Dosen Gemes, Mahasiswa Gemertak

IMG_20150311_182854Di dalam gedung-gedung kampus swasta. Kehidupan mahasiswa berdenyut selama dua puluh empat jam penuh. Rutinitas energi bergerak seolah tak pernah mati suri. Di ruang kelas sepanjang pagi sampai sore. Penuh sesak oleh mahasiswa murni, yang memang fokus untuk belajar. Saat senjakala mulai meredup, dan remang-remang cahaya kegelapan mulai datang. Para pekerja yang bersumbangsih terhadap perusahaan selama delapan jam, sebagian ada yang meluangkan waktunya sehabis pulang bekerja, untuk kuliah.

Mahasiswa kelas malam. Beberapa di antaranya. Tenaganya seperti pacuan hewan ternak dikubangan sawah. Pulang kerja, kuliah sampai jam sebelas malam. Setelah itu mengerjakan tugas sampai jam dua dini hari. Begitu di tempat kos, (bagi yang memang bocah perantau) terus mengerjakan proyek ini-itu, buat tambahan nyicil beli rumah. Bagi yang doyan baca buku. Saat di kamar kos, malah langsung bikin kopi. Mengambil kaca mata, lalu membuka lembar demi lembar halaman buku. Sampai bukunya kucel gara-gara jadi bantal.

Kadang ada dek-dek yang tanya: kok tenanganya bisa sekuat itu, bagaimana caranya bang?. Ya, kuat lah dek, kalo ndak bekerja keras, gimana nanti pertanggung jawaban ku sebagai laki-laki kepada orang tuamu. Duh dek, pertanyaanmu lo, macam ngajakin abang berumah tangga. #Tsah. #GombalMukuiOpoTohMas. Ya, berikutnya gue jawab dengan serius. Pertama adalah mengkonsumsi nutrisi tambahan. Mulai dari ruitin minum jus. Sampai ngemil geragal adukan semen. Sama tambahan, ngunyah buah-buahan. Olah raga rutin seminggu dua kali, lari keliling stadion sampek bokong kena encok.

Ya, maklum lah kalo bekerja keras. Teman-teman mahasiswa kelas malam. Termasuk gue iki. Cuma pengen berdiri tegak dengan mandiri. Sebisa mungkin segala kebutuhan, tanpa minta subsidi langsung dari orang tua. Orang tua dikampung halaman sana, bekerja sebagai pedagang di pasar. Bukan pejabat abdi negara yang doyan pamer kemewahan. Inilah hasil didikan dari kakek gue dulu. Budaya kerja keras, bukan hanya di negara Jepang, cuk. Tapi masyarakat Jawa tempoe doloe, pra dan pasca kemerdekaan sudah mengenal kerja keras lewat tonjo jagung di ladang. Angon Sapi, sak ngarite. Dan pekerjaan organik lain.

Semangat itulah yang kini menular ke generasi berikutnya. Perantaranya mulai dari sang ayah. Menjalar terus ke anaknya. Terus terlaksana dalam rutinitas yang terus bergegas selama dua puluh empat jam, di tengah-tengah kota Industri. Tapi kadang mahasiswa semangat belajarnya sudah ngeyel banget. Dosennya kewalahan, sampai-sampai kerepotan buat mengimbangi. Bisa jadi, karena faktor anak muda. Tenaganya masih perkasa menyamai lari marathon waria kw di kejar mas-mas kamtib.

Yang bikin kesel kadang-kadang, sampai di kampus dosennya ndak masuk. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Tau-tau setelah mahasiswanya masuk ruangan kelas. Selama lima belas menit lebih. Dosen pengajar ndak segera menampak kan batang hidungnya. Hingga datanglah pemberitahuan dari pihak pengajaran. Bahwa dosennya berhalangan. Ndak bisa mengajar kerena sebab keluar kota. Atau dinas-dinas yang lain. Ini masih problem sepele lo. Nggak enaknya seminggu berikutnya. Tiba-tiba dosen yang ndak masuk ini tadi. Minta jam ganti ke mahasiswa. Lalu di sepakati masuk di hari libur, Sabtu. Hal macam ini pernah, di ungkapkan oleh teman dekat gue. Sampai-sampai dia terpaksa mengumpat dengan sangat halus.

