Bapak dan Kampus Jalanan!

Keluarga besar @NotedCupu (paling kanan Bapak gue). Foto lebaran di rumah nenek satu tahun yang lalu.

Keluarga besar @NotedCupu (paling kanan Bapak gue). Foto lebaran di rumah nenek satu tahun yang lalu.

Perawakan badanya kurus. Sepintas memang tidak memiliki bakat sebagai seorang yang berbadan ideal. Hobinya yang suka menyisingkan lengan membuat, kulitanya pun dekil akibat ulah sinar matahari yang menyengatnya. Ciri-cirinya lagi. Orangnya bertipe koboy, yang liar disulap menjadi tertip. Pergerakanya pun mobile. Suka berpindah-pindah. Kerjanya, pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Blusukan?. Iya. Apakah orang yang gue maksud ini Jokowi? Bukan. Tapi Jumiran.
Iya, inilah nama bapak gue. Jumiran. Menyulap si sapi yang liar menjadi jinak bin tertip. Bapak gue bukan berprofesi sebagai pawang sapi, atau binatang. Tapi sang penjagal hewan yang menduduki kursi sebagai eksekutor. Menebas leher sapi dan kambing yang akan disembeleh. Itulah usaha bapak dan ibu gue di rumah sana. PT. Njagal Sapi dan Kambing. Kalo nggak ada sapi, kadang ya kambing yang di sembeleh.

