Pesan Moral Dari Generasi 90-an

#gojek bebarengan

#gojek bebarengan

Beda zaman beda cerita. Bagi anak zaman sekarang. Kenikmatan bermain adalah bisa pegang stik game di depan layar monitor. Sambil mulutnya ngunyah kentang goreng. Sampai perutnya bledos, giginya mrongos. Bermain game telah mengurangi interaksi antara sesama anak manusia. Anak-anak yang lahir di generasi digital. Kebanyakan lebih banyak berinteraksi dengan gadget, dari pada sesama anak sepantaran. Makannya gue ndak heran banget, kalo sekarang banyak kasus di sekolahan sering terjadi bullying secara fisik sesama teman sejawad.

 Mau buktinya, monggo simak vidio berikut ini.

Nah, beda banget sewaktu gue masih bocah. Saat teknologi belum semrongos sekarang. Eh, maksudnya semaju sekarang. Penggunaan tekonologi gadget bagi anak-anak, tanpa pengawasan dari orang tua, efeknya lebih bahaya dari minuman oplosan. Otak anak bisa mabuk dikendalikan oleh imajenasi liar yang di pindai dari vidio game. Bocah zaman sekarang, setelah kepalanya jenuh dengan vidio game, lalu masuk ke lingkungan sekolahan, cara bermaian, bersentuhan sesama teman, kasar banget.

Zaman gue dulu, mainan canggih cuma satu. Apa?. Saat gue dan temen-temen sekampung lagi enak-enakan main serampang maling. Tiba-tiba, terdengar desingan pesawat yang datang dari udara. Kami semua kompak, berdiri di halaman rumah, lalu kepalanya mendongak bersama ke atas, kemudian bilang. “Montor mabur jalok duwite, ceblokno sak koper.” (edan yowben). Nonton pesawat terbang pada masa itu, pemadangan istimewa yang lebih sekedar dari jalan-jalan Dharwa Wisata. Maklum cah deso jeh.

Dan jika hal ini masih terjadi sampai sekarang. Sebagian orang yang kurang menghargai harmonisasi perbedaan. Mungkin di kira “minta duwit ke montor mabur” di cap sebagai aliran sesat. Nah, zaman SD gue dulu, banyak banget mainan tradisional yang di ciptakan langsung dari alam. Ketika negara Jepang sudah menciptakan, meriam. Kami sudah lebih dulu menciptakan long karbit. Ketika negara Rusia sudah menciptakan senapa mesin, kami lebih dulu sudah menciptakan bedil-bedilan. Ketika negara Jerman sudah bisa menciptakan pesawat terbang, kami lebih dulu bisa menciptakan layang-layangan dari daun kering pohon suroh.

Gue jadi curiga, jangan-jangan secara filosofi, kiblat kemajuan teknologi, sebenarnya berada di tanah Jawa. Kalo ada peneliti yang mematahkan kecurigaan gue, ayo mrene Pak & Bu, sampean tak ajakain main ke kampung halamanku sana. Panggul–Trenggalek. Neng transpote bayaro dewe, mangane gratis. Ada semacam sebuah tongkat estafet. Mainan tradisional, di kampung halaman gue, di wariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi berikutnya. Sampai sekarang.

Zaman bocah gue dulu, bersentuhan dengan perangkat teknologi sangat jarang kami lakukan. Lha wong hapeh (telfon genggam) aja belum ada. Listrik juga baru masuk, saat gue mau masuk sekolah taman kanak-kanak. Tapi hebatnya, hiburan di TV pada masa itu, kualitas kontennya layak di acungi jempol. Menghibur sekaligus, ada pesan moral yang bisa di petik. Bocah kecil zaman gue dulu, bisa menikmati sepenuhnya tayangan yang sesuai dengan umurnya. Beda kayak zaman sekarang. Tayangan di televisi, di dominasi oleh, goyangan-goyangan joget orang sekampung. Belum lagi, ada tentang orang naik elang. Terus, orang nyanyi-nyanyi di kebun bunga. Gue jadi mikir, iki sinetron opo arep ngaret.

