Tempat-Tempat Tak Bernama

TEMPAT-TEMPAT TAK BERNAMA [@CUPUNOTED]

TEMPAT-TEMPAT TAK BERNAMA [@CUPUNOTED]

Di tengah-tengah gue menyelesaikan proyek buku yang pertama, pada bulan September sampai akhir tahun 2014. Selama itu juga, gue kerap kali berpindah-pindah tempat mau pun lokasi untuk mendukung ide-ide keren di kepala gue bermunculan. Tempat-tempat itu, ada yang pernah gue datangi sebelumnya, ada juga yang baru pertama kali gue datangi ke sana. Setiap tempat yang sering gue kunjungi, gue kadang merasa bosan dengan suasana yang di tawarkan dalam ruangan itu. Lalu gue pun mencari tempat baru. Namun, kadang tempat baru itu pun, juga tidak selalu menawarkan kenyamanan.

Hanya berbekal mencoba, tempat-tempat baru itu, sejenis kafe berkelas khusus anak muda, buku pertama gue lahir secara otodidak. Dan kafe yang gue jadikan sebagai tempat pertapaan, kadang rekomendasi datang dari teman-teman kampus. Kadang juga, karna pilihan gue sendiri, yang gue dapat sewaktu gue melintasi jalan-jalan keliling Surabaya, lalu menemukan kafe yang sepertinya cakep, pasti ndhak bakal lama, tempat itu bakal gue kunjungi. Cepat atau lambat. Namun, kemudahan mencari tempat-tempat baru yang nyaman, tidak selalu di imbangi dengan pertemuan dengan perempuan-perempuan yang nyaman.

Gue tahu, untuk menjadi penulis hebat, tidak di hasilkan dari situasi yang nyaman-nyaman saja. Layaknya penulis hebat, yang pernah gue idolakan. Gue mengerjakan proyek buku pertama, sampai larut dini hari. Kadang gue sampai tertidur, di depan leptop gue. Atau kadang, leptop gue yang tertidur di depan gue: loh. Karna, mitos yang selalu berkembang di dunia menulis, semakin banyak bergerak dan berpindah, bakal semakin banyak cerita yang bisa gue peroleh. Sebab, menulis, adalah proses menceritakan peristiwa yang pernah di alami.

Di mulai dari kafe yang pertama: yang teletak di Jalan Arif Rahman Hakim, saat hari sabtu dan minggu tiba, kadang gue menulis di sana. Tentunya sembari membawa leptop gue, yang gue kasih nama Si Semar. Kalo betah, kadang gue di sana sampai beberapa jam, dan habis beberapa botol jus soda pink, lengkap beberapa potong donat rasa singkong. Tapi, pada suatu hari itu, persisnya pada malam minggu, pertengahan bulan September 2014. Gue hanya sanggup bertahan sejam menulis di sana. Setelah gue menulis, dan menghasilkan beberapa halaman, datanglah dua sejoli anak muda. Mereka duduk, persis di depan meja gue. Awalnya, mereka hanya sesekali ngobrol kesana-kemari dengan tingkah-polah yang biasa saja. Tapi, setelah mereka asyik saling menyuapkan makanan, tangan mereka ikut bergandengan tangan, dengan mesra. Gue pun awalnya, tidak menghiraukan hal itu. Tapi, setelah mereka melakukan adegan, sama-sama saling cium kening. Mendadak ide menulis gue seperti tersumbat, saat dua orang anak manusia itu bilang…,

“Bunda, kita bakal kayak gini terus kan?” kata Si Cowok, sambil memegang kenceng tangan sang pacar.

Uhm, janji,” jawab Si Cewek itu. “Bunda gak akan ninggalin Ayah kok.” Lalu Si Cowok itu, mencium kembali kening sang pacar untuk yang ke dua kalinya, sambil matanya merem-melek.

Kepala gue mendadak jadi buntu. Konsetrasi gue jadi buyar seketika. Bukan karena terkena hawa dingin AC yang ada di ruangan itu, tapi karena merasa geli dengan sebutan tadi. Di tempat umum, dua pasang anak manusia, yang entah berantah namanya, sewaktu pacaran mereka memakai sebutan “Ayah dan Bunda”. Yang menurut orang jawa bilang, itu nyleneh (baca: absurd) banget. Padahal, sewaktu gue pacaran, mentok-mentok gue panggil, Paijem dan Paimen. Karna hubungan yang belum resmi di tangan Pak Pengghulu, sangat-sangat tidak lazim memanggil sang pacar dengan sebutan Ayah, Bunda, apa lagi di tempat umum. Dan yang perlu kita ketahui bersama: panggilan dengan sebutan sayang, cinta, beby, kelak suatu saat, bakal dipanggil juga sama Tuhan. Jadi, bersikaplah sayang yang sewajarnya, dan seperlunya.

