Jomblo Penunggu Kandang Kambing

memunah sebelum bunting

memunah sebelum bunting

Hampir genap tiga tahun gue menamatkan jenjang SMA. Selama itu pula, gue belum pernah merasakan nikmatnya kencan malam minggu dengan seorang gadis. Sungguh, kemirisan yang teramat pilu, plus hina. Tapi yang jelas, gue laki-laki tulent dengan seperangkat senjata meriam yang masih berfungsi. Tidak bisa di pungkiri, kadang kala kesepian itu cukup mengusik ketenangan.

Beruntunglah, ada cara lain mengusir sepi dengan meniti kesibukan. Saat itu kandang belakang rumah berisi seekor kambing pesolek bergender betina. Profesi bapak, dan ibuk, sebagai algojo alias penjagal hewan, memaksanya untuk punya peliharaan penjaga kandang. Peran kambing betina di dalam kandang, cukup untuk menenangkan puluhan ekor kambing jantan yang haus akan belaiaan di kala malam. Praktis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dengan sukses, kambing betina itu menjadi madu di sarang penyamun, hingga perutnya pun bunting.

Belakangan gue tahu, kalau itu kambing belum di kasih nama, untuk memudahkan pemeliharaan sewaktu ngasih rumput hijau, gue memberikannya sebuah nama yang cukup fenomenal.

  •              Maemunah!.
  •              [Lebih keren dari nama gue sendiri]

 Pada sebuah senja di pemantang sawah. Kerap kali menjelang sore tiba, sehabis gue pulang sekolah, tangan kanan membawa sebilah sabit, tangan kiri membawa karung. Ke dua peralatan ini cukup mendukung asumsi, bahwa, gue sudah mirip sebagai gembel level kelas teri. Sepanjang tegalan sawah, di musim kemarau, gue bergriliya mencari rumputan hijau, yang ngumpet di sela-sela ranting tanaman kacang. Ada dua peranan sekaligus yang gue jalankan. Di saat gue ingin berbakti dengan orang tua, di saat itu pula, gue merasa berperan sebagai pencari nafkah (makan) kebutuhan si Maemunah.

 Gue tak sendiri. Ada kawan sepantaran yang seprofesi dalam urusan rerumputan ini. Temen gue ini bernama Paijo (Paijo: lebih jelek dari nama kambing gue). Usut punya usut, Paijo ini temen segank gue di SMA. Kebetulan rumah kami bersebelahan. Di lingkungan masyarakat agraris, berternak adalah pekerjaan sampingan. Keseimpulannya, antara gue dengan Paijo, ada ke cocokan yang sama: suka miara kambing!

Saat melakukan perjalanan, menuju ladang rerumputan, kita melakukan dua rutinitas sekaligus. Pertama: sambil jalan kita mengigit kacang tanah mentah, hingga bijinya muncrat. Ke dua: melakukan perundingan kecil, di sepanjang jalan, mencari cara supaya karung ini cepat terisi. Rapat kecil ini, menentukan isi karung kita beberapa jam ke depan. Seberapa cepat karung ini  bisa terisi. Itu yang harus di pecahkan. Terus, strategi apa yang harus kita jalankan apa bila rumput jarang di temukan.

Perundingan kecil di atas tegalan sawah itu, mencapai kesepakan di antara kami. Hasilnya, gue berperan sebagai pengawas lapangan, (mungkin sekelas dengan mandor kuli bangunan), sedangkan Paijo, berperan sebagai sang algojo, esekutor lapangan. Apa yang kita lakukan?. Menggasak tanaman kacang tanah, mengambil ranting dan daunnya untuk mempercepat isi karung. Sedangkan bijinya, kita biarkan tertanam di tanah. Kemungkinan besar, kalau sampai ketahuan pemiliknya, orang itu bakal bilang.

 “DASAAR..  BOCAH.. LAKNAT”

Saat kami bergerak di ladang persemakmuran petani agraris. Kita berperan atas tugas masing-masing. Paijo mendekam, sembari duduk, di hamparan tanaman kacang tanah, lalu parangnya menebas-nebas, secara liar. Semantara, gue berdiri, melihat kesana-kemari, mengintai jika ada orang yang mencurigakan datang mendekat. Benar saja, di ladang rerumputan itu, kita suda sejam lebih, tapi ke dua karung belum terisi penuh. Senja semakin bergelayut, angin darat mulai berdesir, awan putih mulai berarak naik ke atas bukit, pertanda semakin sore. Dua karung berukuran jumbo cap ayam, masih setengah terisi.

“Aman oe, Jo, tenang saja. Lanjutkan!” gue membuka laporan hasil pengintaian, memastikan kalau medan perang sudah bersih dari ranjau manusia hidup.

“Eh, Cup, sebelum karung terisi penuh, berdoa dulu yuk, biar entar ndak keracunan weduse ” ajak Paijo, yang langsung berhenti menebas.

Inilah hal kecil yang bikin gue takjub dengan Paijo. Di tengah-tengah aksi pembabatan hutan kacang secara ilegal, di hatinya masih terselip jiwa  kereligiusan. Sungguh, potret wajah-wajah bengis yang bertabur dengan kumpulan doa. Selama gue kenal dengan Paijo, dia sesosok remaja yang rajin beribadah. Tiap kali mau melakukan sesuatu, Paijo pasti mengawalinya dengan berdoa. Berhubung gue enggak tahu doanya, ya sudah gue baca doa sepasang suami-istri melakukan hubungan intim.