Nah, ada pendapat yang bermutu, keceriaan masa kecil rasanya belum afdol banget kalo belum nonton acara-acara zaman dulu. Apa aja, sih Bang Cupu(uh)?. Yuk, simak gaeshh.

***

Tuyul dan Mbak Yul.

Tuyul dan Mbak Yul

Tuyul dan Mbak Yul

 “Kepriben Son, gagal maneng, gagal maneng!” kata pampam, sambil menepuk– punggung Samson.

Bagi anak generasi yang lahir pada tahun 90-an ke atas. Pasti hapal banget sama tagline kocak tadi. Tuyul dan Mbak Yul, pada masa itu, sangat fenomenal sampai gandrungi anak-anak di negeri ini. Termasuk gue. Si Ucil sebagai Tuyul yang murtad dari dunia Pertuyulan, telah membawanya ke pada sebuah melata petaka. Jin di alamnya, yang di perankan oleh dua sesosok gaib, berkepala pelontos Ocol dan Bonggol (yang belakangan perannya di gantikan, Samson dan Pampam). Selalu mengejar-ngejar Ucil, untuk menangkapnya lalu dibawa ke raja Tuyul atas perbuatannya karena enggak mau mencuri lagi.

Tontonan, masa kecil gue, sumpah penuh pesan moral banget. Andai saja, gue sebagai pemilik Yayasan Piala Oskar, pasti Tuyul dan Mbak Yul ini, gue kasih piala Oskar untuk kategori: sinetron berkualitas tinggi dengan pesan moral: Pendidikan Anti Korupsi. Lha Tuyul saja, bisa insap lo, berubah menjadi jin baik. Lha ini padahal manusia yang bukan mahkluk lelembut, sudah berstempel abdi negara, tapi kok ya masih doyan korupsi. Gumon kok aku.

Oiya, lupa kalo ini Indonesia. Pejabatnya, mentalnya lebih dari tuyol kok.

Jan-jane, mereka yang korupsi ini bukan manusia lagi. Kalo manusia, sehitam-hitamnya keburukan yang ada di hatinya, pasti memiliki titik putih untuk kebaikan. Lha wong makan saja lebih dari cukup lo: sandang, pangan, papan sudah terpenuhi, lha ini masih saja rakus banget jeh. Mereka barisan koruptor ini, hatinya lebih dari Tuyol lo. Tuyol masih ada yang bermartabat, bisa insap.

 Lha ini koruptor, lebih pasnya, ya Setaaaan Alas.

Gue harap, sinetron ini bisa di puter lagi. Biar anak-anak zaman sekarang paham, betapa berharganya sebuah kejujuran, yang lebih dari sekedar nilai rupiah.

 ***

Jin dan Jun

#jin dan jun

#jin dan jun

“Aku adalah Jin Dari Timur Tengah”, kata Om Jin,

Bagi anak generasi yang lahir pada tahun 90-an ke atas, pasti ndak asing banget sama cletukan bunyi kalimat di atas tadi. Sinetron ini punya banyak kelebihan. Sudah menghibur, bikin ketawa ngakak, tapi pesan-pesan moral yang di sampikan dalam peilaku kehidupan sehari-hari, nyentuh banget di hati. Lewat sinetron inilah, nama yang melambungkan aktor Sahrul Gunawan di belantika, dunia hiburan tanah air. Dan gara-gara sinetron ini juga, muncul fenomena baru dandanan rambut yang lagi rame pada masa itu: sisir rmbut belah tengah.

