Dari Journalistik Menjadi Buku

Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Gue tergolong sebagai mahasiswa murtad. Menyandang label mahasiswa cupu, dengan bersemedi dibawah fakultas ekonomi, lalu menyembah jurusan perpajakan. Kenapa gue murtad dari jurusan?.  Ceritanya, gue nggak mau magang di perusahaan cuma di jadikan B2 (Babu), terus di suruh kesana-kemari buat foto copy dan pekerjaan ini-itu yang ora jelas!.

Gue sempat denger cerita dari Ucup—teman se angkatan gue. Kalo dia magangnya malah parah banget. Di tempatnya dia magang. Entalahlah di perusahaan apa, gue ora ngerti. Tiap dia sampai ke perusahaan itu, dia cuma domblong doang, duduk-duduk di sudut ruangan sampek ngiler. Ucup nganggur, nggak ngerjain apa-apa di sana. Dari pagi sampai sore, yang Ucup lakuin cuma leyeh-leyeh di atas kursi. Kelakuane jan koyo bos. Badannya yang segede Bagong, membuat ucup semakin menjadi pemalas.  Kadang-kadang kalo dia haus, dia ngacir ke pentri buat bikin kopi. Nah, setelah kopi itu siap sedu, Ucup balik lagi ke mejanya, lalu nyalain sebatang rokok, kemudian mengisapnya pelan, penuh nikmat. Puuuhh…..

Pikir gue sih, lo ini mahasiswa magang, tapi kelakuanya kayak bos aja.  Terus gue tanya ke dia, “Berarti kowe ora di anggap orang dong, Cup?”. Mendengar pertanyaan yang rasional dari ke dua bibir gue yang berbenturan. Ucup hanya bisa ngejawab singkat; “Jancuk…. Iya juga ya!’

 Temen gue yang satunya lagi, Nanci—yang masih se-angkatan dengan gue. Ceritanya malah lebih tragis lagi. Melalui kedua bibirnya yang merekah, Nanci cerito, yen di tempatnya dia Magang, Salah satu orang di perusahaan itu, kurang welcome dengan Nanci. Nanci memang mahasiswa semester tamat, yang nyambi kuliah, sambil ngerjain skripsi sekaligus magang. Berhubung dia part-time, pagi sampai siang kuliah, terus kelarr kuliah Nanci ke tempat magangnya. Sampai disana, Nanci dapat cibiran begini, “Ngapain jam segini baru datang?” celetuk seorang di ruangan pojok perusahaan itu.

Mendapat perlakuan yang ora terpuji, dan merasa ora di hargai. Nanci pun kesal, terus ngajakin duel orang tersebut dengan umpatan; “Dasar wong ediyan, rupamu nyembbah JABATAN. AYO GELOT!.

Iya, di semester tamat gue murtad. Aturan di kampus gue,, mahasiswa tingkat akhir kudu magang, sekaligus  ngambil data skirpsi dari tempat magang itu…

Nah….  gue seneng banget waktu itu, ketika lamaran magang gue di Tempo, biro Jawa Timur di setejui sama Pak Biro (Kepala Suku). Iya, gue magang sebagai Repoter (Journalist/Watawan). Di sana gue magang layaknya seperti wartawa pada umumnya.  Tiap hari, gue kudu setor minimal satu konten berita. Sebelum terjun ke lapangan, selama seminggu gue di gembleng di sama Pak Biro bareng anak-anak se-angkatan gue. Di sana gue di ajari nulis berita yang bener dengan memakai konsep 5W-1H.

Gue bocorin nih ya, kerja journalist itu, kudu ngerti pola ini; Tapi ojo omong sopo-sopo lo cah. Sebelum berangkat ke lapangan, harus riset issue yang akan di angkatnya. Harus ngerti dari A sampai Z mengenai angle berita. Pokoknya harus tlaten ngebaca. Terus, habis itu siapin daftar pertanyaan yang akan di ajukan ke narsum (narasumber). Setelah udah kelar, baru deh wawancara. Selesai wawancara,  transkipnya di tulis dalam bentuk artikel. Tahap akhire, artikel tersebut terus di kirim deh, ke redaktur. Di tangan redaktur itulah, laporan berita di adili; Apakah layak di sampaikan ke masyarakat, atau laporannya nyempulng ke tong sampah. Ngono. Mudeng po ra kowe, cah?.

