Ruang Rahasia Di Balik ‘CKG’

Cover Sampul Awal 'cinta Kesandung Gunung'

Cover Sampul Awal ‘cinta Kesandung Gunung’

Pada awal bulan Januari tahun 2015, gue berdiri di depan Majalah Dinding yang menempel kuat di dinding kamar. Beberapa lembar berisi resolusi menyambut datangnya tahun baru gue tempelkan di sana. Resolusi itu lumayan banyak, tapi masih bisa dihitung dengan jari. Ketika dua lembar tertempel dengan paku jamur, pandangan gue terfokus pada lembar urutan nomer tiga. Gue mengambil napas. Lalu otot-otot anggota tubuh mulai gemertak. Tangan kanan gue mengepal dengan sangat keras. Dada gue membusung. Dengan sebuah keyakinan baru, gue berusaha menyihir diri gue sediri, kemudian gue bilang.

“Wedus tenan. Mosok ngetik ngene aeh ora iso. Jancuk…, pancal proyek buku 2015?’

Langkah baru pun di mulai. Seolah memencet sebuah tombol start. Pergerakan badan gue seperti mekanik. Mulai dari amarah yang bisa gue konversi menjadi tenaga yang sangat berguna. Darah mengalir ke sekujur tubuh menjadi energi yang tiada habisnya. Jantung semakin berpacu, mirip seperti langkah kaki yang memiliki tujuan. Gue mengambil buku paperline. Ketika membuka halaman awal, di sana lah gue menulis alur cerita, premis utama, karakter tokoh yang bermain di dalamnya, etc. Petualangan panjang beransel yang memuat berbagai riset kecil ‘data masa lalu’ dan kopi sachetan, telah mengantarkan gue untuk menikmati proses yang berjalan.

Di kamar bercat putih inilah, gue duduk tampan. Saat malam telah larut, jari gue masih menari sambil bersenandung santai di temani lagu-lagunya Sheila on 7, ‘Kau Harus Bisa Berlapang Dada, Karena Semua Tak Lagi Sama..,’ lagu ini menjadi sound track yang tepat dan jatuh di moment yang pas, ketika harus disandingkan dengan secangkir kopi manis yang tidak bisa lagi dirasakan. Semua kenangan lama yang berbentuk mozaik, dengan sangat hati-hati gue kumpulkan menjadi bagian cerita yang utuh lagi.

Jam dinding terus mengeluarkan ritme bunyi yang sangat rapi, ‘tuk…, tuk.., tuk.., tanpa terasa ketika waktu terus berjalan, saat gue hendak untuk pergi ke kamar mandi. Baru saja gue membuka pintu kamar, gue di sambut cahaya terang yang masuk melewati jendela. Mata gue mengerjap-ngerjab pelan. Lalu gue balik badan melihat jam dinding, ‘Edaaaan, wes jam limo subuh. Pikun tenan, lali ra delok jam.’ Gue ngomong sendiri. Begitu kelar cuci muka dan sholat subuh, gue rebahan di atas ubin. Tanpa sempat menyalakan alarm, tiba-tiba gue tertidur dengan pulas, kumpul kebo sama si bagong (nama leptop gue). Tahu-tahu saat gue bangun, gue jatuh di waktu yang tepat. Jam 8 pagi. Keren ya gue (pamer yoben)?.

Ada suatu masa, ketika orang mengalami patah hati, terutama cewek. Saat galau, bisa mendadak menjadi petugas keamanan wilayah teritorial. Bisa di bilang kayak Pakde-Pakde Kamtib di Taman Lawang. Menyendiri di kamar dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Nangis, lalu menghabiskan beberapa lembar tisu. Sedangkan cowok, berusaha agar tetap lebih jentelmen supaya terlihat keren. Padahal dalam sudut hatinya, menyimpan kepedihan yang teramat meratapi. *Tapi Aku Yo Ora Tho

Bagi penulis, setiap cerita kelam di masa lalu adalah investasi yang lebih berharga dari pada berhasil dulit ketombenya Pemela Safitri. Ada saatnya cerita maha dahsyat di masa lalu, bisa di kemas kreatif dalam bentuk buku. Lalu setelah jadi, bisa di nikmati masyarakat luas. Iya, gue punya modal itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk mendaur ulang: cerita kelam. Ada beberapa benda mati di kamar gue, yang sangat berperan ketika gue sedang ‘adu sundul’ dengan masa lalu. Benda-benda mati ini, sangat men-suport sewaktu gue mengerjakan proyek buku 2015, kemarin. Rutin gue melakukan ritual, sebelum menulis. Enggak. Gue enggak nyembah berhala kok. Simak aja alur ceriwis gue di edisi minggu ini. Benda yang pertama adalah…:

***

Rak Buku

Rak Buku Gue Yang Kecil. Keren ya?.

