Memoar Empat Orang Kampung Menjadi Manusia

notedcupu of art

notedcupu of art

Kita hidup dalam mesin waktu yang terus meninggalkan sejarah, setiap kebersamaan yang kita banggakan pada saat ini, kelak di kemudian hari, kita akan merindukan moment-moment penuh kebersamaan yang telah terlewati. Lalu apa yang bisa gue rasakan?. Gue sedang berjalan ke arah dunia fosil. Kelak kenangan hanya bisa kita simpan dengan caranya sendiri-sendiri.

Semuanya berawal dari sini…,

Gue di kampus merasa sangat kesepian meski pun di tengah-tengah ramainya teman-teman. Rasanya gue gak pernah menemukan manusia yang semisi sama gue. Bingung, toh? Maksud gue gini loh, gue jarang banget nemu sahabat yang semisi sama tujuan hidup yang gue pilih. Soalnya gue memegang kuat pinsip yang sangat gue hormati. Pinsip yang kayak bagaimana? Biasa filsafat jawa: urep kui urup. Makanya gue merasa jadi orang asing di kampus.

Begitulah kenyatan’nya…,

Beruntung.., pas jum’at malam kemarin sepulang gue kuliah, ada pesan pendek yang masuk dari Inu dari seberang sana, kota Marmer — Tulung Agung. Gue kaget setelah membaca dengan lengkap pesannya, “Kang kalo, longgar hari minggu malam, yuk ke pengajian Nuzulul Qur’an Cak Nun di UMM. Maiyah-maiyah…” Setelah meletakan ransel hitam tua di depan lemari, gue langsung bersemangat merespon ajakan’nya, gue manggut-manggut setuju membalasnya.

Seru.

Karena harus menyusun rencana ini dengan rapi, mengingat jarak kami beda tempat tinggal dan beda kota, maka sangat jelas sekali, kita harus menginap dua hari dua malam, di kota malang. Tak puas dengan balas-balasan lewat pesan pendek, gue pun langsung membicarakan petualangan seru ini lewat telfon. Beberapa menit setelah kami berdiskusi kecil, beberapa keputusan sepele pun di ambil.

 Apa saja?.

Pertama: gue ke sana naik kereta api penataran express lewat stasiun gubeng. Ke dua: Inu berangkat dengan sepedah motornya dari Tulung Agung. Dan kita bakal bertemu di depan stasiun kota baru. Inu bertindak sebagai mas-mas tukang ojek yang menjemput gue setibanya sampai di sana. Setidaknya alasan ini masih bisa di berlaku, sahabat sudah selayaknya peduli, siapa yang ngajak, ya itu yang harus bertanggung jawab.

Sebagai tempat penampungan kami berdua, kami sepakat untuk numpang di kontrakan teman kita se-Desa, Si Pido yang sedang kuliah di UB. Untungnya kami bertiga ini kok ya punya kesamaan. Sama-sama suka dengan dunia belajar, tentang membaca budaya lewat pemikiran Cak Nun, mau pun tentang membaca ilmu sains apa pun, dan satu lagi: kami gak suka jadi cowok play boy. #tsah!.. Sepertinya memang harus begitu laki-laki. Sesuai rencana, gue dengan Inu akan membuat surprise, karena hampir setahun ini gue gak main ke Malang.

Ehm…, mungkin teman-teman sudah tahu apa sebabnya. Lalu.., kami pun bertemu lewat telfon.

“Oke kang, Pido udah aku kasih tahu kalo aku bakal ke sana. Oh iyo, jangan sampai tahu loh, kalo kamu ikut, biar surpraise,” ucapnya dari balik telfon. Gue pun setuju, sambik cekiki’kan gue balas,

“he-he, Pas banget Nu, aku belum ngabari Pido kalo besok pagi mau ke Malang. Yowes besok kalo aku udah di stasiun gubeng, aku kabari, terus kamu berangkato yo?.”

‘Beber-beres, suuu.” ucapnya pecicilan.

