Tante Gue Roker

Sumber: kartun Ustad Hariri foto inilah.com

Sumber: kartun Ustad Hariri foto inilah.com

Sebagai anak sekolah yang memlilih jurusan ekonomi pada dasarnya gue harus ngerti bagaimana caranya berhemat. Maka dari itu, ketika ada tumpangan gratis dan nggak perlu ngeluarin duwit buat ngekos, gue seneng banget. Sudah genap empat tahun gue numpang ngiler di rumah paman gue. Untunglah, suadara gue di Surabaya bisa di andelin. Mereka (saudara) juga nggak setuju kalo gue ngekos. Mungkin kawatir, kalo gue kenapa-napa. Tapi kan gue bukan cewek, yang sudah ngerti bagaimana cara menjaga diri di belantara kota.
Biar nggak di kutuk jadi keledai, gue nurut aja sih apa kemauan mereka. Termasuk nurut sama orang tua juga. Lagi pula ortu di rumah juga nyaranin buat tinggal di rumah paman dan tante (dibaca: Bulek). Rumah tante gue sebenarnya juga nggak terlalu jauh dari kampus, 15 menit saja sudah sampai. Iya, gue numpang ngiler sekaligus buang hajat di rumah keputih, komplek kampus ITS.

Tinggal bareng sama pak lek (om) dan tante (bulek), gue bisa hemat banyak. Makan gue nggak bayar. Tidur gratis. Air buat mandi dan minum, juga gratis. Ngabis-ngabisin jatah beras aja nih, gue. Pokoknya serba gratisan semua. Cuma, kalo pas keluar duwit itu, ketika nganterin anak bungsunya ngaji di TPA. Nah, di saat seperti ini gue sering di palakin anaknya buat beliin es cendol. Pantes anaknya item, abisnya kebayakan makan es cendol.
Berpengalaman empat tahun tinggal bareng tante gue, nampaknya pengalaman tersebut, nggak bisa di jual untuk mempercantik CV. Kampret bener. Tapi untunglah, gue punya diari maya yang bisa gue certain di sini. Mau baca silahkan, nggak mau baca, gue juga nggak rugi. Dan anehnya, meskipun gue tumpangi selama empat tahun, mereka (om dan tante) nggak merasa di repoti. Ya, inilah salah satu ke unikan orang jawa. Guyup ruku bebarengan.
Meskipun sudah di anggap kayak keluarga sendiri. Ikut saudara tentunya kadang gue punya perasaan nggak enak juga. Wajarlah, namanya juga manusia yang punya hati. Apa saja sih, yang bikin cangungg (nggak enak) ketika tinggal bareng saudara… Nah, di laporan @notedCupu edisi minggu ini, gue akan ngobrolin pertanyaan itu. Poin-ponya akan gue beberkan… Silahkan bentangkan tikar dan seperangat alat gaple.

 

Telat bangun.
Sebagai anak laki-laki yang masih bujang, molor tidur adalah kemerdekaan yang tidak boleh di renggut. Namun sayang, hal itu tidak berlaku bagi gue. Telat bangun subuh, dan ketinggalan sholat, siap-siap gue bakal berhadapan dengan kuda nil bengis dari Afrika sono. Lingkungan di kelurga tante gue seperti pondok pesantren. Maklum lah, tante gue memang jebolan pondok.
Pernah gue, di sabtu pagi, gue tidur pules banget sampai-sampai adzan subuh pun gue nggak bisa bangun. Karna waktu itu hawa dingin yang semilir datang dari luar menyelinap masuk melalui celah di antara candela yang tidak tertutup rapat. Hembusan hawa sejuk yang menyergap membuat gue semakin erat mengapit guling dan selimut.
Tidur berlanjut, mala petaka menjemput. Sayup-sayup dari bawah tangga, gue denger tante neriakin gue buat bangun. Hawa dingin telah menjelma menjadi bebal. Namun sayang, teriakan itu hanya berlalu dan gue pun menghiraukan begitu saja. Komando tente pun menguap begitu saja, namun kemarahanya telah meledak sekeras kentut ikan cupang.
Terdengar langkak kaki, ketipak-ketipuk menaiki tangga. Gue masih saja, acuh dengan setia mengapit sarung. Tante, tiba-tiba mengetuk pintu kamar gue. Sebagai anak bandel, gue pun tak meresponya. Ketukan ke tiga, bukan tanganya yang bergerak tapi kakinya telah mendobrak pintu. Brakkkkkkkkkk…! Dan tante berhasil merobohkan pintu berengsel itu dengan tendangan kaki kananya. Hebat. Tendangan madun aja kalah. Hasilnya, gue di jewerr sampai telinga gue melar segede esbes.. Gila… sumpah tante gue tenaganya kayak Samson.
Nah, ini yang bikin nggak enak. Tidur gue nggak bisa moloorrrrrrrrrrr.