Yang paling gue inget, di salah satu episodnya yang waktu itu pasca terjadi krisis moneter. Si Om Jinnya ngajarin berhemat sewaktu terjadi masa paceklik kauangan. Si Jun di dandani pakek pakaian khas orang biasa, sambil ngebawa kotak asongan kemudian berjualan di depan Mall. Setelah selesai menghitung, hasil jualannya selama sehari, dan dapet uang 35 ribu, tiba-tiba datanglah preman kelas teri, lalu ngebentak Jun sambil memalak.

 “Kene duwite kekno aku, Cuk,” teriak preman dalam versi bahasa jawa.

 “Wah gragas tenan kowe, hare gene malak, kampungnnnn,” balas jun, “Nyoh rasakno iki tak pancal bokongmu,” lanjutnya sambil menendang preman tadi. Dengan bantuan abrak- kadabrak dari Om Jin. Dalam hitungan satu kedipan mata, tendangan kaki kanan Jun, mampu membereskan preman tadi terbang hingga menyangkut di atas tiang lampu jalan.

Adegan yang seru antara manusia berdandan rambut sigar tengah, Jun dan Jin yang punya budi pekerti luhur. Telah membuat wajah sinetron pada masa itu, sempat mengangkat karya seni dunia sinetron berepisod tanah air di kancah Asia Tenggara. Apa lagi, dalam beberapa dialognya, di bumbui bahasa lokal khas Sunda. Sedap.

Kalo waktu itu gue sudah menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan, pasti nih sinetron udah gue kasih penghargaan: Best Piala Sansekerta, sebagai aikon kampanye pelestarian bahasa daerah

 ***

Jini Oh Jini

#Jin Dan Jun

#Jin Dan Jun

Kalo pembaca official website catatan personal literature comedy #BangCupu(uh) ini penikmat seni garis keras. Pasti ndak asing banget lah, dengan celetukan si tampan, Jack. Yang bisa bikin perut pemirsa yang ada di depan layar kaca, mules mati ketawa tanpa harus ngremus lombok gareng sak kilo.

“Sekate-kate, Gus. Ogah gue ngambil kotak kerang elo, susah ngambilnya. Gue kena sial melulu nih,” kata Jack, kepada Bagus, di ruang tamu.

“Wong arep hidup enak kok, nggak mau Jack. Gitu aja nggak bisa. Entar kalo kerangnya laku keras, ndak tak ciprati duwit lo kamu. Hidup itu mbok ya, jangan cuma aji mumpung Jack. Jangan terus-terusan ngandalin bos doang!” wejangan Bagus (kalo ndak salah pemerannya Indra Bruggman, kembaran saya).

Kemudian Jiny (yang diperankan oleh Mbak Diana Pungky, bukan mantan saya) menyulap Jack menjadi kambing.

Nasehat ini relevan banget hingga sampai zaman sekarang. Sebagian orang yang menekuni dunia hiburan tanah air, hanya sekedar aji mumpung. Hanya sekedar mengikuti aji mumpungnya pasar yang lagi rame. Hanya sekedar mengikuti aji mumpungnya embel-embel nama artis di belakang nama aslinya. Di era perkembangan pasar yang sering bergejolak, banyak karya yang di hasilkan dari jargon yang lagi rame.

Entar karyanya bakal sepi juga, hilang dari pasar, kalo, yang di tumpanginnya sudah meredup pamornya. Orang yang mengejar kuantitas, bakal kalah sama yang ngasih kualitas. Ada sebuah jejak pendapat, dari hamba Allah, seniman yang hebat adalah mereka yang bukan mengikuti tren arus pasar, tapi yang mampu menciptakan pasarnya sendiri. Lalu punya, komunitas sendiri untuk menikmati hasil karyanya. Kayak blogg ini misalnya, sudah dinikmati ribuan pembaca tetap. Sampai saat ini lewat subcibe email sebanyak 2506, penikmat. Terimakasih banyak pembaca yang #Boediman, di seluruh tanah air maupun dari luar negeri. #SisirKumis.