“Lha gudolmu, mrongos kui Pak?”. Ucap Ucup, sewot. Sewaktu cerita ini ke gue setelah keluar kelas mata kuliah, perilaku organisasi industri.

“Ya, untungnya, aku belum ngalami kasus kayak kamu, Ucup,” balas gue, sambil megelus-ngelus dadanya. “Wes to seng sabar, wong golek ilmu kuwi kudu sabar,”

“Kowe iki, memang bejo banget nasipmu. Cupuh. Dosenmu apik-apik” balasnya sambil mengacungkan jempol setelah emosinya mereda.

Jika ada mahasiswa yang menuntut berbagai hal itu lumrah banget lo. Wong dosen itu punya hutang dari mahasiswa yang sudah ngeluarin biaya. Dari sisi biaya. Kok sekali nyebutin biaya sepertinya ada beban yang menindih ya. Oke, gue ganti. Dari sisi, ongkos kuliah yang harus di tunaikan. Pengeluaran wajib, setiap bulan luamayan gede lo. Untuk angkatan gue yang tahun kemarin ini saja. Sebulan wajib membayar ongkos SPP ke pihak kampus sebesar tujuh ratus ribu.

Denda telat membayar di atas tanggal lima belas, nombokin sepuluh ribu. Kalkulasikan saja sendiri, selama satu semester (hitungan enam bulan) sudah berapa juta duwit yang harus di ongkosin ke pihak kampus. Maka, wajar-wajar saja, jika ada mahasiswa yang menuntut pertanggung jawaban dari pihak kampus. Tentang proses imbal-balik, mengenai apa yang gue terima dari pihak pendidik.

Hal ini pernah di suarakan di forum-forum online anak kampus gue, entah di perkumpulan whats-up, atau blakcberry mesengger dan sejenisnya. Memprotes tentang tindakan dosen yang sudah ndak masuk lebih dari tiga kali (ehm.., gue belum nemu kasus macam seperti ini). Tapi giliran mahasiswa yang ndak masuk, tiga kali. Malah pihak kampus memberlakukan sanksi, mahasiswa tidak di perbolehkan ikutan ujian setengah semester mapun ujian semester. Sontak mahasiswa yang kelewat kritis, sebut saja Marni, langsung dengan suara lantang bilang gini ke gue.

 “Giliran dosen ndak masuk tiga kali, harusnya kena skors juga. Ora oleh ngajar selama satu setengah semester, atau selama semester penuh. Bener kan, Cupuh?” tanya Marni, di taman kampus setelah selesai makan pentol caos.

Sambil ngasih minum air mineral dalam kemasan, gue jawab. “Iya, lihat-lihat dulu lah Mar, kalo memang Dosennya ndak masuk tanpa asalan yang masuk akal, aku sih setuju-setuju aeh sama pendapatmu. Wong kita ini mbayar SPP pakek duwit kok. Dosen wajib ngasih ilmu karena sudah nerima bayaran dari kita Mar.” ucap gue, dengan antusias.

“Wah, otakmu encer juga ya, Cupuh. Kayak air putih yang barusan aku tenggak!” saut Marni, sambil memegang botol air mineral kemasannya.

“Untumu mrongos, kuwi Mar.” balas gue, kemudian berlalu meninggalkannya di atas kursi taman kampus.

Namun kadang yang lebih gawat dari probem-probelm tadi. Yang kadang memang luput dari perhatian mahasiswa. Atau memang mahasiswanya yang ngaco. Mereka terlalu menganggap, sang pendidik yaitu Dosen, meski pun sudah bergelar doktoral dengan sederet gelar yang mirip rentengan jajan kerupuk di warung kopi. Menganggap pendidik adalah manusia sakti mandraguna, dengan sederet pengetahuan yang berjubel di kepalanya. Anggapan macam ini, sama seperti mempercayai profesi orang pintar dengan mbah dukun adalah satu kesatuan. Padahal faktanya orang pintar ya orang cerdas dengan bukti otentik yang bisa di bertanggung jawabkan atas buah dari pemikirannya. Sedangkan mbah dukun, hem, sampean duga sediri sajalah.

