Sahabat Yang Urakan!

Kaki kami!

Kaki kami!

Ada kabar bahagia, pada pengen tahu nggak?. Seminggu lagi gue bakalan pulang ke kampong halaman. Selain untuk melepas kangen sama keluarga tercinta, disana gue bakalan liburan, keliling muterin kota kelahiran sampek gempor. Jadwal liburan gue banyak banget, mulai dari acara nyebur ke pantai, makan makanan khas kota Panggul seperti, jenang piteng dan sego tiwolnya. Puncaknya, bisa ketemu temen-temen seperjuangan.
Acara liburan ala pulang kampong ini sudah gue rencanin jauh-jauh hari lo, begitu tahu kalo senin depan ini tanggalnya merah muda, gue langsung nyusun rencana buat pulang kampung. Beberapa waktu yang lalu, sohib-sohib gue sudah gue hubungi untuk ikutan pulang. Yang pertama….. Sohib gue yang kuliah di STAIN Tulung Agung, bernama asli Ibnu, sudah meng-iyakan untuk ikutan pulang juga. Gue seneng banget, mendengar Ibnu ikutan pulang. Ibnu inilah segela tempat peraduan melepas pegal dan linu. Tangannya yang kekar segede aderai ini, biasanya gue berdayakan untuk menjadi tukang pijit.
Begitu tangan kekarnya mendarat di leher belakang, niscaya, segala otot yang kram bakalan nyingkreh kalang kabut akibat ulah pijatan dari tanganya. Memang selama persahabatan gue dengan dia dari SMP, gue sering memberdayakan dia jadi staf khusus peremajaan kebugaran tubuh. Iya, gue nggak mau aja  tanganya nganggur begitu saja.
Bakatnya terpendamnya yang cemerlang sejak lahir, emang cocok jadi dukun pijit. Maka tidak salah lagi, prospek karier ke depan begitu dia lulus, hari sabtu dan ahad, ia akan membuka praktek, jasa pijit di kampong halamnya sana. Dari sinilah ia merajut pemasukan demi sesuap nasi. Bisnis potensial ini, rencanaya akan menjadi, bisnis sampingan selain  profesi utamanya sebagai pendidik.
Namun di lain sisi, ibnu bukan konco sembarangan. (cek tulisanya disini)
Ia sesosok mahasiswa yang urakan. Urakannya itu terlihat jelas dari kabar yang gue terima sekitar satu bulan yang lalu. Suatu pagi yang dingin, gue menerima pesan singat berupa ajakan, ibnu mengabari gue untuk mengantarkannya ke kantor gubernur, jawa timur. Namun sayang lo, pagi itu ajakanya gue tolak. Eman-eman sebenernya.  Iya beginilah, kami memiliki urusan yang berbeda, terpaksai pagi itu kami bersembrangan keperluan.
Padahal, kangen juga karna sudah berbulan-bulan ora ketemu. Waktu itu gue tanya, ada urusan apa? Mungkin lantaran kesibukannya yang padat, dia tak mengabari gue seputar kunjunganya ke kantor gubernur itu. Ia mengilang begitu saja, tanpa kejelasan. Namun gue sempat menaruh curiga, pasti ada kaitanya dengan perannya sebagai pimpinan organiasi di kampusnya.
Ternyata, se-pekan berikutnya, begitu gue telfon. Pada waktu itu, dia pengen di temenin untuk kirim proposal. Oalah.  Proposal itu terkait dengan acara yang ada di kampusnya. Bangga juga gue mendengar kabar ini. Dengan terobosan kempiminanya, ia bisa bikin acara gede berskala nasional. Hebatlah, dari pada gue. Padahal sewaktu kami main-main ke kampus UB-Malang dulu, di depan sebuah baliho besar bertuliskan seminar nasional, dia mencercap, “Kapan ya, aku iso bikin acara gede kayak gitu?”.
Dan sekarang, apa yang di harapkan beberapa bulan silam itu terwujud. Sebuah terobosan yang patut di lestarikan, untuk mengkampanyekan kampus rawan prestasi. Apa yang terjadi sekarang ini, sungguh berbanding terbalik saat kami masih duduk di bangku SMP dulu, pada masa itu kami masih jadi anak lugu dan polos banget. Apa lagi waktu SMA, kami hanya jadi siswa yang lempeng-lempeng aja. Prestasi terkeren kami, sering nipu guru dengan alasan pamit ke masjid buat sholat. Padahal, ketika sampai di masjid, habis sholat ya bablas nggak balik ke sekolah. Bolos!.