Begitu kita selesai berdoa, kita kembali lagi melakukan pencurian. Kali ini gue lebih hati-hati, berdiri di samping tanggul kebun. Biar gue bisa melihat secara leluasa, dan bisa ngumpet sewaktu-waktu ada orang yang datang. Dan Paijo, sukses dengan posisi setengah tiarapnya. Beberapa menit kemudian, karungnya Paijo terusu penuh.

 Gue seneng banget  oweeey!.

 Seketika mata gue terkejut, ediyaan, bekas perompakan kita terlihat trengginas sekali. Pepohonan kacang yang semula rata, berubah menjadi gundul, menghampar di sepanjang area, membentuk lingkaran. Hanya tersisa ranting-ranting di pangkal pohon. Persis seperti pohon bawang. Tegak tak berdaun. Saat setelah Paijo merapikan isi karungnya, mendadak beberapa meter dar arah belakang, ada yang manggil-mangil dengan keras…

“BOCAH EDIYAN… BERANI-BERANINYA NYURI DI KEBUNKU. AYO DUEL AEH?” lolongannya mencekam, sambil tangan kananya mengacung-acungkan celurit ke udara.

Spontan gue menoleh ke belakang, mengarah ke pusat sumber suara tersebut. Gawat, sirine mara bahaya harus segera di kibarkan. Badannya terlihat kekar, dadanya membusung, persis seperti bekas kepala sekolah SMP gue dulu. Di kepalanya tertanam topi ala koboi Meksiko. Sesosok gaek, bapak pemilik kebun persemakmuran tanaman kacang ini memakai kaos bergambar partai politik berlambang kebo.

 “JO, LARI JO, ADA KINGONG MENDEKAT” gue teriak kencang, sambil berlari menyabet karung cap jago.

Langkah seribu gue menghantam semak belukar di area perkebunan. Tidak peduli hentakan ke dua kaki, menginjak tanaman peliharaan atau parasit. Rute pelarian gue, mengarah seperti busur panah yang lurus. Dengan sekuat tenaga, jari-jemari kaki gue mencengkram tanah, lalu membentuk lompatan sepanjang setengah meter. Gue berlari seperti orang kesetanan. Setiap ada lubang di depan, pasti gue lewati dengan lompatan panjang. Persis seperti macan yang sedang berburu, Rusa di padang Savana. Mungkin kalo gue melihat ke belakang, bekas jejak kaki gue akan membekas membentuk garis lurus.

Ketakutan kerap kali membuat orang bertingkah di luar batas kewajaran. Jika dalam ke adaan normal, mungkin kaki kecil ini hanya sanggup mengayun sepelemparan batu. Ketakutan juga membuat nafas yang pendek menjadi panjang, acungan celurit bapak pemilik kebun menjadi daya pacu  lari selevel olimpade maraton. Setelah beberapa puluh menit berlari, jantung gue naik-turun, keringat gue bercucuran segede jagung. Hidung kembang-kempis, ngos-ngosan, segede sumbu kompor minyak tanah.

Pelarian akhirnya menemui titik ujung. Beruntung gue sampai di rumah dengan selamat. Baju menjadi basah kuyup bermandikan peluh air keringat. Gue bersandar di samping kandangnya Maemunah. Untuk mengeringkan keringat, gue menggunakan tutup panci sebagai kipas angin. Astaga, senja yang semstinya cantik, menjelma menjadi momok yang menyeramkan. Ogah, kapok nyolong, jangan sampai terulang kembali. Beruntung sore itu bapak gue sedang tidak ada di rumah. Aman dari bahaya introgasinya.

Melihat majikannya bersimbah keringat, dan membawa sekarung rumput, seketika, Memunah melolong.., mbek…, mbek…, pertanda dia sedang kelaparan. Spontan gue jadi mikir, ini yang majikan siapa, yang sekedar numpang siapa. Berikutnya gue kasih hasil tangkapan gue dari ladang persemakmuran tanaman kacang. Antara rumput murni dan daun kacang, gue campur aduk menjadi satu. Di tempat berceruk, berisi rerumputan, Memunah makan dengan lahapnya, tanpa menawari majikannya. Setelah makannya agak kenyang, Maemunah rebahan di lantai kandang berlapis kayu.

Ke esokan harinya, gue tengok Maemunah.

Gue cek kandangnya, untuk sekedar memastikan kalau pagi itu Maemunah sudah buang air besar. Namun apa yang terjadi?. Dam…., di lantai kandangnya, tercecer sebuah berak berwarna hijau muda. Sempurna!. Maemunah mencret. Gue shock. Takut aja, kalo gue sampai salah kasih makan. Kasihan sekali, ingusnya, meleleh dimana-mana. Masak ada kambing mengidap penyakit masuk angin. Yo ora masuk akal toh?. Melihat Maemunah  tergeletak dalam pesakitan di kandang, gue kabur pura-pura ndak tahu. Padahal emang gara-garanya, gue salah kasih makan. Saat waktu mulai beranjak siang, Paijo datang ke rumah, dia cerita kalo kemarin itu, dia ketangkap sama bapak-bapak pembawa celurit.

“Terus Jo, kamu di apain aeh sama orangnya?” tanya gue penasaran

“Ternyata bapak-bapak yang negur kita kemarin sore itu Cup, adalah  orang gila, yang gagal jadi anggota DPR. Makannya pakai kaos partai” balasnya sambil ketawa kepingkel-pingkel. Mungkin geli membayangkan gue lari kebirit-birit.

“Asu, sampean Jo!”

Akun twitter: @cupunoted

Pin BB: 24e6d9af
MAEMUNAH

MAEMUNAH

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s