Rak Buku Gue Yang Kecil. Keren ya?.

Sebelum gue berada di rumah kontrakan yang berada di jalur toll Suramadu. Rak buku di dalam kamar gue ini, sudah ada lho. Entah siapa yang ngasih, sampai sekarang gue belum tahu. Kemungkin besar, berasal dari jaman Jahiliyah, ketika rumah kontrakan ini di bangun di atas pemakaman Raja Piraun. Rak buku ini bentuknya masih bagus, tapi lawangane wes rodok sempal lo. Di dalamnya ada lima kotak yang tersusun dari atas ke bawah (yo jelas toh, Cup-cup) setinggi dua meter.

Berhubung gue orangnya doyan baca. Akhirnya buku-buku gue yang tercecer diberbagai tempat sejak tahun dua ribu sepuluh, gue kumpulkan di rak ini. Keren-keren. Semua kolom-kolom rak yang berjumlah lima tingkat, kini penuh berisi buku-buku koleksi gue. Syukurlah gue sekarang punya ruang perpustaka’an pribadi. Iya, walaupun ora gede-gede amat kayak ruang perpusda kota sebelah kampus gue. Setidaknya saat teman-teman gank gue berkunjung di mari, ora kor plonga-plogo dlongap-dlogop koyo Kebo.

Dari kamar kecil inilah, gue membangun ruang riset raksasa untuk buku Cinta Kesandung Gunung — (Tentang Cinta Yang Gagal Panen)”. Berbabagai buku komedi, teknik menulis lima alat indera, dan buku novel tentang patah hati dan long distance relatinoship, gue kumpulkan. Satu demi satu gue bedah isinya. Lembar demi lembar, gue baca dengan kepala yang semakin berasap. Gue berusaha mencari pembeda yang baru dari penulis lain, dari buku lain.

Dari rak buku inilah seorang anak kampung yang menetap disebuah pelosok desa di Trenggalek, iya gue, bisa melahirkan karya edan sepanjang sejarah buku novel personal literature comedy di Indonesia. “Cinta Kesandung Gunung’ (Tentang Cinta Yang Gagal Panen). Gue pun menamai, penemuan ini (koyo propesor yo) gaya menulis gue dengan istilah: penulis organik. Teman-teman yang ada di Surabaya, boleh lah mampir ke kontrakan gue. Nyedu kopi bareng sambil membaca beberapa halaman buku. Kalo cowok gue jadikan tukang ngaret, kalo cewek gue jadikan Pac***col.., tiba-tiba sinyal rusak.  

 ***

Mading

Ini tempelen Mading Gue tentang Proyek menulis 'CGK' Yang gue Tempel awal januari kemarin

Ini tempelen Mading Gue tentang Proyek menulis ‘CGK’ Yang gue Tempel awal januari kemarin

Mading gue di kamar warnanya Pink. Gue lupa, kapan persisnya beli barang beginian yang sebenarnya khusus buat cewek. Yang masih gue ingat, barang ini gue beli di salah satu super market syariah di Jalan Keputih deket kampus ITS. Ceritanya, awal Januari 2015 kemarin, gue menempelkan beberapa resolusi edan. Nah, salah satunya adalah target menulis proyek buku 2015 yang gue tempelin sama paku jamur di mading Pink ini.

