Tentang Buku ‘Cinta Kesandung Gunung’

Cover Awal 'Cinta Kesandung Gunung' [ @cupunoted]

Cover Awal ‘Cinta Kesandung Gunung’ [ @cupunoted]

Bang Cupuh, kapan ngirimnya itu naskah buku ke penerbit?.

Bang Cupuh, sudah punya pacar lagi apa beyum?

Bang Cupuh, kamu kok tambah item dekil sih?.

Oke, oke, oke. Gue datang dengan damai. Biarkan dengan tenang gue bisa bercerita tentang #lampauiDiri di tempat ini.

***

Ehm, ehm. Shek.., shek, gue benerin tempat duduk dulu. Bentar nyalain, mikropon-nya ya. Tes-tes, udah nyala kan?. Kedengeran toh yo yang dibelakang sana. Jadi gini. Semenjak tanggal 15 Januari 2015 kemarin, peluit proyek menulis buku ini gue bunyikan. Duh, ini penulis apa tukang parkir. Ceritanya, sebelum memulai menulis, gue ngintipin ritme kerja penulis yang gue idolakan. Di deretan penulis tuna perkawinan ada Radityadika. Terus di penulis tuna asmara ada bang Alit Susanto. Sama yang paling sepuh, ada Mbah Tujiwotejo, Presiden Jancuk Indonesia.

Ke tiganya punya ritme yang sangat rapi. Gue tahu, salah satu bukunya Radityadika di tulis di air-port, sebelum pesawat berangkat, sewaktu ada job ngisi seminar di suatu kota. Kalo Bang Alit lain lagi. Dia ngejar deadline nulis, sambil buang hajat di atas jamban diantara sela-sela jam liputan. Sedangkan Mbah Tejo, di salah satu bukunya cerita di kerjain sewaktu perjalanan Surabaya ke Malang via darat pas mau shoting film. Kalo gue niru Mbah Tejo, perut gue bisa munek-munek, ending-nya bakalan mabok. Kalo niru, Radityadika jelas ndak bisanya, orang gue belum dapet undangan ngisi acara macam begituan. Pernah gue nerapin nulisnya gaya Bang Alit, tapi baru ngetik semenit, ngeden gue malah ndak ada hasilnya.

Selalu ada cara menciptakan kesempatan di antara waktu. Siangnya gue kerja. Habis kerja gue kuliah sampek jam sepuluh malam. Itu pun kalo ada tugas kelompok, pernah gue sampai kontrakan jam dua dini hari. Bisa dibayangin, sisa waktu yang gue punya cuma seuprit banget. Makannya jangan heran, tong sampah gue ke banyakan berisi bungkusan kopi sachetan dari pada bungkusan nasi padang. Gue kejar naskah, bersanding dengan secangkir kopi. Saat mayoritas orang di luar sana tertidur pulas, gue rela menyisihkan rasa nyaman. Inilah cara gue melampaui diri kawan. Sepanjang malam, gue duduk bersila di depan leptop. Mememeras keringat, ide, menuangkan cerita kelam di masa lalu.

Hampir tiap hari pola hidup gue seperti ini.

Ending-nya jam istriahat gue semakin terpangkas. Tapi pengalaman begundal jalanan semasa SMA membuat badan gue kebal melawan dinginnya malam. Kadang-kadang kalo leher gue sudah kerasa kesemutan. Mata sudah mulai berembun Dan leher sudah kerasa mulai nyeri. Barulah gue mulai istirahat. Rebahan sebentar di lantai sambil ngulet-ngulet. Lalu lanjut lagi, gaaas poool. Tapi gue nyadar banget kok, seberapa kuat gue harus memporsir tenaga gue, untuk terus bertahan. Saat badan sudah capek, dengan sendirinya gue akan tertidur sambil duduk di depan leptop. Karena gue yakin banget, cara merayakan kehidupan adalah dengan mengistirahatkan badan setelah lelah seharian.

 Emang nggak pernah telat bangun pagi, apa bang?”

Nggak pernah. Soalnya gue pakai alarm otomatis. Henpon dua-duanya gue nyalain. Mua-ha-ha-ha. Paling-paling setelah ngaca habis dandan, gue baru nyadar kalo ke dua mata gue bengep. Lazimnya mata bengep, di bawah bola mata, ada kantung yang menggantung segede jempol kaki. Ehm.., mungkin ndak beda jauhlah sama mripatnya Pak SBY. Di tempat kerja pun, gue rutin ngusir ngantuk dengan menyedu kopi di pentri. Kadang kalo sudah kena ngantuk berat, gue sering-sering ngebasuh muka di bawah sower. Jika memang tidak bisa di atasi denga kopi, cara terakhir, tidur sebentar di mushola kantor selepas sholat duhur, terus bablas sampai sore. #AmpunPakBos. #JanganDiPecat.