Banyak yang berubah diantara kami. Ketika kami bercengkrama mengenang masa sekolah dulu. Kami pun juga heran, sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang banyak yang berubah!’ katanya.
Semenjak sekolah kami berjauhan, kami pun juga jarang ketemu. Paling-paling kalo gue pulang. Gue kabarin aja dia untuk ikutan pulang. Beginilah cara kami merawat hubungan persahabatan, kawan. Meski pun jauh, kami tetap berkomunkasi melalui seluler. Emang, nyawa dari sebuah pertemanan itu kan, merawat komunikasi.
Saat gue mau pulang minggu depan ini, satu minggu sebelumnya gue udah kabarin Si Ibnunya. Syukurlah, dia ada waktu juga. Jadi pada waktu ketemu nanti, kami pun bisa bercengkama bareng… nongkrong bareng di rumahnya. Pada pertemuan terdahulu, begitu gue main ke rumahnya, ia tak pernah menanyakan kabar terlebih dahulu ketika ia menyambut gue di depan pintu rumahnya, urakan emang, gue ini tamu cuk!. Malah, ia tanya, “KANG PULANG BAWA BUKU APA?’
Pas mau pulang minggu depan ini, ia juga memesan, “KALO PULANG BAWA BUKU YA, KANG?”. Ini yang gue bilang urakan, padahal biasanya yang sering umum terdengar ketika ada orang yang mau pulang, kalimat ini yang sering muncul, “Hati-hati di jalan”.  Gue pun hanya bisa manggut-manggut sebagai pertanda, jawaban persetujuan. Ah… inilah yang membuat jalinan ikatan pertemanan kami semakin merekat. Kami disatukan atas paham yang sama. Mungkin atas dasar pemikiran yang sama inilah, membuat obrolan kami nyambung. Menembus cakrawala malam.
Cerita lainnya lagi…. Yang ke dua, sohib gue si anak UB Malang sono. Tersebutlah Arpido. Barusan  beberapa jam yang lalu, gue hubungi dia melalui chat nek pesbuk, untuk gue ajak pulang. Hasilnya, eh.. dia-nya nggak mau. Sial bener!. Emang dia orangnya songong banget. Coba kalo yang ngajakin pulang Omas, pasti langsung ngacir kebirit-birit.
 Dia anak kost tulen banget. Semenjak dia dinyatakan resmi jadi mahasiswa keperawatan UB, ia di Malang langsung jadi anak kosan. Kalo Ibnu gue berdayakan jadi dukun pijit, beda lagi dengan Si Pido. Keperawakannya yang kurus banget, emang cocok di jadikan b2 (dibaca: Babu).
                  Karna dia ngekost di kawasan perumahan dan kamar tidurnya yang lumayan segede lapangan golep, akhinrya semenjak gue sering main ke Malang untuk ketemun someone. Iya, gue manfaatin aja kostnya, sebagai penginapan gratis tak bertarif. Begitu gue sampi disana  untuk isstirahat, dia sudah menyiapkan seperangkat selimut tebal dan bantal berkapuk yang sudah siap di tiduri. Empuk. Layanan VIP  pun juga gue dapat, leptop dan wifinya bakalan gue sitah, untuk gue pakai. Inilah model pembajakan di era modern.
 Nah, beruntung juga gue punya sohib kayak dia. Lagi pula, ada hikmahnya juga gue LDR Surabaya-Malang. Selain ketemu someone. Gue bisa ketemu sohib gue yang satu ini, sama-sama anak Trenggalek-Panggul.
        Kasian juga sebenarnya ngelihat dia Jomblo. Perbedaan kasta diantara kami semakin menjulang pada waktu gue habis mandi. Begitu gue siap-siap, keluar dari kamar kostnya, dengan berpakaian rapi  dan sedikit seprotan minyak wangi, ada yang janggal di mukanya. Iya, mukanya kusut. Mungkin merasa kesepian kalo gue tinggal jalan-jalan sama someone. Soalnya di kost dia sendirian doang.
