Sepotong Celana Dalam di Atas Kerupuk

merdekamakan_krupukMenyandang sebutan mahasiwa ‘luar negeri’ yang memlilih jurusan ekonomi, pada dasarnya gue harus ngerti, bagaimana caranya berhemat. Segala bentuk pengeluruan harus, ongko oriented: bahasa Indonesianya: mata duwitan. Maka dari itu, ketika ada tumpangan gratis dan ndak perlu ngeluarin duwit untuk bayar kos, gue seneng setengah mati. Sudah genap empat tahun lebih, gue numpang ngiler di rumah paman gue. Sebagai bocah perantau di tengah kota, untunglah, suadara gue di Surabaya bisa di andalkan. Sanak familiki, kerabat kotak dekat, juga nggak setuju kalo gue ngekos sendirian. Mungkin kawatir aja kali, kalo gue kenapa-napa. Pasalnya, gue ndak bisa masak, masak air aja gosong. Apa lagi masak makanan.

Entahlah, mereka saking sayangnya ke gue, jadi kelihatan parno ya. Atau malah gue sendiri yang parno. Tapi jenis kelamin gue kan, asli laki-laki tulen dengan seperangkat sarung, yang sudah ngerti bagaimana caranya menggunakan alat kelamin (selain di buat pipis). Biar ndak di kutuk jadi keledai, gue nurut aja sih, apa kemauan mereka. Lagi pula, termasuk ngikutin kemauan orang tua, biar di kira anak soleh. Bapak dan simbok, di rumah juga nyaranin untuk tinggal di rumah paman dan tante (dibaca: Bulek). Aslinya sih, rumah tante gue sebenarnya nggak terlalu jauh dari kampus, hanya 15 menit perjalanan saja, sudah sampai.

Alasan yang lainnya lagi. Tinggal bareng sama pak lek (om) dan tante (bulek), gue bisa hemat banyak banget. Rinciannya: di mulai dari makan nggak bayar. Tidur gratis, di lantai nomer dua. Air buat mandi dan minum, juga tanpa tarif. Tapi sayang, disini gak ada kali, jadi urusan pup sewaktu datang pertama kali kesini, gue agak canggung, biasanya kalo di rumah, pup di kali dengan air dingin yang keluar dari perut bumi, rasanya nikmat sekali, lha diini cobak, cebok aja pakek air NGEPet, kiriman PDAM.

Untunglah, bokong gue ndak karatan.

Sisi lain yang teramat penting lagi. Urusan makan, sehari kadang gue lebih dari porsi kuli bangunan, makan tiga piring menjadi sesuatu yang lumrah. Untunglah, Paman gue ini nyambut gawenya PNS, meski pun ndak punya lahan agraris, tapi punya lahan rezeki dari abdi negara. Kadang-kadang gue mikir juga sih, ngabis-ngabisin jatah beras gak, nih gue disini?. Masa bodo, dari pada gue kelaperan terus perut membuncit, entar malah di kira, kurang bahagia.

Gak salah juga sih, punya saudara banyak, ternyata konsep ala orang jawa dulu, banyak anak banyak rezeki, bisa dinikmati setelah di antaranya benar-benar menjadi ‘orang’ (sukses). Salutlah, sama kakek dan nenek gue dulu, yang dari perkawinannya menghasilkan lima anak. Memproduksi keturunan, bukan sekedar penyalur syahwat. Ketangkasan mereka mengolah malam, yang larut, patut di acungi jembpol ibu jari. Cucu bangga, sama kamu, nek-kek.

Hidup bersama di bawah atap rumah, kerabat, tak sepenuhnya, kantong aman lo, meski pun fasilitas serba gratisan. Kerap kali, kalo pas keluar duwit itu, ketika senja berkelana di sore hari, sewaktu gue harus nganterin purtri bungsunya ngaji di TPA sebelah rumah. Ceritanya, di saat seperti ini, gue sering di palakin anaknya buat beliin es cendol setiba sampai di halaman tempat pengajian:

“Bang, Bang, duwit dong, Lima libu doang?’ katanya setengah cedal, sambil menarik-narik celana gue. Andai celana gue, kedororan pasti langsung melorot, gondal-gandul kelihatan……, burungnya.

