Gulma dalam LDR

@notedcupu

@notedcupu

Pemerintah akhirnya membayar diyat, uang ganti rugi untuk menebus perkara Satinah di negeri Unta sono. Tentunya, banyak yang bangga dengan kabar ini. Termasuk gue. Pertama, gue berterimakasih atas peran pemerintah terhadap upaya penyelamatan ini. Akhirnya pertarungaan di menangkan oleh Gatot Kaca. Negeri unta kalah. Iya, gue kasihan aja sama anak-anaknya kalo semisal ibu satinah di pancung beneran. Nanti siapa yang ngurusin anak-anaknya kalo di tinggal ibunya?, Masak di urusi sama kak Seto Mulyadi, pasti doi entar kerepotan. Iya setidanya hati gue bisa ngertiin sesame kaum cowok.
Pada tahu kan, Satinah itu TKI? Ibu Satinah adalah satu dari sekian pahlawan devisa yang kerja di negeri Unta sana. Yang lebih fenomenal lagi, ibu Satinah keluar negeri, pergi jauh-jauh hanya demi sesuap nasi untuk keluarganya di rumah. Bayangin nih… harus kerja saja, mesti lari ke luar negeri banting tulang. Eh.. begitu kerja disana, tersandung kasus. Hoalah mesakne banget yo rek?. Beginilah kalo lapangan kerja di negeri sendiiri masih kacau balau. Ibu satinah rela meninggalkan anak beserta suami di rumah betahun-rahun.

Itu artinya, Ibu satinah selain pahlawan devisa adalah pahlawan LDR. Hidup TKI Indonesia, Hidup LDR.
Iya, para TKW atau TKI itu menyandang dua gelar kehormatan. Pahlawan devisa yang merangkap sebagai pahlawan LDR. Mereka adalah kaum LDR yang tangguh di lain penggalan zaman. Terbentang jarak antara siang dan malam dengan sang suami, dan keluarga. Ambil contoh, Di tetangga gue, yang jadi TKI di Taiwan sono. Tiga tahun sekali dia baru pulang. Selain anaknya yang kesepian. Pasti suaminya bakal lebih kesepian juga. Kasihan ya?.
Jarak siang dan malam itu yang menjadi Gulma dari para TKI di negara ini. LDR mereka jauh banget, harus melintas batas teritori dari berbagai Negara untuk bertemu dengan sang suami. Lainya halnya LDR lokal dalam negeri. Termasuk gue sendiri. Gue tak layak mengeluh, walaupun sebulan sekali kadang baru ketemu pacar. Bandingkan dengan para TKI yang bertahun-tahun baru bisa ketemu!.
Musuh bebuyutan LDR tak hanya batas jarak saja. LDR di tingkat lokal, terutama gue. Sering di pusingkan dengan gangguan telfon. Ketika gue telfunan, sering kali sinyal di tempat lokasi pacar gue mengalamin gangguan, atau istilahnya sinyal ngeden. Padahal kost-kostan pacar gue bukan di hutan. Lha di kota malah miskin sinyal.
Terkadang gue harus benci juga sama berbagai operator. Kita udah bayar beli pulsa, eh bgitu di pakai buat telfon.. suaranya putus-putus kagak jelas. Malah kita buat ngatasin ini, harus beli berbagai kartu dari operator lain. Iya, akhirnya nomer kita pun banyak banget. Sempat terlintas di pikiran gue, nomer yang banyak itu gue berdayakan buat jualan pulsa.
Misal kalo yang Telkomsel lagi ngeden pas di pakek, kita pakai Indosat. Kalo yang Indosat ngeden juga. Kita buru-buru pakai XL. Kalo ketiga-tiganya tetep nggak bisa di arepin, gue telfon pakai benang yang di sambungin sama kaleng bekas susu. Dan yang terjadi, sehabis telfon, telinga gue pada di kerubutin semut. Jangkrik!.
Masalah LDR, yang kerap bikin kesel lagi. Soal jadwal ketemuanya yang terkadang meleset dari yang telah kami perkirakan. Pernah suatu waktu, gue pergi Ke Malang naik kereta jam 7 pagi. Kereta di jadwalkan berangkat jam itu juga, tapi nyatanya malah meleset. Karna gara-gara lokomotifnya bermasalah, gue berangkat ke Malang jadinya, jam setengah 10. Padahal sorenya jam 3 gue harus balik ke Surabaya.
Gara-gara gangguan itu, jatah waktu buat ketemu doi jadi malah terpangkas. Harusnya gue di Malang bersama doi selama 6 jam, malah cuma 3 jam doang. Nyesek kan?. Efeknya lagi, gue kelelahan karna harus mondar-mandir di jalan terus. Tapi tak apalah… itu demi kangen. Rasa kangen yang memuncak memang tak bisa di tawar lagi, meski pun sedetik pun harus ketemu. Harus!. (Ceriitanya pernah gue bahas disini).
Kecemburuan juga terkadangm menguji para pelaku LDR. Gue akan cerita singkat apa yang gue alamin kemarin malam. Doi ngambek gara-gara gue telat ngabarin kalo malam kemarin, gue sedang asyik di Gramed buat ngebaca buku gratisan. Padahal gue kesana seorang diri. Betul, gue nggak bohong lo. Disana gue di temani dengan buku dan berbagai majalah yang sudah tak di bungkus lagi. Karna gue sedang asyik ngebaca, gue telat ngebalas smsnya. Nah, begitu gue pulang baru sampai parkiran gue telfon dia, gue kabarin dia….
Ehh… dia malah ngambek. Doi nuduh, kalo gue di gramed sama cewek. Lalu telfon gue di matiin tanpa aba-aba. Tut…. Tut…. Tut…. Aduh. Bikin gemes aja. Repot juga musuh cewek yang satu ini. Udah di jelasin malah ngambek. Nggak jujur salah. Jujur tambah salah.
Sebagaian cewek emang gitu ya, maunya di ngertiin mulu, tapi nggak pernah ngertiin cowok!. Kalo udah curiga ya gitu. Bawanya emosi pengen banting piring. Kalo gue disitu, mungkin gue bisa-bisa di banting sekalian. Sebagai anjuran, kalo cewek sedang marah, jangan di dekatin. BAHAYA!.
Tapi asyik kok. Peristiwa-peristiwa kayak gitu itu, malah jadi moment paling berharga lo. Justru itu yang bikin kenangan itu jadi lebih berkesan dan nggak mudah di lupain. Ada tragedi ada cerita, berarti ada pesan kenangan juga yang musti kita simpan. Semakin banyak kenangan di buat, semakin manis jalannya alur percintaan. Dan semakin hangat pula hubungan ini akan terjalin.
Cinta memang tak butuh syarat dan ketentuan. Love is colorful. Cinta hanya sesimpel, buat dia tersenyum dengan bilang, aku sayang dia. Cukup….!
 
Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu
Facebook:Budi Santoso Totoraharjo
Iklan

5 thoughts on “Gulma dalam LDR

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s