Selulerrr!

@NotedCupu

@NotedCupu

Godaan terbesar bagi gue ketika ‘bermigrasi’ ke Surabaya adalah; kangen kampong halaman. Di saat gue kuliah seperti sekarang, nggak mungkin gue bisa leluasa untuk pulang.  Ndak ada hari longgar. Kalo berani-berani gue bolos kuliah, bisa-bisa gue di bacok sama Pak Dosen. Kalo pulang naik sepedah motor, jarak Surabaya ke kapung halaman itu, lima jam lamanya.  Jauh banget!. Makanya, kalo liburnya cuma jum’at sama sabtu, gue nggak mau maksi’in diri buat pulang. Sebab kenapa? Takut kecapekaan aja di jalan…
                Untunglah, sekarang ada telfon murah.
          Ada untungnya juga, beberapa tahun yang lalu, berbagai perusahaan telekomunikasi perang iklan merebut kati konsumen. Perang iklan itu pun berimbas pada perang tarif. Profaider yang satu melucurkan iklan, telfon semenit gratis sejam. Profaider yang satunya lagi, gratis telfon ke sesama operator. Persaingan pun berbuntut panjang, hingga menumbangkan salat satu profaider. Tarif telfon turun harga, gara-gara persaingan perusaha’an telekomunikasi kian menari-nari. Gue sebagai salah satu konsumen pemakai hp poliponik, merasa di untungkan akan kejadian itu. Pulsa bisa ngirit. Pengeluaran pun ndak sembelit…….

