Bu Guru Budi Pekerti

@Cupunoted

@Cupunoted

Guru. Salah satu profesi profesional yang sepanjang hayatnya digunakan untuk mengabdi. Memakai seragam dinas yang berlabel abdi negara, dengan aksesoris, menenteng tas ransel berisi tugas-tugas siswanya. Yang kadang dibenci oleh muridnya, karena tidak bisa membaca ejaaan:“Ini bapak Budi”. Dalam film “Preman In Love,” menjadi sesosok yang apes bernama Junaedi, yang kerap dikibuli oleh salah seorang murid berkepala plontos bernama: Paimen.

Pada saat kelas satu SD, gue adalah anak kecil yang begonya kebangetan. Jika diurut dalam daftar siswa berprestasi, mentok-mentok gue berada diurutan terbuncit. Kemampuan ejaan, membaca gue, nol puthol. Di saat gue mendapat gilaran membaca di depan papan tulis, ujung-ujungnya, gue jadi kembaran patung pancoran. Di hukum selama berjam-jam, selama mata pelajaran itu berlangsung. Begonya lagi, pada setiap kali hasil ulangan pelajaran, hitung-hitungan matematika dibagikan, di pojok kanan atas pada lembar jawaban, akan tertulis bilangan, nol besar, menyerupai telor ceplok.

Artinya, nilai gue remuk redam.

Gara-gara enggak bisa membaca dan berhitung, Bu Marsini wali kelas gue pada saat itu, mengganjar gue dengan hukuman maha berat. Tidak naik kelas (lebih ganas dari pada ketokan palunya Sarpin). Hukuman tidak naik ke kelas dua, seperti tabokan yang menampar keras-keras, mental gue. Hukuman lain, juga gue terima dalam wujud sanki sosial.

Cercaan teman-teman seangkataan, yang selalu ngatain gue, “Dasarr Goblok” telah membuat gue malu sebagai, anak bermental inlander. Gak betah, dengan ke adaan yang semakin penuh tekanan, jam lima pagi gue pun kabur dari rumah. Bersembunyi di rumah kosong belakang rumah. Setelah, jam sekolah gue rasa sudah berlalu, klitih-klitih gue balik ke rumah.

Dan, bapak serta ibuk pun ndak bisa berbuat banyak. Mentok-mentok, gue cuma di teriakin dengan kalimat seperti ini: “Kalo kamu gak mau sekolah, ben dibolo sama Bedes kono nek Ngalas,”. Karna gue ngerti, Monyet gak bisa berteman dengan manusia, sangki teguran dari ibuk pun berlalu begitu saja. Sungguh, perbuatan yang sia-sia. Mogok sekolah pun, sudah satu minggu berlangsung. Pada suatu pagi, bapak pun mendatangi sekolah gue, mendiskusikan dengan ibu Marsini, tentang penanganan apa yang cocok untuk membujuk gue mau kembali memakai seragam berwarna merah putih.

Bener juga, siangnya, selepas dari jam dua belas ke atas, dengan jalan kaki dari sekolahan, ibu guru gue, Marsini, melakukan tugas mulia. Datang ke rumah, dengan membawa misi, mengembalikan orang bego seperti gue, ke bangku sekolahan. Setelah mengentuk, pintu, lalu dipersilahkan masuk, oleh ibuk, biliau sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan bapak, ibu, dan simbah di ruang tamu. Selang beberapa menit, ibu pergi ke dapur, membuatkan suguhan wedang hangat gula batu, buat Ibu Marsini. Sambil, membujuk gue dengan bilang.

“Di cari, Bu Guru Marsini lo,” tanya ibuk, sambil duduk di sebelah gue. “Katanya kangen mau ketemu kamu, lo, Cup(up)!” sambung ibuk, sewaktu gue thenguk-thenguk di depan tipih nonton film India: Miton Makan Roti.

“Tenan opo, Mbok?” balas, gue, jenggelak.

“Iyoh, Cah Bagus, wes kono ayo nang arep. Temui ibu.” ajaknya, sambil memegang lengan gue.

Gue masih inget banget, selesai basa-basi dengan gue. Ibu Marsini sempat ngobrolin tentang ke adaan kelas yang penuh dengan anak-anak baru. Sekaligus suana yang berbeda dari sebelumnya. Dari yang bertingkah aneh, seperti, ngomong sendiri sewaktu di ajar. Sampai ada yang tukang usil, masangin bekas permen karet di atas bangku. Dan setiap kali, ada anak yang gak bisa membaca ejakaan “Ini bapak Budi”, ibu Marsini, selalu teirngat akan gue. Lalu, pada suatu titik obrolan yang sangat serius, ibu Marsini menyampaikan unek-unek utamanya.

“Buuuudddi…, “ kata Bu Marsini, memanggil gue dengan suara yang lembut. Penuh dengan jiwa ke ibuan. “Besok sekolah ya Nak, kalo gak sekolah, ibuk ngerasa gagal jadi IBu Guru,”

“Apanya yang gagal, toh, Bu. Ora mudeng aku,” tanya gue, dengan mimi muka polos, sambil sembunyi dari balik korden dekat jendela. Sepertinya, masa kecil gue, punya bibit jadi anak idiot.

Ibu Marsini meminum wedang buatan ibuk. Entah apa yang ada di pikirannya, Bu Marsini berfikir sebentar, lalu seolah ide datang begitu saja dari udara, bilau berseru mantap.

