Lidah Petani di Meja Eropa

pizza di tanggal tua

Pizaa Petaniiiii

Namanya Rella, nama lengkapnya Rella Febriana. Namanya cukup populer di level kota kecil, sekelas kecamatan Panggul, semenjak rambut keritingnya lima tahun yang lalu, hingga kini berubah menjadi model seperti iklan shampo, ke populerannya naik beberapa peringkat. Semenjak dia sudah mulai bisa dandan, dan merapikan rambut, paras cantiknya tidak bisa dibendung. Yang lebih menarik, di area pipinya tanpa meggunakan sentuhan bedak cap Zebra Kros. Yes, natural. 

Tapi sayang, semenjak dia lulus SMA hingga kini lulus kuliah, dia masih tetap jomblo. Lho, kecantikan reputasinya tidak bisa di anggap remeh. Buktinya, sudah genap ratusan cowok yang ia tolak. Malah-malah, sepekan yang lalu, dia menolak anaknya pejabat. Padahal si anak pejabat itu, hidupnya mentereng, kesehariannya serba mewah, kuliahnya saja di Solo ambil jurusan perawat. Bayangin, kalo kuliah pakai mobil mercy, kalo pas di rumah, malah hoby-nya nyupir trek. Kurang apa cobak, di zaman yang serba matrelistis seperti sekarang ini. Harta benda berwujud, sering membuat hati wanit sering kepincut. Terus kuliahnya kini bablas ndak kurusan. Mungkin sibuk nyupir truk.

Stop, jangan lanjut dulu, kok kowe ngerti segala detail tentang Rella, bang Cupu?.

 Ngerti banget, lha wong Rella ini tiap ada apa-apa cerita ke gue. Kita sahabatan, semenjak Rella masih SMP, SMA, Kuliah, sampai sekarang. Resep awet menjalin persahabatan itu lantaran kita saling berbicara dengan mendengarkan. Mulut dan telinga kita saling bercocok tanam di ladang frekuwensi telfon dan ketemuan. Kalo anak muda zaman sekarang, lebih pas menyebutnya dengan istilah: curhat. Usia kita memang sepantaran. Sama-sama masih mudan, dan masih unyu-unyu. Dia baru saja dilantik menjadi sarjana S1, sedangkan gue baru saja melanjutkan jenjang s…, sudahlah. Bedanya, gue masuk nominasi orang populernya di dekade 2010-an ke atas, setelah melewati repuasi terburuk, keseringan di tolak cewek, semasa SMA.

Bedanya lagi, Rella penyukai makanan olahan cepat saji seperti yang kita kenal. Pasti pembaca yang budiman, sentosa dan bermartabat, sudah tahu betul apa yang gue maskud. Sedangkan gue, boro-boro senang makanan juck food, misal kalo di traktir saja, gue milih duwitnya doang. Di bidang kuliner, lidah kita memang sudah beda kasta. Gue masih tetap setia dengan makanan jawa kuno, seperti gaplek, dan getuk telo. Si Rella, gemar sekali lidahnya bersentuhan dengan stick daging setebal ubin mushola. Di sektor peremajaan, Rella kerap kali, langkah kakinya mengayun di pusat perbelanjaan modern. Mungkin bisa  dibilang, cewek gaul masa kini. Sedangkan gue, kerap kali berjalan kaki di tegalan sawah yang penuh kubangan lumpur dan suara kodok kawin. Ngok…., ngokk…!..

Jelas, meski pun dia masuk nominasi kriteria lirikan mata gue, dengan kategori enak di pandang. Tapi perbedaan itu tidak bisa di tawar. Kesederhanaan dan kemewahaan itu, bersebarangan jalan. Ada ruang pemisah bernama kerpibadian yang tidak bisa mengubah ke adaan. Tapi justru, itulah gue mengangkat Rella sebagai dokter move on, pribadi gue. Saat galau datang mengusik, gue pencet tombol nyuplik berwarna hijau terang, dial, lalu kita saling bilang “Hello” kemudian bercakap-cakap sampai lupa waktu. Sejak bulan September yang lalu, Rella menyerahkan total ke dua telinganya untuk mendengarkan ocehan suara hati yang di kecewakan.