Kerja sebagai wartawan kui, fisike kudu prima, kudu sering-sering minum jamu gendonge yu Jum. Ho’oh, soalnya kudu ready 24 jam nonstop. Gue kasih contoh ni, ye; Misal ada peristiwa kebakaran jam 2 dini hari, wartawan kudu langsung meluncur ke TKP buat bikin liputan, padahal jam-jam segitu, lagi enak-enaknya mesum  sama guleng. Pernah gue, liputan ke lokalisasi di Surabaya, budal mari magrip, pulang jam 11 malam. Terus, abis liputan gue langsung mampir ke kantor buat ngetik berita hasil wawancara gue dengan wanita harapan bermek-up tebal.

Gue semakin suka nulis, ketika laporan gue bareng tim, masuk ke Headline. Di Headline itu, di bawah artikel ada nama gue terpampang dengan gagahnya; Reporter Budi Santoso. Wuihhh!. Keren (ketek leren). Prestasi semacam ini langgka banget menuruut gue. Seumur-umur, ini pengalaman pertama kali coe. Semula, awal-awal masuk dunia nge-blogg, gue emang keranjingan pengen nulis di media masa. Tau-tau ke sampek’an juga, saat gue kuliah di semester akhir. Keren kan, gue?.

Kalo boleh jujur nih, ya. Iya, ngomong jujur sama kalian di sini. Gue masuk industri media, membawa maksud besar. Apa?. Ceritanya begini…. gue tinggal di kampong halaman sana. Rumah gue, di daerah pesisir pantai, kawasan Trenggalek-Panggul sana. Tempat tinggal gue, termasuk dalam kawasan ekonomi kretif. Tapii… sayang… pemerintah setempat memble dan  ora miskin gagasan. Ndak punya gebrakan apa-apa tenang daerahnya. Juga nggak visioner. Kurang greget. Menurutku juga, ndak ngerti ngebaca potensi daerahnya. Jadi kurang tergarap potensinya. Padahal di kampong halaman gue itu… pantai ada banyak sekali, air terjun ada, konservasi penyu juga ada. Kurang apa lagi cobak?. *Di keplak Bupati.

 Kurang opo meneh, jajale? Lengkap to!. Nah, pas awal-awal gue masuk di Tempo; seminggu berikutnya, gue di ajakin Pak Biro buat rapat redaksi untuk bahan liputan. Di rapat itu, gue ngusulin untuk bahan angle liputan,  usulan gue; ngeliput konservasi penyu di kampong halaman tercinta. Namun sayang, karna gue waktu itu, baru anak Cupu, usulan gue kalah dengan usulan dari teman-teman yang lain.

Dari hari ke hari, kabar konservasi penyu di daerah gue mulai menyebar ke pelosok negeri. Beberapa media elektronik pun, sempat berkunjung ke sana untuk mengambul gambar. Dan Bumm.. tempat kelahiran gue pun, akhirnya di jamah oleh media. Fenomena dari cangkem ke cangkem, akire nyebar teko ngendi-ngendi. Konservasi penyu, jadine menjadi tempat fenomenal, obyek wisata terbaru. Berita semacam ini, sebenarnya menampar pemerintah setempat.. bahwa, daerahnya bisa di jual…… Lalala…. Yeyeye!.

Kabar penangkaran penyu di jawa, memang lagi seksi. Bayangin aja, di jawa, hanya ada tiga daerah penangkaran, dan kili-kili di kampong halaman gue, manjadi bagian dari ke tiganya. Soalnya, penyu merupakan hewan di lindungi cah, sekaligus merupakan  kewan langka.  Malah, artis arumi Bacin pun…. Eh, maksud gue bachin. Sempat juga main-main ke konservasi penyu. Setalah konservasi penyu berjalan dalam hitungan bulan dan sukses melahirkan ribuan tukik baru, buah hasil penangkaran. Pak Biro, tempat gue belajar nulis pun menghubungi gue. Iyap, “Konservasi penyu layak  di Tempo-kan,’ ujarnya…