“Oh, dasar bocah mata duwitan, nih 2000 aeh, hustt… Sono pergi!’ balas gue, sambil menyuruhnya menemui abang-abang penjual es cendol. Pantes anaknya item, abisnya kebayakan makan es cendol.

Berpengalaman empat tahun tinggal bareng tante gue, sepetinya pengalaman itu, belum bisa di jual untuk mempercantik CV, mencari kerja. Yang ada mah, cocok untuk menekuni bidang Bebi sisther. Tapi untunglah, gue punya diari luna maya yang bisa gue certain di sini. Barang kali, kalo bejo, ada editor dan penerbit buku yang insap, mau ngelirik tulisan gue. Untuk kalian netizen, yang mau baca monggo silahkan, nggak mau baca, gue juga nggak rugi.

Back to the topik….

Dan anehnya, meski pun gue tumpangi selama empat tahun, mereka (om dan bulek) nggak merasa gue repotin. Waaaaah…, istimewa sekali. Saat gue sakit misalnya, bulek rutin bikinin gue segelas teh anget. Sesosok ibu yang jauh di seberang sana, hadir dalam bentuk lain. Bahkan, bulek gue, sampai membelikan obat ke warung segala. Iyap, inilah salah satu ke unikan orang jawa. Guyup rukun bebarengan.

Meski pun, sudah di anggap kayak keluarga sendiri. Kadang ikut saudara, tentunya sebagai mahkluk yang berperasaan, gue punya sisi ke ewuhan (canggung) tersendiri. Wajarlah, namanya juga manusia yang punya hati. Apa saja sih, yang bikin gue cangungg (nggak enak) ketika tinggal bareng saudara. Gini-gini, di laporan @Cupunoted edisi kali ini, gue akan ngobrolin pertanyaan itu. Poin-poinya akan gue beberkan…, bagi yang ngyimak di artikel ini, silahkan bentangkan tikar dan seperangat alat gaple.

  1. Telat bangun

Sebagai anak laki-laki yang masih bujang, tentunya molor tidur adalah kemerdekaan yang tidak boleh di renggut oleh siapa pun. Namun sayang, hal itu tidak berlaku bagi gue saat numpang di kediaman paman. Telat bangun subuh, hingga ketinggalan sholat, siap-siap gue bakal berhadapan dengan amukan kuda nil bengis dari Afrika sono. Lingkungan di kelurga tante gue, seperti pondok pesantren. Nuansa ke religiusannya, sangat kental kerasa. Maklum lah, tante gue memang jebolan pondok

Pernah pada suatu hari yang naas, di sabtu pagi, gue tidur pules banget sampai-sampai adzan subuh pun gue nggak kedengeran. Tidak bisa di pungkiri, karna waktu itu lagi musim kawin, alias musim hujan dengan suhu super dingin. Angin yang semilir datang dari luar, menyelinap masuk melalui celah-celah di antara kaca candela yang tidak tertutup rapat. Hembusan hawa sejuk yang menyergap, membuat gue semakin erat mengapit guling dan selimut…, sarung.

Tidur berlanjut, mala petaka pun siap menjemput. Sayup-sayup dari bawah tangga, gue denger tante neriakin gue untuk bangun. Hawa dingin telah menjelma, menjadikan telinga gue bebal. Teriakaan kencang itu, tak mampu menggoyahkan nikmatnya rasa ngantuk. Praktis gue pun menghiraukan begitu saja. Komando tante pun lenyap tanpa pelaksanaan. Teriakan ke dua pun menyusul..

“TANGII SUUUUU!’ seketika gue langsung kaget.

