Cinta Pergi Dengan Sebuah Nyawa

simbah, Marsyah, umur 80 tahun lebih, Doc: www.notedcupu.com

simbah, Marsyah, umur 80 tahun lebih, Doc: http://www.notedcupu.com

Saat cinta datang, semua orang pasti bisa merasakan kebahagiaan, cinta juga telah membuat dua sejoli keturunan Adam dan Hawa, merasakan dunia milik berdua. Namun, pada saat cinta pergi, siapa pun kalian, akan mengalami hal seperti ini: dunia seakan begitu sepi, lalu seolah berjalan sendirian di tengah keramaian. Murung, sedih, dan kadang nafsu makan pun ikutan pergi. Faktor di kecewakan, membuat beberapa orang, ada yang cepat bisa move on, setelah cintanya di hianati. Lalu berusaha mengangkat dirinya kembali.

Di kecewakan bukan melulu, karna pyur oleh penghiantan, atau di tinggalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Saat tangan Tuhan bekerja, orang-orang yang kita sayanggi,  bisa tiba-tiba lenyap begitu saja, beserta nyawa dan raganya. Kematian yang sifatnya misteri, bisa sewaktu-waktu mengambil nyawa orang yang kita sayangi. Kejadian semacam ini, menjadi pukulan telak, untuk meremukkan hati manusia, yang berujung pada ketegaran hati.

Nenek gue, adalah orang yang mengalami persitiwa ini. Saat masih muda, ketika usianya baru menginjak angka 30 tahunan, sang suami (kakek), pergi untuk selama-lamanya karena terserang penyakit, kanker paru-paru. Andai saja pada masa itu, pada tahun 1968 di kampung halaman sana, Panggul, peralatan medis sudah se-canggih sekarang, ada kemungkinan kakek bisa tertangani dengan segera. Barang kali tingkat kesembuhan, mempunyai harapan yang lebih tinggi.

Tapi sungguh, memang manusia ora bisa melawan takdir yang sudah di gariskan, lho. Setelah cintanya pergi untuk selama-lamanya, pandangan Nenek terhadap cinta berubah total seumur hidup. Nenek menjadi perempuan yang tangguh, di masanya, hingga saat ini. Saat menjadi janda muda, nenek harus menghidupi ke tiga anaknya. Perjuangan yang super tangguh, di saat situasi sedang larang pangan ketika itu, pasca kemerdekaan. Di usinya yang hampir menginjak satu dasawarsa ini, raut wajahnya yang sudah mengeriput, lalu di susul kelopak matanya yang menggantung. Nenek ndak tampak sedih saat harus berbagai cerita dengan gue, cucunya yang paling tampan.

Selepas di tinggal kakek, Nenek masih tetap sederhana, penampilan-nya ndak berubah, kemana-mana kerap kali memakai kemben ala masyarakat Jawa padepokan, jari-jemari kakinya hanya di apit oleh sepasang sendal jepir, alias cepet. Kesetian-nya terbukti tangguh, hingga sekarang hati besarnya masih untuk kakek yang telah tiada.              

“Sudah puluhan tahun, kakekmu meninggal, “ kata nenek, saat gue kemarin berada di sebelahnya, duduk bersama berdampingan di atas kasur tuanya. “Cintaku sama kakekmu, lebih lama dari usia hidupnya, meski pun kakekmu wes ndak enek, tapi cintaku sama kakekmu sepenuhnya, Cup(uh)” sambung nenek, lalu pandangan matanya lurus, ke depan. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Nenek ndak nangis sewaktu kakek meninggal?” tanya gue, sambil mencatatnya ke dalam black-noted gadget.

Nenek masih terdiam. Kepalanya agak bergoyang sedikit, beberapa senti, ke arah kanan. Se-akan memberi pertanda, sedang menggali ingatan lama untuk di ceritakan.