Siang itu gue di telfon, Pak Biro (bisa di bilang pimpinan redaksi Jawa Timur), untuk menemaninya melakukan reportase di tempat penangkaran. Dari Surabaya, gue dan Pak Biro ini menuju ke Trenggalek naik motor. Engko kok kiro naik ojek, udu lo yo. Rencananya, dalam rundingan, kita berangkat naik mobil. Tapi berhubung takut kejebak macet dan ngeburu deadline. Kita putuskan untuk ngacir naik roda dua, motor item gue.

Disanalah pabrik berita di comot ( di baca: gedang goreng) untuk di tulis.

Begitu sampai di sana… Pak Biro ngewawancarai Kang Sardek, sebagai narasumber utamanya. Kang Sardek inilah tokoh masyarakat yang paling getol dalam penyelamatan hewan langka, penyu ini. Iya, bisa di bilang Kang Sardek ini aktivis lingkungan hidup. Dan berhak mendapatkan piala Adipura. Dari urusan tetek bengek, mulai dari menjaga konsevasi pagi-siang-malam, bahkan sampe kasih makan si penyunya, ya kang Sardek iki, seng ngurusi. Menerut gue, dialah orang yang paling berjaasa terhadap operasional di konservasi.

Di sana… kita membagi tugas, Pak Biro, melakukan reportase, kemudian wawancara dan nulis beritanya. Peran gue enteng banget: …. Ngacak-ngacak konservasinya dengan bidikan lensa kamera DLSR gue. Jepret-jepret.

Setelah semua tahapan journalistik di jalankan, dua hari berikutnya, berita itu masuk di Majalah Tempo. Tepatnya hari senin, mata gue terbelalak menyaksikan pemandangan karya gue. Bangga sekaligus, seneng. Bidikan lensa gue yang menshot adegan Kang Sardek memengang penyu, berhasil mejeng masuk dalam laporan Majalah Tempo — Kolom Jowo Timuran. Begitu membaca dan melihat laporan itu……. Sumpah…… Rasanya seneng pol, ngelakuin hal yang berguna untuk kampong halaman.

WUJUD, LIPUTAN GUE BARENG PAK BIRO, DI KONSERVASI PENYU KILI-KILI.... #MAJALAH TEMPO

WUJUD, LIPUTAN GUE BARENG PAK BIRO, DI KONSERVASI PENYU KILI-KILI…. #MAJALAH TEMPO

Sambil duduk di atas sofa, di kantor biro Tempo, Surabaya, gue merasakan sensasi berkarya yang sesungguhnya. Gue ngebekek muka gue, dengan majalah hangat itu, sembari berujar dalam hati. “Cita-cita gue terwujud, gue behasil mengabarkan ekonomi kreatif berbasis wisata alam melalui media, tempat gue belajar menulis.’

Bermula dari peristiwa ini. Semangat gue untuk menulis akhirnnya ikut tersulut juga. Sakjane, gue mulai menaruh kecintaan pada dunia baca dan tulis, ketika awal-awal lulus SMA. Semenjak gue magang di Tempo,  rutin tiap hari gue liputan. Otomatis, gue ngelakuin dua kegiatan sacral ini; membaca dan menulis.  Tiap hari begitu teruss… hingga menjadi hubbit.  Sekaligus, rutin juga tiap seminggu sekali, gue bikin postingan di blog ini.

Buat gue, profesi journalist itu mengasyikan. Gue jadi lebih tahu duluan soal warta, di banding masyarakat. Lewat journalist-lah, gue banyak kenalan. Banyak teman untuk membangun jaringan merupakan kelebihan profesi ini. Ya, iyalah. Tiap hari kerjanya wawancara terus dengan narsum. Ketemu sama orang baru merupakan kelebihan profesi ini, apa lagi bisa dengan mudah berbagai cerita. Nggak jarang, ada juga narsum yang menjadi kawan dekat. Senengnya lagi, pas narsumnya itu orang hebat, iya pandai-pandai aja buat di pepet terus. Barang kali bisa menjadi temen deket. Dari sinilah jaringan pertemanan di bangun.

