Cintaku Tesangkut di Gerbong Kereta Api…

gubengSudah satu tahun lebih hubungan gue dengan admin akun @Aldineninenie mengalami LDR. Dulu, sekitar tuga bulan pasca penembakan, LDR-nya malah lebih jauh dan menyiksa. Iya, gue harus menempuh lima jam untuk ketemu dia. Bayangin aja, Surabaya ke Trenggalek itu cukup jauh jika ditempuh dengan moda transportasi umum, seperti bus. Padahal saat itu dia masih menjadi anak SMA kelas tiga–sekolah di SMA 1 Trenggalek sana. Dan gue sekolah di Surabaya.
Namun akhirnya, LDR-an yang jauhnya nggak ketulungan itu sekarang sudah mulai terpangkas. Syukur deh. Kini… jarak kita hanya tersekat waktu dua jam semenjak dia sekolah di UM-Malang. Lumayan, sekarang kalo ketemuan nggak bikin ketua’an di jalan. Apalagi sekarang dari Surabaya ke Malang, ada banyak pilihan transportasi umum.
Di terimal Bungurasih ada bis dengan tiket 25 ribu, untuk sampai ke Malang. Lalu apakah on-time?, Nggak juga. Tergatung situasi arus kepadatan lalu-lintas jalannya juga. Beberapa bulan gue lalu-lalang ke Malang, gue masih memakai jasa angkutan masal, berkemudi ini. Kira-kira dua jam saja sudah sampai terminal Arjosari. Asal berangkat pagi, kemungkinan besar jalanan bakalan ngacir tanpa gangguan kemacetan.
Lalu di Stasiun Gubeng, Surabaya, sudah ada kereta yang siap nganterin gue ke Malang. Semenjak PT KAI meluncurkan jenis kereta cepat ekonomi bernama Penataran Expres, gue mulai meninggalkan bus. Itu artinya dengan gue membeli tiket kereta api, gue ikut nyumbang pendapatan PT KAI. Dengan alasan hemat waktu dan hemat ongkos akhirnya gue memutuskan untuk mengunakan kerata api. Lalu alasan pendukungnya  lagi, jarak kontrakan dengan stasiun gubeng yang hanya lima belas menit.
Kesetiaan gue menggunakan Kereta Penataran Expres ini sudah ndakik-ndakik meskipun harga tiketnya mengalami kenaikan, dari yang semula tiketnya berbandrol 20 ribu , dan (sekitar) dua pekan yang lalu menjadi 25 ribu, toh gue tetep masih setia sama kereta api.
Dua pekan yang lalu, tepatnya hari minggu, jam 5 pagi gue sudah berada di stasiun gubeng lama untuk mengantri membeli sebuah tiket. Kenapa harus sepagi itu?, Iya gue nggak mau kehabisan tiket. Ceritanya… gue memesan tiket untuk keberangkatan jam 7 pagi. Iya, gue mulai menaruh hati dengan si ular besi ini. Kesetianya gue sama PT KAI sudah seperti pacar aja. Itu terekam jelas lewat peristiwa dua pekan yang lalu.
Kenapa begitu, cerira versi pendeknya… begini…
Pagi itu sepasang tiket pulang pergi sudah berada digenggaman tangan. Begitu gue melewati area chek-in pemeriksaan tiket, gue menyerahlan KTP dan tiket keberangkatan untuk keperluan kecocokan identitas penumpang. Senyum gue terpacar sumringah setelah gue dinyatan boleh masuk, dengan bukti tiket di stempel oleh petugas. Seperti biasanya, tertera di tiket, kereta akan berangkat tepat waktu jam 7.10 WIB. Pagi itu gue menuggu kereta yang datang, dengan duduk di ruang tunggu bersama penumpang yang lain.
Beberapa menit menjelang jam keberangkatan, ternyata disebuah alat pengeras suara menyembul informasi. Seorang petugas mencercap, kalo kereta yang akan gue tumpangi mengalami gangguan. Gangguan itu terletak pada lokomotifnya yang mengalami kerusakan. Mendengar kabar ini, dahi gue mengkerut. Dan beberapa penumpang disekitar gue, nyletuk dengan suara nyinyir, “Huu…. Katanya Expres kok nggak on-time ngene!.  Selanjutnya, dari informasi tersebut, dijelaskan lagi kalo, kereta lokomotif penggantinya, menunggu dari Stasiun Sidotopo. Pada akhirnya, para pengguna jasa Penataran Expres disuruh menunggu… di ujung informasi itu, petugas menyelipkan, permohonan maaf atas gangguan keterlambatan tersebut.
Mendengar informasi tersebut, jiwa journalist gue langsung mencuat untuk segera ingin tahu, menanyakan berapa lama kereta akan kembali normal. Sontak gue langsung meninggalkan kursi duduk, kemudian berjalan menghampiri petugas yang berseragam hitam,  dibelakang pintu–area chek-in ke dua. Namun sayang, dahi gue kembali berkerut untuk yang ke-2 kalinya, setelah informasi yang gue cari, ternyata nggak dapat penjelasan yang pasti. Petugas itu, hanya menjawab sekenanya saja, “Di Tunggu saja ya, Mas!’ ujarnya.
Gue pun balik lagi ke kursi duduk. Melihat kereta lain pada berangkkat tepat waktu, gue hanya bisa nyengir, dan ngedumel dalam hati. “Jangkrik opo!.
Lima belas menit berlalu, belum ada kejelasan seputar kereta api yang akan gue gunakan. Gue mulai geram dan kesal. Tiket yang gue genggam, perlahan gue remas-remas, menjadi lungsut dan kusut. Penumpang yang senasip dengan gue pun, mulai mengeluarkan cibiran dengan frontal. Lima belas menitnya lagi, desingan suara menyembur dari alat pengeras suara, mendengar nama kereta Penataran Exrpes disebut, gue langsung menajamkan pendengaran, lalu gue berdiri, namun faktanya;