“Ora.. oraaa.., “ nenek geleng-geleng kepala. “Biasa aeh mbahmu ikih, wong Nenek sudah ihklas,” katanya, lalu mengencangkan kemben-nya dengan seutas kain panjang bertali, yang akrab orang Jawa menyebutnya, centeng. “Nenek sudah merawat kakekmu selama lima tahun, di atas kasur, dia pesan ke nenek: “Kalo aku meninggal, jangan di tangisi ya, Mar, biar aku lebih tenang di sana” ucapnya, menirukan suara kakek, sewaktu berada di samping biliau.

Gue menghela nafas. Sambil menahan, bulir air mata supaya ndak jatuh. “Berarti itu, firasat yo mbah?” tanya gue, memperjelas.

“Bener, kuwi pertanda. Seinget yang nenek tau, kakekmu berpesan: “Pokoknya kalo aku ora enek, ojo kok tangisi yo, Mar (baca: Marysiyah), engko nek kono ora krasan lo, aku,” sambung nenek, sambil melihat gue.

Jawaban ini di luar dugaan gue, yang berperan sebagai pencerahan, mungkin orang yang telah tiada, ingin orang terdekatnya yang ditinggalkan, semasih hidup, untuk mengiklaskan kepergiannya, tanpa beban, tanpa cucuran air mata, dan kesedihan. Mungkin orang yang telah meninggal, ingin jalan-nya terang tanpa ada kepedihan, dan suara pecah isakan tangis…., iya, harus merelakan.

Pesan itu, akhirnya di jalankan dengan sagat tegar oleh simbah, hingga saat harus berbagi cerita akan hal ini, ke gue kemarin sore. Sorot matanya lurus ke depan. Ndak ada pemandangan mata sembab sedikut pun dari raut wajah keriputnya. Sampai sejauh ini, gue sangat percaya sekali akan firasat…, firasat adalah bahasa isyarat yang di sampaikan oleh alam semesta untuk membuat kita lebih peka dalam menangkap tanda-tanda.

Gue belum bisa membayangkan, seberapa besar kekuatan cinta simbah putri Marsyah ini, kepada kakek, hingga air matanya setetes pun tak pernah jatuh ke tanah, sampai sekarang, sampai cerita ini di rampung di ketik. Prosesi pemakaman, kakek, di laluinya tanpa beban, sepulang kakek di kebumikan, simbah putri hanya terdiam sebagai bahasa kaum perempuan yang syarat menyimpan pesan. Pada tahap ini, amanah kakek di jalankan dengan penuh tanggung jawab oleh simbah putri.

Tegar.

Lalu, pada hari-hari berikutnya, simbah putri, merangkap sebagai kepala keluarga, kalo siang hari, memposisikan fisiknya sebagai pencari nafkah, penjual satur-sayuran dan beberapa ikan asin ke perkampungan pegunungan, wilayah Ngrayon, Depok, Tangkil, atau ke arah Timur, dari ke diaman. Sebagai tempat penampung logistik barang dagangan, di punggungnya nggendong krembu berukuran jumbo, yang di taleni dengan jarek.

Gue kembali mencoba mencari tahu, apa wasiat kakek kepada simbah putri, sebelum bilau menghembuskan nafas terakhirnya.

“Seng tak eleng, kakekmu pernah bilang, kalo kakekmu wes ora enek, hartanya jangan di jual, itu buat ngrukuni anak-anak kita”

Gue pun dengan cepat balik bertanya. “Harta opo yo, mbah?”

“Beberapa ekor sapi, kebun, karo sawaaah…, Cup(uh)’

Gue geleng-geleng kepala mendengar jawaban ini. Takjub. Kakek gue dulu, orang yang sangat bertanggung jawab terhadap kelangsungan keluarga yang ditinggalkan. Sebelum sakit, kakek memang tipikal orang pekerja keras, gue tahu, hasil kerja kerasnya itu, berbentuk tabungan dalam bentuk fisik, bukan nilai mata uang. Dengan sawah, anak-anaknya dan istrinya, ndak bakalan kelaperan gara-garra kekurangan stok beras. Beberapa ekor sapi, satu di antaranya bisa di uangkan, untuk biaya keperluan beli ini dan itu, dan sisanya lagi bisa di kembang biakkan. Dahsyat.

