudah akrab dengan jalan raya ketika berangkat dan pulang sekolah. Memori di kepala gue mengatakan, “Sudah nggak bisa ke itung soal tragedi jalan raya yang pernah gue lihat”. Tentunya sudah beberapa kali melihat fakta di lapangan. Hasilnya,  mereka berkelakuan sama terhadap korban di jalan raya. Iya, mereka saling bahu-membahu terhadap orang yang kesusahan tertimpa musibah.
Untuk menambah akurasi apa yang gue tulis ini. Selain tragedi di sebuah traffic light, memori otak gue melacak kejadian demi kejadian di kota ini. Hasilnya, Dan ke seimpulanya pun sama. Begitu pun sebaliknya, ketika ingatan gue terlempar ke kampung halaman. Justru hasilnya, bertentangan dengan apa yang terjadi di perkotaan, Surabaya.
Peristiwa seperti itu mencengangkan sekaligus memicu gue untuk kangen sama kampung halaman. Gue kangen di mana, manusia saling bergotong royong satu sama lain. Itulah satu dari sekian alasan, kenapa gue betah dan pengen tinggal di kampung halaman, kawan.
Hidup di kota, memang masyarakatnya beragam dari berbagai kalangan, namun jika melacak pada peristiwa hari lebaran, sebagian dari mereka adalah masyarakat kampung. Mereka datang dari desa merangsek ke kota, demi sercerah perubahan nasip. Inilah urbaniasi antar local. Tapi ketika mereka di hadapkan dengan urusan, dan kesibukan, mereka akan concer dengan perutnya masing-masing.
Namun tidak semua begitu, ada sebagian yang meskipun repot ngurusin soal perut. Tapi hatinya masih grapyak (ramah) dengan, manusia lain dan membuang sikap anti–pati terhadap sesama.
Di balik kemajan sebuah kota, di dalamnya ada arus pergerakan manusia untuk melakukan mobilitas demi sesuap nasi. Urusan perut pun telah membunuh sekat-sekat interaksi antar sesama. Di era sekarang, manusia adalah robot. Manusia di kendalikan lewat remot waktu. Di kepalanya sudah terpatri, waktu adalah uang. Celakanya, justru inilah pemicu terjadinya kerapuhan hidup bersosial antar umat di kawasan perkotaan. Padahal, kota yang di lahirkan, dari iuran gotong royong,  keringan dan darah para pejuang, tak pantas di huni oleh manusia bermental perut.
 

 Surabaya, 9 Maret 2014

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

14 thoughts on “Yang Nggak Bisa Gue Temuin di Surabaya…

  1. xrismantos berkata:

    Hiiihhhh gemes liat tabrak lari gitu. Tapi yahh…kita berpikir positif aja deh, mungkin buat si penabrak ada sesuatu yang lebih penting dari nyawa manusia yang barusan ditabraknya… 😦 Yang jelas balasan dari tiap perbuatan itu ada.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s