The Journey Masa Kecil

kaline urepTujuh tahun yang lalu, dimusim yang sama seperti hari ini. Siang-siang bolong sehabis pulang sekolah, gue main ke sawah untuk menerbangkan layang-layang hasil karya gue sendiri. Ini serius, gue nggak bohong. Mungkin pada waktu itu, gue adalah rival ketatnya Pak B. J. Habibie. Namun nahas, layangan itu bukannya malah terbang membumbung ke cakrawala, justru berbalik arah dengan meluncur ke dalam parit yang sedang berisi gemercik aliran air.

Dan teriakan konyol teman-teman pada waktu itu, “Wah… Dasar dungu lo, Cup,” komentarya, sambil mentoyor-toyor kepala gue. Anehnya, mendapat perlakuan penganiayaan begok kayak gitu gue malah ketawa sambil guling-guling di atas rerumputan. Malah saking asyiknya guling-guling, muka gue mendarat di atas tai kebo yang baru saja keluar dari mesin produksi bernama, pantat. Gue inget, tai kebonya masih anget banget dan fresh. Baunya juga mirip-mirip seperti kentut badak zimbawe makan kapur barus.

Kurang puas dengan gagalnya penerbangan layang-layang gue, yang nyungsep. Gue melampiaskan kepuasan dengan berburu Jentrong (kecapung) yang sedang hinggap di pucuk-pucuk dedaunan pohon padi, dipinggir tegalan sawah. Begitu gue bisa menangkap dan mengantongi satu ekor Capung itu, gue siksa dengan keji. Ke dua sayapnya, gue potong menjadi setengah bagian.

Dengan harapan…. Supaya ke Capung itu nggak bisa terbang jauh-jauh dan mudah ditangkap lagi ketika larinya ke kencengan. Gue menjelma menjadi anak yang bengis, penculik ke Capung. Jika pada masa itu ada Komnas Perlindungan Binatang. Gue bisa di jebloskan ke lembaga pemasyarakatan bareng Raja Firaun. Tak puas dengan memotong setengah sayapnya, ekornya pun gue jadikan sasaran berikutnya. Gue ikat ekornya dengn sebuah benang…

Iya, ke Capung itu gue mainkan layaknya layang-layang yang bisa ditarik ketika sedang terbang tinggi. Gue hempaskan ke udara, Capungnya terbang kesana kemari gue kejar. Asyikk oe!. Begitu terus sampai ke Capungnya mati mengenaskan dengan pemandangan; ekor putus sampai pantat. Kejam ya…. gue?. Jika kalian disini ada yang tahu keluarga Capung tersebut, gue akan memulangkan jenazahnya. Hahahhaha!.

ini sawah yang gue ceritain. Gue foto kemarin pas pulang.
ini sawah yang gue ceritain. Gue foto kemarin pas pulang.

Dan komentar teman-teman gang gue waktu itu, “Hahahha… Tuh meninggalkan, ayu dikubur biar masuk syurga Capungnya!” Dasar bocah-bocah sarap. Begitu komentar gue pada waktu hari ini. Sebagai bentuk penghargaan terakhir kepada si Capung (Jentrong), yang telah membuat kami cekikikan bareng. Gue dan teman-teman yang lain, menguburkan dengan menggali tempat persemakmurannya yang terakhir. Lalu sebagai kain kafannya, kami menggunakan daun singkong yang gue pretelin dari pohonnya.

Nggak tahunya, muncul dibalik pohon singkong, menyembul sesosok muka item dengan memakai capel (topi koby), “Hayuoo dasar bocah sontoloyo, ngene iki jenenge ngerusak tanaman,” celoteh sang pemilik kebun. Wajahnya yang item dan berwatak bengis seperti jendral orde baru telah membuat kami ketakutan. Kami pun lari semburat kebirit-birit menyelamatkan diri. Di bawah tanaman bernama suket gajah, kami bersembunyi dan berlindung.