Lalu, gue bergegas, merapikan charger-nya Si Semar dari colokan. Memasukkan ke dalam tas ransel. Saat tas terbuka, di saku dalam terselip sepucuk surat cinta ucapan ulang tahun dari kekasih gue yang dulu. Mungkin kenangan meminta masuk, untuk di ingat kembali. Hem.., gue pun membiaran surat itu tergelak sendirian di dalam tas. Bersikap biasa. Tapi kemudian, gue berjalan ke arah kasir, meminta bill. Setelah mendapatkan, struk tagihan, gue berjalan ke arah parkiran depan, membuang struk tagihan tadi ke tong sampah. Dan berikutnya, gue pun mencoret kafe yang belum gue tahu namanya itu dari daftar, tempat-tempat yang tidak memberikan rasa nyaman. Dari tempat itu, gue mendapat pecerahan, ingatan indaah tentang rasa kenyamanan yang pernah gue jalani dengan pacar gue dulu, berakhir di tong sampah.

Yang entah nanti di pungut kembai, atau di pungut oleh orang lain. Alam semesta yang berkehendak menjawabnya.

Tempat ke dua, berada di jalan Pemuda, lokasinya ada di dalam bangunan gedung Mall Delta Plazza. Ada daya tarik tersendiri, kenapa gue rutin ke kafe itu. Gue tidak terlalu memperhatikan nama kafenya. Jadi gini, awalnya, begitu gue tengok dari luar, dan merarasa cocok dengan desain interior-nya, bokong gue jatuh hati untuk segera duduk dalam ruangan itu. Tempat duduknya yang empuk, beserta satu set meja yang tidak terlalu tinggi, membuat gue betah berlema-lama di sana.

Pekan pertama bulan Oktober 2014, gue kesana sendirian. Menurut rerncana, temen-temen gank kampus sebenarnya mau ikut, tapi gue larang, entar ndhak malah nulis, tapi gue malah di ajakain ngerumpi. Bisa kacau gue. Pasalnya, malam itu gue kena target dead-line untuk merampungkan satu bab berjudul: “Penantian di Seberang Telfon”. Jadi bener-bener, harus ekstra fokus, henpon juga gue silient untuk beberap jam ke depan.

Sampai di sana, masih terlalu sore, sekitar jam tujuhan, selepas Adzan Isyak. Para pelanggan kafe juga belum begitu rame. Kunjungan tamu masih sepi. Saat gue berdiri di depan pintu masuk, gue melirik kesana-kemari, mencari lokasi tempat duduk yang cocok. Hanya membutuhkan beberapa detik, lalu gue memilih tempat duduk, yang berada di pojok sendiri. Karna gue percaya, tempat terbaik menulis adalah ketika mendapatkan lokasi yang jauh dari tempat mbak-mbak kasir. Bukan menjadi rahasia umum, kalo suara mesin cetak bill itu berisik kan?. Nenek yang berada di panti jompo mah, juga tau, Bang Cup[u].

Selepas mbak-mbak, menaruh pesesanan gue, secangkir minuman occean blue karbonese (baca: gue ndhak tau ini minuman jenis apa) dan sepotong donat rasa singkong getuk telo. Gue berhenti menulis setelah memperoleh lima halaman, dan pada halaman berikutnya, untuk memulai paragraf baru, ada data tambahan berupa nama jalan yang sangat penting untuk gue masuk kan. Namun sayang, ingatan gue buta soal nama jalan itu. Satu-satunya yang bisa gue laku kan adalah…, menelfon ajudan gue, Si Pido, yang berada di Malang sana. Kemudian, jempol gue menggeser scroll henpon ke arah nama bertuliskan Arpido Sulastri.

Tut…, tut…, tut… Deringan telfon sebanyak tiga kali yang sempat menunggu itu akhirnya bisa masuk.

“Do, lo tau kan, jalan tempat dia kos sewaktu bimbel itu?. Nah itu jalan apa namanya?” tanya gue, bergegas.

“Jalan Bandung, kang”

“Serius?” tanya gue, memastikan.

“Iya, Jalan Bandung kang!”

