Monolog Gagal Terbit

ini naskah gue yang gagal Terbit.

ini naskah gue yang gagal Terbit.

Awalnya, gue kira menerbitkan buku itu perkara gampang-gampang susah. Apa lagi kalo sudah lama menekuni dunia blogg sampai bertahun-tahun. Otomatis, kalo blogger sesepuh, sudah punya pembaca tetap. Berarti punya fans base tersendiri. Punya segmen, pembaca yang bisa dituju. Marketnya sudah terbentuk.
Ada jejak pendapat, yang menyebutkan. Kualitas tulisan, bisa di bilang semakin matang, kalo semakin tinggi jam terbangnya. Blogg itu kalo di konsep secara serius. Betul-betul bisa menjadi sebuah brand, lho. Banyak blogg, yang punya karakter unik yang berujung pada ganjaran kontrak penerbitan.

Dan ndilalah. Sampai saat ini, belum pernah ada editor yang nyasar ke blogg gue. Ancen yoo, belum mujur. Belum beruntung.

Sejarah mencatat. Blogg adalah brand bagi pemiliknya di ranah pembuatan karya. Sekaligus, medium yang ampuh untuk menggaet penumpang gelap di dunia maya. Misal, blogg gue ini. Konsepnya #NotedCupu Mahasiswa Imigrand di Belantara kota. Mengusung tagline “Di Bawah Lindungan AC yang Terkutuk”.

Berarti konten gue juga harus mathcing (gatok) dengan temanya. Kata mahasiswa dan anak kampung akan menjadi premis utama yang menarik untuk slalu dibedah. Tagline tersebut, terasosiasi dengan kalimat atau kata turunan : anak muda, mahasiswa di kampus, perjalanan anak desa di kota, maupun kata-kata lain yang brandingnya dibenak pembaca, gue adalah mahasiswa ndeso.

Kembali ke blogger. Rajin membuat konten digital virtual. Di tambah lagi, karakter sebuah tulisan itu, akan terbentuk seiring makin seringnya untuk terus mengasah kemampuan menulis.

Sebagai seorang yang gemar optimis. Gue kira, draft calon buku yang gue kirim beberapa bulan yang lalu bakal berbuah manis.  Dan bakal lolos saja di meja redaksi. Ndak tahunya, malah apes!. Sewaktu gue sedang asyik bekerja, di depan layar komputer, hp gue berdering. “Hallo… selamatt siang. Dengan Pak Budi, Pak ini ada paketan dari penerbit di Jakarta”. Ujar mbak-mbak JNE di ujung telfon sana.

Mendengar kata penerbit dan paketan buku, hati gue semerbak girang nun sumringah bak seperti habis makan sambel sego tiwol. “Oocch.. iya mbak, biar di ambil pacar saya. Soalnya saya lagi di Surabaya,”Jawab gue, resmi.
Memang waktu itu, gue tempelin alamat domisili sesuai KTP, biar gampang pas nerima paketan balasannya.  Setelah kurang lebih, genap 20 hari mendekam di meja redaksi, embrio buku gue bergeser, pindah ke tangan Marni (nama pacar gue yang di samarkan). Di rumah Panggul sanalah, kabar perihal nasip naskah gue terkuak. Di balik map warna cokelat itu, tersiar kabar, “Bang, buku mu di koreksi banyak banget, banyak yang salah, aduhhhhh. Nggak diterbitin ini”. Ujar, sang Marni.

Sejurus kemudian, kecrewetan gue menjalar dengan rentetan pertanyaan tajam bak magazin yang meluncurkan amunusi. “Hah?. Gak percaya. Masak banyak salahnya sih?. Salahnya dimana?. Yang salah apanya?. Masak nggak diterbitin?”.

“Thuuu kan, banyak omong, entar lebaran kalo pulang, lihat aja sendiri” pungkas Marni, menukik.
Praktis, di atas kursi putar itu, gue hanya bisa melongo menatap layar komputer. Hanya pemandangan wajah demek, sebagai ungkapan kegetiran. Sesekali, gue bergeser ke kiri-kanan, memutar-mutar di atas kursi layaknya orang kebingungan. Bener-bener bengong. Gue…. Nyaris, mendadak berubah menjadi wong ling-lung.

Rasanya pengen segera tahu, yang salah dibagian mana, apa saja yang perlu di koreksi. Seumpama, alamat balasan gue cantumkan di rumah, Pak Lek, di Kelurahan Keputih, Surabaya. Mungnin saja, gue bisa cepat berbenah, dan mengejarnya lagi….

Keinginan untuk menyebar luaskan karya melalui jalur penerbitan, nampaknya ndak semulus Wedus piaraan gue dibelakang rumah.

Selama kurun waktu dua tahun, gue ngerawat naskah itu, menimang-nimang kesana kemari di gendongan. Lalu membesarkannya penuh rasa kasih sayang, tanpa memberikan seteguk air susu. Pagi-Siang-Malam, gue rutin merawatnya, memoles bagian-bagian yang masih benjot untuk menambalnya. Sempurna.

Perjuangan itu semakin terasa, ketika harus menembus 160 halaman lebih. Kalo tengah malam tiba, gue jahit sulaman yang sumbing. Paginya. Gue review lagi, pola-pola kalimat yang melenceng. Lalu berbenah lagi
Begitu terus, sampai beberapa waktu. Ndak capek, hanya rasa asyik yang membuat gue betah dengan situasi seperti ini. Mungkin ini yang di sebut, passionit.

Biarpun sudah memeras keringat, keberuntungan ternyata masih belum menghampiri. Betapa memilukannya, hanya butuh beberapa menit saja untuk menuai kabar finalnya. Gagal terbit (brojol). Pasca, tahu nasip naskah gue gagal lahir melalui penerbit. Tekad gue, Setidaknya bisa lahir sesar di jalur mayor label, indine.