Ada kebanggaan, ketika nama gue masuk dalam Majalah Tempo. Kalian tahu kan, majalah ini termasuk karya journlistik jempolan, nek negoro Indonesia iki. Tiap edisinya, s’lalu di nanti banyak orang. Apa lagi yang bikin unik itu, dalam penulisannya, menggunakan bahasa jurnalisme sastrawi, di padu dengan konsep penulisa pola drama. Jadilah majalah ini mempunya ciri khas, yang unik. Sumpah… ! Gue berutung bisa belajar bareng teman-teman di sana.

          Sekarang. Genap empat tahun, gue nge-blogg. Apa yang gue dapet dari  industri media, gue tuangkan di sini. Ide-ide gue bungkus, lalu gue tuangkan di blogg ini, dalam wujud prasasti. Tak pernah bosan, terus dan terus. Kecinta’an gue menulis, telah menjelma menjad passion gue. Ada kebahagiaan, ketika gue menjahit kalimat demi kalimat.

          Pada sebuah titik klimak…… nyali gue semakin tertantang untuk, membikin sebuah embrio drafft buku. Ketika awal-awal tahun 2013, gue mencoba mengkonsep buku. Iya, gue berniat menelurkan buku. Karna gue rajin ngeblogg, maka ide  embrio buku gue, terlahir dari tema blogg ini.. #NotedCupu Mahasiswa Imigrand.

Draft buku gue, sekarang ada di @Bukune

Draft buku gue, sekarang ada di @Bukune

          Tiap minggu gue targetkan untuk, menulis satu bab cerpen, berjenis personal literature comedy. Pada saat, hari week and tiba, malam minggunya gue habisin waktu untuk begadang di mesin ketik. Kebiasaan itu, terus gue lakuin seminggu sekali. Kenapa harus hari week and? Karna, hari week and inilah, gue puya banyak waktu. Saat gue main, ke rumah bulek sama paklek. Ora lali, gue nenteng leptop kesana kemari.

          Bahkan, saat gue main ke Malang pun, buat ketemu pacar. He’em, PACAR. Awas jangan ngiri. Gue nentengin leptop kesana kemari seperti ibu yang sedang mbunting. Pas berada di dalam kereta, gue buru-buru nyalain mesin ketik buat ngejar target tulisan. Kehidupan gue dalam merampungkan embrio #Notedcupu, nyaris podo karo penulis liyane. Misalnya, kalo Simbah Sujiwotejo merampungkan buku Jancuknya dalam mobil, sewaktu perjalananya dari Suarabaya ke Malang. Sementara, kalo Si Radityadika, memanfaatin waktu sempitnya dengan menulis bandara ketika transit.

          Nggak nyangka, ternyata embrio buku #NotedCupu ini sudah dua tahun berlalu gue konsep. Ora kroso, ternyata waktu cepet berputar tanpa gue sadari. Tambah tuwek, dawok podo metu, rambut podo puteh. Apakah kalian merasakan hal yang sama?. Pikiren dewe, aku ora urus. Sewaktu gue ada rencana buat nelurin buku, gue kabarin ke bapak soal ide ini. Lewat sambungan telfo gengam, gue minta doa restu supaya embiro, buku gue lolos di tangan editor, “Opo aeh seng kok lakokne, asal fokus, lan kucine bahagia,” itu nasehat bapak, tempo hari yang lalu.

          Di dalam embrio buku ini. Ada banyak cerita yang gue tulis. Dari yang mulai cerita, tentang ke sialan ( apes ), sampai cerita manis, tentang gue dapet pacar lewat perkenalan di sebuah twitter. Seeeeerunya lagi… Gue cerita soal perjalanan hidup gue, dari anak kampong di pesisir pantai selatan, menembus belantara kota. Pengalaman dalam keluarga, juga gue masukin dalam embrio #NotedCupu. Juga cerita perjalanan kuliah di kampus ‘luar negeri’, selama di Surabaya ini. Kini masa hidup di kampus, telah tamat… waktu telah menggerus dan menuakan kita. Setelah merenung, kita hanya mampu menyadari… terkadang juga menyesali…