Apa gunanya pendidik sekelas doktor. Tapi nggak up-date ilmu pengetahuan. Ndak up-date pengetahuan dibidang riset. Iya, sama saja gelarnya tanpa pertanggung jawaban. Mending orang yang ndak sekolah, yang namanya polos-polos saja tanpa gelar. Tapi soal ilmu yang di geluti, bidang yang ditekuni, tahu persis dengan detail tentang perkembangan dunia sains yang terus berkembang biak. Memuncul kan cabang-cabang ilmu baru. Dengan gagasan yang lebih segar dan mudah di terapkan.  

Hal ini pernah terjadi. Bahkan masih hangat. Kejadian ini baru seminggu yang lalu. Saat dosen gue. Persisnya pendidik gue di kampus. Ndak perlu gue sebut kan namanya. Kurang elok. Gue heran, kok bisa-bisanya lo, ndak bisa membedakan antara passion dan kompetensi. Padahal pendidik ini, membawai mata kuliah Human Recousces. Saat gue ajukan pertanyaan dengan sangat serius. Meski pun, sewaktu gue bertanya. Gue sudah mengantongi jawaban tersebut, lewat buku riset yang gue pegang di atas meja lipat. Iya, sampai sini gue percaya sama Gusti Allah dan data riset.

“Pak, apa bedanya merekrut pegawai pada sebuah organisasi. Baik perusahaan mau pun organisasi nir-laba. Jika mengacu pada dua indikator. Pertama merekrut dengan pendekatan indikator kompetensi, ke dua adalah indikator berdasarkan passion?” tanya gue antusias, sambil memegang bolpoin yang siap mencoret-coret kertas kosong di depan gue.

Passion merekrut pegawai berdasarkan penampilan kann….???.”

“Tunggu dulu Pak, Bukan itu yang saya maksud.” gue memotong pembicaraan dengan bahasa resmi. Dan hati-hati. Karena ini dikusi terbuka di dalam ruang kelas antara pendidik dan mahasiswa. Jadi, gue lebih hati-hati memberikan respon agar tidak bertendensi, atau merendahkan citranya sebagai pendidik.

Setelah gue jelaskan pengertian dasarnya tentang passion dan kompetensi. Pak Pendidik ini pun, menjawab apa adanya. Sekenanya. Ala kadarnya. Tanpa pondasi dari berbagai sumber riset terbaru. “Pokoknya, merekrut pegawai harus berdasarkan.., Ehh.. Ehhhn.”

Sumpah duh Gusti, gue pun langsung sedih mendengar jawabannya. Pendidik yang gue idam-idam kan bisa di ajak berdiskusi dengan sangat menyenangkan. Seru dan asyik. Hanya memberikan jawaban se-adanya. Dan gue pun langsung garuk-garuk kepala duluan. Kecewa. Jika pendidik ini peka, pasti sudah paham banget bahasa tubuh gue. Pada kesempatan berikutnya, gue akan mengajaknya berdikusi. Atas jawabanya tadi. Gue akan melakukan bincang-bincang hangat seputar buku terbaru bareng biliau.

Kejadian yang sama, di hari sebelumnya. Tapi di ruang kelas yang berbeda. Untuk mata kuliah perilaku organisasi dan management perubahan. Lagi-lagi gue di hadapkan pada problem yang sama. Pihak dosen pengajar gue, duh gusti, kebangetan lo ‘anunya’. Jawab pertanyaan diskusi dari mahasiswanya. Hanya sebatas asal jawab. Misal gue gue tanya: “Bagaimana strategi manajemen organisasi agar bisa sustainably?”. Kemudian bilau hanya menjawab: “Iya, semua jajaran menajemen harus berubah,” wes kui tok. Ndak ada kalimat yang bermutu yang keluar lagi dari dosen gue. Rasanya gue pengen keluar kelas, terus ke jalan raya. Garuk-garuk aspal.

Kecewa banget, menerima ke adaan seperti ini, yang di luar harapan gue sebagaimana, sewaktu gue memutuskan kuliah di kampus ‘luar negeri’. Pada mulanya, bayangan gue dosen-dosen untuk mata kuliah yang menjurus pada persoalan study kasus, adalah di isi oleh pendidik dari berbagai kalangan bekas CEO-CEO, atau pun setidaknya punya pengalaman lapangan. Memimpin organisasi.