             So, kalo sewaktu-waktu gue kangen sama keluarga di kampong halaman sono. Gue tinggal pencet dial, lalu telfun sudah terhubung. Mudah  dan murah. Ndak perlu balik lagi seperti tahun 2007-an… yang harus pergi ke wartel sambil membawa recehan berupa koin.  Untunglah.. telfon murah itu bisa kita  nikmati sampai sekarang…
Beberapa pekan ini, (mungkin sudah sebulan) bapak sering telfonin gue. Entah kenapa gue juga nggak ngerti. Soalnya, ndak biasanya bapak sering-sering hubungi gue. Rutin bapak telfon sehari sekali, kadang malah lebih.
Kalo sudah telfonan, pertanyaan yang rutin bapak ajukan itu; udah makan berapa kali?’. Di kiranya gue, hemat untuk urusan perut. Padahal setiap perut gue keroncongan, mulut gue langsung bekerja, nguyah makanan berupa rawon setan. Lainnya lagi, ketika di telfon, Bapak itu tergolong tipikal orang yang cerewet. Tapi crewetnya itu menjerumus pada pola, mengingatkan, “Baik-baik sama setiap orang, urusan dia baikin kamu atau nggak itu urusannya dia sama Tuhan”. Dan sekarang gue tahu apa maksudnya…
          Sewaktu, gue masih SD, dan bapak masih bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya. Bapak slalu suka berteman sama siapa saja. Ndak pernah pandang bulu memilih sahabat. Wajar saja, orang jawa kan memang budayanya grapyak. Muda bergaul. Dan bapak merupakan bagian dari masyrakat jawa yang bisa akrab pada siapa saja. Pernah suatu waktu, ketika bapak pulang dari Surabaya, bapak slalu di anterin mobil sama pimpinannya, bisa disebut mandor, atau yang lebih keren dengan julukan supervisor.
 Sebut saja pimpinannya bapak itu bernama Ucup. Mendapat anggota keluarga baru, ibu di rumah pun, menyambutnya dengan senyum bersahabat. Iya, salah satu ciri khas masyarakat desa itu, welcome banget sama orang yang bertamu. Terus, Ucup itu pun menginap sampai beberapa hari di rumah. Apalagi teman bapak bernama Ucup itu, orangnya juga enak. Gue sering di traktir, di beliin oleh-oleh sekarung goni. Orangnya dermawan (bahasa jawanya sih, aweaan).  Lantas, ibu pun membalas kebaikan Ucup itu dengan memasakan makanan yang enak-enak. Makan sore pun menjadi tumpah ruah, menjadi satu….  Mungkin ini yang kita tahu dengan guyup rukun bebarengan..
Saat bapak ndak lagi kerja di kota Surabaya, terus di saat yang lain bapak mulai membuka usaha PT. Njagal Sapi dan Wedus. Imbasnya, bapak pun jarang ketemu  dengan Pak Ucup lagi. Jarak terbentang, hubungan merentang. Seiiring berjalanya waktu, garis nasip ke dua orang yang bersahabat ini berubah. Bapak sibuk menggeluti dunia jualan. Sementara, Pak Ucup sibuk ngurusin proyek beton dan anak buahnya. Kalo Pak Ucup waktunya habis buat ngurusin jajaranya, kalo bapak waktunya habis  ngurusin hewan ‘Mbeeeeekkkk dan Nggooohhhh’!.
Tanpa kita sadari, sebagian dari kesibukan kita mencari sejumput nasi telah memusnahkan kita untuk saling mengabarkan ke orang-orang terdekat. Entah itu kawan, saudara karip, atau orang-orang terdekat lainnya. Kombinasi antara waktu yang di susupi dengan kesibukan telah melumat jatah kita unuk merawat komunikasi. Padahal manusia seyogyanya adalah makluk sosial…
          Maka ndak jarang, ikatan persaudara’an itu luntur karna gara-gara kita nggak adil dalam penggunaan waktu. Iya, kita kurang adil memotong kue pai bernama jam. Mana waktu buat nyari periuk nasi, mana waktu buat ngobrol ini-itu dengan orang-orang terdekat. Dan karna sebab itulah, hubungan bapak dengan Pak Ucup menjadi orang asing. Mereka sekarang jarang bangett ngasih kabar, bahkan nyaris menjadi orang lain yang sama-sama tidak mengenal. Lalu kembali ke tempat semula, akhinrya semakin berjauhan. Kemudian menghilang ndak ada jejak. Musnah!.
          Sekarang ini gue mulai menyadari. Dari gue mulai sekolah: SD -> SMP -> SMA -> Kuliah. Sudah sebarapa banyak teman yang gue kenal?. Sumpang, nggak ke itung, pokoknya banyak banget. Dan berapa yang masih nyantol dan berhubungan sampai sekarang?. Nggak bisa dihitung dengan jari.
          Mungkin bagi sebagian kalian, masih banyak yang nyantol dan masih suka berkomunikasi ngalor-ngidul sama sahabat maupun orang terdekat. Tapi secara tidak sadar, saat kita sedang jatuh sakit atau sedang tertimpa musibah dengan cucuran air mata, baru mulai kerasa mana teman yang hanya bersahabat… dan mana teman yang masih bisa mengucapkan, “Aku slalu di sampingmu kawan!’.
          Iya, kita adalah seonggok daging berwujud manusia yang punya nama. Dan sekaligus mahkluk sosial, yang ndak bisa hidup sendiri dan butuh orang lain untuk saling menguatkan. Ho’oh, kita butuh asupan empati dengan sisi humanisme.
          Maka, setelah kalian selesai membaca #NotedCupu edisi minggu ini, segeralah angkat gagang TELFONMU lalu katakan, “Hallo…. Apa kabar, teman?” pada orang di ujung sana, entah itu sahabat di fase SD-SMP-SMA maupun Kuliah!. Hingga akhirnya, di masa tua nanti, kita bisa tertawa lantang, tanpa merasa kesepian dengan kenangan masa muda yang mengabaian merawat komunikasi… karna sejatinya, teman adalah investasi yang bisa kita nikmati di saat usia kita mulai senja.  Pada suatu sudut kamar, kita ndak merasa sendiri… di saat menua di atas kasur.
          Iya, kita bagian dari budaya masyarakat jawa yang; Grapyak, Seluler, Ngobrol!.
 The end!.

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook:Budi Santoso Totoraharjo

ID Kaskus: NotedCupu

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s