Mulanya, gue emang ngebet banget kok punya karya selagi masih kuliah. Itung-itung bisa membawa nama harum kampus. Orang tua, dan Tukiyem — nama kambing piaraan gue. Sewaktu kuliah di D3 kemarin, praktis gue garing, ndak ada yang bisa dibanggain.

Tapi mujur (beruntung) juga sih. Bisa menjadi anak Internship Reporter di Tempo. Disanalah, tempat paling keramat dan gilani untuk belajar menulis. Menurut bukunya bang Han, CEO GE Indonesia, neng Tempo itu pabriknya wartawan-wartawan handal.

Ya, walau pun, gue disana belajarnya masih ngelamut-lamut (tipis-tipis). Masih seumuran jagung. Banggalah, #tepuk-tepuk dada. Hobyy bisa tersalurkan sesuai laju jalannya.
Awalnya, gue ngarep begini: seumapa buku gue mangkal di toko buku, otomatis royalti mengalir, dapur mengepul. Keuangan gue bisa terbantu. Cari rezeki, kan ndak harus duduk di atas kursi, lalu berpakaian formal. Pasalnya, kebutuhan juga semakin ke sana, semakin numpuk. Gue harus bayar SPP sekolah S1 gue,  dan kebutuhan ini-itu yang se-abrek.

Ho’oh, gue sekarang terdaftar sebagai mahasiswa S1 Manajemen bisnis, semester tujuh kelas malam di STIESIA-Surabaya.

Sepertinya, gue harus realistis. Apa yang gue umpamakan, ndak teralisasi sesuai rencana. Menekuni dunia menulis, kalo orientasinya royalti memang pahit. Manisnya, sewaktu ada pembaca yang nyamperin, lalu menepuk pundak gue, “Wah.. tulisanmu bang, bikin ngakak banget, tapi kok bahasanya campuran sih, kadang ada yang nggak mudeng nih”. Fiuh!.

Itulaah sa”at bangga menekuni dunia blogger, tiba-tiba sewaktu gue lagi enak-enaknya jalan di tempat umum, langsung ada yang nyamperin. Seraya punya teman yang banyak. Bener-bener nggak yangka.
Gue ndak harus menganjurkan, teman-teman disini membaca karya gue, atau beli buku jenis ini dan itu. Pilih karya yang kalian mau nikmati dan senangi untuk di baca. Dengan cara sederhana seperti itu, kalian bisa membantu mendukung para penulis di Indonesia untuk terus berkarya. #Tsaah.

Usut punya usut. Supaya, kemampuan menulis gue ndak lapuk ke makan rayap, terus berbagai perlatan journalistik, seperti camera DLSR tetap berfungsi. Gue berniat terjun secara profesional, di jalur independet,
Gue akan menjual kemampuan menulis gue dan fotografi dengan menerbitkan konten #NotedDemo. Konten bertarif murah, bak kacang goreng ini, di desain untuk program PRO UMKM. Dimana, dalam #NotedDemo ini, menjual konten virtual marketing kreatif, lengkap dengn foto produknya.
INI EKS CAMERA SEWAKTU MENJADI INTERNSHIP WAKTU DI TEMPO DULU.

INI EKS CAMERA SEWAKTU MENJADI INTERNSHIP WAKTU DI TEMPO DULU.

Untuk membuat kontennya. Tentunya gue perlu melakukan lawatan kunjungan, ke rumah Si Empunya, bisa ke pabriknya langsung, lalu berbincang-bincang dengan pemiliknya. Terus kowe ngapain, Cup? Sebagai praktisi, tugas gue akan meng-endorses brand yang bertumpu pada character. Mengupas ke unikan, yang berorientasi pada differentiation.

Supaya apa?. Agar brand awarnes-nya semakin kuat di benak konsumen. Kalo brand sudah dikenal konsumen, dan mulai masuk dalam ingatannya memorinya, peluang untuk menjadi brand dengan kategori : Top Of Mined, sangat tinggi.

Di abad ke 21 tentangg Web 2.0 ini, tugas blogger seperti gue, dalam mengemas konten #NotedDemo ini adalah, menuliskan sebuah artikel yang berjumlah di atas 1000 karakter, di kemas dalam ulasan yang fun, asyik dan renyah, sehingga membuka komunkasi dua arah — horizontal. Yang pada akhirnya, konten #NotedDemo ini akan ngangkring di halaman pertama pada mesin pencari, Google.

Bukan tidak mungkin, Elektronik Word Of Mouth akan menjalar, dan bergemuruh di dunia maya. Dan inilah kedigdayaan era internet. Google adalah sales ampuh untuk mengkampanyekan sebuah produk. Masuk akal…! Blogger mempunyai peran krusial untuk mengaduk-aduk isi perusahaan Anda.

Nanti,  konten #NotedDemo ini di rilis dimana, Cup?. Di blogg ini dan di Kaskus id #NotedCupu. Bisa juga, di web klien, apa bila sudah mempunyai website sendiri.Untuk sementara, gue akan melayani klien, di Seputaran wilayah Surabaya. Monggo, Mas, Mbak Pak dan Ibu sekalian,  maos (ngebaca) poster di bawah ini.
POSTER LAPAK #NOTEDDEMO
POSTER LAPAK #NOTEDDEMO
Iklan

4 thoughts on “Monolog Gagal Terbit

  1. ALVI ALEVI berkata:

    Tenang. Gue pernah ngerasain punya satu naskah yg ditolak 4x. Sekarang lg masukin naskah berikutnya gara2 naskah yg lama udah gak trend lg. Tetap semangat broo.. Salam kenal.,

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s