 Deretan pengalamanya yang panjang tentang menolak berbagai macam tipikal laki-laki, kemungkinan besar, saran dan masukannya bisa gue pakai. Ternyata benar, kalimat-kalimat saktinya, seperti “Cing, ini saatnya sampean kudu balik, cukup sampai di titik ini sampean bertahan, buat apa ngarepin orang yang gak mau di harapin” — bener, di saat seperti itu, gue butuh banget masukan yang rasional. Kadang gue memang betul-betul tuli, makannya butuh pecutan dari orang terdekat agar telinga gue cepat tersadar. Karna gue, suda terlalu lama berjalan sendirian.

 Sebagai dokter move on pribadi gue, Rella tidak pernah mematok berapa tarif yang musti gue keluarkan dari balik isi dompet. Mungkin isi kantongnya sudah tebal, ibuknya, meraup rezeki di ladang disektor formal, abdi negara — PNS guru SD. Sedangkan bapaknya, pekerja di industri tambang emas, negara Kuwait sana. Selama tiga bulan lebih, September, Oktober, Nopember, dan yang masih berjalan ini, Desember, nyaris hampir genap empat bulan, telinganya slalu ada waktu untuk mendengar kersiauan gue. Pertengahan bulan Nopember kemarin, gue ulang tahun, genap yang ke 23. Untuk acara perayaan, melalui pesan pendek, BBM, Rella minta di traktir, gue pun menawarinya makan di resto D’Cost, yang konsepnya makanan rumahan. Jadi cocok, dengan lidah gue sebagai anak yang bermukim di sektor agraris–pertanian.

 Belakangan, tiga hari setelah hari jadi gue, tepatnya hari Sabtu, rencana dirubah kembali. Sebelum berangkat, Rella ngajakin gue, makan di Resto Eropa dengan masakan olahan cepat sajinya. Iya, sudah gue ngikutin apa maunya, itung-itung balas jasa ke baikannya. Repot memang kalo, urusan makan dengan orang populer, padahal, sudah berkali-kali gue tegaskan, gue ndak begitu suka dengan jenis makanan cepat saji, seperti jenis Juck Food. Saat gue jemput dia, di rumahnya Mbak Yayuk (baca: buleknya), dia muncul dari balik pagar trali besi, dandannya…, jauh dari kata anak populer: makek kaos oblong, celana skini jens, sama jaket lepis dengan warna yang sudah tayumen. Ini apa bedanya dengan anak Punk. Tapi saat poninya mengibas-ngibas di hembus angin, mirip sepetti Gadis-gadis Thailand yang suka cawe-cawe di tepian sungai Entikong.

 Lalu sampailah ke tempat yang berbahagia itu…

 Sewaktu kita masuk, di depan ada petugas mbak-mbak berseragam yang ngebukain pintu lalu mengucapkan: “Selamat datang kakak, selamat siang kakak, silahkan kakak,” katanya, kayak mas-mas Indomaret.

Kita, mendapatkan pelayanan yang super ramah, gue hanya bisa senyum canggung dan menjawab dengan suara medok. “Ihhhyuo.. Mbuaakh..” kata gue, lalu ngibirt gitu aja mencari tempat duduk yang masih kosong. Di salah satu, sudut ruangan resto, akhirnya, kita memilih tempat duduk di pojokan sendiri. Gue terhenyak saat melihat sebuah pemandangan aneh, di atas meja, terdapat empat buah piring warna putih, beserta sepasang sendok, garpu dan pisau. Tak lama kemudian ada mbak mbak petugas yang datang, menghampiri lalu bertanya.

“Selamat siang kakak, perkenalkan nama saya Widi, mau pesan apa kakak?. Ini buku menunya!” katanya sambil menyerahkan buku menu, sebanyak dua jenis. Belum sempat kita menjawab, mbak-mbak pelayan ini ngomong lagi. “Maaf kakak, cuma berdua saja, kalo iya, saya rapikan dulu mejanya, biar tinggal sisa dua piring, buat kakak-kakak”

“Oh…, iyaa Mbak” saut Rella, sambil melirik muka gue dengan aneh.

