Jungkat Jungkit Antara Atas dan Bawah

Dari Kiri, Dina (Nama Panggilan: Gombek), Kanan, andra (Nama Panggilan: Kati)

Dari Kiri, Dina (Nama Panggilan: Gombek), Kanan, andra (Nama Panggilan: Kati)

Kalo bukan karena adek gue lolos jalur seleksi bidik misi, pasti hari rabu kemarin gue ndak bakalan pulang ke desa. Keperluan gue pulang kemarin, bantuin adek-adek gue nyiapin berkas kelengkapan beasiswa bidik misi yang harus segera di up-load via online. Meski pun harus ngeporsir tenaga ekstra untuk wara-wiri. Untungnya tenaga gue sekuat Agung Herkules lagi ngangkat Candi Borobudur. Dari Surabaya jam 9-malam, sampek di rumah jam 5-pagi membuat badan gue…, lemes.

Sumpah, demi kena gampar goyang dribel. Semalam’an sewaktu di dalam bus, mata gue masih tetap terjaga. Makanya gak heran kalo kelopak mata gue yang bagian bawah bintitan mirip kena timbilen. Bukannya sampek rumah gue langsung rebahan di kamar, ngulet-ngulet, eh malah langsung buka tutup saji plus mejikom. Ibuk yang sudah menunggu kedatangan gue, seketika langsung memperlihatkan muka curiga. Melihat anaknya yang nomer tiga mengendap-ngendap kena busung lapar, ibuk langsung merespon dengan sangat nyambung,

Kluwen toh, Nang?”

Langsung aja gue berterus terang, “Iyo mbok, lha kluwen banget kek, seharian kemarin baru sempet makan sekali lo aku.” Ucap gue gue lalu duduk di meja ruang makan.

Lazimnya insting seorang ibu kepada anaknya, naluri alamiahnya muncul dengan sangat sempurna, “Tak gorengne Tempe karo telur dadar yo, arep?” katanya lalu berdiri dari tempat duduk, ruang makan. Langkah kakinya berjalan ke arah dapur. “Mangane kui mbok yo seng teratur to Nang, ben badane sehat terus, mari mangan gek sholat subuh, terus gek tiduro sana?”ucapnya memberi perintah penuh ke ibuan.

Gue manggut-manggut setuju. “Iyo, mbok!” jawab gue, yang memang dalam percakapan gue dengan orang tua di rumah sana, sejak zaman gue di lahirkan sampai detik ini, tidak menggunakan bahasa jawa halus ‘Enggeh–Mboten’, persetanlah dengan bahasa unggah-ungguh. Yang penting masih punya perilaku sopan-santun terhadap orang tua, mau pun kepada sesama. Ehem, keren ya gue?.

Ketika bunyi berisik wajan penggorengan mulai mereda. Di sanalah letak esensi kebagaian yang sebenarnya tercipta. Bisa menikmati masakan ibuk walau pun dengan kudapan yang sangat sederhana dan apa adanya begitu menyenangkan. Saat beberapa irisan tempe yang menumpuk di piring, menyisakan satu potong, ibuk nyeletuk dengan santai duduk di sebelah gue. “Biyoh…, entek tempene. Warek to wisan?” katanya, kalem. “Wes gek wudhu kono, terus sarungan. SHOLAT!”

Gue mengelus-ngelus perut yang mendadak melar beberapa sentimeter. “Alhamdullilah…, kenyang mbok!”. Tiba-tiba, Si Sandra muncul dari balik pintu kamar sebelah ruang makan, lalu melipir melewati gue dan ibuk, terus bilang dengan nada sewot, “Hem…, kalo abang pulang aja, pasti di manja’ain. Makan di siapin. Huuuu, “gerutunya lalu menghilang masuk kamar mandi.

Gue tidak menggubris. Sementara ibuk hanya senyum-senyum seadanya.

Sehabis sembahyang, gue tidak bisa inget apa-apa lagi. Ingatan terakhir yang tersisa, gue leyeh-leyeh di atas sajadah sambil menimpuk kan peci ke muka. Gue meringkuk miring ke kanan, kadang ke kiri mencari posisi yang senyaman mungkin. Mata merem-melek – merem-melek. Sampai-sampai pandangan gue sayup-sayup dan berubah menjadi gelap gulita.., ZZZzzzz…, ZZZzzzzzz…, ZZzzzz…, ngorok!.

Di balik semua sifat perhatian yang di berikan seorang ibu kepada anaknya. Sayangnya hati biliau terkadang mudah terlena dengan kamuflase sesaat. Di waktu pagi misalnya, hatinya masih sepihak dengan gue. Tapi di sesi yang lain, hatinya mudah berpindah segampang mindah chanel tv yang tinggal memencet lewat tombol remote, tergantung keadaaan yang membuatnya merasa bangga menjadi seorang ibuk.

Bisa di lihat. Malam harinya, sewaktu gue kelar minta surat-surat kelengkapan bidik misi adek-adek ke berbagai Perangkat Desa di kelurahan. Gue leyeh-leyeh di ruang tamu. Sementara mata gue mengawasi, ibuk yang sehabis pulang dari kondangan dalam rangka menghadiri tetangga yang punya hajatan nikah muda.

Seolah kabar yang mulai menyebar, beberapa tamu yang menghadiri kondangan hajatan tetangga, di antaranya juga mampir ke rumah. Di teras depan, ibuk menerima sodoran pujian.