Setelah gue mengintip dari balik ilalang dan memastikan semuanya aman. Kami pun keluar dari tempat persembunyian. Ah lega!. Kedung (kolam air sungai) yang tak jauh dari lokasi kami bersembunyi, menjadi tempat berakhirnya petualangan dimusim peralihan, sore itu. Iya, kami melepas baju dan celana kemudian nyemplung ke sungai untuk mandi bareng-bareng. Byur!. Teman gue yang satu, nyletuk, “Hahaha tititmu Cup, kayak kentang goreng oee!’. Lantas kami pun larut dalam hingar bingar mandi di kali rame-rame.

ini kali tempat gue mandi dulu. Kena abrasi, sawahnya hilang. :(. INi gue sama si  Tunjung.
ini kali tempat gue mandi dulu. Kena abrasi parah banget, sawahnya hilang berhektar-hektar, belum ditangani sampai sekarang. :(. INi gue sama si Tunjung.

Sering mandi di kali, itulah penyebab utama kenapa kulit gue item nggak ilang-ilang sampai sekarang. Bahkan kami, sehari bisa sampai delapan kali mandi di kali. Endingnya sekarang untuk urusan renang, gue jagooo banget!. Gue bisa renang mulai gaya tengkurep, miring, pocongan dan suster ngesot. Alam mengajari gue dan teman-teman banyak hal secara otodidak. Dan sekarang adik gue yang nomer 6 yang niru kebengisan gue, si Tunjung namanya.

Musim berganti menjadi penghujan, main di kali (sungai) dengan nyebur ke air sangat beresiko tinggi. Bisa-bisa tubuh gue yang kecil ke bawa arus, sampai ke Samudra Hindia sono. Berganti musim, gue juga berganti model permainan. Kali ini, ketika hujan turun, gue lansung melonjak kegirangan di depan rumah, sambil berjoget membawakan goyangan tor-tor crispy kreker. Eyang gue yang saat itu sedang nongkrong di teras rumah bilang gini, “Hehhhh.. bocah iki, neles-nelesi baju ae, kamu tahu nggak le, air hujan itu, air kencingnya Si Bagong!’. Gue pun nggak ngurus dengan celotehannya eyang. Nggak tahu gue, Bagong itu siapa. Toh nyatanya, airnya rasanya nggak asin. Nenek gue emang pinter nipu, biar gue dirumah terus dan ngak klayapan (mbolang) kemana-mana.

Biasanya kalo sudah capek main hujan-hujanan, gue lari ke bawah rindangan pohon bambu sama temen-temen. Disinilah gue melancarkan aksi tanpa se-izin si pemilik pohon bambu. Iya gue menyabotase bambu miliknya orang secara membabibuta. Sambil bawa parang, gue tebas-tebas ranting bambu yang kecil, se-ukuran titit kodok untuk gue buat jadi bedil-bedilan (senapan). Di tempat itu sekalian gue ilangin gelugutnya (bulu) sama daunnya.

So begitu semuanya sudah kelar dan siap pakai, gue pulang hanya mengambil kertas yang gue sobek dari buku sekolah buat gue jadi’in amunisi. Kertas itu gue, bundelin kecil-kecil kayak upel, terus gue masuk’kin ke selongsong pistol meriam itu. Kalo amunisinya udah mulai masuk ke permukaan lubangnya, lalu tinggal masukin tongkat kecil sebagai alat untuk menekan. Dan gue pun menembak’kan ke mata temen gue, “Dor… ‘. Beberapa saat kemudian mata temen gue bintitan segede lingkaran panu, terus dianya nagis ngadu ke bapaknya dirumah, gue pun kabur gitu aja tanpa tanggung jawab.

Setelah tragedy penembakan itu, beberapa hari berikutnya gue pun baikkan lagi sama dia. Kami pun main mafia-mafian layaknya film action di Amrik sono, kejar-kejaran pakai bedel bambu keliling kampung halaman, sambil tembak-tembakan. Siapa yang ketembak, dia harus nyerahin pistolnya. Seru!.

Begitu bosen dengan pistol bambu yang bunyi-nya gitu-gitu aja, gue pun beralih ke meriam besar. Bahannya sepele banget sebenarnya, tinggal nyiapin bambu sepanjang dua ros saja cukup. Lagi-lagi kali ini gue ngedapatin bambu dengan mengambilnya dari kandang sapi milik tetangga di belakang rumah. Terus sebagai bahan ledaknya, gue beli karbet di tokonya Pak Haji Jono pas pulang sekolah. Gue beli pakek duwit gue sendiri lo. Iya, uang saku sekolah gue sisihin. Tiap menjelang buka puasa ramadhan biasanya gue nyalain tuh meriam di depan rumah. Setelah memasukan air dan karbit ke dalam bambu secukupnya, kira-kira tiga menit kemudian, gue menyalakan obor sebagai pemantiknya.