“Permisi kakak, saya rapikan dulu mejanya” katanya, lalu mengambil dua perlatan makan kemudian di letakkan di atas nampannya. “Sudah kakak, pesan apa?”

 “Delight Personal Pan Pizaa, terus minumnya Blue Oceaan dua ya, Mbak” pesan Rella. Sambil menunjuk gambar makanan yang tertera di buku menu.

 “Baik kakak, sudah itu saja, ada yang lain?”

 Kita manggut-manggut, oke.

“Di tunggu sebentar makanannya lima belas menit akan sampai, kalo ada apa-apa cukup panggil Widi. Baik kakak, boleh Widi tinggal”

 Hening.

 “Baik kakak, boleh Windi tinggal?’ katanya sekali lagi, dengan senyum yang super ramah.

“B–eeboleh mbak” jawab gue, agak gagu.

Seumur-umur gue makan, di atas meja, mentok-mentok selalu muluk pakek tangan kanan. Lha ini, di depan gue ada pisau, garpu dan sendok. Tinggal ngasih, kambing hidup satu di atas meja, bakalan gue sembeleh, lalu dagingnya gue cincang, untuk di bakar.

Mbak-mbak pelayannya juga terlalu baik, dikit-dikit minta izin, lalu gue mulai berimajenasi, seandainya saja gue adalah perampok bertopeng, yang ngegasak restoran cepat saji ini, mungkin mbak-mbak pelayan ini bakalan bilang. “Baik mas perampok, boleh Windi bantu barang apa saja yang akan di ambil, baik mas perampok, kalo sudah capek, pesan minum apa, biar Windi ambilin?” dan jika saat ituu, gue terkena tekanan darah tinggi, gue bakalan langsung kena serangan struk.

Betapa baiknya mbak-mbak pelayan ini. Sehingga membuat gue agak parno. Biasanya gue nongkrong paling keren dan populer di warung angkringan-nya Pak Badio, yang merangkap sebagai pemilik sekaligus, pelayan bagi pelanggan yang datang lalu bilang,

 “Jam segini baru nongol, pesen opo cuk?”

Dengan lahapnya, sepotong demi sepotong irisan pizza itu, masuk ke mulut Rella, kemudian mengunyahnya dengan mimik muka “enyak-enyak’. Dia berhenti mengunyah ketika tangannya memegang sisa secuil gigitannya yang terakhir, lalu di gelatknya garpu itu ke sebuah piring yang terletak di demanya.

 “Enek,” katanya.

“Cemen lo” jawab gue.

Sedangkan gue, sepotong saja belum habis. Iya, kita sama-sama anak cemen yang salah nongkrong ke tempat populer. Lidah kita memang di desain untuk menikmat makanan jawa kuno, dengan berbahan dasar rempah-rempah yang menggunung. Lalu mbak-mbak pelayanyan yang tadi, matanya menatap ke arah kita, kemudian berjalan mengarah mendekat.

“Gimana enaak, kakak?” tanya-nya disertai senyum yang lebar.

“Bungkus saja deh mbak!’ jawab gue.

Mbak-mbak pelayan itu, kemudian mengambil sisa pizzaa itu dengan nampan, lalu, kemudian membawanya pergi ke belakang. Hingga beberapa menit kemudian, ia muncul kembali dengan sebuah tangan kanan-nya yang membawa bungusan plastik berwarna putih. Senyumnya masih tetap ramah seperti yang tadi, super ramah, lalu meletakan bungkusan tersebut secara pelan, di ajas meja kami. Kemudian, ia minta izin untuk pergi lagi.Lalu pikiran gue mulai menerawang. Kemungkinan besar, mbak-mbak pelayan ini bakal ngerti kalo kita anak gaul yang kurang di gauli.

Ini makanan yang gue beli kemarin. @cupunoted [www.notedcupu.com]

Ini makanan yang gue beli kemarin. @cupunoted [www.notedcupu.com]

 Official website: http://www.notedcupu.com/

Akun twitter: @Cupunoted

Iklan

4 thoughts on “Lidah Petani di Meja Eropa

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s