Kebersamaan Yang Berumur Tua

Saat... dulu kita ingin cepat-cepat tumbuh besar, saat itu juga, secara tidak sadar, usia orang tua juga ikutan semakin menua. Pelajaran ini yang bisa gue ambil dalam beberapa bulan belakangan ini. Apa lagi, semenjak ke dua adek-adek gue hijrah ke Surabaya, untuk keperluan daftar ulang kuliah, selama tiga pekan ini. Mungkin keadaan di rumah sana, kesepian mulai menyergap di ruang keluarga.

Orang tua yang tinggal di desa, pasti akan mengalami hal yang sama saat anak-anak mereka sudah pada gede, yaitu, kesepian di tinggal sementara. Apa lagi, yang dulu komitmen banget sama keluarga berencana dengan konsep dua anak cukup. Teman akrap gue contohnya, yang jarak usia sama adeknya cuma beda setahun: ke dua-duanya sekarang kuliah di kota besar, meninggalkan ke dua orang tua yang semakin menua.

Betapa kesepiannya, orang tua mereka saat harus berjauhan dengan anak-anaknya. Apa lagi yang jarak tempuh antara kampus tempatnya belajar, dengan desanya, lebih dari setengah hari jika harus menggunakan angkutan umum, hem…, bisa di bayangin saat mendapat kabar orang tua sakit di seberang sana, ya…, harus lari tunggang langgang lekas-lekas sampai di rumah. Betapa relatifnya ya, jumlah keturunan. Memang secara angka, jumlah yang lebih banyak, menawarkan kebahagiaan.

He-he-he-he. Setuju?.

Kehidupan ke depan memang tidak ada yang tahu. No…., no.., no. Gue ora bakalan protes tentang keadaan yang sangat berjarak antara kota dan desa, yang membuat anak-anak desa, terpisah sementara dengan ke dua orang tuanya. He’eh, semua keputusan memang membawa resikonya masing-masing, yang siap harus di lakoni…, apa adanya, demi kebutuhan sandang, pangan dan papan kelak di kemudian hari.

Bagi sebagian tetangga, punya saudara banyak itu rame. Bener, tapi anggapan itu berlaku dulu. Dulu banget, saat kita masih suka merengek meminta uang jajan tambahan selepas pulang sekolah. Gue mengalami sekarang, dari tujuh bersaudara, sekarang tinggal dua bocah kecil yang masih di rumah sana. Suara rengekan uang jajan tambahan, mulai sirna di telan zaman. Tinggal si bungsu dan nomer enam yang kini masih serumah dengan bapak dan simbok.

Sekarang gue baru paham, kenapa orang tua zaman dulu, sering bikin keturunan. Tunggu dulu, gue nggak akan cerita soal, hal-hal yang berbau dewasa di sini. Karena gue juga belum cukup umur…, he-he-he. Tapi kali ini, cerita tentang filsafat jawa: guyup rukun. Bapak gue selalu bilang, ada yang lebih penting dari pada uang, apa Nak? Sehat dan bahagia, klise sih, tapi faktanya gitu.

Meski pun dulu keadaan ekonomi, sering kali, memang membuat repot. Tapi kan keadaan ekonomi juga gak selamanya merepotkan. Patokan’nya, semua bisa berbenah, lalu berubah, asal mau. Tetangga sering bilang, punya saudara tujuh orang itu, rame, seru, banyak teman. Bener. Dari tujuh orang anak, satu.., dua.. tiga.., empat.., lima.., tinggal dua adek gue yang tersisa di kampung halaman sana.

Makanya…,

Akhir-akhir ini bapak dan ibu sering telfon gue, sewaktu gue sedang mencari rezeki. Mungkin karena kesepian..,

“Sudah makan, Lhe?’ katanya, sewaktu telfon siang, akhir-akhir ini, “Adek-adekmu, tadi masak apa?” lanjutnya, yang langsung gue balas, “Aku belum tahu lah, Pak, lha wong aku yo durung sms, belas.!”