Terdengar langkah kaki, ketipak-ketipuk menaiki tangga. Gue masih saja, acuh, dengan setia mengapit sarung dan saudara sepupunya. Tiba-tiba, tante mengetuk pintu kamar gue beberapa ketukan. Ketukan pertama dan berikutnya, ndak gue tanggepin. Sebagai anak bandel, gue pun enggan untuk meresponnya. Ketukan ke tiga, bukan tangannya yang bergerak, tapi kakinya yang bermain. Brakkkkkkkkkk…! Dan tante berhasil merobohkan pintu berengsel itu dengan tendangan kaki kanannya. Wah, takjub, pintu kamar gue jebol. Mungkin jika posisi gue di perankan oleh seorang waria, kw, asal Trenggalek dan tante berperan sebagai Satpol PP merazia tempat mesum, si waria bakal bilang,

“Sek…, sek, sek, eikika tak ghawe sarung sek, deh booo”.

Hasilnya, gue di jewerr sampai telinga gue melar segede esbes..! Gila…, sumpah tante gue tenaganya kayak Samson abis makan kapor baros. Nah, ini yang bikin nggak enak. Tidur gue nggak bisa moloorrrrrrrrrrr.

2.         Pulang telat.

Lingkungan keluarga tante gue, emang mengajarkan kedisiplinan super tinggi. Padahal tante gue terlahir bukan dari kalangan militer tulent. Padahal, bapaknya saja orang tambak. Iya, bapaknya orang tambak, maksudnya kerjanya di tambak, bukan di tambak lumpur lapindo. Gitu!. Nah, ceritanya, disana tuh apa-apa harus ontime. Harus tepat pada waktunya. Makan pagi, harus ontime, jam 7 pas. Makannya tante gue tuh, rela bangun subuh buat masakin keluarganya, termasuk gue yang numpang disitu.

Bukan urusan soal makan dan sholat saja yang harus disiplin. Jam malam pun ikut di berlakukan, bayangin aja, gue jam 9 malam kudu harus sudah di rumah. Lebih dari itu, gue nggak bakal dapat pintu masuk. Alias nggak di bukain pintu. Pernah kejadian, gue ngerjain tugas di rumahnya Si Ucup sampai larut malam. Berhubung gue ngak bawa hp, jadinya gue ngga bisa laporan kalo pulang telat. Awalnya sebelum pergi, gue mau pamit, tapi gue urungkan niat itu, apa-apa mau pamit…, kok agak parno juga ya.
Entar gara-gara keseringan pamit, dikit-dikit musti pamit. Lak yo jadi kebiasaan. Kan parno juga, ngelakuin hal itu berulang-ulang. Bayangin, kalo mau ke kamar mandi aja mesti pamit.

“Tante, aku mau izin ngiseng ke kamar mandi, boleh ya?’

Pasti gue bakalan di keplak pakek sapu, karna gak sopan. Bisa benjol ini kepala.

            Nah, back to the topik.

Sepulang dari rumahnya Si Ucup, gue sampai rumah sudah jam 12 malam. Cukup larut malam untuk ukuran anak mahasiswa. Lalu gue ketok pintu sampai tiga kali, tapi sial, orangnya sudah keburu bobok pules. Mau mendobrak pintu, entar gue di kira mau ngerampok mejikom. Kalo diem aja, dan tidur di depan pintu malah di kira gembel emperan. Dan akhirnya, malam itu, gue tidur di kontrakan temen gue anak perkapalan ITS. Yahhh…, syukur deh. Selamaat dari ancaman sebutan gembel.

Ini—nih, bagian yang nggak enak itu. Ada jam malamnya!.

3.         Telat Mandi

Rumah tante gue ndak terlalu besar seperti istana kepresidenan di puncak bogor, juga nggak terlau kecil seperti rumah liliput. Bisa di bilang cukup. Cukup dengan dua kamar tidur di lantai satu, dan cukup satu kamar tidur di lantai dua. Itu pun yang menghuni cuma gue seorang. Cukup leluasa. Ruang dapur pun, harus berbagai dengan anak tangga dan kamar mandi. Minimalis memang, jadi, kalian bayangin sendiri sajalah, kalo pas dapur di buat masak dan ada orang hilir-mudik masuk ke kamar mandi. Sumpek.

