Kehilangan Untuk Merelakan

 

babeh gue, gaesh.

babeh gue, gaesh. Foto Pas Zaman di RS Dulu

Saat umur semakin tua renta, saat itu juga daya ingat yang menempel di otak kepala kita, perlahan-lahan akan luntur. Penyakit lupa setengah pikun ini, bisa menyerang siapa saja. Ora pandang usia, bisa embah-embah, bisa anak muda, atau kakek-kakek yang sudah buyuten. Gue misalnya, sewaktu pulang kuliah yang sudah sangat larut malam, kadang naruh kunci kontak lamborghini sembarangan. Lalu ke esokan paginya, sewaktu mau berangkat kerja, nyari kontak sampek mbe-mbeki, dengan mimik muka: ya tuhan, aku pikun.

Ada istilah dalam bahasa Jawa, kacang kuwi manut lanjarane, yang kalo di terjemahkan ke bahasa resmi, punya makna, kebiasaan anak, tidak beda jauh dengan kebiasan bapaknya. Secara biologis, sifat-sifat kita, berasal dari sepasang, dua benih yang beradu, yang di hasilkan oleh persilangan bapak dan simbok di tengah malam hari (#Stop, semoga ini ndak porno). Sementara, Bapak gue adalah orang yang sangat suka lupa. Bahkan saking lupanya, bisa dibilang ceroboh. Tapi untunglah, bapak gue masyarakat sipil, bukan pejabat yang bisanya ngebacot lupain janji kampanye. Pada tahap tertentu, pelupa dan ceroboh itu, hampir beda-beda tipis.

Profesi bakap gue, sebagai pengusaha jagal sapi dan kambing, membuat rutinitasnya pun sering pindah-pindah tempat. Untuk hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa Kuno, seperti hari Wage, bakap melakukan kunjungannya ke pasar tradisional yang ada di kampung halaman sana — pasar wage Panggul. Setelah berada dalam ruang lingkup pasar, bapak bakal melakukan transaski jual beli dengan para pelanggan-nya, atau bisa juga, dengan para rekan kerjanya. Situasi ini, jelas memaksanya untuk membawa uang tunai di dompet.

Di sela-sela, segala urusan jual-belinya, kadang bapak naruh dompet pun, asal-asalan — asal masuk kantong celana. Sudah ora ke hitung, berapa kali bapak saat hari pasaran, misal Pasar Kliwon, di Dongko, sana, melakukan tarik–simpan dompetnya yang penuh sesak dengan uang rupiah. Pernah kejadian, beberapa tahun lalu, bapak kehilangan dompetnya di pasar. Setelah di cari-cari, dan di tanyakan ke berbagai orang yang ada di pasar, si dompet yang hilang, akhirnya bablas, ndak kembali menemui sang empunya. Beberapa juta uang tunai yang ada di dalam isi dompet pun, dibawa lari sama Si Penemu. #RezekiNomplok.

Ndak hanya itu saja, baru-baru ini, satu pekan yang lalu, hal serupa terulang kembali: ndilalah penyebabnya ketledoran bapak. Lewat deringan telfon, henfon-nya kanjeng Ibu yang di pinjam siang itu, pada awal-awal bulan Ferbruari 2015, bapak ngabarin gue, kalo henfon genggam miliknya, jatuh di sekitaran jembatan Karang — Perkampungan Wonocoyo. Menurut cerita bapak, hapeh-nya itu, semula di masuk kan ke kantong  celana — bagian kanan — celana bahannya. Tau-tau, setelah di cek, selepas melewati jembatan, hapeh-nya sudah ndak ada di kantong.

“Cupuh, hape-ne, bapak ilang lo, mau wes tak turut nek dalan, tapi wes ndak ketemu!” kata bapak, di seberang sana.

“Teruuus, wes sampean miskol toh, Pak?”

“Uwes, sama adikmu, Tunjung tadi, di angkat, yang ngangkat suaranya, mbak-mbak ngono, terus di matin. Maringono di miskol lagi, wes ndak aktif!.” jelasnya, dengan nada meninggi.

“Lha wes iki, bablas hape-ne, kuwi engko Pak-Pak!’’ gue sudah menduga kalo bapak bakalan kesal, sejadi-jadinya.

“ADUH.., LHA IKI, MODYAR WES, SENG PENTENG UDU HP-NE CUPUH!” kata bapak, agak jengkel. Entah jengkel ke siapa, gue belum paham. “Yang penting kuwi, nomere, kuwi nomer wes nyebar kemana-mana, ke pelanggane bapak se Kabupaten.”

“Bener juga Pak, entar pelanggan kalo ngabari ada sapi yang mau di jual, lakyo ndak iso, wong nomere wes ora aktif.

Bapak pun, ndak kurang akal, meski pun pendidikan formalnya tamatan Sekolah Dasar yang kena Drop Out, dengan cekatan dan tangkas, idenya langsung menodong kepala gue.

“Yowes, besok, kamu urus ke Graparine Telkomsel, pokoke besok di urus pakai kartu lain, tapi nomernya tetep, dan harus jadi, selak keburu pelanggane bapakmu ini pada kabur, pindah ke liyane” permintaan bapak yang dek-sak-enyet, membuat gue ndak bisa menolak.

“Iyo, Romo. Segera laksanakan perintah” balas gue, lalu klik. Telfon bapak di seberang sana terputus.