 ***

Ada tempat lain, yang menjadi rujukan buat gue menulis selain kamar pribadi. Bagaikan suku Rimba di pedalaman hutan Jambi, pulau Sumatera. Gue pun nomaden tempat. Memanfatkan fasilitas publik di kota ini. Saat hari sabtu dan minggu tiba misalnya. Dimana gue sedang libur bekerja. Tempat rujukan lain yang gue pakai buat menulis adalah di perpustakaan kota. Yang lokasinya bersebelahan dengan kampus gue. Teman-teman yang ada di Surabaya, setelah membaca klu tadi, pasti hapal banget gue kuliah di kampus mana.

Saat sinar matahari yang baru berdiri di atas genteng. Pagi-pagi buta, selepas bapak-bapak petugas membuka kan pintu perpus lantai satu, gue sudah berada di area parkiran. Begitu gue meninggalkan tas ke dalam loker, gue berjalan menaiki tangga berundak ke lantai dua. Di sanalah, gue bertahan dari pagi sampai sore. Menceritakan kisah pahit di masa lalu. Dengan membawa bekal, sebotol air mineral. Karena gue tahu, saat kenangan terasa pahit di ujung lidah, air mineral yang gue bawa bisa menghambarkan keadaan. Saat sore menjemput, gue pun angkat pantat dari tempat duduk setelah di usir sama petugasnya.

 “Bang-bang, perpusnya mau tutup nih. Kalo mau tetep di sini nggak apa-apa sih. Tapi aku kunci dari luar. Mau?” ucap Pak Petugas sambil merapikan buku-buku di depan meja gue.

“Masak saya di jadikan penunggu perpus Pak?. Kalo ada temennya cewek cantik macam Julia Perez, sih mau?”

 “Dasar bocah otak mesum!” jawabnya lalu tertawa kenceng, “Mu-ha-ha-ha.”

Hal semacam ini, sudah berlangsung beberapa kali. Pada setiap hari libur tiba, ruang perpus lantai dua yang sepi dan tenang, mampu membius gue untuk tetap tinggal di sana. Sampai-sampai bapak-bapak petugas tadi, hapal banget dengan muka gue. Setelah gue mengisi daftar hadir buku tamu pada suatu pagi, Bapak Petugas ini bakalan nyeletuk dengan sangat spontan. “Kamu lagi, kamu lagi. Ngerjain apa sih, Cah Dekil?. Skripsi?’’ tanyanya sambil kepalanya menengok ke sebelah kiri karena terhalang oleh monitor komputer.

 “Enggak Pak, cuma lagi minjem sinyal wifi kok.” balas gue, jutek.

Kedekatan gue dengan Bapak Petugas perpus yang lumayan akrab. Mampu menghantarkan kami pada suatu moment menyenangkan yang ndak bisa gue duga sebelumnya. Pernah suatu kali, Bapak Petugas ini mendekati meja gue. Awal mulanya gue tetap ndhak merespon. Dan masih tetap aktif bersentuhan dengan keyboard mesin qwerty. Setelah berada di sebelah gue, dengan satu kali menepuk pundak sebelah kanan, bapak ini ngomong.

“Ediyaaan, kowe dari pagi sampek sore, ndak istirahat belas. Kuat juga punggungmu?.”

“Namanya juga usaha Pak.” jawab gue sambil menoleh ke arahnya.

 “Jangan terlalu bekerja keras, Nak. Nanti banyak yang naksir lo?” godanya sok anak muda banget.

“Kalo yang naksir, Julia Perez, mau Pak?” jawab gue.

 “Lahh, bocah ediyan. Dasar otak mesum.” sautnya, lalu kembali ke tempat duduknya. 

***

Ndak sekedar kamar pribadi. Ruang perpusda lantai dua. Tempat lain pun juga gue datangi. Bersemedi di sana, dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Tempat ini kafe, tapi berkonsep perpustakaan. Dengan cahaya lampu yang temaram, dimana setiap ornamen yang ada di dinding, berbentuk rak-rak yang berisi berbagai buku. Membuat tempat ini jadi sangat romantis. Setelah gue berada di sana untuk pertama kalinya, pada suatu malam minggu. Kampret banget, yang ada malah sepasang kekasih yang lagi mesra-mesraan di depan meja gue, sambil pegangan tangan, ngucapin janji: kita sampai menikah. Karena sudah memesan makanan roti bakar dan jus Jerman. Dengan sangat terpaksa, gue menggeser meja gue ke arah kasir. #TakutMataGueKatarak.

