Handuk Yang Melorot Sebelum Waktunya

#kamrMandiRumah

#kamrMandiRumah

Kamar mandi. Ruangan kecil yang panjang dan lebarnya kurang lebih dua meter. Dimana, fungsi utamanya digunakan untuk mandi. Selain itu, bisa digunakan untuk nenunaikan tugas suci. Buang hajat. Bagi sebagian orang yang bekerja di industri kreatif. Kamar mandi. Selain digunakan untuk buang hajat. Bisa digunakan untuk melahirkan ide. Di beberapa kota metropolitan. Kamar mandi. Tempat yang menjalankan prinsip waktu adalah uang. Tapi membangunnya butuh dana 300 juta dibilangan Jalan Sudirman Thamrin, Jakarta. #SakitnyaTuhDisini #SambilPegangBokong.

Beberapa orang memang rela menghabiskan waktunya di kamar mandi. Bagi cewek, kamar mandi adalah tempat yang paling nyaman urutan ke dua, setelah kamar tidurnya. Sedangkan bagi cowok, kamar mandi adalah tempat paling bau (mungkin pesing) setelah bau kentutnya sendiri. Adik-adik gue contohnya. Cewek yang paling nyebelin dalam dunia per-kamar mandian, dari pada dosen yang sekedar ngasih PHP kapan bisa bimbingan skripsi.

Setiap kali gue di rumah. Entah kenapa jam mandi kami pun seolah-olah jatuh di waktu yang sama: menjelang habis magrip. Seperti keluarga yang sangat kompak, kami pun memegang handuk masing-masing di depan pintu kamar mandi. Iya, mirip kayak mas-mas tukang narik becak. Mungkin kamar mandi di rumah gue paling sibuk, di antara kamar mandi yang lain. Bisa dibayangin, satu kamar mandi harus diperebutkan oleh empat orang. Belum lagi kalo lebaran. Ke tujuh anaknya kumpul.

Sebagai abang yang memberi petuah kebaikan. Saat di rumah kayak gini. Gue pun mempersilahkan si Sadra dan Dina untuk mandi duluan. Tapi rasa ihklas gue berubah menjadi murka setelah mereka berdua lebih dari sejam di kamar mandi. Dan ndak selesai-selesai. Tiap kali gue bilang, “Udah belum, sih Dra?” adiknya si Dina bakal menjawab gini. “Belum bang, masih cuci muka.” Setelah lebih dari tiga puluh menit, mereka pun belum selesai-selesai. Kini, giliran Tunjung yang angkat bicara. “Asem tenan, kok suwi banget sih, uwes opo belum?”

Yang lagi-lagi selalau di jawab dengan bahasa khas seorang cewek. “Bentar Njung, masih keramas. Mandio di rumanya eyang sana lo.” saut Sandra, memberikan sebuah pilihan.

Mendapati jawaban yang kurang puas. Emosi tunjung yang kadang jaim mulai berbuat ulah. Pertama-tama, dia nyamperin saklar lampu kamar mandi yang berada di atas priser tempat penyimpanan mesin pendingin daging. Lalu tangan kanannya merangsek, menyetuh tombol saklar. Cetek. Lalu gelap. Lampu kamar mandi pun di matikan oleh Tunjung. Spontan mereka berdua yang di kamar mandi, pada teriak kenceng.

 “ADUH PERIH, ADUH PERIH. NJUNG NYALAIN LAMPUNYA DONG, IYA BENTAR LAGI SELESAI NIH.”

Gue dan Tunjuang pun. Tidak memberikan respon. Gue lari ke ruang meja makan, sambil mengintip dari balik pintu, kejadian apa yang akan terjadi setelah ini. Sedangkan Tunjung masih tetap santai, tenguk-tenguk di samping mesin pricer. Beberapa menit kemudian, terdengar mereka berdua membuka pintu kamar mandi. Dengan pemandangan rambutnya penuh busa, dan memakai handuk. Si Dina menyalakan Saklar. Sedangkan Si Sandra mengampiri Tunjung.

“Wes toh iyo, awas. Njong, bajumu ora bakalan aku cucuiiiinnn besok?” ancam Sandra, sambil menunjuk ke arah tunjung.

Tunjung hanya cenge-ngesan, pecicilan.

Tanpa sempat menjawab. Tunjung yang sudah memakai Handuk pun melipir melewati Sandra. Baru satu langkah kaki berjalan, tiba – tiba tangan sandra pun menarik lipatan handuk yang melilit di tubuh Tunjung. Lalu yang terjadi, handuk yang di pakai tunjung pun melorot ke lantai. Hingga badannya telanjang bulat tanpa sehelai benang sedikit pun. Tititnya yang gondal-gandul (yang beberapa waktu lalu abis di sunat) pun dapat terlihat dengan sangat vulgar. Lalu dia ngibrit lari masuk ke dalam kamar mandi.

“Ha-ha-ha-ha, suookorrrrrrrr. Siapa suruh ngelawan saya.” ucap Sandra, jumawa. “Ha-ha-ha kisinan, mangkannya langsung ke kamar mandi.”

Sambil mengintip dari balik pintu kamar mandi Tunjung menjawab. ‘APIK TOH, MANUK KU. WES ADA HELMNYA, SNI PISAN!” sautnya lempeng.

Gue pun keluar dari tempat persembunyian. Lalu tertawa lepas sekenceng-kencengnya, sambil memegangi perut. Kemudian Si Dina menimpali dengan sangat jujur. “Dulunya sebelum di sunat gak gitu-gitu, juga kok bang. Malah tiap mandi aja nggak pernah pakek handuk.”

*Puji Tuhan, liburan yang seru. Termakasih sudah melahirkan saya di tengah-tengah keluarga koplak seperti ini.  

Dari kiri, Tunjung kemudian Anak Tampan #SayaSendiri

Dari kiri, Tunjung kemudian Anak Tampan #SayaSendiri

Iklan

8 thoughts on “Handuk Yang Melorot Sebelum Waktunya

  1. Ririn berkata:

    Ngakak lah, kamar mandi emang tempat paling apik yang tiap cipratan airnya penuh inspirasi..
    saya suka bawa gadget ke kamar mandi, searching apa aja, baca apa aja sambil ngeden..

Ngecuprus?. Boleh. Untuk pempermudah kolom komentar, langsung aja klik logo akun media sosial di pojok kanan bawah, biar gue bisa ngelihat siapa aja yang nyimak notedcupu gue. Semuanya akan gue baca kok, terserah mau komen apa, gak tatakrama bakal gue hapus. Matur Nuhun.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s