Yang Harus Kamu Kerjakan Setelah Kejar Resolusi

Cover Sampul Awal 'cinta Kesandung Gunung'

Cover Sampul Awal ‘cinta Kesandung Gunung’

Setelah melakukan lari maraton dan sampai garis finish. Ada saatnya untuk beristirahat sejenak. Ada saatnya untuk membasuh jiwa yang kering akan dahaga dengan segelas air putih. Dan ada saatnya tubuh yang lelah, mendapatkan sentuhan penghargaan karena telah berjasa untuk di ajak berjuang bersama. Ketika langkah kaki, mampu bertahan menapaki setiap jalur pendakian pada sebuah bukit berbentuk Punden Berundak, sampai di titik puncak perbukitan, rayakan pencapaian itu dengan seremonial sederhana, mengucap pekik, “Iyap, aku mampu.!”

Kemarin hari kamis pagi. Gue menginjakkan kaki di bukit Kodok Bangkong, yang lokasinya di pesisir pantai selatan. Jujur, sebulan yang lalu gue ke sana cuma sehari doang. Emang niatnya kerja kok, juma’at malam berangkat, sampai di sana sabtu pagi. Ada sisa waktu sehari gue manfaatin untuk riset lapangan calon nasakah buku #CKG. Ke esokan paginya, hari minggu pagi gue berangkat lagi balik ke Surabaya, via darat naik trevel Rojali. Yang kepanjangan dari, “Rombongan Janda Liar”.

Liburan selama empat hari kemarin gue nggak sendiri. Sampai di sana, gue di temani sama Inu, salah satu tokoh yang gue ceritakan dalam buku #CKG. Seperti biasa, setiba di rumahnya gue mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Baru ketukan ke dua, gue di sambut dengan ramah layaknya juragan tanah yang meminta jatah panen sewaktu di zaman kompeni. Begitu, gue di persilahkan duduk, dia pamit ke belakang. Sekitar sepuluh menit kemudian, Inu muncul lagi dari balik korden memakai pecih ala Cak Nun sambil membawa nampan, lalu bilng ke gue.

“Ini, Ndoro, kopinya di Minum.” Ucapnya sambil meletakan secangkir kopi panas di depan meja gue. “Monggo,’ lalu bahunya membungkuk di susul ibu jarinya yang menunjuk dengan empat jari lain yang masih mengepal, mirip mas-mas jawa yang sedang melayani para raja.

Gue langsung cus menjawab, “Baik, pembantu. Tapi kopinya masih panas. Entar lidah gue bisa ledeh!.”

Inu sewot, “Pembantu, ndasmu kuwi.., SUUUU,’ ucapnya lalu muka gue di tabok pakek kain elap meja. Gue gak terima. Emosi. Gue balas Inu, dengan menggampar mukanya pakek meja. Mulutnya gue sumpal pakek asbak rokok. Lalu perang Barata Yudha meletus. Enggak, ini boooo’ongan sumpah. Yang terjadi sebenarnya gini.

Setelah seperminuman kopi yang masih berasap, Inu curhat ke gue, “Cupuh, kenapa ya, akhir-akhir ini aku gampangan emosi?”

Gue enggak langsung menjawab, tapi gue malah balik bertanya, “Skripsimu udah kelar kan?” gue menatapnya dengan penuh penghayatan.

Sambil meletakan pecinya di atas meja, dia balik menjawab, “Udah sih, tinggal ujian doang kok.” lalu bahunya bersandar ke sofa tempat kami bercengkrama.

“Nah, itu.., itu.., artinya tubuh kamu perlu Dharma Wisata bego.”

“Liburan, maksudmu?”

Gue menganggukan kepala, pelan, “Uhmmm…. Bener!’