Malam bergati pagi. Ketika gue sepagi itu sudah berada di stasiun gubeng, lengkap dengan keadaan badan yang masih berkeringat karena belum sempat mandi. Gue bergegas menukarkan tiket hasil dari pembeliah sewaktu subuh tadi. Di depan Bapak Berkumis — petugas stempel tiket — gue mengambil dompet dari saku belakang, beserta KTP asli yang sudah mulai luntur warnanya.

Baru sempat mengambil KTP, ada sepotong foto ukuran kecil yang jatuh dari dompet gue…., astaga, gue termenung sejenak, lalu memungut foto yang jatuh itu, kemudian memasuk’kan’nya ke dalam dompet lagi. Pikiran gue pun masih tetap tenang. Gue memang sudah sembuh dari cerita masa itu. Tapi…., ya ampun…, ada firasat apa ini?. Okeh, gue berharap keadaan ini akan baik-baik saja. Biar Gusti Allah berkehendak memutuskan apa yang pantas di jalani oleh hambanya.

Gue menyodoran tiket ke bapak berkumis, “Nih Pak. Keretanya sudah datang belum, ya?.” tanya gue, penuh antusias.

Astaga, bapak berkumis ini malah diem. Pandangan’nya fokus ke arah gue. Setelah tangannya memegang stempel, dia langsung bicara, “Ya ampun, sudah lama gak lihat kamu, Mas. Lama gak ke Malang ya, apa kabar?” tanya’nya, sambil menyodorkan tangan, mengajak gue berjabat tangan.

Gue gak kalah hangat menyambutnya. Tangan kami bertemu di atas meja stempel pengecekan tiket. “Wah baik Pak, allhamdulillaah, bapak sendiri kelihatan’nya juga sehat kan. Iya Allah, kemarin itu sibuk Pak, ini baru ada waktu longgar dan ada acara di Malang,” ucap gue memberi keterangan resmi. Yang langsung di jawab dengan anggukan kepala, “Yowes sana ndang masuk, hati-hati di jalan…, Nak?”

Gue tersenyum bangga membalasnya, lengkap dengan anggukan kepala yang sama, lalu berjalan ke pinggiran rel kereta. Di sana kereta yang gue tunggu ternyata belum datang. Gue nongkrong bareng penumpang yang lain di atas kursi tunggu berwana hitam jelaga. Seperti kenangan indah yang tenggelam ke dalam pulung samudera yang keruh. Sambil menunggu kereta yang datang, gue mainan gadget, aha, gue lupa ternyata di sana ada sahabat desa, yang juga sedang kuliah di UMM, dan kebetulan suka dengan Cak Nun. Gerangan adalah pria tampan yang rumahnya depan pasar.

“Mas aku di stasiun, aku ke Malang loh, kita maiyahan bareng yo, besok sore aku langsung ke kostmu. Sama anak-anak?” chat gue melalui bbm beserta kiriman gambar bantalan rel kereta. Iyah, memang sebelumnya dua hari yang lalu mas Zul ini ngajakin gue hadir di sana lewat mention twitter.

“Anak-anak siapa?. La katamu kemarin kamu ujian semester, kok ke sini?’ balasnya penuh seledik kek wartawan.

Kelar membaca balas’sanya mata gue melotot. “Sama Pido, sama Inu, Mas Ploek (Baca: nama panggilan’nya), ujiane malam, semua materi yowes tak baca jauh-juah hari. Wes to tenang.”

“Yowes tak tunggu nek kost, kabar-kabar lek wes sampek Malang.’ pesannya lalu dia menghilang di balik sinyal seluler gue yang memang lagi ancur banget.

Ketika di dalam kereta, gue kabari Inu untuk segera berangkat. Tapi sayang, pulsa gue menemui ajal. Yang ada tinggal bbm yang masih aktif. Sementara si Inu malah bbm-nya yang ndak aktif. Kerusuhan kecil mulai muncul. Kalo gue gak bisa ngabari Inu, bagaimana kita nyocokin jam supaya bertemu di waktu yang sama. Gue memutar siasat sebentar, setelah melirik ke arah jendela kereta, gue nemu ide. Aha!. Gue nyuruh si adeknya untuk ngasih kabar kalo gue sudah berangkat. Adeknya merespon bbm gue, pesan di kirim, lalu berhasil.

