Dua Wajah Untuk Ramadhan dan Lebaran

notedcupu of art

notedcupu of art

Kita hidup di zaman, dimana punya kampung halaman itu bisa di banggakan, ketika menjelang lebaran datang. Di seluruh negara muslim yang ada di dunia, hanya kita yang menjalankan tradisi mudik setelah menjalankan ibadah puasa. Yah, rasanya setelah melewati jalan panjang mengikui rangkaian puasa, afdol banget setelah di ujung sana, kita di pertemukan pada tradisi yang sama. Mudik.

Gara-gara banyak orang yang mudik, suasana kota besar seperti Surabaya, katanya kayak kota mati. Rumah-rumah mayoritas mendadak tak berpenghuni. Hanya ada beberapa manusia non muslim, dan yang lahir di kota, yang masih bertahan di saat kota bagai beton tak bertuan. Jalan-jalan sepi, sampai-sampai teman kampus gue bilang, “Kamu tau jalan yang di Kertajaya itu Bang, kalo lebaran bisa di buat main sepak bola, lho!’

Percaya, yah, gue hanya manggut-manggut mendengar omongan’nya. Jalan raya yang seluas itu, memang kalo kalo gak ada kendaraan satu pun, bisa di buat apa saja. Apa saja?. Tunggu dulu sebentar. Toh.., tapi peran dan fungsinya juga tidak berguna meski pun jalanan dalam keadaan longgar, mayoritas masyarakatnya sudah pulang ke desanya masing-masing.

 Jadi kalo ada yang bilang, orang kota itu adalah orang desa?. Yah, gue setuju.

Atas kejadian-kejadian ini, gue di ajak untuk lebih bersyukur. Betapa beruntungnya gue di lahirkan di desa. Beberapa orang yang tidak punya kampung halaman, memang tidak pernah bisa merasakan nikmatnya mudik, bertemu dengan orang-orang yang di rindukan dengan berangkat dari niat yang sama: saling memafkan kelak di hari lebaran.

Masih tentang teman gue tadi, yang asli surabaya, kebetulan suadara dan kerabat dekatnya, tinggal di Surabaya semua. Ketika tetangganya sudah pada mudik duluan, prosesi lebaran yang di jalani, hanya berlangsung sehari. Kelar kunjung-kunjung, keliling ke rumah kerabat dan suadara yang hanya berbeda kelurahan, ya sudah. Mentok sampai sana. Gak ada lagi prosesi kunjung-kunjung lagi.                                      

He’eh.., yah.., yah.., yah.., betapa sepinya kota. Gak ada kunjung-kunjung ke tetangga, otomatis juga bisa menyelamatkan muka beberapa orang, mereka gak bakal di tanyain.’Heeeiiii, kamu kapan nikah?” Pertanya’an yang sering kali di hindari oleh anak muda zaman sekarang. Makanya gak heran, kalo mulai sekarang banyak tren yang berkembang di lingkungan sahabat gue, anak-anak perempuan pada nyari pacar, yang siap untuk di jadikan calon pendamping hidup, lebih memprioritaskan cowok desa yang bekerja di kota.

 He-he-he-he…, loh siapa yang becanda. Serius.

Alasannya, bosen lebaran di kota terus, pengen bisa merasakan mudik, dan punya kampung halaman. Yah, meskipun kampung halamanya milik pacar, setidaknya bisa ikut memiliki, merasakan seperti apa punya kampung halaman, begitu kata mereka sewaktu sedang ngobrol santai ngebehas, tujuan mudik masing-masing sewaktu di sela-sela buka puasa bersama.

Oke, kalian sorot matanya jangan melirik ke arah gue semua. Tenang-tenang. Di habisin dulu itu, kolak pisangnya. Gini loh, gue sudah punya target, umur berapa harus menafkahi seorang perempuan, yang kini masih menjadi misteri siapa calon pendamping gue kelak, karena Ramadhan dan Lebaran tak pernah bertanya mengapa mereka di pertemukan, harusnya kita juga. Yang gue tahu sampai saat ini, ada dua hal yang gak bisa ketukar di dunia. Apa?. Jodoh dan rezeki. Maaf kalo gue puitis….,inonesense

 Okeh, terimakasih atas pengertiannya.