Menjadi single perent, bukan perkara mudah pada zaman itu. Sudah hampir lima tahun, nenek menjual keperluan dapur, ke pelosok perkampungan, dari lembah yang satu, ke bukit yang lain. Melewati jalan setapak, dan berlempung, yang dikelilingi oleh hutan belantara, tanpa ada penerangan cahaya lampu sedikit pun. Menurut dongeng ceritanya, sewaktu pulang berjualan, sudah sangat lurut malam, sebagai alat penerangan, hanya memakai blarak garing yang di nyalakan dengan korek batrai berkapuk. Sewaktu jalan kaki, melewati hutan, binatang buas, seperi Harimau Jawa, pada masa itu, sering nenek jumpai di tengah jalan.

“Macan kui, ora wani nyedek, karo wong seng atine apik. Malah macane seng wedi pas weroh simbah, terus mlayu… Mak brus…, bruss…, bursss.., ngono suarane, nubruki semak-semak.” katanya,

“Kendel tenan sampean mbah, pawang aeh kalah,” komentar gue. Sambil mesam-mesem.

Belum selesai cekikikan. Simbah putri cerita lagi, sekitar enam tahunan, setelah kepergian kakek, ada laki-laki duda kaya raya, yang berusaha menjinak kan, isi hatinya. Kejadian itu bermula, di salah satu perkampungan, yang menjadi lokasinya berjualan, laki-laki duda tersebut, sering melirik nenek, karna pada masa itu, paras cantik nenek yang berpostur tinggi, plus statusnya yang single perent berumur 30 tahun. Ndak heran, jika para tetangganya dulu, menyebut nenek sebagai kembang desa yang layu setelah mekar. Kesetiaan nenek terhadap kakek, tak tergoyakan, meski pun laki-laki duda tersebut, menawarinya mas kawin dengan puluhan kwintal beras dalam bentuk gabah kering.

“Emoh sama laki-laki lain, wong mbah mu ikih, wes nikah karo mbahmu, Ijo, nyapo rabi meneh,” kata nenek. Sambil menyebut, nama almarhum suaminya. “Ndak ada yang bisa menggantikan, posisi kakekmu di hati, nenek,” lalu kemudian, kepalanya menunduk, melihat jari-jemarinya yang tanpa ada pernak-pernik mas kawin yang melingkar.

 Gue geleng-geleng kepala. Mencoba memberi penjelasan lain, supaya lebih resmi.

 “Artinya, raganya boleh pergi, tapi cintanya masih tetap tinggal di hati, ngono kan Mbah?”

 Lalu kemudian, tangan kanan-nya menyentuh dada dan bilang. “Sampai di sini, kakekmu akan tetap hidup, sepanjang hayat,” matanya kemudian terpejam beberapa saat. Seperti, merayakan ingatan lama untuk bernostalgia,

 Astaga, romantis sekali sampean mbah, lalu pertahanan gue bobol, mata gue meleleh.

Makam Kakek Ijo (suami simbah Marsyah), doc: www.notedcupu.com

, Makam Kakek Ijo (suami simbah Marsyah), doc: http://www.notedcupu.com [ di foto kemarin, 15 February 2015, sewaktu gue ziarah, dalam rangka kirim doa.

Iklan

22 thoughts on “Cinta Pergi Dengan Sebuah Nyawa

  1. alrisblog berkata:

    Cinta simbah putri karo mbah kakung itu cinta sejati tenan. 100% setianya, salute.
    Lha, jaman saiki kuburane durung kering wis kawin meneh, ooalah…

    *walau bukan orang jawa saya ngerti boso jowo, hehe…

  2. vieno berkata:

    cerita si mbah sangat mengharukan sekali dan membuat takjub karena ketegarannya dalam menjalani kehidupan walaupun di tinggal suami….serta kesetiaan yang sulit sekali di dapat pada jaman sekarang….

  3. Rifqy Faiza Rahman berkata:

    Ada seorang kiai asal Bojonegoro pernah bilang, seorang wanita yang menjanda, jauh lebih kuat godaan dan lebih sabar ujian daripada laki-laki yang menduda 🙂

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s