Suara Senyap Pak Camat Dan Kenalpot Brong

DSC_0016

Foto: Suasana depan pendopo kecamatan Panggul, penuh dengan anak-anak gaul masak kini, yang kelewat kegaulen sampek bloon, 01 January 2015 [@Cupunoted]

Sejak kapan pergi ke belakang, di identikkan dengan pup (baca: ngiseng). Tidak ada yang tau kejadian persisnya. Sama halnya, dengan, sejak kapan perayaan tahun baru di identikkan dengan kembang api dan mercon. Juga tidak ada yang tahu. Zaman kolonial belanda, ketika nenek gue masih semuda dengan Luna Maya, perayaan tahun baru hanya menggunakan obor bermerk oncor yang terbuat dari, bambu sebatang ros, dengan berbahan bakart gas minyak tanah. Lalu, pada tengah malam tiba (entah jam berapa, karna waktu itu belum ada jam), oncor itu di tiup dengan pipi yang menggupal penuh udara. Puh…. biyar pet. Kemudian tidak ada pesta makan-makan, hanya ada, kain bernama jarek lalu krukupan, dan tidur pulas sampek pagi tiba.

Saat peradaban kian populer, dan di dominasi orang yang lupa umur. Perayaan pergantian tahun baru, lebih hinggar-bingar di rayakan. Yang menarik, pada tahun ini saja, di kota Surabaya, tempat dimana gue bertapa dibawah lindungan AC yang terkutuk, perayaan di tahun baru di tiadakaan, diganti kirim doa bersaama atas tragedi jatuhnya pesawat Air Asia #QZ8501. Keren, buat Bu Risma yang telah menggaungkan, rasa empati terhadap sesama. Bandingkan dengan kampung halaman gue, Panggul, perayaan tahun baru jauh lebih atraktif, barisan anak muda suka mainan bunyi knalpot. Oke, sebentar, gue kasih ucapan dulu buat mereka: “Selamat tahun baru penduduk, udah capek mainan gas sepedah motornya?. Pinter, abis itu sekermu jebol. Kapok. Heh, kampungan.” #LagiDiBajakDodit.

Meski pun bocah yang suka narik-narik gas dengan knalpot brong itu bikin budek, dan bising, tapi bapak-bapak montir yang bekerja di perbengkelan di untungkan lo. Ke esokan paginya, motor mereka bakalan pada masuk bengkel, bisa karena ganti seker, atau ganti knalpot yang jebol. Atau ganti oler gas. Karepmu duit nyidok nek sawah opo piye nang. Musibah bagi, bapak-bapak yang anaknya pada ndablek, tapi, berkah bagi para barisan bapak-bapak pemilik bengkel di pinggiran jalan.

Perayaan tahun baru di kota Panggul, ini sepi–mampli, mungkin karena Pak Camatnya dan barisan jajaran-nya, lagi berkabung, atas tenggelamnya pesawat air asia, barusan. Tapi kok ya, suasana berkabung kok ndak ada sepanduk, atau himbauan secara tertulis maupun secara lisan. Biar lebih menjiawai, dan kompak di ajak doa bersama di depan pendopo kecamatan. Ah, ndak masuk akal kamu itu Bang Cup[u]. Jangan ngawur!. Yang jelas, Pak Camat dan barisan jajaran-nya lagi bokek, ndak punya duit buat bikin acara yang meriah untuk umatnya. Setidaknya letak, ke ayeman umat di suatu daerah, di pengarhui oleh cara local leader-nya yang lihai dalam membahagiakan penduduknya. Mungkin lo ya, mungkin. Lha wong kembang api yang sempat meledak di udara, saja, ndak sampek bertahan lima menit. Habis itu, ndak ada cadanganya lagi. Sepi.

Lalu orang-orang yang berkerumun di depan pendopo kecamatan pada, mlongo.

Ledakan kembang api di depan kecamatan, kalah rame dengan suara knalpot brongnya anak-anak petani. Tangan kekarnya yang biasa di gunakan untuk, mencangkul di sawah, di gunakan untuk narik gas, hingga saking kenceng tarikan gasnya, ada anak muda yang motornya sampek melompat, terus nubruk motor di depan-nya. Brukkk. Pesok?. Rasaainnn!.. Orang-orang yang kesal, pasti bakalan bilang, nyukurinnnn dengan cibiran mulutnya yang meruncing. Kasihan sebenarnya, ibu-ibu dan bapak-bapak di repotkan dengan ulah anaknya yang kelewat gaul. Tapi, ndak jauh dari kediamaan, tempat Pak Camat berdinas, gue melakukan perayaan dengan bakar-bakar.