Jadi gini, kali ini gue enggak akan ngebahas liburan gue kemarin ke mana aja. Karena di google Institute, yang ngebahas itu udah banyak banget. Bejibun. Jadi kowee, tinggal searcing aja, pantai-pantai yang ada di Pesisir Selatan, Trenggalek. Iyap, gue mbolang beberapa hari ke berbagai tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi sama sekali. Pantai di hampung halaman gue, jumlahnya…, edan….., banyak banget lo. Jadi buat gue pulang kampung adalah salah satu liburan terbaik dari yang pernah ada. Bisa bertemu sama keluarga, teman, dan kembali ke alam.

Masih inget. Salah satu, rosolusi yang pernah gue tulis di mading kamar sewaktu awal tahun baru kemarin di bulan Januari, kini berhasil gue kerjakan. Untuk mengejar satu resolusi, butuh proses jumpalitan yang harus di lalui. Mulai dari bersahabat dengan jarak tempuh. Memeras keringat saat orang lain sudah nyenyak tidur. Memeras kepala saat yang lain sudah enak-enakan mimpi indah jalan-jalan sama Pamela Safitri. Sampai ada yang mimpinya kelewat batas memeras teteknya juga. (Bang Cupuh, duh tak gampar pakek goyang dribel kapok loh).

Ada masanya, setelah air keringat terkuras deras. Fisik mulai kelelahan setelah di porsir habis-habisan. Dan sisa tenaga tinggal, satu kali hembusan napas. Itu artinya hidup sudah mulai ndhak seimbang lagi. Biar enggak terulang kayak kasusnya Inu tadi, ada banyak cara untuk untuk menyeimbangkan hidup setelah lelah bekerja. Begitu satu pencapaikan berhasil di kejar. Ada saatnya, pergi berkempas-kempas untuk berpetualangan merayakan keberhasilan…., di mulai dari…,

***

Ngelihat Pemandangan Alam.

ini sawah yang gue ceritain. Gue foto kemarin pas pulang.

ini sawah yang gue ceritain. Gue foto kemarin pas pulang.

Sudah saatnya mata yang lelah selama berbulan-bulan digunakan untuk menatap layar monitor. Setelah proyek selesai di kejar, kini guliran sepasang bola mata di hadiahi dengan melihat pemandangan alam. Pemandangan alam banyak macamnya, bisa hamparan pantai pasir putih yang luas. Bisa naik ke gunung melihat bukit di atas awan. Atau melaku kan dua-duanya dalam waktu yang bersamaan. Untungnya, kampung halaman gue menyediakan spot seperti ini. Sekali lagi, googling aja deh. Ketik Pantai Puyon.

Dengan cara seperti ini, mata yang semula tampak sembab dan berkantung. Pelan-pelan akan pulih kembali. Dengan melihat pemadangan alam yang serba hijau, tumpukan kejenuhan di kepala akan berubah menjadi lebih rimbun. Karena cerminan liburan yang paling sehat setelah mendiami sebuah kota, bukan jalan-jalan ke mall, atau pergi nonton ke bisokop, tapi memilih untuk memutuskan pergi ke alam terbuka hijau. Dengan cara seperti ini, mata kembali segar dengan alami. Karena manusia tidak bisa di pisahkan dengan alam.

***

Olah Raga

Bukit Kodok Bangkong

Bukit Kodok Bangkong

Di saat mengejar resolusi proyek buku #CKG. Gue nyaris kehababisan waktu untuk berolah raga, bangun pagi nyalain leptop. Nulis. Pulang kerja sisa waktu sejam sebelum kuliah malam, gue nyalain leptop, nulis lagi. Pulang kuliah, sampai di kontrakan gue nyalain leptop, nulis sampai dini hari. Hidup gue muter kayak Marmut berjalan di dalam roda. Kadang, saat harus bersahabat dengan jarak tempuh, sesi-sesi untuk jam olah raga bisa saja terpangkas. Sisa waktu longgar yang gue punya, cuma pas hari week and doang.