Sejam kemudian ketika kereta sudah sampai di Stasiun Mbangil, pesan datang masuk dari Inu. “Aku baru berangkat kang, tadi ketiduran. Sudah sampek mana?’ Bedebah banget, kau pardan, Kalo lo cewek gue, pasti udah gue putusinnnnnnnnnnn!. Bener banget, Pardan adalah nama panggilan populernya.

Karena keadaan lagi bulan suci ramadhan. Gue gak sewot, hanya mendengus sebentar, lemes, terus duduk bengong sambil mata mendelik, ngebayangin tanduk rusa setinggi tongkat pramuka muncul di jidat gue, terus siap-siap melampiasan kegemesan dengan nyeruduk kebun mangga di sebelah pinggir rel kereta.

Sampai di sana pun, bisa di prediksi. Gue nyampek duluan. Sementara si inu, gue telfon baru sampek perbatasan Blitar-Malang. Yah…, gue pun dengan pasrah menunggu kadatangan’nya. Gue menunggu, di tempat parkiran mobil taxi. Sebenarnya bisa saja gue langsung meluncur ke kontrakan’nya Pido pakek taxi, tapi….., pertama gue kasihan kalo dia nanti sampek stasiun lalu gak ngerti harus kemana. Terus nyasar. Ke dua, mau pakek taxi, pas bukak dompet ATM gue ketinggalan di saku kemeja, kamar.

Apes-apes.

Pada akhirnya gue memilih untuk bertahan, bersahabat dengan segala resiko yang datang menghampiri. Karena bosan dan jenuh adalah musuh keteguhan hati untuk menggoyahkan kesetia’an. Gue pun mencoba menikmati situasi seperti ini, mulai dari melihat gerombolan bule di sebelah gue yang sedang berbicara dengan sopir taxi yang ngomong bahasa inggris dengan penyampaian seadaanya. Melihat bapak dan seorang anak gadisnya yang berpelukan karena baru saja mereka bertemu setelah sekian lama berpisah. Entah seberapa lama.

Satu jam, dua jam, terlewati, akhirnya setengah jam satu siang. Inu datang dari arah momumen balai kota. Lalu dia menepi di sebelah pinggir taman, dekat mas-mas angkot ngetem, dan gue yang saat itu berdiri di depan stasiun, langsung menghampiri keberadaan Inu di sebelah sana. Seperti biasa, ketika kami bertemu kita berjabat tangan layaknya sahabat karib yang sama-sama berasal dari desa.

Pido belum kamu kasih tau toh kang?. Kalo kamu mau ke sini?” ucapnya saat gue menggeber motornya.

“Belum, Nu, cuma tadi gue miskol-miskol dia doang, dia sms tanyak ada apa, tapi gak gue bales.”saut gue.

Lalu motor kami menembus jalan Ijen. Sampai di kontrakan’nya, kami sudah di sediakan kunci kontrakan yang tersembunyi di atas meteran listrik. Iyah, Pido pada saat itu, masih jaga di rumah sakit sebagai mahasiswa profesi. Dan kami bisa masuk secara leluasa ke kamarnya, dan siap mengacak-acak apa yang ada di dalamnya. Tapi nasib berkata lain…, mata gue yang beberapa hari belum tidur akhirnya menyerah melihat bantal dan guling yang tertata rapi di atas kasur.

Surpraise pun gagal. Dan gue terbangun sore hari saat Pido membuka’kan pintu kamarnya, lalu dia teriak kenceng, “Bocahhhhhhh edaaaaaan, kenapa kowe tiba-tiba wes nek kene,” katanya, “Kapan kamu datang kang?. Main ke sini ora bilang-bilang, oh, pantes mau siang miskol-miskol nomerku,’ ucapnya terus cerewet kayak burung Emprit keracunan gabah.

Dia meletak’kan tas mantri hitamnya lalu lesehan di bawah dengan gue dan Inu. Sambil memegang bantal, gue jawab, “Kangen sama kowe Suuuu, sudah hampir setahun aku ndak main ke malang. Ya tadi emang niatnya mau surpraise, makanya tadi mau bikin kesel kowe, biar lebih greget ketemunya…” saut gue.