        Pastinya.., ndak leluasa kan?.

Untu menghindari lemparan, tutup panci, makannya, ketika tante gue sedang masak, gue memilih untuk mandi belakangan aja. Nunggu masak airnya sampai selesai. Kenapa gue memilih mandi belakangan.., iya gue gak mau di bilang “bareng sinang”. Atau, bahasa resminya, ngriwuki, ngrusuhi, buat onar…., tawuran yuk.

Ada ceria seru, tentang hubungan gue dan kamar mandi. Pernah kejadian, senja itu di bawah langit yang teduh…, sekitar jam empatan, gue keluar dari kamar mandi. Iyap, karna waktu itu gue habis olahraga jogging di stadion ITS, makannya sampai rumah langsung ambil handuk. Kemudian meluncur ke kamar mandi, bersihin badan. Begitu kelar mandi lalu bukak pintu, ternyata tante gue baru saja selesai goreng kerupuk untuk makam malam.

Dan…, pemandangan saat itu, posisi blek (rodong) tempat kerupuk itu, tidak di tutup. Sementara, letaknya pun di biarkan tergeletak di anak tangga, terbuncit. Berhubung kamar gue terletak di lantai dua, jelas dong gue naik tangga melangkai blek isi kerupuk tersebut. Nah, pas sampai di kamar gue, lalu enak-enak makek baju. Tiba-tiba terdengar lolongan dari Tante.

“CUPU SEMPAK MU MASUK BLEK KERUPUK, YA AMPUN JOROKKKKKKKKKKKKKKKK!” teriakanya, histeris.

Lah, yang bener?. Saat itu, gue buru-buru cek, pakian kotor gue di bak. Ternyata bener, kolor sempak gue ilang, terlepas dari pasanganya celana pendek. Setelah gue turun tangga, pemandangan mengerikan menyambut di depan mata…, sepotong sempak warna ijo daun, menutupi blek berisi kerupuk. Mungkin bagi pecinta seni. Wah…, ini pemandangan keren. Setelah gue lihat dengan seksama, dengan indah, sempak gue mendarat nge-bekep kerupuk yang baru mentas dari penggorengan.

Gak mau gue masuk penjara, karna di sangka meracuni keluarga bulek. Hasilnya, kerupuk sekaligus bleknya pun, di buang ke tempat sampah. Lalu tante dengan enteng nyletuk.

“Pada takut keracunan sempakmu, makanya di buang semuanya”

Karna malu, gue langsung melengos naik ke tangga. Padahal kan sayang, mubazir banget buang makanan sembarangan. Nah, kejadian ini yang bikin gue nggak enak itu.

***

So, sampailah ke babak yang berbahagia ujung dari chapter ini.

Gue menemukan pandangan-pandangan baru, awalnya jauh dari orang tua itu, menakutkan, bakal kerepotan kalo sewaktu gue jatuh sakit. Gue harus ngerawat, diri sendirian dan segala bentuk kerpotanya sebagaimana orang tegolek di atas kasur. Tapi nyatanya, bulek gue berperan dengan sangat ke ibuuan. Seolah-olah sesosok ibu kandung gue, yang berada di seberang sana, hadir disini. Semula gue pernah, punya pandangan, punya saudara banyak itu awalnya memang kerepotan, banyak beban keuangan yang perlu di tanggung, tapi setelah mereka besar, dan mampu membuktikan eksistensinya, hidup serasa berdampingan dengan orang-orang tersayang… Memang, mata akan terbuka lebar-lebar setelah tabik persitiwa itu di lalui.

Iyah, ada ruang pemisah antara rasa ketakutan dan keberaian, ruang itu bernma ke tidak mungkinan dan ke tidak tahuan.

 sempakNenek

Surabaya, 11 Desember 2014.

Official personal website:                     www.notedcupu.com

Find me new account twitter: @Cupunoted (Sebuah Kicauan Randem Anggota                                                                    masyarakat #Aggraris, pembenci hawa dingin #AC)

Iklan

One thought on “Sepotong Celana Dalam di Atas Kerupuk

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s