Untunglah semenjak gue lulus SMA, bisnis ortu gue semakin cemerlang. Padahal bilau berdua, bukan tamatan sarjanah kayak gue. Tapi mereka ngerti ngebangun bisnis itu seperti apa. Bapak gue hanya lulusan kelas lima SD. Sedangkan ibu gue, sekolah sampai kelas empat SD, habis itu di ajak merantau ibunya ke Surabaya. (Itu zaman kompeni, gue aja belum lahir).
Ilmu yang di dapat mereka juga otodidak, tak pernah mencatut dari buku, ibu gue untuk membaca saja nggak begitu lancar. Malah tersendat-sendat. Mereka adalah sepasang suami istri yang bertipe visual. Mereka belajar di kampus kehidupan bernama…. Jalanan!.
Dari biliau gue belajar bahwa, belajar tak melulu dari bangku sekolahan.
Pas gue liburan kemarin, malam-malam sekitar jam 8 bapak di telfon langganannya untuk mengambil kambing yang sudah koid gara-gara salah makan rumput. Orang yang telfon itu, berada di kecamatan Dongko. Agak jauh juga dengan rumah kami yang ada di Panggul. Karna malam itu gerimis, gue menyarankan bapak untuk nggak mengambil kambing itu. Kasihan bapak soalnya jauh… banget, bisa satu jam lebih untuk sampai kesana. Terus jalanya juga banyak yang berlubang.
Gue tanya, “Kenapa nggak dianterin ke rumah saja pak, terus yang nganterin dikasih uang?” Sambil duduk di kursi depan rumah, bapak menjawab saran gue, “Oranya nggak mau! Dari pada kehilangan pelanggan, mending bapak kesana saja, sudah kamu dirumah saja, nunggu kambing yang dibelakang” jelasnya. Di mata gue, bapak memang tipikal orang yang bekerja keras. Bapak tahu bagaimana memperlakukan pelanggan dengan servis. Bapak juga tak pernah mempelajari ilmu bisnis, tapi ngerti istilah soal “jemput bola’.
Malah dua pekan yang lalu, gue belajar soal kedermawanan dari bapak. Di telfon bapak cerita ke gue. Siang itu, tetangganya bernama Pak Markop (pengusaha pentol chaos) yang rumahnya tak jauh dari rumah kami. Siang itu Markup disamperin seseorang yang membawa kambing yang sudah koid. Orang itu tanya ke Pak Markop, seputar daerah sini ada nggak yang punya usaha jagal. Untunglah Pak Markup, langsung mengantarkan orang yang bawa kambing itu ke rumah bapak. Padahal, dilingkungan tempat tinggal kami ada tiga usaha yang sama. Rezeki memang datang dari arah yang tak bisa di duga
Begitu bapak selesai negosiasi dengan si pemilik kambing, lalu orang itu pamitan untuk pulang. Bapak pun, tak lupa menghaturkan terimakasih kepada Pak Markup. Selanjutnya, bapak pun memberikan uang yang ada di amplop kepada pak Markup, “Ini Pak Kup, rezekinya dibagi?” kata bapak, bercerita di telfon. Menurut cerita bapak, Pak Markup sempat menolak dengan alasan ikhlas. Tapi bapak pun memaksanya untuk menerima, “Ini rezekinya kita Pak Kup, jadi sampean berhak juga!” Mendengar kata-kata itu akhirnya Pak Markup mau juga menerima uang itu.
Gue balik tanya ke bapak; kenapa Pak, kok kasih uang ke Pak Markup?”. Dengan enteng bapak hanya menjawab, “Itu sama halnya menanam benih, kalo bisnis harus begitu le, biar nanti Pak Markup nggak kapok lagi kalo nganterin kambing kesini, jadi dia seneng. “Terus Pak Markup-nya bilang apa Pak,’ tanya gue lagi. “Bilang gini, iya kang terimakasih, nanti kalo ada orang yang bawa kambing koid, langsung aku bawa ke rumah sampean saja ya!’. “Dahsyattt Pak!”! sambung gue.
Dari kasus ini, gue belajar dari bapak bagaimana mengelola bisnis itu harus saling berbagi. Jika kita diuntungkan oleh orang lain, wajib hukumnya untuk membalasnya saat itu juga. Bapak’ku ngerti soal moment juga ya. Mungkin bapak menganut azaz simbiosis mutualisme. Padahal bapak nggak pernah belajar Ipa.
Seru juga ini ngoborolin soal Bapak!.
Bapak gue seseorang yang suka berkawan. Ajaran bapak yang paling legendaris dan masih relevan sepanjang zaman adalah, ketika bapak di telfon sering ngingetin ke gue, ketika di rantauan bapak menyarankan untuk baik kepada siapa saja, tak usah pandang bulu. Bapak memang jadi sosok teladan bagi anak-anaknya. Dulu.. sewaktu bapak masih jadi kuli bangunan dan bekerja di Surabaya, teman bapak sering main ke rumah. Dari sopir sampai pengusaha.
Malah atasan bapak saat itu, mandor kuli bangunanya sering main ke rumah juga, bareng bapak. Kalo main, gue dan adik-adik slalu di bawain oleh-oleh banyak banget. Kami pun sekeluarga senang banget karna kedatangan orang kota. Itu artinya kami kedatangan anggota keluarga baru. Mandor itu akhirnya jadi saudara. Sampai sekarang.
Dari peristiwa ini, bapak mengajarkan kepada kami untuk humble, mudah bergaul dengan siapa saja.
Yang paling hangat….. beberapa hari yang lalu, bapak mengajarkan kami untuk cinta pada tanah air ini, Indonesia. Lewat pesta demokrasilah bapak membuat pesan kepada kami, anak-anaknya. Iya, bapak adalah guru yang tak lekang dimakan waktu dan zaman. Bapak punya cara tersendiri, untuk membuat anak-anaknya merenung dan menentukan sikap. Di saat para tetangganya, asyik menerima sogokan uang coblos, bapak malah tak ikut dalam praktek kotor itu. Bapak gue malah netral, dan bersikap independent. Lewat sebuah telfon, bapak mengabari ke gue, “Praktek kayak gitu-itu yang bikin negoro iki nanti semrawut (kisruh)’’ tegasnya.
Dari cerita bapak itu awal lahirnya artikel #NotedMikir edisi dua pekan yang lalu. ( Baca disini.) Sempat juga, cerita bapak ini gue ceritakan di twitter dengan hastag #bapak…. ini contoh cupturanya.

 

serail twit gue

serail twit gue

 Di usiaanya yang hampir setangah abad ini, badanya masih tangguh dan perkasa. Usianya memang tak lagi muda, tapi fisiknya seperti anak muda. Bapak memang bukan seorang kalangan akademisi dengan berberderet gelar yang mentereng. Bapak gue bukan pula profesor yang identik dengan text book. Tapi di kepalnya menawarkan banyak harta karun untuk anak-anaknya.
Bapak adalah tempat kami untuk pulang. Tempat dimana kami, di didik, dan bapak sebagai pendidik. Buat kami, bapak adalah segala tempat untuk belajar banyak hal. Disanalah kami belajar untuk mengeraskan hati, mengeraskan kemauan, dan menjaga kedisiplinan yang konsisten.
Terakhir…… Bapak gue adalah seorang yang mampu melawan keterbatasan dengan segenap kemampuan dan tekadnya.
 

 

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook:Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

14 thoughts on “Bapak dan Kampus Jalanan!

  1. tirsnine berkata:

    Bokap yang netral dan menghormati keputusan/pilihan anaknya emang hebat. Bokap gua dulu juga kayak gitu.. ah, elu bikin gua kangen bokap aja broh.
    Nice post! 🙂

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s