Sarungmu Membunuh Sapi

si Tunjung (Sok Imut)
si Tunjung (Sok Imut)

Bagi umat islam, bulan puasa seperti sekarang ini, mementum yang tepat untuk memburu pahala sebanyak-banyaknya. Perburuan pahala ini, dari mulai mengaji, membaca Al-Quraan (tadarusan), sampai memberikan sepotong makanan bagi yang berpuasa. Tentu ini berkah bagi gue. Sebab, gue bisa mendapat nasi bungkus secara cuma-cuma. Tinggal nongkrong di masjid menjelang magrip, gue akan mendapatkan jatah nasi. Aku udu kaum duafa lo, cah.

Jelas, inilah  tabiat anak kos yang merayakan puasa di kota orang. Kalian juga gini kan?. Sama seperti gue?. Enaknya itu. Gue bisa bertindak sebagai penadah santunan nasi bungkus. (Tapi gue, bukan sejenis pasukan nasi bungkus. #Panasbung). Di lain pihak. Ada donator yang siap di ganjar pahala. Ya, kita larut dalam hingar bingar melakukan kebaikan atas nama kerukunan.

Puasa, selain menawarkan ganjaran pahala, juga menawarkan rezeki yang berlipat bagi mereka yang cerdik. Bukan kok mata duwitan, tapi jeli membaca peluang. Puasa mempunyai dua makna ganda. Memburu pahala sekaligus kesempatan mendirikan lapak kaki lima di sepanjang jalan. Tadi sore saat gue jalan-jalan untuk sekedar ngabuburit.  Mata gue mendelik, ketika melihat kaki lima menjamur di pingir jalan menjajakan gorengan dan takjilan.

Melihat makanan yang tersaji secara vulgar dan erotis, mulut gue klametan. “Ndah neo enak’e lek di pangan, aku gelem di kei!’ batin gue, dalam hati. #GragasTenan.

Persis, kebiasan ngabuburit ini, gue adopsi dari kelakuan gue ketika menghadapi bulan puasa di kampong halaman sana. Kawet jaman aku SMP, aku wes ngerti ngabuburit cah.

Tidak ada peristiwa alami yang bisa gue temui di kota Surabaya. Tahu kenapa?.

Panggah enakan ngerayakan moment ramadhan nek kampong halaman, mbak, mas.   Ngabuburit nek Surabaya itu garing banget. Ora ono pemandangan, bocah lari cekikikan nek tegalan sawah sambil ngebawa long (meriam) karbet. Yang ada, hanya pemandangan anak menjajakan Koran di perempatan jalan raya. Sumpah! pedih melihat pemandangan seperti ini.

Kerinduan akan pemandangann klasik itu, sedikit terobati. Beberapa menit yang lalu adik gue; Tunjung—yang kemarin abis di sunat. Memberikan cerita dengan kekonyolanya yang otentik….  “Bang aku habis nyolong preng (bambu) nek kandang Sapi-ne Mbah Paiman, belakang rumah” celotehnya.

Lha ediyan opo kowe?, Kok wani pecicilan. Kuwi manukmu seng abis di sunat, opo owes mari tenan?’. Tanya gue penuh keheranan.

Uwes bang, aku barusan beli karbet nek tokone Pak Jono?’

“Iyo. Kok wani-wanine nyolong preng nek kandang sapi, sapine mau ora ngamuk to omahe kok ganggu?”

Mendengar pertanyan gue yang berbobot, Tunjung hanya menjabanya dengan lempeng. “Ora mase, Sapine mau tak bekep karo sarungku, terus semaput!’

“… Ndasmu cepot kui Njong…’

Kerinduan akan pemandangan klasik itu, iki terganjar sudah.

Mampang cahh..!
Mampang cahh..!

**********

NB: Selamat menjalankan ibadah bulan suci Ramadhan bagi bocah-bocah sekalian

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook:Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s