Fisik yang semula di peras tenaganya untuk berjibaku mengejar resolusi, ada masanya keringatnya harus di peras dengan cara berolah raga. Tubuh yang semula letih, dan lesu, setelah mengisi liburan dengan berolah raga, akan kembali lebih sehat dan bertenaga. Gue contohnya, sewaktu pagi jam enam, gue langsung pasang kuda-kuda di depan rumah sambil pegang raket. Main badminton sama adik gue, si Tunjung. Olah raga ini berakhir, saat bulu di koknya tinggal sebiji. Sore harinya, gue lari marathon sepanjang 5 Km, Pulang — Pergi menaiki bukit Kodok Bangkong.

Serius kowe Bang Cupuh?.

Iya, sumpah gue serius.

Olah raga lari marthon ini berakhir saat punggung gue mulai kena encok.

***

Makan Makanan Organik

#Urap-urap Jawa

#Urap-urap Jawa

Setelah liburan dengan menerapkan konsep sehat. Setelah berolah raga, harus di imbangi dengan makan makanan organik. Yang semula, di haribaan ibu kota cuma makan bugkusan Nasi Padang Pak Badrun, kini sewaku liburan saatnya ngenyot nasi kerawu dengan lalapan urap-urap tempe bosok. Makanan alami yang bahan dasarnya berupa daun singkong, di aduk dengan kecipir, sayur kacang, cambah, daun kemangi, plus parutan pedas bumbu kelapa kukus.

Makanan alamiah ini, menyumbang karbohidrat dan zat besi yang membuat tubuh menjadi lebih garang dari pada sekedar Limbad yang lagi ngenyot bohlam lampu yang di kecapin. Karena pada dasarnya, keseimbangan mengatur pola hidup sehat di tentukan dari apa yang kita makan. Dari apa yang kita makan, ngaruh banget terhadap kelancaran proses BAB di atas jamban. Nah, salah satu fisik yang sehat adalah bisa BAB dengan lancar. Dengan cara seperti ini, badan akan lebih sehat, dan siap bertanding untuk mengejar resolusi berikutnya.  

Karena pada dasarnya, tanpa logistik otak tidak bisa berkutik. Untunglah simbok gue di rumah sana jago urusan masak-memasak di departemen perdapuran. Matur sembah nuhun nggeh, mbok

Hal-hal yang udah gue sebutin di atas tadi, poinnya cuma untuk kembali mewaraskan pikiran elo. Di saat jenuh, pusing, stressss..……,, tiba-tba otak buntu entah kesumbat apa’an. Sumpah, itu artinya fisik elo lagi berontak butuh di istirahatkan. Sebelum jatuh sakit karena terlalu bekerja keras, gara-gara nulis ini gue jadi merenung banget, buruan deh kemas-kemasin tuh koper lalu cabut ke pantai atau kemah ke bumi cibubur.

Tapi Bang Cupuh, gue butuh duwit buat liburan?

Iya, nabunglah bego!.

Oiya, Bang Cupuh, komennya ini gimana?”

Teman-teman bisa nambahin deh, kalian ngelakuin hal apa aja setelah bisa ngejar resolusi dan berhasil lampuai diri. Bisa di ceritaiin di kolom komentar yahhh. Yang lagi main di media sosial, dan belum ke log out, bisa aja komentar pakek akunnya masing-masing. Biar ada gambar ava-nya yang kelihatan. Masak komen gambarnya monster.

Iklan

9 thoughts on “Yang Harus Kamu Kerjakan Setelah Kejar Resolusi

  1. Gara berkata:

    Liburaaan! Cocok banget nih dengan sayanya :haha, makan enak, pemandangan bagus, terus melakukan kegiatan menyenangkan :)). Bisa menyambangi keindahan ini setiap saat hati berkenan tentu akan senang sekali, Mas.
    Sama dengan Mbak Beby, saya juga kasih reward ke diri sendiri dengan traveling :hehe. Tapi kayaknya akhir-akhir ini keseringan kasih reward alias keseringan jalan :haha. Terus jadi miskin, deh :okesip.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s