Ke esokan paginya, sekitar jam 9-an pagi, di atas meja kerja, gue telfon dedek-dedek operator Telkomsel. Di seberang sana, yang menyambut telfon gue, mbak-mbak dengan suara yang lembut seperti selepan tepung kapor baros. Gue cerita tentang keluhan, yang gue sampaikan dengan sedemikan sempurna, detail, dan sangat jelas. Mbak-mbak Customer Servis-nya, membalas keluhan gue dengan sangat terperinci, lengkap serta berbuntut pada, berbagai persyaratan dan alur yang akan gue tempuh.

Setelah gue memahami dan benar-benar ngerti tentang persyaratannya, yang di jelaskan tadi. Berikutnya, kabar itu, gue sampaikan lagi ke bapak lewat deringan telfon. Dengan sangat gamblang, pengetahuan dari mbak-mbak CS tadi, gue pindai ke telinga bapak, lengkap dengan suara yang keras, membabi buta. Untung bapak, ndak sampai budek. Lewat obrolan jarak jauh itu, gue merinci persyaratan yang harus di siapkan, sebelum ke Grapari yang terletak di Jalan Pemuda besok harinya. Begitu selesai, gue sampaikan kelengkapan ke bapak mengenai hal ini: Surat Kehilangan dari Polsek, Surat Kuasa, dan KTP-nya yang harus di bawa.

Bapak malah mendebat hebat.

“Bajindul, ribettt kayak ngurus surat kawin,” kata bapak .”Jarene sopo kamu Cupuh?” bapak malah balik bertanya.

“Ya, ampunnn, Beh, iya sumpah itu persyarataanyaaaaaan-nya, Be.?” jelas gue, sambil ngeden. “Aku baruan telfon Operatorny, Beh!’’

“Bapakmu ini, barusan tanya-tanya sama orang, pada kasus yang sama, katane ndak perlu bawa begituan, cukup datang ke Grapari, bawa kartu baru, sama KTP ku” tukas bapak, ndak percaya dengan penjelasan gue.

“Tapi, Beh….” sebelum mendengar omongan gue lebih lanjut, bapak memotong obrolan di tengah jalan.

“Besok, bapak berangkat sendiri ke Grapari Tulung Agung,”

“Gak, usah Beeh, Percuma,”

“Ya, pkoknya besok berangkat” Babeh bersikukuh dengan kengenyelannya.

“Gak usah Beh”

“Berangkat……” klik. Lalu telfon itu terputus dengan sendirinya.

Belum cukup mampu menjadi anak yang berbakti kepada bapak, sungguh, gue merasa gagal menjadi pemandu bapak dalam memperoleh informaisi ini. Kabar yang gue sampaikan, di mentahkan tanpa tendeng aling-aling. Selain itu, gue merasa gagal juga menyerankan bapak untuk tetap berada di rumah. Soalnya, gue takut kalo bapak nyasar, buta arah, dan kebingungan mencari lokasi ke Graparinya. Tapi ternyata, dugaan gue meleset total, mirip Rosi kepleset Oli bekas di sirkuit Jembatan Suramadu. Meski pun bapak kena saksi DO sewaktu Sekolah Dasar. Tapi, bapak bukan golongan orang-orang buta huruf.

Hal ini jelas, sewaktu bapak mentelfon gue dari balik ruang Grapari Telkomsel, yang berlokasi di kota Tulung Agung. “Hemmm, koweh ikih pancen Cupuh banget, masak masih pinteran bapak, kamu ini calon sarjanah lo, calon sarjanah.” kata Bapak, agak petentang-petenteng. “Pokoknya meski pun rumahe Babe di kampung halaman, asal kita ini, otaknya ndak kampungan ngono lo”

“Iyo Pak. Ngert-ngerti. Kan masih CALON” seru gue.

“Ini barusan, pas hape-ne bapak masih di pegang mbak-mbak operator, terus tiba-tiba ada orang yang nelfon lo!” kata bapak. “Setelah hp-ne di kasihkan ke bapak, terus bapak angkat telfune, ternyata pelanggane bapak, mau nganterin Sapi ke rumah. Bapak angkat telfon sebentar saja, minimal 2 juta sudah masuk kantong. Kamu iki jangan kalah sama lulusan SD. Kamu ini CALON SARAJANAH” kata bapak dengan nada yang meninggi.

Gue lagi-lagi ngalah dan mangut-manggut, seraya menuruti apa yang telah di sampaikan bapak barusan.

“Sudah tiga hari nomere bapak mu iki ndak aktif, tiga hari itu juga bisnise bapak ndak jalan Cupuh”

“Gusti Allah kuwih, ora kampungan Beh, Gusti Allah kuwi adil, sampean selama tiga hari itu, di suruh istirahat di rumah, sementara hape yang ilang itu, iklasin wae Beh, barang kali yang nemu pas lagi butuh-butuhnya duwit. Lha ini, sekarang hape-ne Babeh, yang ilang sudah di kembalikan dalam bentuk lain,

“Lha Opoh?” saut Bapak, cepat.

“Baru angkat telfon, sudah 2 juta, Beh. Namanya rezeki, ora iso di duga-duga datangnya dari mana kan Beh”

“Anake Bapak iki, CALON SARJANAH TAPI KOK PIN….” Bapak tidak meneruskan obrolannya.

“Anake siapa dulu dong, Beh!” balass gue, yang di susul celetukan ringan oleh bapak. “Mungkin pacarmu yang ilang itu, seperti hape-nya babeh, untuk di kasihkan kepada orang yang lebih membutuhkan, Cupuh”

“Pacar dengkolmu cepot kui Pak”

satireeeeeeeee

satireeeeeeeee

Surabaya, 09 February 2015.

Iklan

5 thoughts on “Kehilangan Untuk Merelakan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s