‘Mohon maaf untuk para calon penumpang kereta api penataran expres, kereta lokomotif masih menunggu dari stasiun Sidotopo, harap di tunggu,’’ jelas petugas informasi, entah dari ruangan mana sumber suara itu berada.
Ah sial!. Gue balik lagi ke tempat duduk. Padahal sejak beli tiket subuh tadi, sengaja gue bertahan disini dengan tidak balik ke kontrakan, karna capek aja kalo mondar-mandir di jalan. Gue coba untuk bersabar, dengan duduk kembali ke tempat semula. Karna hari semakin siang, gue tanya lagi ke petugas yang tadi. Namun, lagi-lagi jawaban yang sama kembali menampar ke dua kupengku. Kereta sudah molor lebih dari satu jam, juga sudah dua kali petugas melayangkan permohonan maaf.
Begitu waktu mematuk diangka setengah sembilan siang, permohonan maaf yang terlontar dari petugas itu diselingi dengan, ucapan; himbauan bagi penumpang kereta api jenis Penataran Expres, untuk mengembalikan tiket kereta, apa bila ada yang membatalkan perjalanan. Penukaran tiket akan dilayani, saat ini juga. Menurut sumber informasi resmi itu, tiket akan di kembalikan 100%. Iya, gue pun hanya bisa meracu menumpahkan kekesalan, “Iya, iyalah masak mau di potong!’
Reaksi penumpang pun semakin beragam, orang-orang disekeliling gue yang senasip mulai melontarkan cercaan pedas. “Kereto opo iki, ora jelas ngene budale, expres opo modele ngene iki’ kata orang di belakang gue, sambil berdiri. Petugas Satpan yang berada dibalik pintu area check ke-dua pun, menjadi sasaran cemoh’an masa. Ah… gue jadi kasihan juga nih sama pak satpam, yang nggak tau apa-apa malah yang jadi sasaran tembak.
Akhirnya, sebagian besar penumpang menukarkan tiketnya. Dan hanya gue yang masih setia menunggu kereta ini kapan akan berangat. Lalu di sekitar gue, ternyata masih ada beberapa penumpang yang masih bertahan. Itu pun bisa dihitung dengan jari.
Tiga puluh menit berlalu lagi, kabar yang sama kembali muncul dibalik alat pengeras suara. Gue pun mulai penumpangkan dagu, sebagai bentuk terjemahan kebosanan dan kejenuhan lantaran lama menunggu. Sambil duduk, mata gue pun melacak kesana-kemari, mencari tahu apakah ada petugas stasiun  yang turun ke lapangan?. Iya, hasilnya pun nihil……
Nggak ada petugas satu pun, yang mau menemui penumpang! Justu harusnya, disaat seperti inilah membangun ikatan emosional yang kuat dengan pelanggan bisa terjalin. Paling tidak, ada seorang petugas resmi stasiun Gubeng, yang meminta maaf secara personal ke penumpang. Harusnya kan, kalo petugas turun ke lapangan, dan memberi penjelasan langsung, mungkin tidak ada penumpang yang kesal. Malah, bisa di pastikan, nggak ada juga penumpang yang menukarkan tiketnya.
Dengan cara petugas turun ke lapangan,  mereka (penumpang) akan merasa dihargai. Dan membuat kesan, kalo petugas KAI itu cepat tanggap dan ramah. Menganggap penumpang adalah teman, yang bisa diajak ngobrol. Di saat kesal inilah, perhatian penumpang harus dicuri, dan di alihkan. Kalo di tataran ini saja tak ada pelayanan yang memadai, bisa dipastikan pelanggan pun tak akan pernah loyal.
Bukankah kereta api itu penjual jasa angkutan, jasa pelayanan. Padahal ujung tombak perusahaan yang bergerak di bidang ini adalah pelayanan dan ketepatan waktu. Kalo dua elemen yang keramat ini diabaikan, lalu pertanyaanya, mau dibawa kemana kelak, arah gerbong kereta apai akan melaju?.
Meskipun terlambat, gue pun tetep setia dengan tiket yang udah gue beli. Meski pun ada arahan untuk menukarkan tikat dengan uang 100%, toh gue pun masih setia. Paling tidak, gue bagian dari satu diantara ribuan pelanggan yang memberi masukan buat pendapatan KAI.
Akhirnya, setelah duduk-duduk sambil mondar-mandir tak tentu arah. Kabar bahagia itu pun datang juga, tepat jam 9.30 siang kereta yang di gue idam-idamkan datang  juga… Dari tempat yang sama, petugas itu pun menyiarkan kalo kereta lokomotif pengganti sudah siap. Gue pun menyambutnya dengan girang, langsung lari kebirit-birit memasuki gerbong dan segera mencari tempat duduk sesuai yang tertulis di tiket….
Meski pun gue sampai malang jam 12 siang, dan jam 3 sore gue harus balik lagi ke Surabaya dengan kereta yang sama. Paling tidak, meski pun ketemuannya sebentar, gue pun bisa mengusir kerinduan yang lama terpendam.
Inilah cerita dibalik LDR-an gue….! Mana ceritamu……….?
Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu
Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

NB; MAAF YA TEMAN-TEMAN, AGAK TELAT UNTUK EDISI MINGGU KEMARIN, LEPTOP LAGI DI SERVISE.

Iklan

17 thoughts on “Cintaku Tesangkut di Gerbong Kereta Api…

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s