Emak-Emak Bermulut Pindang

Emak-Emak bermulut pindang

Emak-Emak bermulut pindang

Terlahir di sebuah kampung halaman sono, membuat gue harus patuh terhadap tradisi yang ada di masyarakat. Gue di besarkan di sana, artinya, gue bagian dari budaya di sana juga. Sebagai anak kampong, gue harus ikut merawat tradisi nenek moyang. Masyarakat di sekitar rumah gue, masih memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Misal:

Saat Pak Sugimen,  punya hajatan mendirikan atap rumah pada haris sabtu. Pak Sugimen, tinggal lapor wae ke ketua RT setempat mengenai tanggal agendanya. Selanjutnya, Pak RT bakalan menindaklanjuti, menyebar informasi ke warganya, mengenai acara di kediamannya Pak Sugimen. Dengan hari yang telah di tentukan, siap-siap rumah Pak Sugimen bakalan bebanjiran tenaga relawan dari para tetangga.

Cukup mudah sekali mendatangkan tenaga suka rela di kampong halaman. Tenaga suka rela ini, ndak menerima imbalan sepeser pun. Bala bantuan mereka, murni gotong royong antar warga. Berazazkan, guyup rukun antar tetangga. Pak Sugimen cukup menyediakan logistik yang cukup untuk mensuplai tenaga mereka. Makan sehari tiga kali, dengan asupan wedang kopi beserta teh hangat. Itu artinya, perlu cadangan  beras segede gudang bulog untuk mensukseskan acara ini. Di jamin, sehari atap rumah berlapis genteng bakal kokoh berdiri. Pantes saja, posisi lowongan tenaga kerja, kuli, tergantikan dengan pasukan gotong royong.

Sampai saat ini pun, tradisi ini masih terus lestari. Dan ndak pernah lapuk ke makan zaman. Mungkin kerja paksa romusa zaman pendudukan Jepang, telah berevolusi menjadi tenaga gotong royong.

Masyarakat di kampong halaman gue, sebagian besar makaryo (bekerja) di sektor non formal. Sektor pasar, di dominasi pedagang bumbu dapur,  di sektor agraris di padati petani gurem, dan di sektor produk, di motori tukang pentol caos. Uniknya, mereka rela meninggalkan pekerjaanya sendiri, demi gotong royong, dan bisa berkumpul bareng tetangga yang lain. Dengan berkumpul seperti ini, mereka masih bisa tertawa lantang secara bersamaan. Rasa sosial solidaritas, bermula dari sini: gotong royong.

Ke kompakan mereka mencari sejumput duwit di bidang non formal, membuat mereka menjadi sesosok gaek yang sederhana. Istana mereka, hanya bangunan tembok tanpa sentuhan pernak-pernik. Lapisan dinding di bayak rumah, di pukul rata satu warna: kuning polos. Persis seperti, warna e’ek bayi. Ndak ada rumah mentereng seperti di kota-kota besar, seperti Surabaya. Yang ada, hanya rumah bertipe pribumi, pintu satu di depan, merangkap hilirisasi arus jalan kaki. Keluar masuk.

Penampakan wujud rumah yang standar ini, sungguh, merepresentasi dari ke adaan ekonomi penghuninya. Rumahku, wujud dari isi kantongku. Lantas, ke adaan ini bisa di baca lagi dengan situasi jenjang pendidikan anggota keluarganya. Usut punya usut. Menyekolahkan anak sampai bangku kuliah merupakan kemewahan tersendiri bagi mereka. Lantas yang terjadi, di kampong halaman sono, masih jarang anak-anak se-umuran gue, yang bisa kuliah. Sampai saat ini, kuliah menjadi kebutuhan yang amat mahal.

Anak-anak tetangga gue, yang terlahir dari tapal batas, ekonomi menengah, cukup mujur nasip pendidikannya. Mereka pada di suruh makan bangku kuliah, sampai ke luar kota. Perpindahkan lokal ini, yang sering gue sebut dengan istilah #Mahasiswa #Imigrand. Menariknya, mayoritas barisan anak kampung halaman, yang kuliah, keluar kota, rata-rata menjurus pada studi ke guruan, sama kesehatan. Kalo ndak bercita-cita jadi guru, ya perawat. Kalo ndak nyuntik pasien, ya ngajar.

Mereka memang niatnya mau menapaki karier di kampong halaman sana. Padahal, tiap tahun anak-anak yang kuliah di dua jurusan ini, jumlahnya penuh sesak. Sedangkan lapangan kerja, di kampong halaman, masih sangat terbatas. Kebutuhan guru dan tenaga medis, berbanding terbalik dengan banyaknya pasokan mahasiswa yang pulang kampung. Ketimpangan pun, kian melebar, seperti panu. Analisa dangkal gue, lalu mengerucut.

Begitu mereka lulus, mereka pada balik ke kampong halaman. Persediaan lapangan kerja yang minim, membuat sebagian barisan baru lulus, terpaksa gigit jari. Lama menunggu, pekerjaan datang, sebutan pengangguran kian menempel di pelupuk mata. Masyarakat pun akhirnya mulai apatis dengan sarjana yang balik ke kampung. Penduduk setempat, beranggapan, ‘Gawe opo kuliah, kalo ujung-ujungnya jadi pengangguran, akhire yo golek kerjaan angel”. Teori pesimistis, mulai tumbuh sumbur.

Bak kucing di lemparin pindang, masyarakat agraris doyan nyamber isu-isu sensitif. Barisan ibu-ibu yang hobi, meracau lantang, bareng tetangga, menjadi bubuk mesiu yang ganas dalam melontarkan gosip. Kalo sudah ngerumpi, isu yang berada di rumput tetangga, bakalan di samber, lalu di perbincangkan ramai-ramai. Isu keganjilan mahasiswa pengangguran, menjadi santapan empuk, di kala pertemuan dengan tukang sayur, dan gerombolan ibu-ibu lain.

Dari sinilah desas-desus pergunjingan itu bermula. Pertemuan antara tukang sayur,  beserta gerombolan ibu-ibu, menjadi pemicu, budaya rasan-rasan di perkampungan agraris. Andai kata, istri gue…, maupun calon pac (maaf, lagi jomblo), nanti suka gossip, pasti ndak tak kasih uang belanjaan. Biar kapok, iya toh?.

Iklan

6 thoughts on “Emak-Emak Bermulut Pindang

  1. Fier berkata:

    “calon pac (maaf, lagi jomblo), nanti suka gossip, pasti ndak tak kasih uang belanjaan. Biar kapok, iya toh?” bahahahaha, mantap lah ultimatumnya 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s