           Padahal dulu, empat tahun silam. Sewaktu kita masih jadi anak SMA. Gue juga nggak terlalu angkrap sama dia. Pido anak IPA, sedangkan gue anak IPS. Sewaktu istirahat, pido suka baca buku pelajaran. Sedangkan gue, sewaktu istirahat bolos bablas gitu aja bareng Ibnu, lalu nggak balik ke sekolah. Iya, gue dulu urakan gitu ceritanya. Yang lebih menyiksa lagi, sewaktu di SMA Pido, bisa macarin gadis yang tajir banget. Begitu dia pulang duluan, dia rutin nungguin pacarnya lalu di anterin pulang. Romantis banget lah pokoknya. Begitu terus.. sampai beberapa tahun. Walaupun hubunganya akhirnya kandas di rerumputan.  Lha gue, cuma bisa mlongooo!. Pulang sekolah motor gue bau wedus, mana ada cewek yang mau.
 Di awali pada tahun 2010, begitu Pido memasuki wilayah kampus. Ia tak seculun empat tahun lalu, yang pernah gue kenal. Ia bisa lebih mengembangkan diri lagi. Tubuhnya yang cungkring, tumbuh menjadi mahasiswa yang trengginas dan garang. Sejak semester awal, ia ikut organisasi di kampusnya. Memang sejak jadi anak SMA dulu, Pido sudah berkarip dengan dunia osis. Marang melintang di organisasi kampusnya, membuat ia keliling ke kota-kota besar di Indonesia.
         Gue bangga pada waktu dia nekat pergi ke Jakarta untuk ikutan demo besar-besaran menuntut pengesahan RUUK. Padahal, gue yakin, dia berangkat kesana cuma modal dengkul. Justru inilah pengorbanan di era kemerdekaan, tak perlu angkat senjata. Meski pun kere, setidaknya apa adanya itu istimewa. Begitulah gambaran kecil persahabatan kami. Itulah pertama kali dia melakukan orasi di depan gedung DPR_MPR, kemudian ikut berdialog dengan ‘orang senayan berdasi’ di sebuah ruang rapat antara mahasiswa dan wakil rakyat.
 Yang tak kalah keren lagi.
 Kami pernah melakukan aksi bareng di depan gedung Grahadi, Surabaya. Serunya, Pido berdemo dengan teman se-jurusan yang ada di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Tuntutanya masih sama. Pengesahkan RUUK secepatnya. Pada waktu itu, gue bertindak sebagai pewarta. Dengan seutas kain yang mengikat di kepalanya,  berikutnya…  tangan kananya membawa alat pengeras suara (emboh lali jenenge). Dia berorasi dengan kalimat yang runut. Lantang dan garang. Kemudian memekik-mekik, “SAHKAN RUUK.. SUPAYA  PERAWAT MEMILIKI TUGAS DAN FUNGSI YANG JELAS DAN PUNYA PAYUNG HUKUM!.
        Inilah peristiwa urakan yang kami lakukan bareng-bareng.
Beginilah wujud persahabatan kami yang beda lokasi. Gue di Surabaya, Ibnu di Tulung Agung, dan Pido di Malang. Kami bertiga berasal dari daerah yang sama, Panggul. Meski pun jarak merentang di antara kami, tapi kami punya semangat untuk terus saling berkembang, dan saling memajukan.  Meski jarak terbentang, tak ada alasan untuk  tidak membina komunikasi. Saat kami punya jadwal yang cocok untuk pulang, kami akan kumpul bareng, bercengkrama, lalu bercerita panjang lebar sampai larut malam. Semuanya atas dasar yang sama, belajar sejauh alam berkembang. Terus dan terus belajar sepanjang hayat, tak ada kata lelah dan puas. Sungguh urakan….  Pada ahkirnya, sebuah konsistensi melawan ketidak mungkinan. Semoga kelak,  diantara kami dapat berbuat banyak untuk kampong halaman tercinta.
Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu
Facebook: Budi Santoso Totoraharjo
                   
Iklan

4 thoughts on “Sahabat Yang Urakan!

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s