“Selamat ya, Bu. Anaknya masuk kampus negeri. Dapet beasiswa pisan. Anaknya banyak tapi pinter-pinter semua ya. Beruntung banget!.” ucap seorang ibu berdaster merah, yang baru saja turun dari motornya. Entah siapa gue juga tidak kenal. Yang jelas dari batang hidungnya, asumsi gue mengatakan, tuh orang masih dalam ruang lingkup warga satu kelurahan. Sungguh, ibuk yang hanya tamatan Sekolah Dasar, tak henti-hentinya menebar senyum sebagai jawaban’nya. Dan sesekali, membenarkan pujian tadi dengan menimpali,

Sandra sama Dina kui, ancen dari kelas satu SMA wes dapet juara lo, Bu!.”

Mendengar ibu-ibu lagi bergosip dan ngehabas hal-hal yang menurut gue kurang penting. Gue pun bergegas pindah tempat duduk, lalu nongkrong di depan televisi. Beberapa tamu hajatan yang menghadiri kondangan tetangga ‘nikah muda’, juga silir berganti mampir ke rumah gue. Bercengkrama dengan ibuk di teras depan, ngebahas hal-hal yang berulang-ulang seperti yang tadi. Dengan topik yang sama. Untuk ukuran anak muda eusia gue, tentu ini topik yang sangat membosankan.

Setelah beberapa kali iklan televisi berganti acara sinetron, ibuk tiba-tiba masuk ke dalam. Mengambil posisi duduk di sebelah gue, terus gue nyampein sesuatu hal untuk mengajaknya membahas dunia perkuliah’an yang sedang gue alami, “Mbok, aku kemarin tanya-tanya ke kampus lagi lo. Ke bagian kemahasiswa’an gitu. Mau cari beasiswa lagi. Tapi wes ndak daaappppp…..” ibuk pun langsung memotong obrolan gue dengan nada defensif.

“Lha nyatu kowe goblok kok. Gek opo kowe iki, kalah karo Sandra sama Dina. Hhhhhuuuuuuuuuuu…,” ucapnya setengah ngece bercampur dengan ketawa yang jumawa, “Heee-hee-hee-heee”

“Duh, ya ampun MBOKKKK-MBOKKK,’ gue teriak sambil mencengkram remot. “Kan aku bentar lagi skripsian habis ini. Sekarang kan semester delapan, udah kelewat batas persyaratan lah Mbok, kalo mau ngajuin beasiswa lagi. Piye toh panjenengan iki. Masih di samain aja kayak aku sekolah D III dulu. Duh…..!’ ucap gue memberi penjelasan supaya ibuk paham.  

“Ya tapi, tetep aja toh. Masih pinter Sandra, Dina dari pada kamu. SMA mu opo?. Hayo?. Ora due prestasi belas. Coba kamu ngerjakin soal-soalnya Sandra & Dina, pasti banyak yang salah. ” ibuk memberondong pertanyaan yang mampu ngaduk-ngaduk emosi gue.

“Heeeem, yo ora iso di samain toh mbok, beda kasus itu namanya.’ sergah gue melakukan pembelaan secara pribadi, ‘Gini-gini juga, aku dulu kan wes pernah dapet beasiswa dari Dikti sewatu sekolah D III Manajemen Perpajakan,’ gue membuang muka. “Tapi kampusku keren lo mbok, ‘luar negeri!,’ ucap gue berlalu meninggalkan ruang televisi lalu duduk di sofa ruang tamu.

Ibuk ngebalas dengan telak. “Wong cuma kampus swasta kok mau pamer. Huuuu!’

Wedus tenan. Muka gue bersemu merah. Kikuk.

Azab apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini. Seandainya gue Arumi Bachin, pasti gue sudah kabur dari rumah sambil ngebawa kartu keluarga terus mencoret nama gue dari daftar anggota keluarga pakek spidol hitam. Terus ngumpet di pekarangan rumahnya Kak Seto Mulyadi, duduk di pojokan, lalu nangis di bawah tetesan air jemuran.

Di tengah-tengah iringan musik dangdut tetangga yang punya hajatan nikah muda, pikiran gue mendapat pencerahan baru. Gue mulai merenung. Gara-gara peristiwa ini posisi prestasi gue masih di anggap cemen dari pada adek-adek gue. Esensi di balik tujuh bersaudara sepersusuan, saat sang adek kandung menerima prestasi, bisa di pastikan abang’nya akan mengalami tekanan batin. Tunggu pembalasanku wahai jagon yang bukan saudara kembar.

NinjaKemlinti

NinjaKemlinti

Oke, sekian dulu dari gue. Temui gacor gue di lini masa @cupunoted.

T.t.d

Bang Cupuh

Blogger Desa (penulis) Yang Lahir di Tengah Sawah.

Iklan

6 thoughts on “Jungkat Jungkit Antara Atas dan Bawah

  1. Gara berkata:

    Walah walah. Rupanya ini curhatan sang kakak :haha.
    Selamat yo Mas buat adik-adikmu yang bisa lulus beasiswa Bidikmisi. Keren banget lho itu. Semoga mereka sukses sampai ke depan-depannya nanti :)).
    Tapi kakaknya ini juga hebat lho, sudah bisa menyelesaikan satu buku dan segera akan terbit :hehe. Ibumu pasti sebenarnya sangat bangga dengan semua anaknya yang berprestasi ini Mas, jadi jangan kecil hati ya :haha.

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Ora lek curhat, korrrr juweeeeeh. Kui komentar opo pidato to. Sak alinea dewe. Hahaaa. Matur nuhun dab, dongane. gue yo dongakne marang kesuksesanmu :). Mbok ku sayange ra iso moooooo dab, Dadi ra pati ngeh ro ngono kui. Isone yo dongakne tok. Suwon suwonnnnn. *muah

  2. Efa berkata:

    Salam kenal Bang Cup. Kok baru tahu blognya sampean ya. Padahal sering tak searching kalau nemu blogger Trenggalek. Niatnya mau cari temen buat belajar ngeblog gitu lho. hehe

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s