Obrolan belum kelar. Inu memotong pembicaraan, “Do, besok malam acara Cak Nun di UMM, siap toh?. Habis magrip kita cus ke sana?”

“Modyar, laaaaahh aku balik ke Surabaya kapan, Nu?” gue menimpali, lalu membuang selimut yang gue pakai.

Perdebatan kecil pun di mulai. Gue kaget ternyata acaranya masih besok malam. Jika gue pulang besok sore, artinya tujuan utama gue ke sini, gak dapet apa-apa. Jika gue bertahan dan tetap sesuai dengan tujuan, gue harus pulang subuh, selepas acara selesai. Dan sialnya lagi, gue belum beli tiket untuk balik. Mereka berdua menyarankan gue untuk naik bus. Tapi gue tolak karena motor gue titipin di stasiun gubeng. Dengan segala pertimbangan yang ada, gue putuskan untuk tetap bertahan dan pulang senin dini hari.

Oke, deal.

Hari pertama kegiatan kami di sana, Malam harinya lebih banyak di isi jalan-jalan ke alun-alun kota malang. Sudah lama gue gak main kesana, dan sekarang semua jadi beda banget. Sudah ada kemajuan, taman kota sudah ada perbaikan. Beberapa sudut taman di sediakan kursi, meja, dengan atap bundar. Di tengah taman di hiasi ornamen batu, sebagai tempat duduk. Gue senang saat melihat masyarakat ramai di sana, karena keadaan suatu kota yang sehat, apabila masyarakatnya lebih memilih bermain ke lahan terbuka hijau dari pada ke mall.

Saat kami henak berjalan mendekati masjid raya alun-alun, Pido dari arah belakang di tepuk pundaknya oleh seorang anak baru gede, sambil merangkul cewek yang memakai kerudung, terus dia bilang, ‘Mas-mas, boleh fotoin kita,’ ucapnya menyodorkan hp kelahiran zaman Dagjal. Gue dan inu kaget banget melihat anak ABG yang baru bau kencur tapi udah berani ngegandeng cewek.

“Boleh-boleh, yaaak….. siap, satu dua.., tiga..,’ pido memberi aba-aba beberapa kali, “Udah, nih,” lanjutnya. Lalu anak ABG itu menghampiri Pido, dan meminta hp’nya kembali, terus bilang terimakasih sambil ngeloyor begitu saja. Mungkin ini teguran dari yang di atas bahwa, jangan main ke taman kota tanpa pasangan.

Gue sama Inu yang berada di belakang, mati ketawa melihat tingkah polah ABG tadi yang dari dandanan’nya sama posenya gak macing banget. Apa lagi, saat dia pose dengan ceweknya, mulutnya manyun, dengan tangan kanan’nya merangkul pundak kekasihnya. Wujudnya yang kecil dengan memakai jaket kebesaran tampak terlihat seperti bonekah Jelangkung lagi cacingan. Sudah bisa di tebak, hp jadulnya yang tanpa lampus blitz membuat wajahnya terlihat abstrak.

Ketika malam sudah semakin dingin. Kami bergegas untuk balik ke kontrakan. Di dalam kamar itu, Pido memberi tahu kalo berbuka puasa di masjid depan raya alun-alun, menunya nasi padang. Spontan naluri gue sebagai penikmat nasi padang langsung meledak. Gue pun setuju untuk berbuka puasa di sana. Sekaligus gue kabari Maz Zul yang berada di atas untuk segera turun bersama kami besok sorenya. Dan akhirnya kita sepakat untuk ketemuan di masjid.

Sore tiba. Saat kami kelar sembayang magrip lalu masuk ke antrian buka puasa bersama. Bukan nasi padang yang kami peroleh, tapi nasi uduk dengan suiran macam daging Unta. Nasi uduk yang tidak sebegitu banyak untuk jatah kami bertiga, akhirnya habis dalam beberapa detik. Entah siapa yang rakus, yang jelas emang perut kami sedang kena busung lapar. Merasa belum kenyang, Inu dan Pido yang bermental pupuk kandang balik lagi ke deretan antrian. Ngambil jatah makan lagi. Gue cuma ngekor di samping mereka.

