Sepotong Pesan Untuk Orang Bertitel

Saat masih kecil. Di waktu pagi tiba, menjelang mau berangkat sekolah. Ibu rutin menyisir rambut kita di depan cermin sebelum berangkat sekolah. Gue inget banget, suasana moment penuh asupan kasih sayang ini, sempat gue nikmati, saat masuk sekolah Taman Kanak-Kanak hingga, gue memasuki Sekolah Dasar, kelas satu. Berikutnya, saat waktu terus berjalan, secara pelan-pelan, seriing dengan masa pertumbuhan, ibu meletakkan sisir itu di depan cermin, moment berharga itu mulai lenyap. Sisir yang semula biliau gunakan, untuk merapikan rambut gue, kini gue sendiri yang harus melakukan-nya. Ada pesan, yang ndak perlu ibu sampaikan secara langsung: bahawa gue sudah besar.

 Sejalan dengan beban tanggung jawab moral yang mulai lepas satu per satu. Di lain sisi, tanggung jawab materi, yang diberikan orang tua kepada anak, semakin gemuk berkembang. Tidak bisa dihitung, sudah berapa kali gue meminta uang saku ke nyokap. Juga ndak bisa dihitung, berapa kali, nyokap membelikan pernak-pernik, peralatan sekolah sepeti tas, alat tulis, baju, dan kolor. 

 Puncak-puncaknya, beban materi itu memenuhi titik klimak saat memasuki bangku perkuliahan. Orang tua, kerap kali di todong beban biaya, SPP, biaya pangkal atau uang gedung, biaya makan, biaya hidup untuk sewa kos, dan lain sejenisnya. Mungkin uang sekolah dari zaman bayi sampai, kuliah kalo dikumpulkan bisa berangkatin umroh orang sekampung. Untuk orang tua yang materinya sugeh-blegeduh, mungkin enteng-enteng wae dengan rentetan biaya tadi. Tapi, untuk mereka yang lain, yang ke adaan ekonominya serba pas-pasan, kadang dibikin pusing. Kalo ndak cukup, kadang bisa cari utangan kanan-kiri. Mengetok ke pintu kerabat dekat, bisa tetangga, bisa juga ke kantor penggadaiian.

 Selepas lulus kuliah, ndak jarang anaknya yang malah pusing, menenteng ijazahnya kesana-kemari mencari pekerjaan. Dunia kerja yang memang seperti gadis perawan di sarang penyamun, membuat persaingan antar berbagai lulusan kampus semakin berdesak-desakan. Bagi sebagian sarjana bermental bayi kemarin sore, dunia kerja yang kadang keras, dan ndak mudah untuk di takluk kan, membuat mereka pontang-panting, lalu bilang ke orang tua: cari kerja susah.

Sudah keluar uang banyak, untuk sekolah dari play group sampai kuliah, tau-tau, selepas lulus, nasip tak selempeng yang idam-idamkan. Di zaman yang serba canggih dan berlimpah informasi, seperti sekarang ini. Ternyata, masih banyak orang di luar sana, yang beranggapan, kuliah menempatkan posisi penting: faktor utama dalam memburu pekerjaan. Tapi, setelah ijazah sudah di genggam, dan pekerjaan ndak kunjung menghampiri, orang-orang seperti ini akan sangat-sangat frustasi. Bagi gue, sekolah adalah wahana untuk menuntut ilmu, dan tempat bermain untuk meng-up-garde, pola pikir.

Pola pikir yang akan membawa kita terhadap, hamparan samudera yang luas, bahwa mencari pekerjaan dan mengembangkan karier, ndak melulu, dari dibalik kubikel kantor.

 Untuk orang tua, yang papa secara ekonomi, ndak jarang, membelikan pekerjaan untuk anak-anaknya selepas lulus. Barisan orang berduit, yang miskin pengetahuan dan pekok ini, menyogok ke berbagai sektor, melalui oknum bajingan di instasi pemerintahan, maupun ke sektor swasta. Anggapan-nya, dengan menitipkan uang yang di tukar dengan pekerjaan, sayang terhadap anak akan lebih tampak ke permukaan. Seyogyanya, sayang orang tua terhadap anak, cukup dikasih keteladanan tentang hidup di atas garis perjuaangan.

Tapi ada lho, orang tua yang pekoknya kebangetan, lalu pringas-pringis, kemudian memasang mimik muka: buat anak, biar dapet pekerjaan enak. Hal ini pernah gue temukan di awal-awal bulan September 2014, salah satu tetangga gue, yang sugeh blegeduh, malam itu datang ke rumah, dan bercerita tentang anaknya yang lulusan Sarjanah, akan di ikut sertakan masuk CPNS dengan jalur suap. Pengakuan-nya, sudah menyetor duit 230 juta ke oknum yang entah-berantah namanya. Setelah Si Tetangga ini, cerita lengkap soal seluk-beluk pat-gulipatnya dengan oknum bajingan, gue hanya berkomentar.

 “Yakin, sampean ndak di tipu, lek?”

“Yo was-was juga toh Cupuh, tapi BPKP mobil Avansa-nya sudah saya bawa lo sebagai jaminan, toh bukan aku aeh lo yang setor, ada 27 orang di kecamatan ini yang ikutan”

“Wah.., ediyan tenan.” Gue njumbol seketika, mendengar jumlah sebanyak itu. Ternyata di kampung halaman gue, orang pekok banyak juga. “Beh, kaya mendadak tuh Pak Oknum, Lek” saut gue, sembari mesam-mesem duduk di lantai. Bapak dan Sulung yang duduk di atas kursi sofa. Pringas-pringis. 