Letaknya yang berhadap-hadapan dengan pintu kamar, membuat gue ingat terus apa yang harusnya gue kejar di tahun ini. Dengan cara seperti ini, gue punya semacam benda mati yang terus mengingatkan gue tanpa harus ngasih komando. Cukup dengan keluar masuk kamar, gue sudah bisa melihat coretan target tentang misi hidup yang harus di perjuangkan. Iya, dari sini gue tahu, gue harus ngapain. Kejam ya?. Enggak, tapi inilah cara gue melatih mental agar ndhak jadi orang pemalas. Teknik visual mading ini, efeknya mulai gue rasakan.

Dengan harga kurang dari sepuluh ribu, mading visual ini, mulai membawa hasil. Satu lembar kertas bertuliskan ‘Proyek Menulis 2015’ akhirnya bisa gue lepas dari resolusi yang telah tercapai. Seru tho?. Jelas. Teman-teman di luar sana, yang mau niru silahkan, tapi saran gue sih. Enggak juga harus dengan warna yang sama toh?.

 Lha mosok Ping, kowe lanang po wedok asline?.

***

Topi

Ini Jimat Sakti Gue, Topi Bang Cupuh

Ini Jimat Sakti Gue, Topi Bang Cupuh

Yang ini bukan topi biasa. Tapi sudah menjadi sejenis jimat. Gue beli dari kota Bandung sana, pesennya jauh-jauh hari loh. Gue desain sesuai dengan alamat official website bang Cupuh di: notedcupu.com. Percaya ndak percaya, ketika gue memakai topi ini, kepedeaan gue naik beberapa peringkat. Ada semacam tambahan energi yang gue dapet ketika memakai topi ini. Tapi aslinya ya, jujur gue pengen banget makek blangkon ketimbang topi. Tapi takut, entar gue di kira mau ndalang. Wong ngerungokne wayang aeh ra cetho kok.

Enggak sembarangan, gue memakainya untuk acara-acara tertentu. Misal gue kemarin #kelayapan ke berbagai kafe dan perpustakaan kota, gue selalu memakai topi ini. Gue takut kalo di kenalin orang, terus ada yang negur. “Wah bang Cupu ya, item juga orangnya!” Jika ada orang yang bilang kayak tadi, pasti bakal menerima jawaban seperti ini: ‘Mripatmu picek opo, mbak-mas?

Sewaktu gue mengerjakan proyek buku #CKG, sebelum menulis di dalam kamar, gue disiplin makek nih topi. Seperti sebuah jimat sakti yang menempel di kepala, beberapa menit memakai topi ini, ide-ide di kepala gue bermunculan dengan cemerlang. Ada rasa seneng sewaktu memakainya, kayak makek barang-barang pemberian dari pacar. Sederhananya, ada aura yang beda yang gue dapat. Dan ini sumpah gue alami. Mungkin karena sebab, gue menikmati proses menulis selama ini. Sampai-sampai apa yang gue tulis, pengen gue abadikan menjadi permanen. Itu mungkin.

 ***

Udah itu aja dulu dari gue, dukung terus setiap penulis yang kamu idolakan dengan memberi karyanya. Karena dengan cara membeli, saat itulah kita menghargai dedikasi penulis untuk tetap menghasilkan karya-karya baru. Kalo teman-teman di sini, suka sama penulis Indonesia siapa aja, hayo?. Sebutin di kolom komentar yah.

Akun Twitter ku seng anyar

follow akun twitterku yo: @cupunoted

Iklan

27 thoughts on “Ruang Rahasia Di Balik ‘CKG’

  1. Gara berkata:

    Semangat dengan program bukunya Mas! Semoga saya bisa cepat menyusul dengan novel saya :amin. Semua penulis mesti punya cerita kreatif dan benda-benda kreatifnya juga. Terima kasih sudah berbagi!

  2. Osa berkata:

    Ini mataku sing siwer opo emang warna madingnya emang kuning :O supermarket syariah itu kayak gimana sih ._. deket kenjeran kah? :p

      • Osa berkata:

        Tapi disitu tulisnya madingnya warna pink. Iku piye?

        Aku iki dudu wong sby mas :p tapi rumah eyang nang kapasakrampung *curcol*

      • Bang Cup(uh) berkata:

        oh berti aku seng buta warna 😀
        Aku juga bukan penduduk asli Sby og. Orang disini numpaang belajar. Kapas krampung, oyaa, gue tahu. Tiap hri mah gue lewat kono! 😀

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s