Rutinitas semacam ini pun berlangsung sejak awal bulan tahun ini, Januari. Sudah ndhak ke hitung, berapa banyak gue menghabiskan kopi. Bercumbu dengan sepertiga malam, hingga sampai dini hari. Berpindah lokasi dari Perpusda ke berbagai kafe. Terus bergerak sepanjang siang dan malam, tak pernah berhenti, karna gue sadar, cara paling ampuh untuk melupakan kesedihan adalah dengan “bergerak”, do something. Dan bukan terus dipikir dan diratapi. Hingga akhirnya, awal bulan ini, gue memutuskan untuk pulang ke kampung halaman sana, Trenggalek. Untuk keperluan riset lapangan dan memikirkan judul buku ini bareng temen-temen yang telah mensuport penuh tentang pembuatan buku ini.

Bahkan karena pulang naik trevel pada malam hari pekan kemarin, perut gue mabuk mulai kota Kediri sampai Trenggalek, Panggul. Sampai-sampai sewaku mau balik pun, perut gue sama bapak di kasih jimat sakti. Udel gue di lakban pakek koyo. Tapi ya, namanya juga Cah Ndeso yang tukang mabuk’an (dalam arti yang sebenarnya lo ya). Baru sampai Wonokerto, keresek plastik yang gue bawa di dalam tas ransel. Ada gunanya juga. Setelah menggigil karena masuk angin, perut gue kembung, hingga mengeluarkan zar laknat: kentut. Lalu terjadilah malapetaka.., huwekkk-huwekkk…, Srrrrrr…, stop. Sampai sini saja, ini jorok banget di tulis. 

Udel gue di lakban pakek Koyo Cap Cabe

Udel gue di lakban pakek Koyo Cap Cabe

page

Mereka para first reader buku ‘Cinta Kesandung Gunung’

Setelah naskap siap. Gue memprint semua bab-nya. Melakukan koreksi logika bahasa. Ejaan EYD, etc. Dan menambahkan beberapa adegan yang lebih lucu. Teman-teman kampus, dan gank serta guru nulis pun gue panggil. Untuk membantu apa yang kurang dari naskah ini. Gue sangat bahagia, ketika koreksi ke empat kali, beberapa sempel first reader naskah ini saat membaca matanya menangis. Itu artinya tugas gue sebagai penulis, berhasil membawa mereka masuk ke dalam cerita ini. Termakasih untuk semuanya.

Inilah cara gue melampaui diri kawan…, lalu lahirlah buku ini.

inilah penampakan 'Cinta Kesandung Gunung' setelah melalui tahap re-writing sebanyak empat kali.

inilah penampakan ‘Cinta Kesandung Gunung’ setelah melalui tahap re-writing sebanyak empat kali.

***

Jujur, sewaktu gue menulis bab utama, dan ke dua bab lainya. Gue nangis kejer di dalam kamar. Betapa pedihnya menulis cerita patah hati terhebat di masa lalu. Tapi gue berkeyakinan cerita ini hanya gue yang tahu, kalo gue ndak punya keberanian untuk menulisnya. Terus siapa lagi?. Iya, sejarah pun di mulai. Menulis buku ini, sama halnya mengatarkan gue untuk intropeksi diri lebih dalam lagi, bahwa…, “Perpisahan itu mengajarakan hati kamu menjadi lebih peka lewat air mata yang tumpah, terus sakitnya meyakinkan bahwa hidup itu luas, Cupu!” katanya Ibuk, dalem, lalu melanjutkan, “Kamu akan lebih tambah dewasa setelah kejadian ini,” nasehatnya, seperti memberikan sebuah energi baru.

Konsep buku ini, tentang: Di kecewakan oleh cinta berbeda kasta sosial, jadikan itu sebagai faktor motivasi yang mujarab. Sadar atau tidak, setelah patah hati, semua orang di luar sana akan melahirkan prinsip baru dalam hidupnya.

Gue akan cerita sedikit..,

Di bab utama menceritakan tentang cinta sepasang kekasih anak kampung halaman di sebuah desa, bernama Hunyi dan Huni. Yang sejak dari pacaran mereka sudah berbeda kasta sosial. Antara orang berada berlatar belakang keluarga abdi negara: pejabat. Dan masyarakat kelas biasa: pedagang. Setelah mereka pacaran, anggota terkecil dari keluarga Huni tidak mendukung. Sampai munculah penolakan berbuyi, “Kamu jangan sama anak itu, masak pas kawinan ke sini mau naik becak. Saudaranya kan banyak, jangan malu-maluin keluarga?”

Siapa tokoh tadi. Penasaran?.

Lalu setelah hubungan mereka berlanjut, giliran orang tuanya yang tidak merestui. Pada suatu malam, Huni di dudukan di ruang keluarga sama orang tuanya, “Kamu itu, kalo cari calon, ya mbok yang lebih mapan dari dia. Bapakmu tahu, dia anaknya siapa!.” ucap Ayahnya Huni, yang meletup-letup di ruang keluarga. Masalah lain pun, muncul silih berganti tiada henti.

