Kisah Klasik Pribumi di Hari Lebaran

sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

Setiap menjelang lebaran atau menjelang bulan suci ramadhan. Harga-harga kebutuhan perut s’lalu merangkak naik. Patut diduga….  Ada yang memang secara sengaja membuat ulah dengan memainkan harga. Atas kejadian ini, dipihak pembeli tekor karna biaya kebutuhan membengkak.

Kemunculan fenomena klasik kisah pribumi ini dibarengi dengan munculnya; Berita-berita di media elektronik, yang slalu mewawancarai ibu-ibu sedang membeli di pasar, sebagai narasumber utamanya. Mereka (ibu-ibu = simbok-simbok), memanfaatkan, perannya sebagai narasumber dengan ngomel, bahkan curhat atas persoalan yang membelitnya. Ah, untunglah, mereka bisa meluapkan kekesalannya melalui frekuensi public…

Suami pun, tak jadi korban luapan kekesalan…

 Padahal, ibu-ibu ini dituntut, mengemban amanah untuk melayani kebutuhan perut untuk keluarga. Mereka (simbok-simbok) yang kerepotan, cenderung pusing karena uang belanjaan dari para suami ndak mengalami ke naikan sama sekali. Sementara barang-barang perbadokan justru naik tak terkendali, melebihi harga daster. Barang-barang yang naik itu, terutama, barang kebutuhan dapur seperti, bumbon.  Sebagai seorang yang pro terhadap urusan dapur mengepul, gue menentang keras kenaikan harga ini.

Musababnya, emak-emak, ndak berdaya menghadapi harga kebutuhan pokok yang bikin kepala pening. Contohnya, ibuku sepulang belanja dari pasar, biliau mecucu lambene, karna apa? Ya, itu, uang belanjaanya tidak cukup lagi. Semula, sebelum harga naik. Dengan uang lima ribu perak simbok bisa membeli cabe rawit satu ons. Lha, baru-baru ini, setelah harga ndak berkarip, uang lima ribu rupiah hanya mampu ditukar dengan cabai rawit sepuluh biji. Pantes saja, begitu selesai menaruh barang belanjaanya di dapur, simbok unjuk rasa ke bapak,

“Pak rungokno kupengmu, sekarang barang-barang regone podo mundak, aku jalok tambahan duwek belonjo?” Celotehnya.

“Lha, karepmu duwit karek nyiduk nek kali opo, Dek!’ jawab bapak, trengginas.

“Oh… wes to iyo, nanti lek masakane sengak opo cebleh, ra usah kakean cocot!’ sautnya, sambil melemparkan panci ke arah Bapak.

Kini, bukan kasus perselingkuan saja yang bikin keluarga jadi ndak haromonis. Urusan asap dapur, menambah factor baru penyebab terjadinya percekcokan antar PASUTRI (Pasangan Suami Istri). Sungguh, kasus semacam ini menggambarkan kisah klasik kaum pribumi yang hidupnya… serba pas… pasan, nan limbung. Padahal, departemen perdapuran sangat vital urusannya terhadap kelangsungan kerukunan antar anggota keluarga. Jika terjadi, masalah di meja makan, otomatis hubungn kekerabatan bisa terganggu dan ndak stabil lagi rapuh. Kalo saja masalah itu berlanjut, bukan mulut saja yang terus mecucu dan meruncing, tapi piring bisa terbang menghantam bibir.

Sejurus kemudian… Cerita klasik menjelang lebaran itu juga menimpa kaum jomblo. Jika ibu-ibu direpotkan urusan harga-harga kebutuhan perut. Nah, kalo jomblo dipojokan urusan jodoh. Pertanya’an seputar jodoh itu, bermula ketika terjadi kumpul-kumpul bareng keluarga. Jadi, kalo sudah begini kita (terutama yang jomblo) patut waspada dan sigap.

Sekar (tentu nama samaran), salah satu anggota keluarga gue yang masih bujangan alias single, kerap mendapat pertanyaan yang memojokkan, lagi memabukan. Ketika pada lebaran hari pertama, sewaktu kumpul bareng keluarga besar, Sekar dikagetkan dengan pertanya’an yang di ajukan oleh, budenya; “Pacarmu mana, kok ndak dikenalin sama tante?’.

“Hah? Tante?. Biasane dipanggil bulek ae lo, kok endel. Calon (pacarku) masih bertugas menyenangkan perempuan lain bulek.” katanya, “Doakan, saja secepatnya ketemu dan cocok… lek, “ sambung, Sekar, setengah malu-malu.

“Yoo ngono, ndang nikah selak tuwek umure!” timpal, bulek lagi.

“Tuwek mbiyamu kui lek, aku ae baru lulus SMA kemarin!’ jawab Sekar, sambil bibirnya meruncing bak rudal yang menghantam target.

Tak disangka, ke ceplosan yang keluar dari moncong bulek telah menyebabkan disharmonisasi antar ke dua belah pihak. Moment lebaran, yang seharusnya di pakai untuk saling membubuhkan angka kosong-kosong (dimulai dari nol) justru malah berbalik, membuat perseteruan lagi, persatronan.

Sungguh, ke dua peristiwa di atas telah mewarnai perjalanan lebaran dari tahun ke tahun. Dua bagian hal itu tadi, ikut langsung memeriahkan. Terlepas bagi yang menjalani meriah atau ndak, aku ra ngertos. Bagi yang hatinya, lebar, perihal sudut menyudut tersebut, hanyalah urusan sepele yang tidak menimbulkan keringat dingin. Tapi di lain pihak, bagi hati yang sering mengedepankan perasaan, hal itu justru menjadi beban yang menggantung di kepala…

Bagi gue, woles coe, status jomblo wes ra berlaku, untunglah hatiku kini sudah berlabuh ke pelukanmu… Oh… Tukiyem.. #halah.

 

NB: Cerita di atas, hanya karangan fiktif belaka, apa bila terjadi dalam kejadiaan nyata itu hanya Djavu saja. Oya, Mohon Maaf Lagi, memaafkan ya, mbak, mas, pakde, bude, pembaca blogg ini. Kalo, saya ada salah laku dan perbuatan, mohon di ngapuroni. #SALEM.

Iklan

4 thoughts on “Kisah Klasik Pribumi di Hari Lebaran

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s