Ada Kasta dalam Kemeja

Kemeja Lengan Pendek. Di singkat jadi; Keledek

Kemeja Lengan Pendek. Di singkat jadi; Keledek

Di masa era perjuangan ‘45-an, tentunya, ketika masih jaman Walondo (Penjajahan Belanda) masih bersliweran di nusantara. Apa-apa serba terbatas. Makanan, masih berupa nasi kerok jangan (sayur) lembayung. Pakaian, masih ala kadarnya berupa, suwal goni (kain dari sobekan karung) yang melilit di tubuh. Pada masa itu, sandang (pakaian), pangan (makanan), serba defisit, nan kekurangan. Rasanya, kisah klasik pribumi terlahir, dari masa penjajahan Belanda. Contoh sederhananya, kerja tanam Romusa.
Umur Republic semakin menua. Di barengi dengan, saksi sejarah yang kian langka termakan zaman. Beruntung banget, nenek gue masih fasih ketika gue tanya seputar zaman kedigdayaan nyonya Menir. Ho’oh. Kemungkinan besar, Simbahku iki, salah satu saksi kunci sejarah, yang masih berumur panjang, di kabupaten Trenggalek, khsusnya daerah kota Panggul. Sewaktu gue tanya, tentang pemberontakan G30-SPK-I di tanah kelahirannya, simbah ki masih lancar bercerita ngalor-ngidol. Padahal, umure wes tembus 80 tahun ke atas, ancen wes sepuh tenan.