Gue tutup telinga ketika obor semakin mendekati lubang meriamnya… “Duorrrr..! Bunyinya menggelegar telah membuat tetangga gue berhamburan keluar rumah. Mereka pun akhirnya nggak jadi buka puasa gara-gara pada panik. Gue pun lari kocar-kacir ngumpet di dalem rumah. Puas rasanya membuat orang was-was dan ketakutan. Hahahaha. Mungkin bom meriam bambu gue waktu itu, bunyinya lebih kenceng dari pada bomnya om Ambrozi cs.

Gue mau mencoba membandingkan dengan bacah zaman sekarang. Hari ini di kota-kota besar, banyak kita temui mal-mal bertebaran dimana-mana. Malah kota super gede, seperti Jakarta, mal menjadi biang kemacetan. Mobil yang mengantri untuk masuk parkiran basement, antriannya bahkan mengular sampai ke jalan raya. Imbasnya, jalanan berubah menjadi area parkir yang sangat panjang. Dan yang tak bisa di elak-kan, Mall bertambah, otomatis lahan semakin berkurang. Dan daerah resapan air telah menjadi dinding beton. Banjir kan resikonya?. Iya jelaslah.

Nggak bisa ngebayangi gue, anak-anak di Jakarta, maupun kota lain, mau lari cekikikan dimana sekarang?.

Belum lagi soal orang yang hobby bikin keturuan memicu terjadinya ledakan penduduk. Urbaniasi di kota telah melahirkan fenomenasa baru. Apa itu? Pemukiman padat penduduk nyaris membuat kota terlihat semrawut dan kumuh. Endinya, pemukiman kumuh bakal menjamur dimana-mana. Bocah yang hidup di area seperti ini, bakalan tidak punya tempat bermain yang cukup. Lha cobak, di renungin, anak-anak sekarang kalo mau nerbangin layang-layang harus naik tangga rumah dulu. Terus naik ke genteng, baru bisa nerbangin layang-layang. Tanah kosong sudah semakin punah, kita jalan kaki sudah nggak semakin leluasa seperti dulu. Padahal untuk hidup sehat, sehari kita butuh 1000 langkah kaki.

Bocah zaman sekarang bakalan jadi orang yang garing ceritanya. Mereka mau mandi di kali sekarang nggak bisa. Kenapa begitu? Kali yang dulu airnya masih sangat alami dan jernih, sekarang sudah penuh dengan sampah dan limbah pabrik. Celakanya, bocah sekarang bahkan untuk mandi saja harus pergi ke kolam renang, dan tentunya harus ngeluarin duwit. Malah, cerita soal segerombolan bocah sedang asyik mandi di kali semakin menjadi dongeng. Hari ini yang ada, seorang bocah yang mandi di kolam renang sedang ditemani bapaknya.

Dan lagi-lagi, ceritanya bakalan garing banget entar… Mereka sudah kehilangan moment berharga yaitu, gerumbul main bareng sama teman sejawat.

Tempat untuk tumbuhnya pohon bambu yang dulu sebagai pusat membuat bedil-bedilan, kini telah beralih fungsi menjadi komplek pertokoan yang sering kita sebut dengan nama ruko dan sekaligus tempat mangkalnya papan reklame. Bocah zaman sekarang, untuk membeli mainan bisanya minta duwit ke ortu dan beli di toko maupun Mall.

Ngerinya lagi, bapaknya yang bakal nganterin.

Beda zaman beda cerita. Bocah yang bersahabat dengan alam, merekalah sejatinya manusia di bumi ini yang sangat super kreatif dan mandiri. Untuk membuat mainan, mereka mencomot langsung bahan-bahan dari alam. Inilah yang membuat otak mereka bekerja. Bocah zaman dulu menyulap bambu menjadi meriam dan layang-layang. Mereka jadikan alam sebagai teman bermain.