          Maka… lewat karya ini, gue akan memaknai waktu dengan simbol berkarya. Iyap, gue berkarya bukan untuk gagah-gagahan supaya terkenal. Semata-mata murni, gue mau bikin sejarah seng apik, lan (dan) gawe prasasti (sejarah) selama urep nek alam semesta iki. Gue nggak mau, saat tua nanti, hanya menjadi manusia tua tanpa cerita manis di masa muda. Gue gak mau hidup gue di masa muda, hampa dan garing… tanpa ada secuil cerita yang bisa di bagikan ke anak cucu nanti….

 

 Lewat #Embrio buku ini…..  gue menyebar tentang arti MANUSIA MERDEKA. #NOTEDCUPU MAHASISWA IMIGRAND. KISA PERJALANAN CUPU PENYEMBAH AC, MENEMBUS TERJALNYA IBU KOTA!.

Lewat #Embrio buku ini….. gue menyebar tentang arti MANUSIA MERDEKA. #NOTEDCUPU MAHASISWA IMIGRAND. KISA PERJALANAN CUPU PENYEMBAH AC, MENEMBUS TERJALNYA IBU KOTA!.

          Lewat #Embrio buku ini…..  gue menyebar tentang arti MANUSIA MERDEKA. #NOTEDCUPU MAHASISWA IMIGRAND. KISA PERJALANAN CUPU PENYEMBAH AC, MENEMBUS TERJALNYA IBU KOTA!. Di embrio #NotedCupu ini, memiliki ketebalan 166 halaman… gue kirim ke penerbit @Bukune, di jakarta sana. Gue minta doa kalian, semoga naskah gue ini lolossss di tangan editorrrrrrrrrrrrrrrrrrr. AMINNNNNNNNNNNNNNN….!

Iklan

18 thoughts on “Dari Journalistik Menjadi Buku

  1. azhariscm berkata:

    Amiin, smga ksah perjalanannya terbit dah sesuai harapan lho.

    Jujur aja, kgum ak sma loe, bsa bermgran dri eknomi ke journalis. Buat aku semangat lgi.
    Saat ne ak bru blajar tentg journalis di sebuah perkumpulan di kotaku dan sudh berjalan slama 8 kali pertemuan. Dari 30 Mahasiswa yg ad, ak tu terasa yg plg lambt, mgkn krna ak bukan dri jurusan kmunikasi. Dari 30 org, hanya 6 diantaranya yg bkan ank kmunikasi trmsuk ak.
    Kadang2 ad rasa nyerah, tpi brangkt dri rasa ingn tahu, dan suka nulis jdi harus giat lgi.
    mulai dari giat membca hngga ekstra blajar straigh news, mengenal feature, novel sastrawi, fotografi, hngga hal2 lainnya.
    Membca pengalaman Notedcupu, mgkn suatu saat ak bsa mengejar cita2 jdi journalist yg berasal dari Mahasiswa teknik sipil jdi Mahasiswa Migran. Mhon doanya dan tips nya ya.

  2. Yukina Hawmie berkata:

    panjaaaaaang ngos-ngosan ngebacanya (halah)
    saya juga demen sama dunia jurnalistik. tapi sayang waktu gabung ama pers kampus, udah keburu angkat bendera putih. penyakit mahasiswa baru kalik ya, baru sebulan kuliah dan udah disuruh ngerjain tugas begini-begitu sebagai calon anggota (mau masuk persma aja ternyata ada magangnya duluan huhee) masih ga siap, kaget ama waktu sibuknya. padahal pas tahu kakak tingkat yang kudu ngeliput proses hitung suara pemilihan anggota BEM kampus sampe jam 2 pagi, iri juga -___-

    sukses sama bukunya, mas ( ‘_’)9

  3. zedeen berkata:

    di nggalek sono banyak wartawan seliweran di desa2 bawa koran bulanan seharga 20 ribuan yang habis dibayar pak lurah langsung ditaruh di atas meja ndak pake dibaca supaya mas wartawannya segera enyah..yang begitu2 dulu apa ndak magang dengan baik dan benar ya?

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s