Gue bangga, garis keturunan gue ternyata seorang pejuah naisonalisme tulent. Bisa di bilang, Simbahku iki, pahlawan veteran tingkat deaerah.
Tapi di balik kesepuhan usianya, ia tergolong orang yang pro UMKM. Kenapa?. Pakaiannya yang melilit di kulit keriputnya, hanya sekedar kemeja lengan panjang bermotif batik, bergambar bunga. Bawahnya, kontras dengan rok mini yang di pakai Anjelina Sondang dalam kasus Hambalang.  Simbah iki, pecinta jarek (kemben) batik, sejati. Persis, pesinden yang mendiami sebuah pagelaran wayang kulit. Apa lagi, di tambah mbako (tembakau) dan segepok inang, yang menghiasi mocongnya yang ndak bergigi. Khas, orang jaman dulu.
Era, masa kependudukan Belanda telah lama pergi, lalu meinggalkan puing-puing dongeng sejarah yang kocar-kacir. Kini, zaman telah merdeka. Kisah klasik pribumi, yang di tonjolkan melalui simbol selembar kain, nyaris merata di semua lini. Sejarah mencatat, busana yang terajut melalui selembar benang, erat kaitannya dengan perkembangan pada suatu zaman.
Coba, sampean telisik, tanpa harus garuk-garuk kepala bak seperti Bedes. Kemeja dan seperangkat dasi yang necis, lalu di balut dengan sebuah jas, mengambarkan kaum eksekutif muda yang hidup di zaman modern. Busana ini, sebagai penanda dari sebuah simbol. Simbol yang membawa sebuah identitas baru. Identitas yang menyampaikan pesan tersirat; papa secara, duwit. Yang setara dengan sebutan;  Kemewahan.
Memamg, ada sebuah penanda. Ketika, simbol kemapanan di kampanyekan melalui busana nan megah. Hal semacam itu, justru akan cepat menjadi wabah ala bar-bar. Lalu menyebar, menjadi sebuah tren. Pada dasarnya manusia, mempunyai kecenderungn kepongahan dan serba  wuah.  Pasti di anantara sampean-sampean, sering denger, umpatan halus semacam ini. “Aku biyen (dulu) soro (susah), saiki (sekarang) pantes menikmati hasil jerih payah’.
Klise?, Tanya ke yang mulia hakim tipikor sana saja.
Apa lagi, kalo duwit sudah bisa di dapat dengan caranya sendiri, setelah melalui medan perjuangan. Nafsu, untuk menghambur-hamburkan kemewahan sangat terbuka lebar. Gaya, kemewahan kian luwes di peragakan. Memang, tergelincir dalam pusaran, kenikmatan, dan yang lebih-lebih, itu memabukkan. Bagi yang memiliki pakem jawa, tentu ndak asing dengan, teguran halus, “Hambok… Eleng susahmu biyen, urip kor mamper ngombe!  ( Mbok ya, inget susahnya dulu, hidup cuma sebentar, bagaikan meneguk air, lalu pergi)
Kadang segepok duwit itu memang memabukkan. Tapi, meski pun bikin mabuk, ada saja orang yang ndak sampai sempoyongan. Sungguh!. Oya, usut-punya usut, bukan hanya kemewahan saja yang memiliki simbol, kemeja berdasi. Negara juga punya simbol. Simbolnya Negara itu, ya, Presiden.
Sampean-sampean, pasti sudah pada ngerti, kalo presiden saja sekarang ndak pernah pakai kemeja, berdasi. Apalagi jas. Paling-paling pakai jas, hanya untuk keperluan pelantikan dan sumpah jabatan, atau agenda sejenisnya yang bersifat formal. Atau lagi, jangan-jangan, nanti pas rapat kabinet hanya memakai kemeja putih dan celana bahan. Padahal levelnya presiden lo ya, yang memiliki kedudukan tertinggi dari berbagai simbol.
Lagi pula, orang cungkring yang jadi presiden itu, berangkat dari kalangan sipil (wong cilik), yang dulunya sering jualan Mebeel. Usahanya juga ndak tangung-tanggung, kelasnya ekspor ke berbagai penjuru negara.
Kemeja putihnya itu, sebenarnya bentuk perlawanan atas kepongahan para golongan papa secara duwit (ekonomi). Penampilannya, yang serba blak-blakan itu, aslinya ya sindiran yang bersifat halus.  Pendekatanya memang lembut. Zaman sekarang kan, memang nyaris ndak ada tauladan yang bisa jadi panutan. Tas Hermes berkeliaran mengantung di lengan emak Atut dan kawan-kawanya di persidangan. Di tambah lagi, arloji Swiss, yang melilit di lengan bapak Jendral.
Kita kekeringan, dan merasa garing akan pemandangan yang sederhana. Bandingkan saja dengan gue, yang hanya memakai gelang karet, koas oblong dan sarung.
Belum lagi, kita ini negara tropis lo, dimana angin bebas semilir bersliweran. Pakai kemeja saja sudah esis. Adem. Ndak sumuk.  Seumpama, kalo di ruangan tertutup,  terus pakai kemeja berdasi, merangkap jas. Lantas, AC-nya yang nyala sampai ndakik-ndakik, apa yo ndak mubazir?. Sia-sia, toh!. Wong ademnya, ndak nyampai nyentuh kulit.
Persis, apa bedanya dengan, nyalain AC, tapi pakai selimut sewaktu tidur. Logika yang serba jungkir-balik.
Jika suatu waktu, sang presiden bertemu di sebuah meja rapat dengan para jajarannya. Lalu kemudian, kemeja putih Pak Presiden, beradu dengan jas para peserta rapat di sebelahnya. Mungkin, saja para pesertanya akan bergidik, sesungkanan. Kalo di bayangin, wah…. pemandangan kontras tenan. Wagu. Gue kok jadi yakin, kemeja putih itu, akan menyetarakan meja rapat, lalu dari jajaran peserta, kemeja putih itu turun ke bawah, menularkan keteladanan.
Kalo pun, suatu saat nanti gue di undang ke istana kepresidenan oleh Pak Jokowi, gue cukup memakai sandal jepit, hem lengan panjang, lalu menyisir rambut supaya tampak rapi. Karna, kita bagian dari Republik ini untuk hadir mewarnai perjalanannya.
*Halah, ngipi jok duwur-durur, Cup. Jeblok benjot!.
Gambar ini di persembahkan oleh: www.solopos.com

Gambar ini di persembahkan oleh: http://www.solopos.com

SELAMAT JADI PRESIDEN PAK JOKOWI-JK, SEMOGA SAMPEAN BERDUA, ISO BERDUET MAUT PERSSIS KOYO JOKOWI-BASUKI MIMPIN JAKARTA. SALAM BLOGGER TRENGGALEK:
Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu
Facebook: Budi Santoso Totoraharjo
MERDEKA.
Iklan

5 thoughts on “Ada Kasta dalam Kemeja

  1. gatot berkata:

    Menurutku orang2 perlu direvolusi mindsetnya ttg pakaian. Jas lengkap resmi itu mengadopsi kebiasaan aristokrat barat modern yg punya pakaian bbeda2 untuk acara2 yg beda pula. Klo kita apa salahnya pakai kemeja di acara resmi? Saya setuju jika ada gerakan semacam ini. Pas acara manten baru2 ini, saya pake kemeja batik, celana jins item sama sepatu sneaker. Feel so relax krn manten adalah acara penuh kehappyan yg harus dinikmati dng relax. Tapi masih aja ada yg pake jas lengkap juga dan disematin bunga kecil di saku kiri. Weleh..Asal nutup aurat, perkara apa yg dipakai sah2 aja asal masih nyantol di batas normal aja…

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s