Bocah zaman sekarang mainannya berupa internet, hp-nya pakek Nexian, di depan layar senyum-senym sendiri, koyo wong ediyan. Entar gedenya bakal jadi penghuni rumah sakit jiwa. Iya, panteslah kalo bocah sekarang miskin teman bermain. Padahal logikanya begini, nggak punya teman bermain, sama halnya kehilangan rasa solidaritas kebersamaan. Mangkanya, anak-anak model kayak ginilah nanti kalo udah gede, mikir senenge dewe. Ora ngerti temane (kekancan) dan tanggane (tetangga). 

Teman gue yang hidup di beberapa negara malah bilang, cuma orang (anak-anak) Indonesia yang bisa tertawa lantang. Dia bilang, karena gue pikir, orang luar bekerja keras biar dapat hidup yang nyaman, namun ikatan ke keluaragaan tidak sekuat orang Indonesia. Mayoritas orang Indnoesia hidup santai, nggak punya asuransi ini itu, tapi tetangga, teman dekat, keluarga slalu ada. Rasa kebersamaan salalu ada.

Ikatan ke keluagraan itu kuat gara-gara sejak kecil mereka bermain di alam, bikin gank bareng anak-anak tetangga sebelah. Ceikikian bareng kesana kemari. Sejak kecilah mereka mebentuk ikatan persaudaraan lewat permainan. Beda banget dengan bocah-bocah zaman sekarang. Makanya ketika sakit, orang zaman dulu nggak butuh asuransi soalnya pelindung mereka banyak. Ada tetangga, ada teman, dan ada suadara karip, yang siap ketika sedang dibutuhkan.

Sekarang gue jadi paham, kenapa Indonesia dibidik menjadi pasar asuransi dari berbagai korporasi local maupun multinasional. Iya, karena asuransi jago soal budaya kita. Budaya kita, mengenai, ketahanan hidup bersosial sudah luntur. Kita nggak lagi hidup bermasyarakat seutuhnya, anak kecil ndak leluasa seperti dulu, mereka sudah nggak bisa ketawa lantang seperti anak generasi 90-an. Mereka, yang terlahir di generasi 2000 ke atas, hanya bisa tertawa lantang di depan layar dan seperangkat internet. Maka dari itu, ketika gue mendegar ada pejabat yang ngeluarin kebijakan pembatasan izin Mall dan sebagainya, gue langsung mengacungkan jempol sebagai bukti dukungan. Salah ambil kebijakan, sama halnya membunuh otak kita jadi wong ediyan.

Mungkin para pejabat dan orang tua sekarang sudah banyak yang pikun, dengan membelikan mainan anak di toko maupun di Mall, justru makin tak ada kesempatan bermain-main untuk mengembangkan imajinasi. Mereka Cuma dicercar logika melalui papa secara ekonomi. Padahal menurut eyang Einstein, logika cuma sanggup mengantarkanmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawakan dari A ke tak terhingga. Sungguh..!

Twitter: @cupunoted

Facebook:Budi Santoso Totoraharjo

 

Iklan

10 thoughts on “The Journey Masa Kecil

  1. n2fs berkata:

    Emang miris jg mwliaht anak 2 kecil jaman sekarang…pegangannya sdh gadget smua. Nah itu tugas kita sbg kakak dr adik2 kita..dan juga calon orang tua di masa nanti…jangan cuma ngasi yg hanya membuat anak mnjd” kurang”.

    Tapi Alhamdulillah walaupun aku di Jakarta masi bisa ngerasain masa kecil yg hampirr mirip kaya masa kecil mu mas..cuma gg sampe main di di kali dan jatuh di e* kebo hehe..piece

    Setuju sama kata penutup dr Enstein

      • n2fs berkata:

        Aku dari Jakarta Utara..kalau beda pasti jelas beda antara 15 tahun lalu dengan sekarang. Tapi setidaknya rumahku pun Alhamdulillah masih menyisakan cukup tanah lapang buat tempat main adik-adikku.
        Suka kasihan memang melihat anak-anak disini mainnya di jalanan kalau ada motor yang lebat bisa saja mereka ketabrak :(…

        Hehe…bisa jadi Mas 🙂

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s