Klik. Telfon lalu gue matikan dengan segera tanpa ucapan terimakasih. Sulastri…, eh Pido maksudnya, iya Pido tau kalo malam itu gue kejar dead-line sebelum ke esokan harinya draft buku pertama gue, bakal gue kirim ke Jakarta. Sepotong donat yang berada di sebelah Si Semar, tinggal sisa-sisa cuilan yang siap di makan semut. Minuman dalam gelas berukuran jumbo yang semula penuh, tinggal separuh bagian. Ndhak kerasa, malam itu waktu cepat berjalan. Para tamu kafe pelan-pelan bergegas meninggal kan tempat duduk-nya, lalu mendekati mbak-mbak kasir untuk menebus bill.

Gue masih menikmati detik-detik terakhir sebelum kafe yang tak bernama itu tutup. Justru di saat-saat terdesak seperti ini, ide-ide cakep bermunculan. Di tahap finish-ing pada sebuah bab: “Penantian di Seberang Telfon,” gue menemukan closs-ing cerita yang sangat menyentuh. Adegan dalam penutup cerita itu, asli, tanpa gue buat-buat. Di sesuaikan berdasarkan kejadian otentik pada awal bulan Juli 2013. Letak kebahagiaan penulis adalah, ketika bisa menemukan endi-ing yang bisa menggugah emosi pembacanya.

Tiba-tiba seorang mbak-mbak pelayan dengan muka tirus, mendekat ke meja gue.

“Mas, mas,” katanya. “Maaf kafe mau tutup lo, sudah jam 10?” katanya, sambil tersenyum ramah ke arah gue.

“Iya, tau kok mbak, bentar ya mau beres-beres leptop dulu,” jawab gue.

“Bole saya bantu bereskan?” Mbak-mbak pelayan ini menawari bantuan. “Mas langsung saja, ambil bill-nya di kasir ya?” lanjutnya, sambil tangannya menunjuk ke meja kasir.

“Boleh-boleh, baik saya ke kasir dulu ya mbak!”

Setelah sempat ngobrol beberapa singkat, dengan mbak-mbak pelayan tadi, ternyata dia bukan pelayan, tapi malah atasan-nya pelayan. Mbak-mbak tadi bertugas sebagai manager operasional di kafe yang tak bernama itu. Namanya Laras. Gue taksir, usianya satu tahun di atas usia gue. Laras tau kalo gue sering ke kafe-nya untuk menulis, dan menghabis kan beberapa jam di sana. Ternyata dia selama ini, pengamati pelanggan maupun orang-orang yang baru datang ke kafe-nya. Dan gue, termasuk salah satu orang yang dia amati dari sekian banyak tamu yang datang.

Sebelum sempat berpamitan untuk balik, Laras menyodorkan kartu namanya, gue pun ndhak kalah hangat, dengan balik memberikan kartu nama gue balik. Lambaian tangan kanan, dari kejauhan mengisyaratkan gue meninggal kan kafe yang tak bernama itu. Pelan-pelan gue jalan ke parkiran, sambil memegang erat kartu namanya Laras. Gue baca, di sana tertera berbagai informasi berupa: nomer telfon, pin bb, alamat dan info kantornya. Setelah gue balik kan kartu nama itu, ada coretan kecil dari pulpen warna hitam yang berbunyi:

“Aku pembaca blogg-mu Bang Cup, stay humble and keep inspiring ya’’

Hehehehe…, astaga, ndhak nyangka gue. Di tempat-tempat tersembunyi, yang tidak bisa gue duga sebelumnya, tempat-tempat yang tak bernama itu, bisa gue jumpai orang-orang baru, pembaca gue, yang bakal gue kisahkan selanjutnya. Yang bisa berpeluang sebabagai pacar gue berikutnya, atau bahkan jodoh gue yang memang sedang bersama dengan orang lain. Pada sebuah kebetulan, dibalik kafe-kafe yang tak bernama itu, gue harap suatu saat akan memberikan peran lebih yang tidak sekedar kafe-kafe yang tak bernama, tapi saling mengucapkan nama satu sama lain — di antara orang yang tak bernama. Ada ceritanya dan perannya masing-masing mengenai tempat-tempat yang bikin kita nyaman, bakalan lebih lama menghabiskan waktu di sana, karna kenyamanan membuat betah untuk bertahan.

Dan, dibalik tempat-tempat yang tak bernama itu, draft buku novel yang gue kasih nama: #Transit, akhirnya lahir, lalu ke esokan harinya gue kirim Jakarta. Baik-baik kamu sama editor-nya ya?.

Cakep ya?.

Cakep ya?.

Surabaya, 18 January 2015

Iklan

20 thoughts on “Tempat-Tempat Tak Bernama

  1. naniknara berkata:

    Saya juga sering tuh denger ucapan mama papa dari sepasang anak berseragam sma. Biasanya saya langsung nyaut “mama papamu dirumah, buruan pulang sana”

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s