Tapi mereka bisa bertahan, meski pun keada’an mulai menghancurkan. Karena mereka punya prinsip, dua karakter anak manusia yang bisa melawan kebosanan, akan tetap bisa mewarnai dunia meski pun awan mendung berjalan di atasnya. Akhirnya hubungan mereka tetap berjalan, sambil sembunyi-sembunyi. Hingga pada suatu titik hubungan yang punya tujuan. Mereka menyentuh sebuah perjanjian maha dahsyat sewaktu mereka bertemu di depan Stasiun Kota Malang: 

Kita sampai menikah, kan Hunyi?ucap Huni, setelah menerima sebuah kado       Bonekah Doeraemon ketika ulang tahunnya.  

Tapi nasip bergulir di luar realita. Harapan untuk terus bersama akhirnya runtuh di tengah jalan. Mereka putus di saat cinta mencapai titik puncak pada sebuah komitmen. Apa penyebabnya? Penasaran?. Mereka terpisah saat beberapa tahun mengalami, Long Distance Relationship, Malang – Surabaya. Saat jarak hanya di pisahkan oleh Kerepa Api Penataran Express.

Setelah putus, Hunyi (yang tokohnya adalah gue), berjuang mati-matian melepas dari jeratan masa lalu. Lalu apakah gue menyesal setelah kenal dengan Huni?. Prinsip apa yang Hunyi dapatkan setelah peristiwa pedih ini terjadi?. Jawabannya ada di buku ini. Ada cerita tentang move on sambil membawa kardus untuk di ungsikan ke kampung halaman. Ada tentang cerita, move on jilid dua, yang akhirnya Hunyi jatuh cinta pada cewek yang salah, siapa?. PSK yang menyamar jadi Mahasiswa pada suatu kampus. Seru yaaaaaaaa?. Mua-ha-ha-ha.

Kenapa judul “Cinta Kesandung Gunung”, bang?.

Itulah alasannya judul buku ini, gue kasih nama ‘Cinta Kesandung Gunung”. Gunung adalah istilah lain di dalam kehidupan sosial lingkungan masyarakat desa, di kampung halaman gue. Iyap, gunung adalah nama lain dari keluarga berada yang maha kaya raya. Asyik ya?. Cinta Kesandung Gunung, yang artinya cinta kesandung kasta sosial. Ehm keren kan gue?. Seruu-seru.

Setelah melalui pergulatan yang panjang selama empat bulan lebih, gue mampu merampungkan total 121 halaman. Belum termasuk lampiran. Semuanya di angkat dari pengalaman pribadi gue. Di buku ‘Cinta Kesandung Gunung’ ini ada 14 bab totalnya. Gue tulis dengan genre: personal literature comedy. Selain kecewa karena cinta. Ada cerita lain. Tentang gue kecewa pada Pak Atasan karena gue mendapatkan tugas untuk membuat transaksi fiktif, agar ngeles membayar uang pajak ke negara tidak sesuai jumlah semestinya. Dari kejadian ini, gue seakan menjadi ‘Vincent’ dalam sekala yang berbeda. Seru ya petualangannya?. Tentu, nama perusahaan dan tokohnya gue samarkan. Dan masih banyak bab lain yang lebih menegangkan. Seru. Lucu. Sedih. Semua bercampur menjadi satu.

Naskah gue kirim kemarin hari Sabtu, ke redaksi @Bukune di Jakarta sana. Man-teman, ded-dedek, om-om, mas-mas, mbak-mbak dan Budhe-budhe, doain semuanya berjalan lancar ya?. Dan cepat mendapatkan respon dari sana. Amin.

Udah-udah, itu aja dulu ceriwisnya. Jempol gue mulai kapalan ngetik terus dari pagi sampek sore. Tes-tes…, gue matiin mikroponnya dulu ya. Makasih kalian sudah mendengarkan. Gue undur diri dulu, dari ruangan ini. Dadah-dadah, sampai ketemu minggu depan di tempat ini ya. Oiya, gara-gara patah hati itu juga, gue tutup akun twitter yang lama lo. Gue ganti yang baru. Sapa gue di sini ya: @cupunoted. 

hasil akhirnya

hasil akhirnya [ sinopsis, profil penulis, bukti kirim naskah buku ‘Cinta Kesandung Gunung’ via Pak Post Indonesia

Iklan

30 thoughts on “Tentang Buku ‘Cinta Kesandung Gunung’

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Hallo pembacaaa. Ciye yang baca live dr Kota Malang and Batu, gak asing og sama namanya, jangan bawa perasaan lo yaaa *SisirKumis. Rajin-rajin aja bukak blogg gueee. 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s