“Adek-adek’e di openi, kalo longgar, di ajakin main kemana, gitu?” nasehatnya. Sambil gue mendekat’kan telfon ke telinga sebelah kanan, dalam-dalam, cus gue jawab, “Enggeh, Pak, manut-manut. Sampean lagi nek end iki?” tanya gue, gantian.

“Iki lagi jupok wedos, nek kecamatan Dongko!” balasnya, lalu suaranya menyembul lagi dari seberang sana, “Yowes bapak tak, nyetir meneh, muleh, selak weduse ki SEKARAT.” katanya meninggi di akhir kalimat.

Gue ketawa kenceng, “Ha-ha-ha-ha-ha, yoi Pak, ngati-ngati lo..” ucap gue, memberi nasehat.

“Yooo-iyoooo….!’ klik, telfon langsung berakhir.

Semenjak ke dua adek-adek gue, yang punya nama julukan, Gombek dan Kati, berada di Surabaya, frekuwensi telfon bapak dan ibuk naik berkali-kali lipat. Lumayan lah, konter-konter di sekitar rumah, dapat order pulsa lebih kenceng. Setiap kali telfon, pertanyan’nya pun, berkutat pada pola yang sama: “Masak apa tadi? Plus pertanyaan susulan yang sering di ucapkan, “Sudah makan?”.

Sebelum-sebelumnya, saat mereka yang kebetulan bukan saudara kembar ini masih berada di rumah, paling-paling dua hari sekali gue telfonan sama bapak dan simbok. Hal-hal yang terjadi di luar batas kelaziman, yang keluar dari kebiasa’an sehari-hari, bisa mengerucut pada satu dugaan, bahwa, orang tua di desa sedang: di rundung kesepian, dan keresahan.

Pada suatu kesempatan yang sama, di hari yang berbeda, pekan kemarin pas keadaan sama-sama lagi santai, gue telfon lagi dengan bapak dan simbok di Desa. Setelah kami kelar ngobrol-ngobrol, tentang keadaan rumah, dan segala hiruk-pikuk kesibukan bapak dalam mencari rezeki, di dunia peternakan. Gue mulai ngomong serius.

“Nek omah, ora enek Gombek karo Kati, piye Mbok?” tanya gue, penasaran, “Tambah sepi, kan?”

Ibuk mulai sedikit bersandirawa, “Malah penak, omah’e ora malah membres, kamar tengah malah ora nek embruk-embruk’an buku,’ jawabnya, lalu tertawa kecil, “hi-hi-hi-hi..”

“Gombek kan emang cewek kempros Mbok, Kati yo tukang turuan,” balas gue, “Tenan, opo Mbok, sepi kan, nek omah?”

Ibuk masih diem. “Sepi,” saut bapak, dari sebelah ibuk, ”Biasanya kan lek enek, Gombek sama Kati, nek omah kan rame. Iso di ajak guyonan, guderan bareng.”

Kati yang berada di sebelah gue, spontan menjawab, “Ora kangen karo aku Mbok?”

“Kangen Ndok, ndang pulang lek urusane wes selesai!’ ucap Ibuk, meminta penuh harap.

Dia manggut-manggut. “Iyo, Mbok…!’

Sampai pada suatu waktu, pada hari selasa depan…, mereka berdua akan pulang memakai kendaraan seperti biasanya, trevel.

Lalu kemudian, untuk sementara waktu, sehabis lebaran mereka berdua akan balik lagi ke Surabaya, menetap untuk jangka waktu tertentu, sampai selesai masa belajarnya tiba. Setelah lulus, dunia di luar sana menanti, bergerak seperti mayoritas orang lakukan, bekerja lalu menikah, atau punya pakem yang berbeda, untuk bersumbangsih kepada dunia. Yang jelas pada saatnya nanti, cepat atau lambat, mereka akan menikah lalu di bawa oleh suaminya masing-masing keluar dari rumah. Membentuk keluarga kecil yang baru, lalu seorang anak yang di besarkan oleh orang tua, tidak bisa lagi seutuhnya memiliki.