“Nanti seumpama, jabatan yang di janjikan ternyata ngapusi, anggap saja uangnya sodakoh Lek” kata gue ke tetangga itu. Kemudian gue berlalu meninggalkan ruang tamu. Obrolan tengah malam tentang tipu-tipu itu, akhirnya berlanjut sampai dini hari ketika gue bablas merem di kamar.

Belakangan setelah pemerintah pusat sana resmi mengungumkan penerimaan pegawai negeri, pada salah satu website yang mencakup seluruh wilayah nusantara. Ndilalah, kampung halama gue ndak membuka jalur penerimaan CPNS. Dari hal ini, bisa di pastikan, kalo penipuan itu mulus di lancarkan, dan telah mengelabui orang-orang sarjana yang pekok. Ndak cukup itu saja, jauh-jauh hari sebelum kabar Si Tetangga tadi gue terima. Mantan pacar gue dulu, juga cerita kalo salah satu kerabat jauhnya, seorang Dokter Gigi, juga melakukan hal yang sama. Menyetor, sejumlah uang ke orang oknum–yang punya akses kekuasa’an demi sebuah pekerjaan.

Ndilalah-nya lagi, salah seorang teman dekat gue, yang pernah gue ceritakan di blogg ini, selepas lulus kuliah sarjanah-nya, di tawari kerja di salah satu Bank BUMN oleh oknum bajingan yang mengaku sebagai orang dalam perusahaan — yang ada di kampung halaman sana. Dengan catatan, menyetor uang sebanyak 40 juta. Untunglah, setelah temen gue tadi cerita panjang lebar tentang tawaran prestisius tadi, gue pun menasehati dengan mulut bawel berdasaran pengetahuan yang gue punya.

“Wong cari kerja kok nyogok, rumah kita di kampung, tapi setidaknya kelakuan kita itu jangan kampungan. Apa bangganya dapat kerja dari hasil nyogok. Nanti kalo kamu di tanyain anakmu: “Ma, mama dulu kerja di bank tesnya gimana?”. Lha terus, kamu mau jawab apa hayo?” tanya gue ke temen yang baru lulus tadi.

 “Bajigur, kamu ini Cupuh, sudah tampan tapi cerdas. Bener-bener, kalo nyogok ndak ngalami nikmatnya berjuang ya Cup(u). Oya, iya, kenapa aku ndak mikir kayak kamu ya Bang Cupuh” jawabnya, sambel geleng-geleng kepala.

Setelah cerita-nya tentang pernyogokan tadi berlalu, beberapa bulan berikutnya, temen gue tadi keterima kerja di sebuah kantor mentereng berlabel akuntan publik terkemuka di Surabaya. Apa yang bisa dibanggakan, dari pekerjaan dengan cara culas dan praktek kotor seperti ini. Kalo ikutan nyogok, iya namanya kita ikutan komplotan bajingan juga toh?. Hayo yang bernai jawab tidak, tak doain polo sampean pinter lo.

 Lalu pada, akhir-akhir bulan Desember 2014 gue pulang sembari merayakan tahun baruan di sana. Sebelum pulang, gue janjian dulu sama Gus Ibnu, supaya dia ikutan pulang biar nanti kita bisa main bareng, nongkrong sambil ngopi dan jagongan mbahas ini, itu. Suana yang di harapkan itu, akhirnya tiba juga. Malam-malam, gue nongkrong di teras depan rumahnya, sambil di suguhi, kue mendot dan jajanan pasar jenis lain. Sambil mengupas daun pisang yang membungkus kue mendot-nya, gue sampaikan ke Gus Ibnu perihal, peristiwa yang gue alami soal, sarjanah pekok dan pernyogokan demi pekerjaan.

 “Nanti, gajinya gimana Gus, nikmat ndak kalo di pakai?” tanya gue, carkas.

 Mendengar pertanyaan gue yang serba pengen tau. Gus Ibnu, membenarkan pecinya yang sempat oleng ke kiri. Setelah selesai mengunyah hawok-hawok, ke dua katub bibirnya mulai beradu.

 “Lha, wong masuke nyuap kok, kui podo aeh karo nyogok Cupuh, jelas ndak barokah toh, kalo masuk perut.’’

 “Duh, ngerti tenan yo, Gus!’

 Gus Ibnu manggut-manggut. Lalu menjawab. “Iya, nanti orang-orang itu pas di dalam kubur di tanyain malaikat, Munkar-Nangkir: “Sampean dapat pekerjaan lewat mana almarhum-almarhumah?” beberapa detik, setelah Gus Ibnu menguraikan jawabnnya, mendadak kilatan petir warna merah dan suara gluduk menyambar-nyambar di sekitar rumah, menyerupai cambuk listrik yang siap menyengat punggung. Ngeri. Sudahkah sampean minum tolak angin!!. 

 

Iklan

14 thoughts on “Sepotong Pesan Untuk Orang Bertitel

  1. Ronny Fauzi berkata:

    saya emang agak kurang bisa memahami pola pikir “membayar besar-besaran supaya dapat kerja” ini. lah, bukannya kerja biar dapat duit ya, lha kok ini malah musti ngeluarin duit yang jumlahnya gila2an. dapet gaji juga belum (dan gak ada yg jamin doi nggak bakal dipecat pada bulan kedua misalnya). kalau praktik ginian di instansi pemerintah lebih ngeri lagi. harusnya bekerja melayani masyarakat jatuhnya malah kejar setoran, pungli sana-sini. 😐

    omong2, salam kenal BUng Cupu.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s