“Ibu kan tugasnya, ngajar, kalo Budi enggak bisa membaca, dan menulis, berarti gak ada gunanya ibu selama ini jadi Ibu Guru!”

Jawaban itu, sontak nabok kesadaran gue dengan sangat keras. Pikiran gue yang sangat masih sederhana, bisa mencerna omongan sekeren itu. Dengan kepala manggut-manggut, akhirnya, rasa kecintaan gue terhadap dunia sekolah kembali tumbuh.

“Eenggeh. Bu, besok pagi aku sekolah lagi.”

Lalu, Ibu Marsini, mengampiri gue yang sedang ngumpet dibalik korden jendela, kemudian tangannya mengusap-ngusap kepala gue, terus bilang.

“Anak, pinter, entar kalo sudah gede, buat Ibu Guru, bangga ya, jadi orang yang berguna,” katanya, kemudian gue di gendong, sambil di nyanyikan lagu, “Lolelo… Lelo-lelo ledung, cah bagus, besok wes sekolah”

Ibuk, bapak dan Simbah putri yang berada di ruang tamu, hanya bisa tesenyum lepas. Suana di ruang tamu itu pun, penuh haru. Bulir air mata mereka bejatuhan, melihat kasih sayang yang tulus atas perjuangnya Ibu Marsini, membujuk gue untuk kembali pergi ke sekolah. Setelah, sempat menghabiskan setengah wedang gula Jawanya, Ibu Marsini pun berpamitan. Bapak pun menawarkan bantuan, dengan mengantarkan Bu Guru ke sekolah naik becak, hasil dari menyewa milik tetangga sebelah rumah.

Bisa dibayangin, jika ndak ada Ibu Guru yang punya jiwa personal (baca: grapyak), layaknya Ibu Marsini, sampai sekarang pun, gue akan menjadi manusia ala kadarnya, yang punya jiwa inlander (mental kacangan), serba terbelakang dan bisa jadi gue lebih ediot. Sentuhan heroik, Ibu Guru Marsini, hingga sampai saat ini, tertanam kuat dalam kepala gue. Secara ikatan batin, peran seorang guru telah menjelma menjadi orang tua. Yang kerap dibutuh kan oleh siswa, sewaktu kehadiran orang tua bukan dalam bentuk ragawi. Sampai-sampai, pernah gue punya harapan, pengen sekali gue bisa mengajar, ke tempat di mana, gue dulu menggenal dunia membaca dan berhitung. SD N 1 Kertosono.

Mengingat kembali kisah heroik ketulusan Ibu Marsini, kadang bikin gue kangen akan masa-masa itu. Sungguh, pengen sekali ngobrol dengan bilau di sampingnya, dan bertutur menyerupai suara lembutnya:

“Ini saya Bu. Budi Santoso Totoraharjo. Saya sekarang sudah besar, meski pun belum menjadi orang besar. Tugas ibu telah berhasil. Gara-gara, ketlatenan ibu, kegetolan ibu, mengurusi saya, saya bisa membaca dan menulis, sampai-sampai saya buatkan cerita ini. Khusus buat Ibu. Guru-guru lain. Maupun calon-calon guru senusantara.”

Kini. Puluhan tahun kejadian itu sudah berlalu. Ibu di kampung halaman sana sudah lanjut usia. Tapi doaku, semoga ibu tetap segar-bugar fisiknya. Tidak ada gangguan sedikit pun semua organ panca inderanya. Sehat terus sepanjang hayat, sebagaimana ilmu yang terus ibu sampaikan sepanjang pengabdian. Gue merindukan sosok Ibu Guru Marsini, yang menyelamatkan gue dari belenggu kebodohann dan ke tidak tahuan.

Barang kali, akhir-akhir ini, ibu menangis tersendu-sendu, mendengar nama Budi dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi di media nasional. Mungkin ibu meyesal, orang yang sempat ibu cerdaskan dulu, mulai dari titik nol, dari yang tidak tau apa-apa, hingga menjadi manusia yang lebih dari ala kadarnya, telah menghianati bahkan menyalahi nilai luhur pengabdian, pada generasi penerus bangsa.

Jangan kawatir Ibu Marsini, ilmu yang ibu ajarkan kepada siswa-siswa, bukan untuk mendidiknya menjadi calon koruptor, yang merampas pembangunan gedung, maupun buku-buku sekolah. Tapi menjadi orang yang punya jiwa besar di atas garis pengabdian atas misi memberantas segala ketidak tahuan. Juga bukan membentuk, orang-orang yang demi mengejar jabatan mau pun pun gelar untuk memperoleh kemewahan. Karna profesi guru, adalah profesi heroik jalan memberantas kebodohan.

Dan sekarang izinkan gue mengenang jasa-jasa Ibu Guru, mengajar kan ke anak-anak, dengan mengganti istilah lama dengan yang baru. “Ini Ibu Budi’ di ganti dengan: “Ini Ibu Marsini”.

Dok: Foto Mas Adit pendidik program SM3T 2014-2015

Dok: Foto Mas Adit pendidik program SM3T 2014-2015

 Surabaya, 22 February 2015

Akun Twitter: Klik di sini

Akun facebook: Klik di sini

Iklan

4 thoughts on “Bu Guru Budi Pekerti

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s