Sewaktu mereka sudah di depan panitia pembagi kudapan, Inu mendapat jatah nasi kotak dengan menu ayam dan sayur-sayuran. Sementara Pido menunya lebih berwarna lagi, hampir mirip sebenarnya, tapi ada oseng-oseng mie’nya beserta irisan ketimun yang masih segar. Ini makanan kesukaan yang biasanya di masak ibuk sewaktu di rumah sana. Kami pun makan di halaman depan, dekat beduk masjid.

Saat gue sedang asyik nguyah tuh makanan sambil bersila takzim, Mas Zul mentelfon gue, “Kowe nek mana?. Aku wes mari mangan. Wah, ngapusi kowe, udu nasi padang ngono lo?” ucapnya protes secara halus.

Gue ketawa sebentar, ‘Ha-ha-ha-ha,’ kelakar gue. “Yang penting kan buka gratis, lha emangan aku panitiane opo Ploek, biso memastikan menu se-enak jidat?. Ora rugi buka bersama di masjid, mewah toh tapi masakannya. Teras depan, Mas, dekat beduk…, sama anak-anak” ucap gue agak kencang karena keadaan saat itu lagi rame oleh masa.

Pido dan Inu masih tetap tak tergoyahkan, makan kudapan dengan lahapnya tanpa merasa kesereten.

“Ndak ada air ini kang, kesereten ikih?” ucap Inu secara tiba-tiba.

Gue masih tetap fokus untuk menghabiskan kudapan porsi kuli bangunan di depan gue. Beberapa detik berlalu, Maz Zul meyembul dari dalam masjid, mendekat ke arah kami. Setelah duduk dia ngomong, “Ora bawa air, aku nyari gelas ndak ketemu?” katanya, kayak orang abis nenggak semen.

Gue hanya bisa tertawa seperti yang tadi. Sebegitu murahnya kah sebuah ambisi demi makanan nasi padang secara cuma-cuma, sampai-sampai air pun luput dari perhatian!.

Setelah bisa menjinak’kan perut. Kami pun mulai membahas rencana beberapa jam ke depan. Gue memberi usul, “Kita sembahyang taraweh di masjid UMM saja Mas, kalo taraweh di sini takutnya entar ndak nuntut waktunya. Tarweh kan kisaran’nya salesai jam 8, perjalanan 30 menit, sampek sana bisa jam 9. Bisa-bisa kita sampek sana ndak dapet tempat duduk?” kata gue.

“Setuju-setuju, masuk akal,’ ucap pido, sambil bertumpang dagu.

“Bener-bener,’ Inu mencoba memberi suport, “Lagiyan aku pengen ngerasain rasanya taraweh bareng jamaah muhamadiyah. Hari ini kan acara puncak kita di sini,’

Maz Zul mengambil keputusan layaknya hakim di dalam persidangan, “Yowes kita traweh di sana, habis ini kita berangkat. Sepedahe kabeh nek depan masjid toh, yuk berangkat..”

Kami bertiga pun, mengangguk setuju. Cayo!.

Sampai di sana keadaan parkiran masih longgar. Belum ada tanda-tanda kehidupan manusia di depan panggung. Setelah kami lewat post penjagaan untuk mengambil karcis parkir, yang ada hanya satu.., dua.., tiga.., kendaraan di sebelah gue.

“Wah kampusmu apik banget Mas, kayak di negara-negara Eropa sana!”

Gue terheran-heran melihat berbagai macam gedung yang cukup megah.

“Ojo norak,’ balas Ma Zul.

“Eropa mbahmu. Lha kowe opo wes pernah ke eropa, kang?’ Inu nyaut sepontan dengan khas bibir nunggingnya.

“Uwes, tapi delok nek you tube,” balas gue. Lalu Pido tertawa lepas, “Ha-ha-ha,’ terus di susul tawa kita bersama.

Setelah melihat lokasi maiyah di lapangan heliped, dengan penataan panggung yang rapi, di depannya ada beberapa tikar kosong terbentang, untuk menyediakan tempat para jama’ah yang ikut meramaikan maiyahan. Lalu kami berjalan mengitari kampus UMM yang cukup mewah gaya arsitek desain gedungnya itu. Setelah gue memasang status di bbm, “Medarat dengan tampan di kampus UMM,” beberapa teman yang juga mahasiswa UMM ikut berkomentar, ada yang langsung paham, “Hadiri acara Cak Nun ya, Bang!” ada juga yang merespon. “Ngapain di sana bang?”