Foto bakar-bakar, dari kiri, Rella  kemudian Mae---munah. @Cupunoted

Foto bakar-bakar kemarin, dari kiri, Rella kemudian Mae—munah. @Cupunoted

Mae, dan Rella, gue berdayakan untuk membakar ikan tongkol dan irisan daging ayam yang telah di siapkan. Di atas arang yang membara, tangan mereka lemah gemulai mengibas-ibasnya kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Dua sesosok gadis [singgle perent] dan jomblo itu, sangat menikmati peran barunya sebagai pembantun gue. Perayaan tahun baru kali ini, berlangsung di ramah bapak, ibunya Si Mae. Ini pertama kali gue, main ke rumahnya setelah beberapa tahun kita ndak ketemu selepas lulus SMP.

“Putranya siapa, Mas?’ tanya Pak Boedi, bapaknya si Mae, yang sangat ramah sambil tersenyum dan kumis tipisnya mengembang saat gue baru tiba di depan rumahnya.

“Jumiran, Jagal Sapi Pak, sumerep?’

“Iya, tau, Pantes, tampan kayak bapaknya’’ pujinya, sambil menatap fokus muka gue.

“Ah, bapak juga tampan, anaknya juga cantik” gue juga ndak kalah memuji.

Untung Pak Boednya ndak jawab begini, “Ya, sudah nikahin saja si Mae, Mas!”. Pasti gue bakal, kejang-kejang seperti almarhum Dono sewaktu gagal nikah sama anaknya Pak Dosen itu, dalam film Warkop DKI [entak gue lupa nama judulnya]. Parno banget kalo di tanyain sama orang tua, yang baru di kenal, terus pertanya’annya serba pengen tau. Perasaan orang tua dimana-mana emang wajar, orang tua tanya begituan.

“Cantik, tapi Mae itu, kurang cakap milih laki-laki, Mas!’ serganyahnya.

“Si Mae, suruh ke depan pendopo kecamatan Pak, disana laki-laki banyak, mlumpuk jadi satu duduk di atas motor, tinggal pilih mana yang cocok,”

Lalu Pak Boed ketawa lebar-lebar, kemudian nyletuk. “Mana bisa di arepin laki-laki macam begituan!’’ katanya. “Mana mungkin saya menyerahkan Mae sama anak yang suka brong-brongan, setidaknya kriterianya calon suami Mae, sama kayak kamu, Mas. Iya, kamuhh!’’ sambungnya.

Lalu hening……

Mungkin tampang gue yang necis, rapihh, dan bertopi kayak mas-mas penjinak banteng liar, di anggap lebih punya nilai jual dalam mensejahterakan gadis-gadis cantik. Ini bukan zaman, perempuan di sarang penyamun. Sekarang pilihan lebih banyak. Hanya butuh mematok, kriteria: sandang—pangan—papan. Padahal, di sebelah sana, yang ndak jauh dari kediaman Pak Boed, ada sesosok pejabat yang necis, berbalut jas, yang ndak bisa mensejahterakan [baca: ayem] umatnya di level kecamatan. Padahal, Pak Camat kan, ndak di tuntut tiap hari kudu bikin ayem umatnya.

Coba saja, pas ke rumah Mae, gue memakai kaos oblong dengan celana pendek. Mungkin penilaian-nya akan sangat lain. Kita kadang sering terjebak atas busana yang kadang memang tak perlu di peredebatkan. Hanya sebatas simbolis semata yang mudah tergiur. Lha wong Bob, sadino pengusaha kaya raya itu, yang punya Kem Chiks, kemana-mana kerap kali meakai kolor kok.

Ini tahun baru, bagimana cara menyemai harapan agar tetap lestari dan ndak lapuk atau pasang surut di makan zaman. Wong manusia itu, ndak bisa hidup sedetik pun tanpa harapan. Laki-laki yang di nilai itu, kan bukan busananya, iya memang awalnya itu, tapi coba lihat lebih luas, yang jelas, bagaimana daya dobraknya dalam memperjuangkan apa yang telah tersusun dalam rencananya. Harapan itu, bukan sesaat seperti knalpot brong-brongan-nya, yang habis perayaan, langsung hilang terus lenyap. Harus tetap di rawat, dan dibesarkan. Bunga yang tumbuh di halaman rumah, akan terus mekar dan harum, jika senantiasa di rawat dan di pupuk dengan air. Harapan juga harus di pupuk dengan semangat. Sama seperti, sebatang besi, tidak akan pernah menjadi pedang, jika dia tidak pernah menghadapi api, tidak menantang godam. What doesn’t, kill us, makes us stronger. Gitu.

Jadi, apa resolusi sampean mbak, mas, bapak dan ibu pejabat sekalian?.

Panggul, 01 Januray 2015

Official Website: http://www.notedcupu.com

Bang Cup[U] edisi tahun baru, dengan topi baru: @Cupunoted

Bang Cup[U] edisi tahun baru, dengan topi baru: @Cupunoted. Salam orang tampan.

Iklan

4 thoughts on “Suara Senyap Pak Camat Dan Kenalpot Brong

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s