Tapi kalian masih enak lo. Dari awal puasa sampai lebaran ini, kalian full bisa berkumpul dengan keluarga. Makan masakan rumah. Buka puasa bersama, terus leyeh-leyeh bareng di ruang keluarga, lalu saling melempar guyonan, “Makanya kalo buka, minumnya dikit aja, biar makan nasinya bisa banyak?”. Bener kan!. Kalian punya ke istimewaan yang gak di punyai anak perantau seperti gue, mau pun anak-anak yang lain.

Mentok-mentok gue cuma di tanya ibuk, “Buka puasa sama apa tadi Lhe?”Tapi gue juga punya ke istimewaan, apa?. Bisa merasakan mudik. Oke sampai sini sekarang kita impas dulu.

Semua berjalan sesuai dengan porsinya masing-masing. Saat waktu berjalan ke depan, dan meninggalkan hal-hal di belakangnya, ada yang hilang dari rutinitas yang biasanya kita kerjakan. Ketika gue awal puasa hanya bisa melihat orang-orang di kota ini, pergi ke pemakaman dengan kepala menunduk, mereka ramai-ramai berpapasan tanpa menyebut nama satu sama lain untuk menyapa. Yah, mereka tidak salinng kenal.

Asing sekali.

Beda sekali dengan keadaan yang biasanya gue temui di desa sana. Sewaktu gue berjalan hendak menuju pekaman kakek untuk kirim doa, orang-orang yang gue lalui, entah siapa namanya, yang jelas masih dalam satu kelurahan yang sama, maupun dari kelurahan tetangga, saling menegur sapa, lalu mereka berucap, “Tuh makam-nya kakekmu, udah banyak rumputnya, ndang sana di bersih kan?’

Tempat pemakan yang syarat dengan jiwa-jiwa kesepian, tentang orang-orang yang ditinggalkan, lalu pada suatu kemudian, sang kerabat yang masih hidup menjenguknya, tidak jadi sedih dan kesepian, karena ramainya orang-orang ke tempat pemakaman tidak bisa membuat kepala mereka menunduk. Itulah indahnya suasana pemakaman di desa sana, yang kadang menjadi sangat langka di kota ini.                  

Kita selalu punya sisi kelebihan dan kekurangan’nya masing-masing. Desa ya seperti itu, kota juga seperti itu wujudnya. Kalo kalian bisa merasakan nikmatnya makanan dirumah, gue menunggu ucapan, “Nak, kapan mudik?”. He-he-he..., serius, di saat kepercayaan kita sama, Gusti Allah juga adil banget ngasih porsi yang sama tentang kenikmatan yang di berikan.

 Allhamdulillah.

                 

Iklan

32 thoughts on “Dua Wajah Untuk Ramadhan dan Lebaran

  1. Gara berkata:

    Mudik ayo mudik… sebentar lagi kita mudik… ada plus dan minusnya juga sih Mas kalau menurut saya, tapi untuk sekarang, yah saya mensyukuri sajalah apa yang ada :hehe, cuma memang pulang kampung pastinya jadi petualangan yang sangat saya tunggu-tunggu :hihi.

    Selamat mudik, Mas!

  2. fasyaulia berkata:

    Saya gak punya desa 😦 rumah kakek-nenek dari mama-papa semuanya di bandung. Dulu waktu kecil, Bandung sepi kalau pas lebaranan. Enaaaak dijalan kosong bisa salto sekomplek. Sekarang Bandung tetep rame pas lebaranan, macet2 juga hiks

  3. kekekenanga berkata:

    Nyokap gw Aceh Makassar, Papa Sunda kalo lebaran gue nggak pulang kampung tapi pulang kota, ya dong.. kan rumah gue di Bekasi, itupun harus pake pesawat jet.

    Intinya dikampung udah nggak ada keluarga deket, jadi kalo lagi main2 ke kampung bukan moment lebaran tapi mau wisata huahhahaha..

  4. Dana Amari Pratiwi berkata:

    nice post. Saya jadi pengen mudik ke Lamongan. Kangen makan soto. main di sawa. keliling kota pake sepeda ontelll ^^

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s