 ***

 Nah, itu kira-kira tiga sinetron zaman kecil gue dulu yang paling seru buat di tonton. Yang gue perhatin sih, sinetron zaman dulu itu, lebih dari sekedar ngasih hiburan. Selain kualitas yang terjaga, ada banyak banget pesan moral yang bisa di petik. Zaman dulu nonton sinetron sebagai sumber untuk di jadikan keteladanan. Dan mirisnya, zaman sekarang, beberapa tayangan hiburan di televisi hanya mengejar reting, demi sebuah meraup slot iklan.

Semoga dari obeservasi gue yang kecil-kecilan ini, para pelaku industri kreatif di bidang hiburan, khususnya sinetron bisa berinovasi, bisa lebih kaya mengisi konten yang akan di sampaikan ke masyarakat. Karena karya yang legendaris, tidak akan mati di telan zaman.

Udah gitu aja dulu dari gue. Kalo pas lagi online, jangan segan-segan sapa gue di twitter ya. Klik.

Akun Twitter ku seng anyar

Akun Twitter ku seng anyar

 

Iklan

25 thoughts on “Pesan Moral Dari Generasi 90-an

  1. rayamakyus berkata:

    Angkaaat tangaan niih yg generasi 90-an :D..

    Bener banget tulisan d atas. Zaman skg yang punya ana jadi serba was2an ngawasin anaknya. Dampak teknologi sungguh mengancam kepribadian anak.

  2. yogisaputro berkata:

    *ngambil peran antagonis*

    Memang semua acara tv yang ada sekarang jelek? Kalo jelek ya nggak usah nonton. Walaupun komen acara jelek tapi terkenal, toh banyak yang nonton, termasuk generasi 90-an.

    Daripada mengenang masa lalu yang menyenangkan, lebih baik merancang masa depan yang lebih menyenangkan. Soalnya ini zamannya anak 90-an berkiprah.

    Salam sesama anak 90-an.

  3. Jejak Parmantos berkata:

    Wakaka manteb banget je mas, ngelingake siro menyang jaman semono. Kalo menurut ane yang melegenda tetep Wiro Sableng atau kalo ngga Gerhana. mantab puol.

    Salam kenal mas betewe dinanti kunjungannya 😀

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Sekali-kali nostalgiaaa om. Nggak ada salahnya mengennag masa kejayaaaaan zaman bocaaah dulu 😀

      Wiro Sableng
      Gerhana
      Mak Lamper
      Anglring Darma

      Endi liyaneee?’ Hahhaa

  4. Dila berkata:

    Maen gembot bikin pusing, dulu gembrot sekarang langsing.

    Ini apaaaa hayyoooo? Hahhahaha…
    Salam kenal ya, bang! Sesama generasi 90-an nih 🙂

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Maen tampan bikin pusing, duh pucing pala berbiee cyin. #KesambetBencongWonokromo.

      Duh, ora eleng aku mbak. Yang mana seng sampean maksud ini?”

      Salam kenal mbak, cantik. #KedipinMata.

  5. wawan berkata:

    Sekarang saya udah jarang nonton tv.
    Aneh aneh tayangannya.
    Kalo ada mesin waktu pengen kembali ke taun 90 an 😥
    Kangen mainan jamab dulu.
    Miris liat generasi sekarang 😦

  6. wawan berkata:

    Sekarang saya udah jarang nonton tv.
    Aneh aneh tayangannya.
    Kalo ada mesin waktu pengen kembali ke taun 90 an 😥
    Kangen mainan jamab dulu.
    Miris liat generasi sekarang 😦

  7. nbsusanto berkata:

    wadoh mas jadi kangen acara jaman dulu, lha selain ndagel menghibur juga banyak pesan moralnya.. kayaknya orangtua dulu juga nggak khawatir anaknya nonton tv.. yang pasti sih kalo ahad pagi sampe siang pasti di depan tv, penutupnya wiro sableng.. kalo sore ya itu yang disebutin di atas.. 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s