 

Pulang telat.
          Lingkungan keluarga tante gue emang mengajarkan kedisiplinan. Padahal tante gue terlahir bukan dari kalangan militer tulent. Malah bapaknya saja orang tambak. Iya, bapaknya orang tambak, maksudnya kerjanya di tambak. Gitu!. Nah, ceritanya, disana tuh apa-apa harus ontime. Makan pagi, harus ontime. Makanya tante gue tuh, rela bangun subuh buat masakin keluarganya, termasuk gue yang numpang disitu.
          Bukan urusan soal makan dan sholat saja yang harus disiplin. Jam malam pun beraku, bayangin aja, gue jam 9 malam kudu harus sudah di rumah. Lebih dari itu, gue nggak dapat pintu. Alias nggak di bukain pintu. Pernah kejadian, gue ngerjai tugas di rumahnya ucup sampai larut malam. Berhubung gue ngak bawa hp, jadinya gue ngga bisa laporan. Awalnya sebelum pergi, gue mau pamit, tapi gue urungkan niat, apa-apa mau pamit… kok agak parno ya.
          Entar gara-gara keseringan pamit, dikit-dikit musti pamit. Kan parno juga, ngelakuin itu. Bayangin kalo mau ke kamar mandi aja pamit. “Tante, mau izin ke kamar mandi?’ Pasti gue bakalan di keplak pakek sapu. Bisa benjol ini kepala.
          Nah, back to topik. Sepulang dari rumahnya Ucup, sampai rumah sudah jam 12 malam. Gue ketok pintu sampai tiga kali orangnya nggak bangun. Mau dobrak pintu entar gue di kira mau ngerampok mejikom. Kalo diem aja, dan tidur di depan pintu malah di kira gembel. Dan akhirnya, malam itu, gue tidur di kontrakan temen gue anak perkapalan ITS. Ya, syukur deh. Selamaat dari ancaman sebutan gembel.
          Ini—nih bagian yang nggak enak itu. Ada jam malamnya!.
 
Telat Mandi
          Rumah tante gue nggak terlalu besar seperti istana kepresidenan, juga nggak terlau kecil seperti rumah liliput. Bisa di bilang cukup. Cukup dengan dua kamar tidur di lantai satu, dan cukup satu kamar tdiur di lantai dua. Itu pun yang menghuni cuma gue seorang. Ruang dapur harus berbagai dengan anak tangga dan kamar mandi. Jadi, kalian bayangin sendiri sajalah, kalo pas dapur di buat masak dan ada orang hilir-mudik ke kamar mandi. Pastinya… nggak leluasa kan?.
          Makanya, ketika tante gue sedang masak gue memilih mandi belakangan aja. Nunggu masaknya selesai. Kenapa gue memilih mandi belakangan.. Cerita singkatnya… gue beberin di bawah ini?. Tapi ups, jangan di sebarin ke siapa-siapa ya. Ini rahasia kita berdua, antara gue dan kalian.
Pernah kejadian sih, sore itu di bawah langit yang teduh… sekitar jam empatan gue keluar dari kamar mandi. Yap.. karna waktu itu gue abis olahraga jogging di stadion ITS, makanya sampai rumah langsung ambil handuk. Terus meluncur bersihin badan. Begitu kelar mandi lalu bukak pintu kamar mandi, ternyata tante gue baru saja selesai goreng kerupuk buat makam malam. Eh… salah, makan sore yang bener.
Dan… pemandangan saat itu, blek (rodong) tempat kerupuk itu, tidak di tutup. Sementara, letaknya pun di biarkan tergeletak di anak tangga, terbuncit. Berhubung kamar gue di lantai dua, jelas dong gue naik tangga melangkai blek isi kerupuk tersebut. Nah, pas sampai di kamar gue enak-enak makek baju. Tiba-tiba tante gue menjerit kenceng,
“Cupu……….. sempak mu, masuk blek kerupuk, ya ampunnnn JOROKKKKKKKKKKKKKKKK!.
Saat itu gue buru-buru cek, pakian kotor gue di bak. Ternyata bener, kolor (sempak) gue ilang, kabur dari pasanganya, celana pendek. Setelah gue turun, pemandangan mengerikan di depan mata… sepotong sempak warna ijo daun, menutupi blek berisi kerupuk.
Mungkin bagi pecinta seni. Wah… ini pemandangan keren. Setelah gue lihat, sempak gue pun mendarat nge-bekep kerupuk yang baru mentas dari penggorengan. Hasilnya, kerupuk sekaligus bleknya pun di buang ke tempat sampah. Katanya tante, pada takut keracunan aja. Padahal kan sayang, mubazir buang makanan.
          Nah, kejadian ini yang bikin nggak enak itu
Itulah, gambaran secuil mengenai suara roker tante gue. Kalo sudah teriak lalu menjerit, tanda bahaya sedang mengintai. Maka, yang harus gue lakuin untuk penyelamatan diri adalah, segera menuruti komandonya. Biar pun begitu, tante gue adalah sesosok ibu di saat gue jauh dari orang tua. Sungguh.
Di saat merantau, siapa pun bisa jadi keluarga.
Tapi gue tetep bersyukur bisa dapet tumpangan yang serba gratisan. Bisa HEMAAT. IYA HEMAT. Nyatanya, ketidak enakan itu, sirna di telan misi KEHEMATAN. Nah, cukup sekian dulur cerita minggu ini di @NotedCupu Mahasiswa Imigrand’, buat kalian yang kos di rumah saudara, share dong cerita nggak enaknya apa aja?.
 

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook:Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

9 thoughts on “Tante Gue Roker

  1. jenkna berkata:

    aku beberapa kali ikut ‘nebeng” idup sama saudara, ya tante, kakak dan sebagainya. numpang itu mau baeknya kaya apa si pemberi tumpangan, pasti ada rasa nggak enak di posisi yang numpang. Kalau tante atau kakakku sih nggak pernah teriak2. tapi melihat cara mereka nyuci piring dengan nada krompyangan bikin nggak enak ati, hehe tanda kalau aku enak-enakan molor sedangkan mereka pagi-pagi udah nyuci piring. jadi sebelum ada yang krompyangan atau terdengar bunyi2an gaduh di dapur harus bangun lebih pagi, sebelum mereka..

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s