Hunyi di Kota Apel

Kampus UM 2. Foto: @NotedCupu Megalau

Kampus UM 2. Foto: @NotedCupu Megalau

Dek, rasanya hari ini, kamu begitu jauh. Sejak hari sabtu yang lalu kita memang ndak ada kata “Hallo” lagi. Mungkin saja, hari ini puncaknya. Apa yang aku harapkan, perlahan sirna. Omongan manis, di awal-awal dulu yang pernah terucap, bergeser menjadi puing-puing kenangan. Aku rindu sekali, dengn panggilan “Hunyii…  dan suara-suara rengekan manjamu. Tadi siang, sewaktu aku mampir di kosmu, kamu tampak cantik. Sungguh!. Ada gelang warna ke emasan, yang melingakari lengan kananmu. Aku dulu pernah berucap, aku suka atas ke serdahaanmu yang polos-polos saja…

Sewaktu aku tiba di depan kampusmu, aku senang karna kamu masih mau mencium tangan kananku. Atas bukti kecil ini. Aku yakin. Peristiwa ini pertanda bahkan, sinyal. Kalo, kamu masih sayang sama aku. Maafin aku ya, Dek, hari ini aku ndak membawakanmu makanan ke sukaanmu, Nasi Padang.

Hampir 30 menit kita duduk bareng di kursi plastik warna merah. Hari ini kita memang lagi sesunggukan. Sesekali aku memandang lentik bulu matamu, yang memanik-manik penuh dengan air mata. Kamu minta ini—itu, mengurai panjang lebar atas kesalahan yang telah aku perbuat. Sementara, aku mengangukkan kepala. Aku memang sengaja ndak menatap mu lekat-lekat, bukan aku menghindar. Tapi…. Aku hanya berusaha menjadi laki-laki tulen di hadapan kaum hawa.

Ada yang kurang hari ini. Kamu tahu?. Setelah aku berpamitan. Kamu langsung masuk ke kamar kos. Aku tahu, hatimu lagi murung sekali. Sedih. Kantung matamu masih berembun. Bahkan, kian deras. Tapi… tadi, hatiku juga awut-awutan seperti nasi goring yang serba jungkir—balik…

Ndak ada sepatah kata pun yang keluar dari ke dua bibirmu. Aku pulang dengan kegetiran di sepanjang jalan. Aku sangat rindu, ucapanmu perihal sifat ke ibuanmu, “Hunnyi….. Pokoknya kelo ke sini jangan naik motor, bahaya”
Kini, yang ku rasa: hanya bahasamu saja yang berlogat resmi. Yang aku dengar hanya ngawang-ngawang. Diplomatis. Sebatas, manis di bibir. “Hati hati di jalan ya”. Cuma itu saja yang ku dengar. Ndak sampai masuk ke hati.

Tahu kah kamu? Sepanjang jalan Malang-Pandaan-Pasuruan-Sudarjo–Surabaya, air mataku lebih deras mengucur ketimbang uap keringat yang keluar dari badanku. Pilu sekali. Aku ndak fokus nyetir. Dikit-dikit aku berhenti, lalu menepi di pinggir jalan. Aku sibuk menyeka air mata yang terlanjur tumpah, dengan sebuah masker warna merah muda hasil dari pemberianmu. Pedih…..

Masker Merah Muda, tapi tak balik iki @NotedCupu
Masker Merah Muda, tapi tak balik iki
@NotedCupu
Sesampainya aku tiba di Surabaya, kau nyaris ndak pernah menanyakan tentang keadaanku. Ndak ku dengar, sekelumit kalimat candu, “Hunyiii…. kalo sampek rumah, langsung istirahat yaaaa, terus mandi….. abis itu telfon akuh.”,

Kering sekali hari ini.
Rasanya perjalanan panjangku hari ini sia-sia belaka. Aku merengek, kalo aku masih sayang sama kamu. Tapi kamu sudah ke buru ndak mau. Ndak mau balikan. Sorot matamu tampak fokus. Ada sinyal kalo kamu memang masih marah sama aku. Mulai dari kemarin aku memohon, kita balikan lagi seperti sedia kala. Memanggil dengan sebutan “Hunyi-hunyian Lagi.

Sudah lewat lebih dari 48 jam. Tapi tndak kunjung ada hasil. Bahkan lampu ijo pun ndak tanda-tandanya. Mungkin… kalau seperti ini terus aku yang akan merasa kelehan. Harus sampai kapan?. Ndak ada kejelasan. Padahal semua butuh ke pastian. Mungkin jika seperti ini terus. Aku yang akan mundur, Dek. Buat apa berjuang sendirian. Bertahan terlalu lama. Mencintai hati yang sudah pergi itu, pedih sekali rasanya. Sepi.

Jujurrr… Aku slali nangis kalo ingattt.. kamu sakit kemrin, Dek. Kamu hanya bisa terbaring lemas. Aku senang bisa menjagamu dengan sehelai kain kompres.  Semoga apa yang aku kerjakan ini ndak sia-sia. Tapi aku iklas, jika sampean memang sudah berniat mau peergi. Pergilah…. dek.

Biarlah, percikan kenangaan perjalanan kemarin, aku masukan ke dalam kardus. Yang tersisa hanya ingatan sekilas tentang, Pak Sopi dan Mobil Box,  ngumpat secara halus ke aku, lantaran aku menyalipya dari arah kiri. Lalu dia banting setir, ke kanan. “Kalo naik mator, kalem-kalem wae le!’. Celetuknya.

Ada saatnya, kenangan manis itu memang harus di bereskan, lalu di masukan ke dalam kardus-kardus kosong. Selebihnya, biar mobil box itu yang membawanya untuk di daur ulang. Cinta memang begitu, ada masanya untuk datang, lalu ndak disangka-sangka ia pergi tanpa pamitan. Jatuh cinta adalah perkara momentum. Mungkin kalian sedang berbeda waktu lepas landas
Ini Tangan gue Gosong, perjalanan PP Surabaya-Malang. Demi Cinta Mennnn!
IMG_20140903_165228
Surabaya, 04 September 2014—
Di Pojok Kamar Sebuah dinding Rumah Kontrakan.
Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s