Atau, kalu ndak punya dua-duanya, minimal pernah jadi (atau aktif) konsultan diberbagai perusahaan dengan sederet pengalaman. Dan punya landasan dari buku-buku riset bermutu. Justru yang gue temukan. Pendidik bergelar S3 yang hanya berkutat pada teori. Jauh dari sumber ilmu pengetahuan. Sementara ilmu terus berkembang mengikuti peradaban manusia. Sepertinya yang ada hanya pendidik yang garing, karena malas tidak mau belajar. Setelah sesi presentasi selesai, gue samperin meja biliau. Ketika anak-anak kelas sudah pada keluar. Gue menawari buku riset terbaru yang gue baca.

“Bu, ada buku riset terbaru, menarik sesuai bidang ilmu yang Ibu sampaikan ke temen-temen?” tanya gue, memancing obrolan, lalu melanjutkan. “Tentang riset kinerja yang berlandaskan passion Bu. Penulisnya Rene Suhadrono?”

“Harganya berapaaaan, Mas?” tanyanya sambil melihat isi dompet.

“Murah kok Bu, ndak sampek 100 ribu.” jelas gue, berdiri di depanmeja biliau.

“Iya, sudah besok ibu baca dulu sekilas punyamu, terus aku tak ikutan beli, ya?” jawab bu Dosen, lalu kami berpisah di ruang kelas.

Setelah gue mengalami peristiwa ini. Problem yang sama juga di alami siswa-siswa di sekolah-sekolah yang lain. Yang pernah gue baca dalam majalah berita mingguan nasional dua hari yang lalu. Menteri pendidikan pernah mengumpul kan semua kepala dinas di kantor kementrian. Sambil membawa sebuah buku karangan Ki. Hajar Dewantara, lalu bertanya pada hadirin: “Apa ada yang sudah membaca buku ini?” Dan ternyata semua ndak ada satu pun yang angkat tangan. Duh gusti. Padahal dari buku yang tidak dibaca itu, yang kini konsepnya di adopsi oleh Finlandia. Yang kini terkenal akan kemajuan pendidikan paling maju di dunia. Konsepnya peserta didik: ketika datang ke sekolah atau ke kampus, datang dengan senang, pulang pun juga ikutan senang. Menjadikan sekolah sebagai teman.

Jadi gini lo, bagaimana ceritanya seorang pendidik (dosen dan guru) mengacuhkan sumber-sumber buku bermutu. Malas membaca, yang berakibat fatal dalam proses belajar-mengajar. Inilah resikonya bagi mereka yang bekerja hanya sekedar mengambil gaji, tanpa memberikan sumbangsih nilai-nilai luhur kemanusiaan. Logikanya proses belajar-mengajar yang menyenangkan akan menjadi candu. Hari ini, gue bukan anak tengik lagi. Rasionalitas kepala gue sudah berjalan. Jika gue lonyo dan pasrah pada ke adaan, maka dosen-dosen di kampus pun akan semakin tidak menyenangkan. Spontan gue pun mengambil inisiatif menyebarkan energi positif. Setelah keluar kelas, gue bercerita panjang lebar ke akun twitter mas @ReneCC, lega bisa melampiaskan segala kerisauan. Lalu ada sesuatu pencerahan yang datang, darinya.

“Bisa jadi dirimu, sengaja dihadirkan disana, untuk tahu masalah, dan jadi bagian dari solusi. Jadikan waktumu bermanfaat, dan bermakna ya,” Rene Suhardono (42 tahun), Penulis Muda Yang Kadang Suka Pecicilan.

Cupture

Cupture

Iklan

13 thoughts on “Dosen Gemes, Mahasiswa Gemertak

  1. chocopurp berkata:

    Aseli ngeselin BGT. Gue pernah ngerasain yg begituan, di php-in dosen. Apalagi untuk mahasiswa yg rumahnya jauh kaya gue, dari Palembang bela-belain ke Indralaya (Kampus gue) cuma untuk satu mata kuliah hari itu, jam 8 PAGI. Dari Palembang ke Indralaya itu kurang lebih 1 jam, belum lagi macet bisa 2 jam sampai kampus, sampe kampus dosen gak masuk, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ngeselin kan? Bikin Bete.

  2. Beby berkata:

    Sedih ya.. 😦

    Tapi aku merasa beruntung karena dosen-dosen di kampus ku termasuk yang seneng diajak diskusi, tentunya dilandasi dengan fakta en pengalaman mereka dulu.. Maklum, kalok kuliah di jurusan budaya emang kayak gitu. 😀

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s