Dan saat bapak dan ibuk kangen dari balik dinding rumah tuanya, biliau hanya bisa mengucap dari kejauhan lewat sebuah telfon genggam. Tanpa bisa menyentuh dan membelai rambutnya, seperti masa kecil dulu.

Iklan

12 thoughts on “Kebersamaan Yang Berumur Tua

  1. wiblackaholic berkata:

    Perhatian : Postingan ini bernada melow… tapi dibalut dengan bahasa yang meminimalisir kemelowan tersebut…
    Sudah sepatutnya sebagai kakak ya harus mantau adek2nya toh bang .. 🙂

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Pehatian: tiap kali aku baca komenmu, hatiku bahagia, entah kenapa mbah, andai elo cewek secantik putri titian, pasti elo sudah gue nafkahi.

      Masak melo, Mbah OLIK?.
      ini udah gue pantau kok bang. kemana-mana juga gue anterin. lagi tahap pengenalan jalanan surabaya sekarang.

  2. Gara berkata:

    Mungkin kita mesti menikmati masa-masa kebersamaan itu selagi masih bisa ya Mas :)). Berbahagialah yang bisa tetap mengecap kebersamaan itu, kuliah dan bekerja di kota yang sama dengan orang tua, sementara untuk yang merantau, kayaknya kasih-kasih kabar atau mudik dan memuaskan hati bersama orang tua di rumah merupakan pilihan yang sangat bijak :)).

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Oke, selamat makan siang, sambil baca noted ini ya. Suwon lo, Gar, wes urun bicara.
      bener, GAR. Gue setuju ame elo. Tanpa gue jelasin secara spesifik benang merah dari tulisan ini. elo udah paham maksud postingan ini.
      terutama, buat anak-anak di negeri ini, yang merantau dari desa ke kota.

      #Mewek. 😦

      • Gara berkata:

        Terima kasih banyak, Mas, soalnya kadang saya juga merasa sudah membuat bapak ibu di kampung kesepian :hehe. Sebagai pengingat buat diri saya juga sih Mas, agar tidak lupa di kampung masih ada yang setia menunggu :)).

  3. kekekenanga berkata:

    Hmm agak roaming sih nih bacanya, tapi paham kok maksudnya hehehee…
    Orangtua aku cuma punya 2 anak yang bedanya 11 tahun, selama ini memilih kuliah dan kerja di kota yang sama dengan orangtua hanya karna satu alasan, yaitu karna aku wanita.

    Wanita kelak setelah menikah akan dibawa oleh suami, bagus2 masih diajak tinggal dikota yang sama dgn orangtua huhuuu..

    Jadi masa-masa produktif ini bener2 aku gunain untuk kebahagiaan mereka dan kebersamaan bareng mereka.

    Nah biasanya yang banyak merantau itukan laki2 yahh dan menurutku itu wajar ajah, mungkin setelah sukses dirantauan ajaklah orangtua tinggal bersama lagi, biar bisa memberi kebahagiaan yang real dihari tua mereka, bukan cuma sekedar memberi kabar lewat tlpon hikksss…

    Karena sebanyak apapun uang yang dikirimkan untuk orgtua, tetap saja senyum bahagia orgtua itu saat kita berada didekatnya 🙂

    • Bang Cup(uh) berkata:

      seneng banget, kalo komentarnya panjang kayak gini. tiap kali gue posting, gue selalu nunggu respon elo, Put. hehehee.

      sudut pandangmu slelau menarik di ikuti, kek gini misalnya >>

      Karena sebanyak apapun uang yang dikirimkan untuk orgtua, tetap saja senyum bahagia orgtua itu saat kita berada didekatnya 🙂

  4. bligum berkata:

    ada benernya juga sih ya mas,terkadang saat kita hidup jauh dari orang tua terkadang kita lupa akan ortu dikampung, artikel bagus agar kelak tidak pernah lupa akan akan kampung halaman dirumah..

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s