Di tempat lokasi maiyah ini, yang kebetulan menjadi kampus tempat belajar teman-teman se-desa gue. Ya Tuhan, menemukan kesepahaman yang sama itu memang langka adanya. Makanya persahabatan kita berempat bisa awet karena kami punya cita-cita yang sama. Apa?. Melihat dan mendengar Abah Nun, bilau gambaran dari ajaran islam yang mengajarkan tentang bagaimana agama bekerja untuk kemanusiaan.

empat oerange kampunge

empat oerange kampunge @Cupunoted, @arpidho1, @Zulfi_Vf @Ibnu_inu

*Artikel ini gue dedikasikan untuk teman-teman gue yang luar biasa keren.

Iklan

22 thoughts on “Memoar Empat Orang Kampung Menjadi Manusia

  1. Gara berkata:

    Ini tulisan sederhana tapi heartwarming banget. Ketemu teman lama, jelajah kota bareng, makan bersama dengan semua keadaannya (tanpa airlah, antri ulanglah), dan pada akhirnya ditutup dengan mendengarkan ceramah yang menyejukkan hati, sip deh! Kaya sekali memang kegiatan kalian seharian itu, dan semua berakhir dengan sangat baik tanpa insiden, kecuali kejadian-kejadian di atas tadi bisa kita sebut insiden :haha.

    Agak tak mengerti sebetulnya saya dengan beberapa frasa bahasa Jawa di tulisan Persahabatan itu memang kayak kepompong, kalau sudah dewasa bakalan indah terus soalnya sudah jadi kupu-kupu yang cantik!

  2. kekekenanga berkata:

    Baca cerita ini nggak pake dilongkap-longkap tau-tau jam istirahat gue abis..
    Salah kamu yah bang hhmmm

    Persahabatan yang satu misi itu mmng sulit dimiliki semua org Bang, beruntung kamu memiliki mereka meskipun berbeda kota, ya tapi gpp lah selama masih bisa ditempuh.

    Seru banget yah liat persahabatan 4 org cowo kampung ini, misi nya lebih dapet. Dibandingkan dengan melihat persahabatan 4 org cowo kota yang ternyata terlibat cinta segiempat 😦

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Hahahhaa, syukurin. Siapa suruh mantengin noted-noted guweeehhh. aihhh.

      ho’oh kita beda kota setelah lulus SMA, tapi sering ngejadwalin buat sering kumpul bareng. Nama gang’nya WKGB. hahaa.

      Mereka semua itu jomblo independent. Jadi gak bakalllll ngerebutin cinta segi empatlah. cinta jajar genjanglah.

      hehehhe

      • kekekenanga berkata:

        Maksud cinta segiempat nya cowo kota adalah… cinta antara mereka berempat, nggak ada cewe yg direbutin -___-
        Itu udah jadi perkembangan zaman cowo2 kota, dimana cowo ganteng dan bertubuh atletis nggak doyan cewe..

        Kalian nggak gitu toh?

      • Bang Cup(uh) berkata:

        Piyee….., piyee….. PUT?.
        Lah……, mau ngerebutin cewek yang sama untuk 4 cowok sekaligus? la wong ketemu aeh jarang-jarang.

        Zaman cowok kota gitu ya, astagaaaaaaa, doyan gitu ya sesama cowok. Gilani.

        Gak Puttttttttttttttttttt. mungkin…., Ada yang perlu di kejar selain cinta untuk saat ini.

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Iya begitulaah gambaraaan anak desaaaaaaaaaa kalo di perantauan. Kalo ketemu bisa bikinnnnn edaaaaan. Mereka jomblo independet, tak terafiliasi dengan partai mana pun. hahhaa

      • febridwicahya berkata:

        Wahahaha gambarannya begitu ya ternyata ._. wkwkwk iya kayaknya kalian kalau udah ketemu jadi keliatan edan kok mas wkkwwk JOMBLO INDEPENDENT LOH -_________- wkwkw

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s